LOGINRasanya segar setelah benar-benar selesai membersihkan diri. Menghapus makeup, mengganti gaun beratnya dan mandi guna menyegarkan diri kembali. Seharian ini terasa seperti badai yang memindahkannya dari satu kehidupan ke kehidupan lain tanpa jeda.
Mayra terduduk di ujung ranjang. Tidak ada taburan kelopak mawar. Tidak ada lilin-lilin romantis seperti dalam film. Hanya satu kamar luas dengan lampu temaram, aroma pendingin ruangan yang terlalu rapi. Tangannya otomatis menyentuh cincin di jari manisnya, seolah memastikan semuanya nyata.
Lebih nyata lagi ketika terdengar suara pintu kamar hotel terbuka. Savian muncul dengan pakaian yang sama sembari membawa satu buah tas yang familiar bagi Mayra—miliknya.
Pria itu menyerahkannya pada Mayra dan Mayra menerimanya dengan sopan, sedikit canggung lebih tepatnya.
Atmosfer kamar jadi sedikit berbeda. Tenggorokan Mayra ikut gatal hingga beberapa kali ia berdehem.
"Kamu sudah selesai mandi?" Tanya Savian yang dengan cepat dibalas anggukan oleh Mayra.
Savian melepas jasnya perlahan, lalu meletakkannya di kursi tanpa suara berlebihan. Gerakannya tenang. Terlalu tenang untuk Mayra yang justru canggung.
"Saya mandi dulu," ucapnya yang langsung meninggalkan Mayra sendiri lagi. Sebenarnya hanya kalimat biasa namun mengundang overthinking Mayra.
Memang kenapa kalau Savian mandi? Apa hubungannya dengannya?
Mayra menggeleng, menepis segala pikiran aneh yang hinggap di kepalanya. Kini fokus pada tas yang berada di tangannya. Merogoh kedalam dan menemukan benda pipih penting miliknya.
Untuk pertama kalinya setelah seharian terkurung dalam acara yang menguras emosi, Mayra akhirnya bersatu kembali dengan gawainya.
Begitu ponselnya menyala, langsung diserbu ratusan notifikasi yang berasal dari aplikasi chat dan juga media sosialnya. Mayra mengerjap pelan. Grup keluarga, teman kampus, rekan kerja, bahkan nomor-nomor yang nyaris tidak ia ingat. Seperti yang dia duga, kabar pernikahannya dengan konglomerat kelas atas itu langsung menyebar bak jamur di musim hujan. Semuanya mengirim pesan yang sama yakni kaget, tidak percaya, dan tentu saja penasaran.
“Mayra, itu bener kamu nikah sama Savian Mandala Hutama???”
"Happy wedding, Mayra!"
"Kenapa kita sebelumnya nggak tahu kalau kamu punya hubungan semacam itu dengan duda hot satu itu?"
“Gila, itu konglomerat Hutama Group kan?”
“Kamu tau nggak siapa suamimu sekarang???”
Mayra menelan ludah pelan.
Nama itu memang tidak asing, tapi hari ini semuanya terjadi terlalu cepat sampai ia bahkan tidak sempat benar-benar mencerna siapa pria yang kini menjadi suaminya. Jarinya akhirnya membuka mesin pencarian.
Savian Mandala Hutama.
Hasilnya langsung bermunculan.
Artikel bisnis, wawancara majalah dan bahkan foto-foto konferensi perusahaan.
Mayra membaca satu per satu dengan alis sedikit berkerut.
Putra kedua keluarga Hutama. Lulusan Master of Business Administration dari universitas ternama di London. Direktur utama di salah satu lini bisnis Hutama Group yang bergerak di properti dan investasi.
Masuk daftar pengusaha muda paling berpengaruh beberapa tahun lalu.
Mayra menghela napas kecil.
“Pantas saja semua orang heboh,” gumamnya.
Ia terus menggulir layar. Sampai akhirnya menemukan bagian yang tidak terlalu formal—artikel gosip.
Tentang pernikahan Savian beberapa tahun lalu. Tentang perceraian yang terjadi cukup cepat. Tentang spekulasi media yang menyebut pernikahan itu berakhir karena perbedaan prinsip, ada pula yang menulis lebih sensasional—perselingkuhan, konflik keluarga, hingga bisnis yang terseret.
Mayra memiringkan kepala, mencoba menilai mana yang masuk akal.
“Jadi kamu memang duda,” gumamnya pelan pada layar ponsel.
Tiba-tiba terdengar suara pintu kamar hotel terbuka. Mayra refleks mengangkat kepala.
Savian masuk dengan rambut masih sedikit basah, mengenakan kemeja santai yang lengan atasnya tergulung setengah. Air dari rambutnya masih menetes tipis di pelipis.
Mayra membeku sepersekian detik.
Entah karena pencahayaan kamar yang temaram, atau karena fakta bahwa pria itu memang… terlalu enak dipandang.
Ia cepat-cepat menunduk lagi ke ponselnya, pura-pura fokus membaca.
Savian berhenti beberapa langkah dari tempat tidur, lalu melirik layar ponsel Mayra sekilas.
“Sedang meneliti saya?”
Nada suaranya tenang. Hampir terdengar seperti sedang menahan senyum.
Mayra terdiam sebentar sebelum akhirnya mengaku setengah jujur, “Sedikit.”
Savian melangkah mendekat, lalu bersandar santai di kursi dekat ranjang.
