Share

Paksaan Menikah

Author: Alverna
last update Last Updated: 2025-09-05 16:35:18

Tubuh Aira menggigil. Demam yang sejak siang belum reda membuat keringat dingin membasahi pelipisnya. Tapi rasa sakit di tubuhnya tak ada apa-apanya dibanding penderitaan yang menekan dadanya malam itu.

Ia duduk di ruang keluarga besar yang megah, di tengah orang-orang asing yang menatapnya penuh kecurigaan. Udara sejuk dari pendingin ruangan seakan menusuk kulit, membuatnya merasa lebih kecil dan tak berdaya. Semua pandangan bagai penghakiman.

“Jangan bilang kau mau menikahinya?” suara istri ketiga Mandala, memecah keheningan. Nada suaranya tajam, sorot matanya menusuk Aira yang hanya bisa menunduk.

Tok! Tok! Tok!

Eyang Mandala mengetuk tongkatnya tiga kali ke lantai marmer. Dentumannya bergema, membuat semua orang menoleh.

“Kalau dia mau, kenapa tidak?” ucapnya tenang, seolah sedang membicarakan hal biasa.

Serentak ruangan berguncang oleh protes.

“Ngawur!” seru Sarah,istri pertama Mandala, nenek kandung Gavin Meski sudah berusia lanjut, wibawanya masih terasa. “Dia masih sangat muda, pantasnya cucumu, bukan istrimu!”

Aira menunduk makin dalam, jantungnya berdegup kencang. Tangannya meremas ujung gaun sederhana yang dipakainya, menahan gemetar.

“Lagi pula, dia kekasih cucumu sendiri!” tambah Sarah, geram.

Kata-kata itu membuat Gavian mengangkat wajah. Rahangnya mengeras, matanya berkilat. “Nek… Lyra sudah meninggal.”

Seketika ruangan terdiam. Semua kepala menoleh pada Gavin.

“Apa?” tanya istri kedua, dengan wajah terkejut. “Lalu ini siapa?”

“Kembarannya,” jawab Mandala dingin. “Tapi bukan itu alasan saya mengumpulkan kalian malam ini.”

Aira menahan napas. Semua ini bukan sekadar pertemuan keluarga. Ada keputusan besar yang akan diucapkan.

"Ayah menghamili dia?" celetuk seorang lelaki tampan yang tengah duduk di tengah-tengah ruangan, menatap kaget sang ayah.

"Aku saja belum punya pacar, ayah sudah mau menikah dengan wanita ke empat," lanjutnya yang kini mendapat tatapan tajam dari Mandala.

Dia adalah Elvander, anak dari Eyang manggala dari istri ke dua.

"Diam kamu!" bentak Manggala pada sang anak yang membuat lelaki ini bungkam.

Mandala bersandar ke kursi, menatap cucunya. “Gavin bersama kekasihnya telah menggelapkan hampir delapan miliar dari perusahaan. Hukuman penjara pantas untuknya.”

Wajah Sarah memucat. Ia berdiri gemetar, lalu meraih lengan cucunya. “Tidak mungkin! Gavin bukan anak seperti itu. Kalau uang, biar aku yang ganti. Jual saja aset ku, Jangan masukkan cucuku ke penjara!”

Mandala menatapnya tajam, dingin. “Kalau begitu, kau ikut pergi bersamanya.”

Tangis Sarah pecah. Ruangan semakin mencekam.

Mandala menghentakkan tongkatnya lagi. “Lima tahun penjara karena penggelapan. Dua tahun tambahan karena kartu kredit. Tujuh tahun. Itu hukumannya.”

“Apa?!” Gavin menelan ludah, wajahnya pucat pasi. “Kek, jangan! Aku janji berubah. Tolong… beri aku kesempatan!”

Mandala menatap cucunya lama. Senyum tipis muncul di bibirnya. “Kesempatan ada. Tapi ada harga yang harus dibayar.”

