LOGIN"Pak, tolong masukkan motor saya ke dalam ya," ujar Raka tergesa-gesa sembari meninggalkan motor tuanya begitu saja di dekat pos gerbang utama, meminta bantuan salah satu penjaga yang sedang bertugas pagi itu.Raka langsung setengah berlari menuju ke dalam rumah mewah milik Amara. Pikirannya diliputi rasa waswas, takut jika wanita itu sudah terlalu lama menunggunya dan wanita itu akan semakin marah.Begitu melangkah masuk ke ruang tengah yang luas, Raka langsung mendapati Amara sedang duduk menyendiri di atas sofa kulit. Wanita itu tampak menatap tajam ke arah layar iPad di pangkuannya dengan bibir yang ditekuk ke bawah.Dengan napas yang masih sedikit memburu akibat berlari, Raka menghentikan langkah tepat di hadapan wanita cantik itu. "Maaf, Bu… saya sedikit terlambat," ucap Raka dengan nada formal, mencoba mengatur napasnya.Amara mendongak, melipat kedua tangannya di dada sambil mendengus kasar. "Sedikit kamu bilang? Ini sudah lewat tiga puluh menit dari jadwal biasanya, Raka! Pad
Pagi harinya setelah selesai mandi, ponsel Raka bergetar hebat di atas meja nakas kamarnya. Begitu melihat nama Bianca berkedip di layar, Raka langsung menggeser tombol hijau dengan firasat yang mulai tidak enak. "Halo, Bi? Ada apa?""Kak Raka… hiks… Kakak di mana?" Suara Bianca terdengar bergetar hebat, disusul suara tangisan yang tertahan. "Mama sama Kak Vanessa udah pulang semalam. Mereka… mereka berdua kayak orang gila, Kak!"Raka langsung bangkit dari posisi duduknya dengan rahangnya yang mengeras. "Mereka ngapain kamu, Bi? Jawab yang jelas.""Mereka marah-marah ke aku, Kak! Kak Vanessa teriak-teriak nanyain aku ngomong apa ke kak Raka, terus Mama ikut-ikutan bentak aku. Mereka bilang kalau Kak Raka itu sopir kurang ajar yang nggak tahu diri. Terus… terus Mama ancam mau ngusir aku dari rumah ini kalau sampai Kak Raka buat Kak Vanes hancur! Kak, ini kan rumah Ayah… hiks… kenapa mereka jahat banget?"Amarah di dada Raka kembali tersulut, namun kali ini ia menanggapi situasi dengan
Malam itu, gerbang besi megah di kediaman Valerine baru saja ditutup rapat setelah mobil sedan yang membawa Amara dan Raka masuk ke area carport. Setelah seharian penuh menjalani pekerjaan yang melelahkan, Amara langsung melangkah menuju bangunan utama untuk mandi dan beristirahat.Sementara Raka memilih berjalan menuju paviliun belakang untuk mandi dan mengistirahatkan tubuhnya.Baru saja Raka selesai mandi dan memakai kaos santai rumahan, ponselnya di atas meja nakas mendadak bergetar hebat. Nama Bu Sri berkedip-kedip di layar.Raka mengernyitkan dahi lalu mengangkatnya. "Halo, Bu Sri? Ada apa?""Pak Raka! Duh, tolong ke depan gerbang utama sekarang, Pak!" suara Bu Sri terdengar panik dan berbisik dari ujung telepon. "Ada perempuan ngamuk di luar pagar. Dia teriak-teriak manggil nama Pak Raka sampai satpam kewalahan menahannya. Katanya dia istri Pak Raka!"Rahang Raka seketika mengeras. Matanya berkilat dingin. "Vanessa…" desisnya parau. "Iya, Bu Sri. Saya langsung ke depan sekarang
Tepat pukul dua belas siang, Raka melangkah keluar dari ruangan driver di lantai bawah. Ia menaiki lift eksekutif menuju lantai teratas, menepati janjinya pada Amara.Ketika pintu lift terbuka di lantai paling atas, Raka berjalan tenang melewati meja sekretaris. Emma yang sedang merapikan beberapa dokumen langsung mendongak dan tersenyum penuh arti. "Siang, Pak Raka. Wah, tepat waktu banget ya. Bu Amara udah menunggu di dalam dari sepuluh menit yang lalu. Masuk aja, Pak, makan siangnya sudah diantarkan ke dalam.""Siang, Bu Emma. Terima kasih ya," jawab Raka ramah dan dengan dahi yang sedikit berkerut melihat senyuman aneh di wajah wanita muda itu. Tak mau berpikir lama, Raka mengetuk pintu kayu besar itu dua kali sebelum memutar kenopnya.Begitu pintu terbuka dan Raka melangkah masuk, suara pintu yang terkunci otomatis langsung berbunyi di belakangnya. Di dalam ruangan yang sejuk dan wangi itu, Amara rupanya sudah melepaskan blazer kerjanya, dan menyisakan kemeja putih sutra yang mel
Mobil putih mewah milik Amara akhirnya berbelok memasuki area pelataran lobi kantor. Sebelum Amara sempat meraih gagang pintu belakang untuk turun, Raka memutar tubuhnya sedikit dari balik kemudi, menatap wanitanya lewat celah kursi dengan tatapan serius."Ra, sebelum kamu turun, aku mau minta izin sesuatu," ujar Raka pelan.Amara menghentikan gerakannya, menatap Raka bingung. "Izin apa, Ka? Kamu mau ke mana?""Aku mau izin untuk menunggu di ruangan khusus para driver aja hari ini. Tempat biasa aku nongkrong sebelum hubungan kita sedekat sekarang," jelas Raka. "Pekerjaan kamu hari ini padat, dan kalau aku terus-terusan di ruangan kamu seharian kayak kemarin, aku takut staf kantor atau bahkan sekretaris kamu, mulai curiga yang nggak-nggak. Kita harus tetap jaga profesionalitas di depan mereka."Mendengar penuturan Raka, Amara langsung mendesah berat. Wajah cantiknya cemberut, enggan dipisahkan dari pria tegap itu walau hanya beberapa jam.Namun, setelah menimbang sejenak dan logikanya
Raka terbangun saat matahari bahkan belum memunculkan sinarnya ke permukaan. Suasana kamar masih begitu sunyi.Saat dirinya menoleh ke samping, tampak Amara yang masih tertidur dengan sangat pulas, menjadikan lengan tegap Raka sebagai bantalnya.Raka bergerak dengan sangat pelan, menyingkirkan lengannya dengan sangat hati-hati karena takut Amara akan terbangun. Pria itu langsung turun dari ranjang, memungut dan memakai kembali pakaian santainya yang tadi malam sempat terlepas di lantai.“Aku balik ke paviliun dulu ya, Ra,” bisiknya dengan begitu lirih pada wanita yang masih terlelap dalam balutan selimut itu. Raka mencondongkan tubuhnya, mengecup pelan dahi Amara yang masih terbuai mimpi.Setelah itu, ia berjalan tanpa suara menuju panel dinding kayu yang menjadi pintu rahasia yang dilewatinya tadi malam. Pria itu harus secepat mungkin kembali ke kamarnya di paviliun belakang agar tidak memicu kecurigaan dari para pekerja rumah megah tersebut.Saat mendorong pelan pintu luar yang ters







