Share

JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU
JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU
Author: Estaruby

01. Skandal Gila

Author: Estaruby
last update Last Updated: 2026-02-07 15:17:05

"Sekarang kamu pilih, Naviro! Mau melanjutkan pernikahanmu dengan Mayra atau bertanggung jawab atas kandungan Karina?!"

Ballroom hotel yang seharusnya sebentar lagi dipenuhi oleh riuh bahagia pernikahan mendadak dikerubungi udara yang terasa berat. Seolah setiap orang didalamnya tengah menahan napas.

Keluarga besar kedua mempelai terlibat dalam percakapan serius yang akan menentukan jalannya pesta yang hendak dimulai kurang dari 60 menit lagi. Beberapa tamu mungkin saja sudah mulai hadir dan menunggu di lobi.

Pesta yang dipersiapkan mewah namun intimate, kini justru terancam gagal total. Apalagi dengan kehadiran wartawan di depan pintu hotel yang seolah mengepung mereka.

Berkat beberapa gambar dan video intim yang tiba-tiba tersebar di jagat maya, kehebohan langsung menyeruak. Nama dari dua keluarga tersohor terjerat, jelas jadi santapan yang amat diminati para pemburu berita dan konsumennya.

"Aku hamil... dan itu milik Naviro!" Aku Karina. Adik tiri dari mempelai wanita yang seharusnya menjadi tokoh utama hari ini.

Mayra yang harusnya jadi mempelai wanita, berdiri di tengah ruangan dengan punggung tegak. Gaun sederhana berwarna krem yang dikenakannya tampak kontras dengan suasana kacau di sekeliling. Di hadapannya, Naviro berdiri kaku. Wajah pria itu pucat, matanya berkeliling, seolah mencari celah untuk melarikan diri dari kenyataan.

“Jadi, itu benar?"

Pengakuan Karina seolah mengonfirmasi kebenaran video dan foto yang tersebar sebelumnya. Suara Mayra sedikit bergetar. Masih sedikit tenang untuk seseorang yang baru saja mendengar bahwa tunangannya berselingkuh dengan adiknya sendiri.

Naviro menelan ludah. “Mayra… aku bisa jelaskan.”

“Tidak,” potong Mayra cepat. “Jawab dulu. Benar atau tidak?”

Keheningan menggantung. Semua mata tertuju pada Naviro, orang tua Mayra, keluarga besar Naviro, dan Karina… yang berdiri di tengah ruangan dengan sebilah pisau dan juga tangan gemetar memeluk perutnya sendiri.

“I-iya,” jawab Naviro akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. “Aku… aku khilaf.”

Desahan terkejut langsung memenuhi ruangan. Ibunda Karina menutup mulutnya, sementara ayahnya menggebrak meja.

“Khilaf?!” bentaknya. “Kamu menodai dua anak kami dengan satu kata itu?!”

Indra Prawitha tak pernah menyangka reputasi keluarganya bisa terancam hancur sebab skandal yang meng-highlight kedua putrinya. Mayra Jeanne Prawitha yang seharusnya diperistri hari ini, dan Karina Prawitha yang mengakui secara mandiri bahwa dia jadi wanita idaman lain dalam hubungan kakaknya.

Tubuh Mayra hampir terhuyung kebelakang, pijakannya serasa melemas. Meskipun tak ada air mata dan teriakan, namun siapapun yang ada disana dapat melihat tatapan nanar di matanya.

“Dan sekarang dia hamil,” ucap Mayra lagi, bibirnya bergetar kombinasi menahan tangis dan amarah. Kedua tangannya sudah mengepal kuat di sisi gaunnya.

Sementara Naviro mundur selangkah. Dia menggeleng sembari mengusap wajah. “N-nggak! Nggak mungkin! Aku memang sempat tidur dengannya, tapi bukan berarti aku adalah ayah dari anak yang dia kandung!"