Gavin menunduk cepat, nadanya penuh harap. “Apa pun, Kek! Katakan saja. Aku akan lakukan!”

Mandala mengalihkan tatapannya ke arah Aira. Gadis itu membeku. Tubuhnya kian bergetar, keringat dingin membasahi telapak tangannya. Ia bisa merasakan arah pembicaraan, dan hatinya langsung mencelos.

“Nikahi dia,” ucap Mandala perlahan, tenang, namun mengiris lebih tajam daripada pisau. “Buktikan kau bisa bertanggung jawab. Karena akibatmu, gadis ini kehilangan segalanya.”

Aira tersentak, wajah pucatnya semakin memutih. Suara tercekat keluar dari bibirnya. Sungguh, lantak menyangkal bahwa akan di nikahkan dengan Gavin bukan dengan sang kakek tua.

“Ti-tidak mungkin…”

“APA?!” Gavin menggebrak meja. Suara kerasnya membuat beberapa orang terlonjak. “Kek bercanda?! Aku tidak akan menikahi pembunuh tunanganku!”

Air mata Aira jatuh tanpa bisa ditahan. Ia pun takut dengan hal itu.

“Aku tidak membunuh Lyra…” suaranya nyaris tak terdengar. Hatinya perih mendengar tuduhan itu lagi.

Mandala tak peduli pada protes cucunya. Tatapannya kini tertuju penuh pada Aira. “Bagaimana, Aira? Kau setuju?”

Aira terdiam. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Ia menggeleng pelan.

"Kalau begitu siap-siap ibumu masuk penjara dan semua aset keluargamu serahkan padaku, itu pun belum mencukupi dengan kerugian yang keluargamu lakukan!" kata Manggala yang membuat Aura membola.

Tidak! Ia tidak akan membiarkan itu. Ia merasa seakan terjebak di ruang tanpa pintu keluar.

Tangannya bergetar, menggenggam erat roknya. Perlahan ia mengangguk, suaranya lirih, nyaris patah. “Saya… bersedia.”

Gavin memukul meja sekali lagi. “Tidak akan! Aku tidak mau! Lebih baik aku masuk penjara!”

Wajah Mandala mengeras. Aura dingin dan mengerikan memancar darinya. Dengan gerakan perlahan namun penuh tekanan, ia berdiri dari kursinya.

“Tidak ada bantahan,” suaranya menggelegar memenuhi ruangan. “Minggu depan, kalian menikah!”

Keheningan menelan semua yang hadir.

Sarah hanya bisa menangis memeluk cucunya, meski tahu tak ada daya menahan keputusan MandalMiaIstri kedua dan ketiga saling pandang, ragu untuk bicara. Elvand terdiam, tak berani melawan.

Aira menunduk, bahunya bergetar, air mata mengalir deras. Di dalam hatinya, ia menjerit. Ia baru saja kehilangan kembaran yang paling ia cintai, dan kini dirinya sendiri dipaksa masuk ke neraka pernikahan yang tak ia inginkan.

Gavin menatapnya dengan kebencian membara. Tatapannya menusuk, seolah ingin merobek-robek hati Aira. Baginya, keputusan ini bukan hanya hukuman—tapi juga pengkhianatan terbesar dari kakeknya sendiri.

Mandala duduk kembali dengan wajah puas, seolah baru saja mengetuk palu vonis. Baginya, keputusan itu mutlak, tak ada ruang untuk protes.

Malam itu, nasib dua jiwa muda berubah selamanya. Aira—gadis sakit yang baru kehilangan saudara kembar—dan Gavin, lelaki yang terjebak di antara penjara dan pernikahan.

Dan tak seorang pun berani menentang titah Mandala.

