Partager

Bab 3

Auteur: Eternity
Pesta penyambutan diadakan di Klub Luwasa di Manhure. Dari luar, bangunan itu tampak seperti sebuah teater yang terbengkalai. Namun di dalamnya, sudah dipenuhi oleh para penjahat paling terhormat di Kota Nuyakos dari berbagai profesi seperti politisi, pengacara, bos pelabuhan, bankir, dan setiap sekutu yang dibutuhkan Doni untuk mempertahankan tahtanya.

Selama lima tahun, dia tidak pernah mengadakan jamuan makan malam publik untukku. Namun begitu Sesil pulang, dia langsung memperkenalkannya ke seluruh isi kota.

Sesil melangkah masuk bergandengan tangan dengan Doni, dia mengenakan liontin batu obsidian warisan Keluarga Luwasa di lehernya. Itu adalah simbol dari istri Sang Bos Besar. Lima tahun yang lalu, Doni mengatakan kepadaku bahwa liontin itu terlalu berbahaya untuk dikenakan di depan umum dan langsung menguncinya di dalam brankas. Dia tidak pernah sekalipun memakaikannya padaku.

Sekarang liontin itu justru bersandar di tulang selangka Sesil.

Bisik-bisik mulai menyebar di antara kerumunan.

"Ternyata, dialah nyonya yang asli."

"Bos Besar menyembunyikan istrinya selama lima tahun ternyata karena sedang menunggu putri bungsu Keluarga Ananta."

"Sebaiknya kita mulai memanggilnya Nyonya Sesil."

Orang tuaku berdiri di tengah ruangan, tersenyum dengan ekspresi bangga yang belum pernah kuterima dari mereka. Bertahun-tahun yang lalu, ketika mereka mencoba menyombongkan pernikahanku, Doni memperingatkan mereka untuk berhenti. Mereka kehilangan muka karena diriku sehingga semakin membenciku. Malam ini, Sesil akhirnya memberi mereka kemuliaan yang selama ini mereka inginkan.

Doni mengangkat gelasnya. "Sesil sudah terlalu lama meninggalkan Nuyakos. Mulai malam ini, dia akan tetap menjadi permata hati Keluarga Ananta dan orang yang akan selalu mendapat perlindungan dari Keluarga Luwasa."

Tepuk tangan menggema di seluruh klub.

Sesil mengambil mikrofon dengan mata berkaca-kaca. "Orang yang paling ingin kuucapkan terima kasih adalah kakakku. Erin sudah banyak berkorban untukku, dan dia selalu bersedia memberikan yang terbaik untukku. Tanpa dia, aku tidak akan bisa berada di sini hari ini."

Semua wajah menoleh ke arahku.

Aku berdiri di balik sebuah pilar di balkon lantai dua, lalu ikut mengangkat gelasku.

"Selamat datang kembali di rumah."

Semakin tenang sikapku, semakin tampak kecewa raut wajah Sesil.

Kemudian hadiah-hadiah pun berdatangan. Ayahku memberinya sebuah kapal pesiar. Ibuku memasangkan kalung safir warisan nenek kami di lehernya, kalung yang seharusnya diberikan kepada putri sulung.

Akhirnya, wakil Doni mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam. Di dalamnya terdapat Akta Kepemilikan sebuah perkebunan anggur di Tuski. Itu bukan hanya sekadar kebun anggur biasa. Itu adalah kedok bisnis publik yang paling bersih dari seluruh kekayaan Keluarga Luwasa.

Sesil langsung memeluk Doni dan menangis tepat pada waktunya.

Seluruh ruangan bersorak.

Ketika giliranku tiba, aku meminta seorang pelayan untuk membawakan sebuah kotak kayu mahoni kecil.

"Hadiah penyambutan."

Di dalam kotak itu seharusnya terdapat sebuah gelang rubi. Itu adalah hadiah pertama yang Doni berikan kepadaku setelah pernikahan kami, dan aku sudah tidak menginginkannya lagi.

Sesil membuka kotak itu di depan semua orang.

Gelang itu telah lenyap.

Digantikan dengan sebutir peluru perak berlumuran darah yang tergeletak di atas kain beludru, dan tersemat sebuah kartu hitam dengan satu kalimat tertulis di atasnya: [Penipu, bayar utangmu!]

Aula itu langsung menjadi sunyi senyap. Kemudian, seseorang menjerit histeris.

Sesil terhuyung mundur dengan satu tangan di perut, wajahnya tampak pucat pasi. "Erin, kenapa kau menakutiku seperti ini? Aku hanya ingin pulang."

Ayahku membanting gelasnya. "Erin! Dia itu adikmu!"

Ibuku bergegas maju ke depan Sesil, menangis tersedu-sedu seolah aku telah menodongkan pisau ke lehernya. "Kau tidak tahan melihat orang-orang mencintainya. Kau tidak tahan melihat Doni peduli padanya, jadi kau sengaja merusak malamnya. Iya, kan?"

Aku menatap Sesil. Dia sedang menangis di pelukan Doni, tetapi selama setengah detik, aku bisa melihatnya tersenyum walau tipis.

