LOGINSeketika, wajah Linggar berubah pucat.Tubuhnya menegang, sementara kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.“Apa?”“Kita akan menemui ayahmu.”Linggar segera menggeleng.“Tidak. Aku tidak mau bertemu dengannya.”Aaraf menatapnya serius.“Linggar, ada banyak hal yang perlu kamu selesaikan. Dan Sanjaya adalah salah satu orang yang harus kamu hadapi jika ingin memperjuangkan kembali hakmu.”“Aku tidak sanggup!”Suara Linggar bergetar.Baginya, nama Sanjaya bukan sekadar nama seorang ayah. Lelaki itu adalah orang yang pernah mengancamnya, menamparnya, merampas rumahnya, dan memaksanya menandatangani surat yang mengalihkan seluruh aset keluarganya.Dia masih mengingat wajah lelaki itu ketika menyuruhnya pergi tanpa sedikit pun penyesalan.Bagaimana mungkin dia harus kembali berhadapan dengan orang yang telah menghancurkan hidupnya?Aaraf menatap Linggar beberapa saat sebelum berbicara lagi.“Aku tidak akan memaksamu melakukan sesuatu yang belum siap kamu lakukan.”Linggar menunduk. Air mat
Aaraf menatapnya lembut. Senyum tipis menghiasi wajahnya, tetapi sorot matanya tampak begitu serius.“Karena sejak pertama kali melihatmu di taman, aku sudah jatuh hati kepadamu.”Linggar tertegun.Dia menatap Aaraf seolah baru saja mendengar sesuatu yang sulit dipercaya. Lelaki itu mengatakannya begitu saja, tanpa keraguan, sementara dirinya bahkan belum mampu membereskan kekacauan dalam hatinya sendiri.“Apa kamu sedang bercanda?” tanyanya.“Menurutmu, aku terlihat sedang bercanda?”Linggar menggeleng pelan.Aaraf menghembuskan napas, lalu menyandarkan tubuhnya pada mobil.“Aku bukan lelaki yang gampang tertarik kepada perempuan, Linggar. Selama ini, aku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja. Tapi sejak melihatmu di taman... "Dia berhenti sebentar, kemudian kembali menatap Linggar.“entah kenapa, semuanya berbeda. Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Aku ingin berada di dekatmu. Bahkan, tanpa kusadari, aku mulai mencari alasan agar bisa bertemu denganmu lagi. Termasuk saat kamu
"Apa aku salah?" tanya Aaraf.“Bukankah kamu bilang perusahaan ini sedang kolaps?” tanya Linggar balik, beralasan menyembunyikan ketakutan.Aaraf mengangguk, walau tersenyum selintas menata Linggar.“Benar.”“Lalu kenapa kamu membawaku ke sini?”Aaraf memasukkan kedua tangannya ke saku celana.“Karena aku sedang mempertimbangkan untuk membelinya.”Linggar menatapnya.“Apa?”“Pemiliknya ingin menjual. Perusahaannya masih punya izin usaha, gudang, kantor, dan jaringan yang cukup bagus. Memang ada masalah keuangan yang harus diselesaikan, tetapi bukan berarti semuanya tidak bisa diperbaiki.”Linggar kembali menatap bangunan itu. Nama PT Arunika Nusantara terpampang jelas di depannya.Seketika itu, bayangan bagaimana ayahnya bicara menjelma."Perusahaan ini akan dikelola Nisa dan akan aku ganti namanya menjadi Arunika, anak kami.""Tapi usaha ini milik mamiku, Pi. Papi dan selingkuhan Papi itu tidak berhak atas semua ini.""Jaga bicaramu, Linggar." Sanjaya menatap tajam lalu menyodorkan be
Linggar tertegun.Seseorang berdiri di dekat meja, mengulurkan sapu tangan kepadanya.Linggar perlahan mengangkat kepala. Matanya membulat.“Kamu?” ucap Linggar.Linggar masih menatap laki-laki yang berdiri di samping mejanya. Sapu tangan yang diulurkan itu belum juga ia ambil.Lelaki tinggi besar dengan bulu halus di wajahnya itu tersenyum tipis.“Kenapa? Kamu tidak senang melihatku?” tanyanya dengan bahasa Indonesia kaku. Linggar mengerjap. Ia buru-buru mengusap pipinya dengan tisu, berusaha menghilangkan jejak air mata yang telanjur membasahi wajah.“Bagaimana kamu bisa berada di sini?”Aaraf menarik kursi di hadapannya, lalu duduk.“Aku lagi ada pekerjaan di sini.”“Pekerjaan?”Aaraf mengangguk. Matanya sempat melirik piring Linggar yang masih hampir utuh.“Ada sebuah perusahaan ekspor impor yang sedang kolaps. Pemiliknya mau menjual perusahaan itu. Kebetulan lokasinya tidak jauh dari sini.”Linggar mengernyit. Perusahaan expor impor? Tak jauh di sini? "Memangnya kamu sudah past
Herman terdiam sesaat.“Baik, Pak.”Ilalang menatap pintu rumah. Ia tidak tahu di mana Linggar berada.Ia bahkan tidak tahu apakah perempuan itu masih berada di kota yang sama.Yang ia tahu, Linggar telah melihat sesuatu yang mungkin tidak akan pernah bisa dimaafkan.Ilalang merasa ketakutan kehilangan istrinya bukan lagi sekadar ancaman.Melainkan sesuatu yang mungkin benar-benar terjadi.Bu Ratih menghampiri Ilalang.“Lang, sebenarnya ada apalagi? Kenapa kamu pulang dengan wajah seperti itu?”Ilalang mengangkat kepalanya. Ia sempat terdiam, seolah masih berusaha menyusun kalimat yang tepat untuk menjelaskan sesuatu yang bahkan dirinya sendiri belum sepenuhnya mengerti.“Aku dijebak Cindy, Nek.”Kening Bu Ratih berkerut.“Dijebak bagaimana?”Ilalang mengusap wajahnya kasar. “Dia membuatku kehilangan kendali. Aku bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Waktu sadar, aku sudah berada dalam keadaan yang...” Ilalang menghentikan ucapannya. Rahangnya mengeras. “Linggar melihat kami
Lelaki itu memejamkan mata rapat-rapat. Di balik kegelapan pikirannya yang makin tenggelam dalam pusaran gairah, hanya ada satu nama yang terus berbisik dan menggema di dalam dadanya. Satu nama yang amat ia rindukan, satu-satunya perempuan yang selalu menjadi tempat hatinya berlabuh.Dengan napas tersengal dan bibir yang masih bertautan erat, Ilalang menangkep kedua pipi perempuan di hadapannya. Ia mengusapnya penuh kelembutan, seolah takut sosok itu runtuh menjadi debu jika tersentuh terlalu kasar.Lelaki itu sedikit menarik wajahnya, menatap penuh kerinduan pada sepasang mata yang nampak kabur di penglihatannya. Sudut matanya bahkan mengembun oleh emosi yang mendalam, tak mampu lagi menahan gelombang rasa cinta yang membuncah.Dengan suara serak, berat, dan bergetar menahan kerinduan yang amat sangat, Ilalang bergumam lirih tepat di depan bibir Cindy, "Linggar... akhirnya kita bersama lagi. Aku kangen..."Cindy membeku ketika mendengar nama itu.“Linggar?”Senyum yang semula menghi