"Kamu pikir aku perempuan macam apa? Aku nggak pernah melakukannya selain sama kamu!" Teriak Karina tidak terima dengan penolakan Naviro.

Mayra mendecih muak, yah perempuan macam apa yang meniduri tunangan kakaknya sendiri?

Sementara itu, melihat putra kesayangannya terpojok, Ibunda Naviro kini akhirnya turut bersuara.

"Jangan bersikap seperti seorang korban kalau justru kamu sendiri yang menggoda putraku!"

Semakin kehilangan akal sehat, Karina yang kian kalut kini membawa benda tajam di tangannya untuk lebih dekat dengan lehernya. Seluruh anggota keluarga yang berada dalam ruangan menarik nafas, tak berani mendekati Karina yang nekat namun sadar bahwa dia harus segera ditenangkan.

Karina menatap kakaknya yang kali ini memasang ekspresi dingin, "Aku sudah cukup malu karena dicap perebut calon suami kakakku. Dan sekarang, aku harus hidup menanggung ini sendirian?" Karina menangis di tengah ruangan.

Pandangannya beralih pada Naviro.

"Kalau kamu nggak mau bertanggung jawab, maka ini kali terakhir kita bertemu!" Tambah Karina lagi.

"Jangan begini, Rin!" Sang ibu memohon dengan isakan tangis. Pandangannya kini beralih pada anak angkatnya.

"Mayra, biarkan saja Naviro bertanggung jawab atas Karina!" Pekik wanita parubaya itu tanpa tahu malu.

Mayra mengangkat kepalanya perlahan. Melirik Karina yang berdasarkan pindaiannya kini tengah mengirimkan sebuah senyum kecil meledek. Mayra bisa membaca rencananya, wanita itu selalu menggunakan taktik ini untuk memanipulasi semuanya. Playing victim.

Dia tahu Karina tidak akan berani. Tangannya saja gemetar memegang pisau buah yang entah apakah benda tersebut cukup tajam atau tidak.

Matanya memerah, sebentar lagi bulir air mata mungkin akan mengalir di pipinya. Mati-matian dia tahan itu semua karena tak mau terlihat menyedihkan.

Dia tidak kembali ke Indonesia hanya untuk dipermalukan dalam pesta pernikahannya sendiri.

Dengan sisa ketegaran yang dia miliki, Mayra memandang Naviro dengan enggan. “Sekarang terserah kamu! Pilih salah satu! Mau melanjutkan pernikahan ini atau bertanggung jawab pada Karina?”

Mendengar itu, Ibu Karina menjadi semakin marah, "Egois! Kenapa masih harus memilih? Kamu mau membunuh adikmu sendiri, huh?!"

Mayra mengangkat bahunya, "Aku bahkan ragu dia berani melakukannya," tantang Mayra.

"Mayra!" Pekik sang ayah ikut panik.

Mayra tidak ciut, dia tak paham kenapa jadi dia yang disalahkan. Padahal jelas dia yang diselingkuhi dan Karina memegang pisau atas kemauannya sendiri.

"Dengar! Jawabanku tidak akan mempengaruhi apapun! Keputusan ada padanya!" Dia menunjuk Naviro meskipun kecewa membuatnya setengah enggan menatapnya lagi.

Naviro mengangkat kepala. “Mayra—”

Wanita itu menghela nafas lelah, memotong ucapan Naviro dengan turut meletakkan tangan kanannya di udara, “Aku hanya ingin kejelasan. Jika kamu memilih Karina, katakan saja sekarang. Pernikahan ini batal dan aku bisa pergi dengan harga diriku utuh.”

"Tidak, pernikahan kalian tidak bisa batal!" Sergah ibunda Naviro cepat.

Dia maju untuk melanjutkan, “Mayra, tolong jangan marah! Acara hari ini, pernikahan kalian tentu tidak bisa begitu saja dibatalkan mengingat ini adalah wasiat dari kedua tetua keluarga. Tapi... masalah anak itu... kami perlu waktu untuk membuktikannya apakah benar dia milik Naviro atau bukan."

