เข้าสู่ระบบUntuk yang katanya keluarga 'terpandang', maka citra menjadi sesuatu yang sensitif. Terutama jika skandal telah mencuat ke media dan menjadi santapan publik.
Strategi mengalahkan panas dengan yang lebih panas lagi. Sebuah prinsip yang Mayra awalnya percayai namun untuk pertama kalinya kini membuatnya meragukan keyakinannya selama ini.
Lewat sebuah kalimat santai bernada narsistik. Lelucon macam apa yang baru saja disampaikan oleh pria yang katanya paman muda dari Naviro itu?
Menikah dengan dia saja katanya?
Memangnya mereka pikir Mayra ini apa? Barang yang dengan mudah saja dilempar sana-sini?
Dia sempat tenggelam dengan pemikirannya sendiri, menghiraukan perbincangan-perbincangan antarkeluarga termasuk momen masuknya si presdir penguasa itu. Namun kesadarannya langsung kembali begitu namanya disebut dalam sebuah kalimat yang tak pernah terpikirkan olehnya.
"Alih-alih dipoligami, bukankah lebih baik kalau Mayra menjadi istri saya?"
Semua orang yang berada di dalam ruangan jelas tercengang. Kalimat tersebut diucapkan oleh Savian Mandala Hutama. Pria dingin tak tersentuh yang bahkan jarang muncul dalam keramaian elit. Kini justru secara terang-terangan melamar wanita yang hampir dinikahi oleh keponakan tirinya sendiri?
Setelah tahu bagaimana penghianatan Naviro dan penghinaan dari keluarganya sendiri, pria itu malah menawarkan diri untuk menikahinya? Apakah dia sengaja ingin menghina? Pikir Mayra.
Mayra hampir membuka mulutnya untuk berontak ketika salah satu tantenya mencubit lengannya dan memaksa gadis itu untuk tutup mulut sementara waktu.
"Apa-apaan! Tidak! Mayra tidak—"
Elakan Naviro yang terdengar lantang harus kandas ketika ayahnya yang sejak tadi lebih banyak diam kini menamparnya.
"Diam saja! Kamu jangan menambah deret masalah dengan Savian!"
Naviro memegang pipinya yang terasa perih oleh tamparan sang Ayah. Menatap Savian dengan sorot kebencian disana namun jelas masih ada ketakutannya.
Savian tidak mengindahkan penolakan sepenggal Naviro, dia fokus pada Tuan Prawitha yang masih terlihat kaget akan tawarannya.
"Bagaimana Tuan Prawitha?"
Sebuah lamaran dadakan tak terduga yang jelas membuat Tuan Prawitha harus berulang kali memeriksa kesadarannya sendiri.
"B-bukan begitu, Tuan. Tapi... apa yang membuat Anda ingin menikahi putri sulung saya?" Tanyanya dengan gugup menyuarakan kebingungannya.
Savian melirik Mayra yang kini juga menatapnya dengan penuh tanda tanya. Pria itu tersenyum sangat tipis sebelum membenahi letak kacamatanya.
"Tidak ada alasan khusus. Saya rasa latar belakang pendidikan, keluarga, karirnya serta presensinya saja sudah cukup menjawab. Menikah dengan saya juga tidak akan rugi, kan?" Savian menjawab dengan ringan.
Tuan Prawitha masih diliputi rasa tak percaya. Juga anggota keluarga lain yang masih bertanya-tanya tentang dasar keputusan Savian mengatakan ini.
Mama Naviro yang juga terkejut kini merasa harus masuk dalam obrolan, dia maju mendekati Savian dengan senyum palsunya.
"Savian... aku rasa kamu tidak perlu sampai mengorbankan diri sendiri sampai seperti ini. Ini... ini..tidak masuk akal," ucapnya berusaha menengahi lamaran itu.
Mendengar kakak tirinya berucap demikian, Savian mengernyitkan alisnya dan memandang balik dengan heran.
"Apanya yang tidak masuk akal?" Dia bertanya balik namun tidak memberikan kesempatan lawannya untuk menjawab dan langsung menyambar lagi.
"Aku memilih mempelaiku sendiri. Putri sulung Tuan Prawitha adalah putri dari pernikahan resmi. Dia berpendidikan, punya karir dan reputasi yang baik juga selama ini. Keluarga Prawitha juga bukanlah keluarga sembarangan. Jadi, apakah Anda bermaksud menghina keluarga Prawitha dalam hal ini?"
Sekali bicara, ada beberapa orang yang langsung tertohok namun tak bisa melawan. Termasuk dalam hal ini Mama Naviro yang langsung mundur dengan kesal. Salah bicara sedikit, dia akan semakin merusak hubungan dengan dua keluarga besar tersebut.