"Minggu depan, Siap-siap lah kalian menikah! Tidak ada bantahan!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri yang Terabaikan   Gangguan Dan Posesif

    Mobil Gavin memasuki halaman rumah megah kediaman Eyang Mandala. Ia memarkirkan mobilnya di garasi, lalu melirik ke arah Aira yang tertidur di sampingnya.Baru sekarang Gavin benar-benar menyadari kebiasaan Aira, perempuan itu selalu tertidur di dalam mobil. Entah perjalanan jauh ataupun dekat, Aira pasti terlelap dengan cepat.Gavin menghembuskan napas kasar, menatap bangunan besar yang menjulang angkuh di hadapannya. Rumah itu tetap membuat dadanya terasa sesak. Namun, mau tak mau, ia harus datang ke sini.Setelah menerima telepon dari sang Nenek, Gavin terpaksa menuruti permintaan itu. Tangisan dan rengekan perempuan tua itu meluluhkan pertahanannya.Bahkan Neneknya sampai mengancam, jika Gavin tidak datang, maka saat pemakamannya nanti, Gavin tidak boleh hadir. Ia resmi dipecat dari status cucu!Mau tak mau, Gavin mengalah. Dengan satu syarat: tidak boleh ada keluarga dari pihak Ayahnya di rumah kediaman Eyang Mandala selama ia berada di sana.Neneknya langsung menyetujuinya tanpa

  • Istri yang Terabaikan   Saling Mengungkapkan Hati

    “Awalnya memang seperti itu. Kamu tahu betapa aku membencimu. Tapi aku tidak bisa menyingkirkanmu, karena aku tahu aku membutuhkanmu agar terus mengingat Lyra. Namun, lama-kelamaan aku sadar bahwa kalian sangat berbeda. Sifat kalian benar-benar bertolak belakang. Dan sejak saat itulah aku mungkin mulai menyukaimu sebagai dirimu sendiri, bukan Lyra,” kata Gavin dengan suara lembut, menjelaskan awal mula perasaannya pada Aira.Segala tentang Aira membuat Gavin jatuh cinta. Tentang bagaimana wanita itu sejak kecil tak diinginkan, dibuang, lalu dirawat oleh neneknya yang sudah renta. Ironisnya, justru Aira yang harus menghidupi sang nenek. Gavin masih tak mampu membayangkan betapa berat penderitaan Aira, sementara keluarganya hidup lebih nyaman di kota yang berbeda.Gavin seperti melihat dirinya sendiri. Ia tahu bagaimana rasanya dibuang dan tak diinginkan.Ia kagum melihat Aira menghidupi dirinya dan neneknya dengan berjuang sejak kecil, tanpa pernah merasakan masa bermain yang telah dir

  • Istri yang Terabaikan   I Love You!

    “Tapi aku merasa tidak enak. Aku merusak iPad-nya dan belum bisa menggantinya. Masa aku harus pura-pura tidak mengenal dia? Apa yang dia pikirkan tentangku? Aku tidak mau dianggap tidak bertanggung jawab, lagian dia sangat baik padaku.”Aira sudah menganggap Obi seperti temannya. Tidak lebih! Lelaki itu cukup menyenangkan dan yang pastinya sangat baik.Gavin yang mendengar Aira memuji Obi kembali merasa kesal. Lelaki itu melepaskan pelukannya lalu menarik dagu Aira agar menatapnya. Tatapan Gavin yang menyipit seakan memberi peringatan agar Aira patuh padanya.“Aku bilang jauhi dia! Aku yang akan mengganti iPad miliknya. Jadi kamu tidak perlu khawatir dan memikirkannya lagi,” kata Gavin tegas, tanpa celah untuk dibantah.Aira langsung menekuk wajahnya, namun tetap menatap mata Gavin.“Tapi kenapa? Apa dia musuh kamu? Tolong beri aku alasan yang jelas. Lagian… aku tidak pernah melarang Tuan dekat dengan siapa pun. Jadi tolong biarkan aku punya teman,” ucap Aira lirih namun jujur.Aira y

  • Istri yang Terabaikan   Jangan Dekat-dekat Dia Lagi!