Aku langsung mengerti.

Dia bukan hanya menginginkan posisiku. Dia juga ingin memastikan aku tidak akan pernah bisa kembali lagi setelah ini.

"Ada orang yang sudah menukar kotaknya," kataku.

Namun, suaraku menghilang tertelan oleh kebisingan di dalam ruangan.

Doni memeluk Sesil erat dan menatapku dingin, seolah aku sedang berdiri tepat di hadapan moncong pistolnya.

"Erin, kupikir setidaknya kau punya batasan."

Aku mencoba menjelaskan, tetapi salah satu pengawal Keluarga Luwasa menerobos kerumunan. Dalam kekacauan itu, dia bergerak seolah sedang melindungi Sesil, lalu membenturkan bahunya tepat ke arah bahuku.

Aku jatuh terjungkal ke belakang dan membentur menara gelas sampanye. Kaca pecah berserakan di lantai. Sebuah pecahan melukai betisku, dan tepi meja menusuk perut bagian bawahku dengan begitu keras hingga rasa sakit menjalar naik ke tulang belakangku.

Seseorang tersentak. "Dia berdarah."

Doni menoleh menatapku.

Hanya sekali.

Sesil menangis terisak-isak di dadanya. "Doni, perutku sakit ...."

Dia langsung berbalik, mengangkat tubuh Sesil ke dalam pelukannya, dan pergi begitu saja. Para dokter, pengawal, dan wakilnya mengikuti keluar.

Aku merosot jatuh ke lantai dengan satu tangan menopang kaki meja, sementara suara ibuku terdengar di ruangan itu.

"Karma. Itulah yang sedang terjadi."

Di kehidupanku sebelumnya, aku di tempat penuh salju.

Di kehidupan kali ini, di tempat penuh darah.

Selama Sesil ada di sana, mereka semua akan selalu meninggalkanku.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 9

    Klarifikasi resmi itu akhirnya keluar pada Jumat pagi.Klarifikasi itu menyebut tindakan Sesil sebagai hal yang sembrono. Dokumen itu mengakui bahwa aku telah menjadi istri sah Doni Luwasa selama lima tahun dan bahwa seluruh anggapan yang sebaliknya adalah salah.Klarifikasi itu terdengar kaku, buruk, dan ditulis oleh pengacara.Menjelang siang, pesan pertama ibuku tiba.[Erin, tolong telepon aku. Ini sudah keterlaluan.]Kemudian pesan dari ayahku.[Kita perlu bicara sebagai keluarga.]Aku langsung menghapus keduanya.Malam itu, mereka muncul di kantorku tanpa membuat janji terlebih dahulu karena orang tuaku tipe yang percaya bahwa ikatan darah adalah kunci utama yang bisa membuka segalanya.Ibuku masuk lebih dulu, dia terlihat lebih kurus dari yang kuingat, dengan mengenakan sebuah mantel krem yang membuatnya tampak lebih lembut daripada sifat aslinya. Ayahku menyusul dengan wajah kaku yang sama seperti yang biasa dia gunakan setiap kali hendak meminta sesuatu dan menyebutnya sebagai

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 8

    Doni tiba di kantor pengacaraku pada pukul sembilan lewat lima puluh delapan menit.Dia datang sendirian. Tidak ada pengawal di lorong, tidak ada anak buah yang menunggu di dekat lift, tidak ada supir yang menghalangi jalan di bawah. Aku tetap memeriksanya, karena memulihkan diri tidak berarti menjadi bodoh. Setelah puas, aku masuk ke ruang rapat dan duduk di samping Marta Tarina, pengacara yang telah membangunkan jalan keluar untukku sementara semua orang di Nuyakos sibuk memuji Sesil.Doni berdiri saat aku masuk.Marta membuka map dokumen di depannya. "Pertemuan ini direkam. Tuan Doni, Anda berada di sini sebagai calon orang tua bersama, bukan sebagai suami, pelindung, atau otoritas keluarga bagi Nyonya Erina. Jika tidak sepakat dengan batasan itu, maka pertemuan ini akan kita akhiri sekarang."“Aku mengerti.”"Bagus. Perjanjian perceraian ini sah berdasarkan hukum Nuyakos. Tanda tangan Anda sudah disaksikan secara elektronik melalui paket otorisasi pelabuhan. Anda boleh menentangnya

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 7

    Sudut Pandang Erin.Kota Lisrona tidak bertanya tentang siapa aku dan masa laluku.Nuyakos mengenalku sebagai pengantin pengganti, istri yang disembunyikan, putri sulung Keluarga Ananta yang tidak pernah tersenyum cukup lebar untuk terlihat menawan. Di Lisrona, aku adalah Erina Kuala, seorang konsultan prosedur pengiriman logistik secara legal dengan sebuah kantor sewaan di atas toko roti, dan seorang dokter yang memanggil nama pilihanku tanpa ragu sedikit pun.Apartemenku menghadap langsung ke arah laut.Apartemen itu kecil, terang, dan sepenuhnya milikku. Aku membeli sebuah teko biru, tiga gaun katun yang muat untuk perutku yang semakin membesar, dan sebuah meja bekas dengan goresan di salah satu kakinya. Setiap pagi, aku membuat teh, membalas email, dan mengingatkan diriku sendiri bahwa kedamaian tidak harus terasa dramatis untuk bisa menjadi nyata.Pada minggu ketiga, perusahaanku sudah memiliki empat klien, dan semuanya adalah perempuan yang cukup kaya untuk menjadi incaran, sekal