Mama Naviro berujar seolah apa yang tengah terjadi ini bukanlah sesuatu yang genting. Wanita itu tetap memasang senyumnya, "Jadi.. tolong tetaplah menikah dengan Naviro hari ini, ya?"

"Atau begini saja. Pernikahan ini tetap dilangsungkan sambil menunggu hasil tes DNA. Lagipula Karina tidak menolak kalau harus jadi istri kedua, kan?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   06. Pillow Talk

    "Kita bisa bicara sambil rebahan." Savian mengambil selimut tambahan dan meletakkannya di sofa panjang dekat jendela.“Aku tidur di sana malam ini,” ucapnya santai.Mayra menatapnya, sedikit terkejut. “Kamu yakin?”Savian tersenyum tipis. “Aku duda, bukan predator.”Untuk pertama kalinya malam itu, Mayra hampir tertawa. Lampu utama dimatikan. Tersisa cahaya kota yang menyusup lewat celah tirai. Dua orang yang pagi tadi bukan siapa-siapa bagi satu sama lain, kini berada dalam satu kamar, meskipun tak seranjang."Ada lagi pertanyaan yang ingin kamu utarakan?" Tanya Savian. Mayra menatap langit-langit kamar hotel. Memilih untuk lanjut mewawancarai suaminya itu. "Punya anak? Dimana mantan istrimu?" tanya Mayra. Savian tersenyum tipis mendengarnya. Dia cukup tenang menjawab segala pertanyaan yang Mayra lontarkan padanya, "Hanya menikah setahun dan belum dikaruniai keturunan," jawabnya. “Kenapa bercerai?” tanya Mayra hati-hati. “Tidak semua orang cocok meski dipaksa bertahan,” jawab S

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   05. Malam Pertama

    Rasanya segar setelah benar-benar selesai membersihkan diri. Menghapus makeup, mengganti gaun beratnya dan mandi guna menyegarkan diri kembali. Seharian ini terasa seperti badai yang memindahkannya dari satu kehidupan ke kehidupan lain tanpa jeda.Mayra terduduk di ujung ranjang. Tidak ada taburan kelopak mawar. Tidak ada lilin-lilin romantis seperti dalam film. Hanya satu kamar luas dengan lampu temaram, aroma pendingin ruangan yang terlalu rapi. Tangannya otomatis menyentuh cincin di jari manisnya, seolah memastikan semuanya nyata.Lebih nyata lagi ketika terdengar suara pintu kamar hotel terbuka. Savian muncul dengan pakaian yang sama sembari membawa satu buah tas yang familiar bagi Mayra—miliknya. Pria itu menyerahkannya pada Mayra dan Mayra menerimanya dengan sopan, sedikit canggung lebih tepatnya.Atmosfer kamar jadi sedikit berbeda. Tenggorokan Mayra ikut gatal hingga beberapa kali ia berdehem."Kamu sudah selesai mandi?" Tanya Savian yang dengan cepat dibalas anggukan oleh

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   04. Sejajar Dengan Mertuamu

    Pesta akhirnya selesai.Lampu-lampu ballroom mulai diredupkan satu per satu, para tamu perlahan meninggalkan gedung dengan obrolan yang masih dipenuhi cerita tentang kejutan dua pernikahan saudari yang berlangsung di tempat yang sama hari ini. Musik yang sejak sore mengalun kini hanya tersisa gema samar.Mayra berdiri di salah satu lorong hotel dengan gaun pengantinnya yang masih rapi, tapi tubuhnya terasa jauh lebih lelah daripada yang ingin ia akui.“Nyonya Mayra, kamar pengantin sudah disiapkan di lantai atas. Malam ini Anda akan bermalam disini dulu sebelum besok menuju kediaman Keluarga Hutama.”Suara perempuan di sampingnya menarik perhatiannya. Perempuan itu mengenakan setelan formal dengan rambut yang tersanggul rapi, sekretaris pribadi Savian.“Pak Savian masih harus menyelesaikan beberapa urusan dengan keluarga dan pihak hotel. Beliau akan menyusul nanti.”Mayra mengangguk pelan. Jujur saja, ia bahkan tidak tahu harus merasa lega atau semakin canggung dengan informasi itu. I