Savian mengabaikan sedikit kekacauan kecil disana, dia mengangkat lengannya untuk menelisik waktu yang tertera disana, "Tersisa kurang dari tiga puluh menit sebelum tamu undangan masuk ruangan. Beberapa wartawan juga mungkin akan menyelinap masuk. Kita tidak punya banyak waktu untuk berdiskusi lagi, kan?"
Tuan Prawitha mengangguk, "Benar, maaf karena membuang terlalu banyak waktu. Kalau memang itu keinginan Tuan Savian, maka saya tidak akan menghalangi," ucapnya yang secara tidak langsung mengiyakan.
Savian memulas senyumnya lagi, pandangannya kini kembali terpaku pada Mayra yang netranya membulat setelah sang ayah memberi izin.
"M-maaf, tapi setidaknya kita masih harus mendengarkan pendapat Mayra, kan?" Kali ini Naviro menerobos lagi.
Savian tidak keberatan dengan itu, tanpa melepaskan pandangannya, dia berjalan kearah Mayra. Perawakannya yang tinggi dan dingin mendominasi itu seolah menarik semua pandangan untuk fokus kearahnya.
Dia menyodorkan tangannya, "Bagaimana menurutmu, Nona Mayra?"
Awalnya Mayra ingin berontak. Namun setelah beberapa pertimbangan, pikirannya jadi sedikit lebih terarah. Dia merasakan sendiri bagaimana orang-orang di dalam ruang ini meremehkan dan terkesan menghinanya. Meskipun tidak tahu motif yang sebenarnya dimiliki oleh Savian, setidaknya pria itu masih punya penglihatan bagus dan memberi kredit pada pencapaian Mayra selama ini. Pencapaian-pencapaian pendidikan dan karir yang bahkan keluarganya sendiri abaikan.
Dia tidak mau lagi terjebak dalam lingkungan keluarga toxic yang menjegalnya untuk bicara. Atau bahkan kekasih yang memberinya penghianatan luar biasa
Entah apa yang akan dia hadapi kedepannya, tapi setelah menyadari kondisinya, Mayra merasa tak ada pilihan yang lebih baik daripada ini. Maka tanpa ragu lagi, dia pada akhirnya menyambut tangan Savian dibarengi sebuah tatapan misterius yang terkunci diantara keduanya.
Mengangguk kecil, menerima pinangan dari paman tunangannya sendiri. Savian Mandala Hutama, Pria yang lebih matang, lebih tenang, dan entah bagaimana lebih tak terduga.
Savian tersenyum puas lantas mengecup tangan Mayra, berbisik yang cukup hanya didengar berdua, "Selamat datang! Aku tidak akan mengecewakanmu."
"Kita bisa bicara sambil rebahan." Savian mengambil selimut tambahan dan meletakkannya di sofa panjang dekat jendela.“Aku tidur di sana malam ini,” ucapnya santai.Mayra menatapnya, sedikit terkejut. “Kamu yakin?”Savian tersenyum tipis. “Aku duda, bukan predator.”Untuk pertama kalinya malam itu, Mayra hampir tertawa. Lampu utama dimatikan. Tersisa cahaya kota yang menyusup lewat celah tirai. Dua orang yang pagi tadi bukan siapa-siapa bagi satu sama lain, kini berada dalam satu kamar, meskipun tak seranjang."Ada lagi pertanyaan yang ingin kamu utarakan?" Tanya Savian. Mayra menatap langit-langit kamar hotel. Memilih untuk lanjut mewawancarai suaminya itu. "Punya anak? Dimana mantan istrimu?" tanya Mayra. Savian tersenyum tipis mendengarnya. Dia cukup tenang menjawab segala pertanyaan yang Mayra lontarkan padanya, "Hanya menikah setahun dan belum dikaruniai keturunan," jawabnya. “Kenapa bercerai?” tanya Mayra hati-hati. “Tidak semua orang cocok meski dipaksa bertahan,” jawab S
Rasanya segar setelah benar-benar selesai membersihkan diri. Menghapus makeup, mengganti gaun beratnya dan mandi guna menyegarkan diri kembali. Seharian ini terasa seperti badai yang memindahkannya dari satu kehidupan ke kehidupan lain tanpa jeda.Mayra terduduk di ujung ranjang. Tidak ada taburan kelopak mawar. Tidak ada lilin-lilin romantis seperti dalam film. Hanya satu kamar luas dengan lampu temaram, aroma pendingin ruangan yang terlalu rapi. Tangannya otomatis menyentuh cincin di jari manisnya, seolah memastikan semuanya nyata.Lebih nyata lagi ketika terdengar suara pintu kamar hotel terbuka. Savian muncul dengan pakaian yang sama sembari membawa satu buah tas yang familiar bagi Mayra—miliknya. Pria itu menyerahkannya pada Mayra dan Mayra menerimanya dengan sopan, sedikit canggung lebih tepatnya.Atmosfer kamar jadi sedikit berbeda. Tenggorokan Mayra ikut gatal hingga beberapa kali ia berdehem."Kamu sudah selesai mandi?" Tanya Savian yang dengan cepat dibalas anggukan oleh