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 6

    Sudut Pandang Pihak Ketiga.Keluarga Luwasa dapat membuat sebagian besar masalah menghilang sebelum menjelang pagi. Mayat-mayat bisa lenyap. Saksi-saksi bisa berubah pikiran. Catatan bank pun bisa dipaksa untuk berubah baik.Namun, Erin tidak menghilang seperti sebuah masalah.Menjelang fajar, ponsel Doni berdering tanpa henti. Panggilan pertama datang dari serikat pekerja pelabuhan. Pengiriman logistik musim dingin ditahan karena dana medis darurat yang selama ini diam-diam dikelola Erin terkunci di bawah otorisasi dana perwalian. Panggilan kedua datang dari akuntan di Tuski, yang menolak untuk merilis laporan keuangan triwulanan tanpa adanya tanda tangan dari Nyonya Erin. Panggilan ketiga datang dari seorang anggota dewan kota yang ingin tahu apakah Keluarga Luwasa masih cukup kuat atau apakah dia harus mulai mengadakan pertemuan dengan pihak lain.Mario berdiri di ruang kerja Doni dengan membawa tiga map di bawah lengannya. "Anda harus melihat ini."Doni tidak perlu bertanya apakah

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 5

    Sudut Pandang Pihak Ketiga.Selama tiga detik penuh setelah helikopter menghilang ditelan badai salju, tidak ada seorang pun di dalam gereja yang bergerak.Kemudian, amplop hitam pertama mendarat di tengah ruangan.Istri seorang senator mengambilnya sebelum anak buah Doni bisa menghentikannya.Wajahnya pucat pasi saat menatap salinan perjanjian perceraian di dalamnya, tanda tangan Doni terlihat jelas dan tak bisa terbantahkan berada di bagian bawah halaman.Amplop lain mengenai barisan bangku depan. Lalu, yang lainnya menyusul.Doni tidak beranjak dari altar. Tangan Sesil masih terulur ke arahnya, sarung tangan putihnya tampak gemetar, tetapi tatapan Doni justru melewati wanita itu, dan tertuju lurus ke arah pintu samping yang digunakan Erin."Tutup semua pintu," katanya.Mario langsung menjentikkan jarinya. Sekelompok laki-laki berpakaian hitam segera bergerak menyusuri barisan kursi, tetapi sudah terlambat. Ponsel-ponsel sudah telanjur dikeluarkan, dan memperlihatkan layar-layar yang

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 4

    Seorang asing dari pesta membawaku ke Rumah Sakit Sinar Medika. Keluarga Luwasa yang mengendalikan tempat itu, tetapi ketika perawat mendorongku ke ruang gawat darurat, tempat itu sudah hampir kosong.Perawat melakukan tiga panggilan telepon. Setiap kali menelepon, wajahnya akan tampak semakin pucat. "Ahli bedah trauma dan kepala bagian kebidanan semuanya sudah dipanggil ke lantai atas. Nona Sesil ketakutan, jadi Bos Besar ingin dilakukan pemeriksaan lengkap."Darah merembes dari kakiku ke seprai. Rasa sakit kembali menegang di perut bagian bawah berulang kali.Aku meraih pergelangan tangan perawat. "Jangan sampai mereka tahu aku hamil. Selamatkan bayiku."Dia terdiam sejenak, lalu mengangguk dengan mata memerah.Sebelum aku jatuh pingsan, aku samar-samar mendengar suara Doni di ujung koridor."Di mana dia?"Seseorang menjawab, "Tuan, Nona Sesil masih menunggu Anda."Langkah kakinya sempat berhenti sejenak, lalu akhirnya terdengar semakin menjauh.Ketika aku terbangun, dua hari telah b

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 2

    Separuh isi kamarku sudah dikosongkan. Gaun-gaun milik Sesil yang berwarna krem lembut sudah tergantung di lemari, dan botol-botol parfumnya sudah berjejer rapi di atas meja riasku. Sementara itu, buku-buku, foto-foto, dan mantel-mantel lamaku telah dilemparkan begitu saja ke dalam kotak kardus di s

  • Istri Yang Terlupakan: Kesempatan Kedua   Bab 1

    "Nyonya Erin, selamat. Usia kandungan Anda sudah masuk minggu kedua belas."Dokter keluarga itu menggeser selembar laporan medis ke hadapanku di seberang meja. Dia berbicara dengan pelan, tetapi tetap tidak bisa menyembunyikan rasa gembiranya. "Detak jantung bayinya sangat kuat. Anak ini sangat bera

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status