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   03. Pernikahan Tak Terhindarkan

    Untuk yang katanya keluarga 'terpandang', maka citra menjadi sesuatu yang sensitif. Terutama jika skandal telah mencuat ke media dan menjadi santapan publik.Strategi mengalahkan panas dengan yang lebih panas lagi. Sebuah prinsip yang Mayra awalnya percayai namun untuk pertama kalinya kini membuatnya meragukan keyakinannya selama ini. Lewat sebuah kalimat santai bernada narsistik. Lelucon macam apa yang baru saja disampaikan oleh pria yang katanya paman muda dari Naviro itu?Menikah dengan dia saja katanya?Memangnya mereka pikir Mayra ini apa? Barang yang dengan mudah saja dilempar sana-sini? Dia sempat tenggelam dengan pemikirannya sendiri, menghiraukan perbincangan-perbincangan antarkeluarga termasuk momen masuknya si presdir penguasa itu. Namun kesadarannya langsung kembali begitu namanya disebut dalam sebuah kalimat yang tak pernah terpikirkan olehnya. "Alih-alih dipoligami, bukankah lebih baik kalau Mayra menjadi istri saya?"Semua orang yang berada di dalam ruangan jelas ter

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   02. Menikah Dengannya?

    Gila. Siapa yang dengan gagah berani menyampaikan ide gila itu dengan lantang?Ketika lontaran saran paling absurd tentang pernikahan dan kemungkinan poligami yang melibatkan dua kakak adik, Mayra tertawa miris. Bukan karena lucu, tapi karena getir. Hell nah! Tidak ada dalam kamus hidupnya sama sekali. Menikahi satu pria yang sama dengan wanita lainnya. Terlebih itu Karina? Si adik tiri manis kebanggaan keluarganya itu?"Nggak. Aku nggak mau! Lebih baik aku batal menikah daripada harus diduakan begitu," Mayra menolak tegas.Tapi manusia-manusia disekitarnya sepertinya tak punya lagi akal sehat."Jangan keras kepala! Berita sudah tersebar bahwa hari ini putri sulung keluarga Prawitha yang akan menikah. Meskipun mereka mungkin belum tahu bahwa seharusnya kamu dan Naviro yang menikah, tapi akan sangat memalukan kalau kamu keluar dari sini dengan status lajang." Ujar salah satu bibinya lagi. Punya keluarga besar apalagi yang tidak waras memang benar-benar merepotkan.Pesta intimate ini m

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   01. Skandal Gila

    "Sekarang kamu pilih, Naviro! Mau melanjutkan pernikahanmu dengan Mayra atau bertanggung jawab atas kandungan Karina?!"Ballroom hotel yang seharusnya sebentar lagi dipenuhi oleh riuh bahagia pernikahan mendadak dikerubungi udara yang terasa berat. Seolah setiap orang didalamnya tengah menahan napas. Keluarga besar kedua mempelai terlibat dalam percakapan serius yang akan menentukan jalannya pesta yang hendak dimulai kurang dari 60 menit lagi. Beberapa tamu mungkin saja sudah mulai hadir dan menunggu di lobi.Pesta yang dipersiapkan mewah namun intimate, kini justru terancam gagal total. Apalagi dengan kehadiran wartawan di depan pintu hotel yang seolah mengepung mereka.Berkat beberapa gambar dan video intim yang tiba-tiba tersebar di jagat maya, kehebohan langsung menyeruak. Nama dari dua keluarga tersohor terjerat, jelas jadi santapan yang amat diminati para pemburu berita dan konsumennya."Aku hamil... dan itu milik Naviro!" Aku Karina. Adik tiri dari mempelai wanita yang seharus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status