Pesta akhirnya selesai.Lampu-lampu ballroom mulai diredupkan satu per satu, para tamu perlahan meninggalkan gedung dengan obrolan yang masih dipenuhi cerita tentang kejutan dua pernikahan saudari yang berlangsung di tempat yang sama hari ini. Musik yang sejak sore mengalun kini hanya tersisa gema samar.Mayra berdiri di salah satu lorong hotel dengan gaun pengantinnya yang masih rapi, tapi tubuhnya terasa jauh lebih lelah daripada yang ingin ia akui.“Nyonya Mayra, kamar pengantin sudah disiapkan di lantai atas. Malam ini Anda akan bermalam disini dulu sebelum besok menuju kediaman Keluarga Hutama.”Suara perempuan di sampingnya menarik perhatiannya. Perempuan itu mengenakan setelan formal dengan rambut yang tersanggul rapi, sekretaris pribadi Savian.“Pak Savian masih harus menyelesaikan beberapa urusan dengan keluarga dan pihak hotel. Beliau akan menyusul nanti.”Mayra mengangguk pelan. Jujur saja, ia bahkan tidak tahu harus merasa lega atau semakin canggung dengan informasi itu. I
Untuk yang katanya keluarga 'terpandang', maka citra menjadi sesuatu yang sensitif. Terutama jika skandal telah mencuat ke media dan menjadi santapan publik.Strategi mengalahkan panas dengan yang lebih panas lagi. Sebuah prinsip yang Mayra awalnya percayai namun untuk pertama kalinya kini membuatnya meragukan keyakinannya selama ini. Lewat sebuah kalimat santai bernada narsistik. Lelucon macam apa yang baru saja disampaikan oleh pria yang katanya paman muda dari Naviro itu?Menikah dengan dia saja katanya?Memangnya mereka pikir Mayra ini apa? Barang yang dengan mudah saja dilempar sana-sini? Dia sempat tenggelam dengan pemikirannya sendiri, menghiraukan perbincangan-perbincangan antarkeluarga termasuk momen masuknya si presdir penguasa itu. Namun kesadarannya langsung kembali begitu namanya disebut dalam sebuah kalimat yang tak pernah terpikirkan olehnya. "Alih-alih dipoligami, bukankah lebih baik kalau Mayra menjadi istri saya?"Semua orang yang berada di dalam ruangan jelas ter
Gila. Siapa yang dengan gagah berani menyampaikan ide gila itu dengan lantang?Ketika lontaran saran paling absurd tentang pernikahan dan kemungkinan poligami yang melibatkan dua kakak adik, Mayra tertawa miris. Bukan karena lucu, tapi karena getir. Hell nah! Tidak ada dalam kamus hidupnya sama sekali. Menikahi satu pria yang sama dengan wanita lainnya. Terlebih itu Karina? Si adik tiri manis kebanggaan keluarganya itu?"Nggak. Aku nggak mau! Lebih baik aku batal menikah daripada harus diduakan begitu," Mayra menolak tegas.Tapi manusia-manusia disekitarnya sepertinya tak punya lagi akal sehat."Jangan keras kepala! Berita sudah tersebar bahwa hari ini putri sulung keluarga Prawitha yang akan menikah. Meskipun mereka mungkin belum tahu bahwa seharusnya kamu dan Naviro yang menikah, tapi akan sangat memalukan kalau kamu keluar dari sini dengan status lajang." Ujar salah satu bibinya lagi. Punya keluarga besar apalagi yang tidak waras memang benar-benar merepotkan.Pesta intimate ini m
"Sekarang kamu pilih, Naviro! Mau melanjutkan pernikahanmu dengan Mayra atau bertanggung jawab atas kandungan Karina?!"Ballroom hotel yang seharusnya sebentar lagi dipenuhi oleh riuh bahagia pernikahan mendadak dikerubungi udara yang terasa berat. Seolah setiap orang didalamnya tengah menahan napas. Keluarga besar kedua mempelai terlibat dalam percakapan serius yang akan menentukan jalannya pesta yang hendak dimulai kurang dari 60 menit lagi. Beberapa tamu mungkin saja sudah mulai hadir dan menunggu di lobi.Pesta yang dipersiapkan mewah namun intimate, kini justru terancam gagal total. Apalagi dengan kehadiran wartawan di depan pintu hotel yang seolah mengepung mereka.Berkat beberapa gambar dan video intim yang tiba-tiba tersebar di jagat maya, kehebohan langsung menyeruak. Nama dari dua keluarga tersohor terjerat, jelas jadi santapan yang amat diminati para pemburu berita dan konsumennya."Aku hamil... dan itu milik Naviro!" Aku Karina. Adik tiri dari mempelai wanita yang seharus