    "Dia hanya tidak mau melihatku terluka. Lagian … kenapa kalian makan di restoran tempatku bekerja? Teman-temanku melihat langsung. yang mereka tahu, kamu suamiku. Wajar kalau mereka berpikiran buruk. Jadi bukan salah Andin kalau dia salah paham," lanjut Aira terburu-buru. Ia meringis saat sadar ucapannya barusan terdengar seperti menyalahkan Gavin.Gavin menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya bersuara."Tenang saja. Sahabatmu itu tidak dipecat. Aku tidak melakukannya," katanya pelan. Nada bicaranya kini lebih lunak, meski sorot matanya masih menyimpan emosi yang belum sepenuhnya reda. "Aku tahu kamu pasti akan mengamuk kalau itu terjadi. Dan karena kamu jujur mengaku cemburu… aku mengurungkan niatku."Ia tersenyum tipis. Ada perasaan membuncah dihatinya saat tahu Aira cemburu."Lagian aku hanya makan siang dengannya. Tidak lebih. Tidak ada yang perlu ditakuti. Yang menyebalkan justru sahabatmu itu."Aira terdiam. Bahunya perlahan turun, tetapi ia menunduk, menatap jemarinya sendi

  • Istri yang Terabaikan   Gavin Cemburu

    “Iya. Bukannya aku sudah mengatakannya pada Tuan bahwa lelaki bernama Obi itu sangat baik karena tidak meminta ganti rugi saat aku menjatuhkan iPad miliknya,” jelas Aira pelan, menceritakan kembali awal mula perkenalannya dengan Obi.Gavin akhirnya teringat kejadian di kantor saat Mithq menyerahkan kotak dasi. Benar, Aira memang sempat mengatakan bahwa ia mengenal Obi.Namun tetap saja, Gavin tidak bisa menerima penjelasan itu begitu saja. Obi bukanlah orang seperti yang Aira gambarkan. Gavin tahu betul, ketika seseorang mencari masalah dengan Obi, lelaki itu tidak pernah segan membalas dengan cara yang kejam. Setidaknya, itulah yang Indah ceritakan padanya.Penjelasan Aira justru menimbulkan keganjilan di hati Gavin. Wanita itu seolah menutup-nutupi sesuatu. Dari caranya menyebut nama Obi saja, Gavin merasa Aira tidak sekadar mengenalnya sekali dua kali.“Apa itu benar-benar pertemuan pertama kalian? Jangan menilai orang hanya dari tampangnya,” ucap Gavin, nadanya terasa panas saat A

  • Istri yang Terabaikan   Video Dari Orang Asing

    Gavin masih tidak menyangka apa yang baru saja dia lihat. Wajahnya yang tadinya terpesona oleh kehadiran sang janin seketika berubah ketika sebuah video singkat masuk dari nomor asing.Dia kembali memicingkan mata, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa wanita yang ada di dalam video itu bukanlah Aira.Namun berapa kali pun dia mengulangnya, tetap saja Aira-lah yang terlihat turun dari mobil bersama seorang lelaki yang sangat dia kenal, lengkap dengan pakaian kerjanya.Obi?Jadi Aira benar-benar mengenalnya. Apa yang Aira katakan tentang iPad yang terjatuh waktu itu ternyata memang benar adanya.Tapi kenapa Obi mendekati Aira? Apa mereka sudah saling mengenal bahkan sebelum Gavin menikahi Aira, sampai dengan mudahnya lelaki itu merekalan iPad mahal itu tanpa meminta ganti rugi sedikit pun?Jangan-jangan Obi adalah kekasih Aira yang sedang Lyra selidiki?Gavin memijat kepalanya. Pikiran-pikiran buruk justru membuat dadanya terasa semakin sesak dan cemas.“Ada lagi yang ingin ditanyak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status