“Menemukan apa?”
Mayra mengangkat ponselnya sedikit, memperlihatkan halaman artikel yang masih terbuka.
“Profil pendidikan. Karier. Dan…” ia berhenti sebentar, “…gosip.”
Savian menghela napas pendek, bukan kesal, lebih seperti sudah sangat terbiasa dengan itu.
“Internet memang selalu lebih cepat dari kenyataan,” katanya.
Mayra menatapnya, “Apa itu benar?”
Savian menatap balik, tenang seperti biasa.
Lalu ia berkata santai, seolah hal itu sangat sederhana.
“Daripada membaca informasi yang belum tentu benar dari internet,” ujarnya, “kenapa tidak langsung bertanya pada sumbernya?”
Mayra terdiam.
Savian mencondongkan tubuh sedikit, menatapnya lurus. “Sekarang kamu istriku, Mayra.”
Nada suaranya rendah namun jelas. “Kalau ingin tahu sesuatu tentang saya… kamu punya akses langsung.”
Mayra menggigit bibir bawahnya, sedikit ragu namun sepertinya dia harus memberanikan diri untuk membahas mengenai hal yang cukup banyak mengganggu pikirannya.
“Aku baru tahu sesuatu,” Mayra akhirnya membuka suara, mencoba mengurai kecanggungan yang menebal.
Savian mengangkat alisnya tipis. “Apa?”
“Kamu… duda.”
Hening sejenak.
Bukan karena tersinggung. Lebih karena Savian tampak mempertimbangkan bagaimana menjawabnya.
“Duda, ya,” ia mengangguk. “Apakah itu jadi pertimbangan besar buatmu?" Tanyanya balik.
"Kita bisa bicara sambil rebahan." Savian mengambil selimut tambahan dan meletakkannya di sofa panjang dekat jendela.“Aku tidur di sana malam ini,” ucapnya santai.Mayra menatapnya, sedikit terkejut. “Kamu yakin?”Savian tersenyum tipis. “Aku duda, bukan predator.”Untuk pertama kalinya malam itu, Mayra hampir tertawa. Lampu utama dimatikan. Tersisa cahaya kota yang menyusup lewat celah tirai. Dua orang yang pagi tadi bukan siapa-siapa bagi satu sama lain, kini berada dalam satu kamar, meskipun tak seranjang."Ada lagi pertanyaan yang ingin kamu utarakan?" Tanya Savian. Mayra menatap langit-langit kamar hotel. Memilih untuk lanjut mewawancarai suaminya itu. "Punya anak? Dimana mantan istrimu?" tanya Mayra. Savian tersenyum tipis mendengarnya. Dia cukup tenang menjawab segala pertanyaan yang Mayra lontarkan padanya, "Hanya menikah setahun dan belum dikaruniai keturunan," jawabnya. “Kenapa bercerai?” tanya Mayra hati-hati. “Tidak semua orang cocok meski dipaksa bertahan,” jawab S
Rasanya segar setelah benar-benar selesai membersihkan diri. Menghapus makeup, mengganti gaun beratnya dan mandi guna menyegarkan diri kembali. Seharian ini terasa seperti badai yang memindahkannya dari satu kehidupan ke kehidupan lain tanpa jeda.Mayra terduduk di ujung ranjang. Tidak ada taburan kelopak mawar. Tidak ada lilin-lilin romantis seperti dalam film. Hanya satu kamar luas dengan lampu temaram, aroma pendingin ruangan yang terlalu rapi. Tangannya otomatis menyentuh cincin di jari manisnya, seolah memastikan semuanya nyata.Lebih nyata lagi ketika terdengar suara pintu kamar hotel terbuka. Savian muncul dengan pakaian yang sama sembari membawa satu buah tas yang familiar bagi Mayra—miliknya. Pria itu menyerahkannya pada Mayra dan Mayra menerimanya dengan sopan, sedikit canggung lebih tepatnya.Atmosfer kamar jadi sedikit berbeda. Tenggorokan Mayra ikut gatal hingga beberapa kali ia berdehem."Kamu sudah selesai mandi?" Tanya Savian yang dengan cepat dibalas anggukan oleh
Pesta akhirnya selesai.Lampu-lampu ballroom mulai diredupkan satu per satu, para tamu perlahan meninggalkan gedung dengan obrolan yang masih dipenuhi cerita tentang kejutan dua pernikahan saudari yang berlangsung di tempat yang sama hari ini. Musik yang sejak sore mengalun kini hanya tersisa gema samar.Mayra berdiri di salah satu lorong hotel dengan gaun pengantinnya yang masih rapi, tapi tubuhnya terasa jauh lebih lelah daripada yang ingin ia akui.“Nyonya Mayra, kamar pengantin sudah disiapkan di lantai atas. Malam ini Anda akan bermalam disini dulu sebelum besok menuju kediaman Keluarga Hutama.”Suara perempuan di sampingnya menarik perhatiannya. Perempuan itu mengenakan setelan formal dengan rambut yang tersanggul rapi, sekretaris pribadi Savian.“Pak Savian masih harus menyelesaikan beberapa urusan dengan keluarga dan pihak hotel. Beliau akan menyusul nanti.”Mayra mengangguk pelan. Jujur saja, ia bahkan tidak tahu harus merasa lega atau semakin canggung dengan informasi itu. I
Untuk yang katanya keluarga 'terpandang', maka citra menjadi sesuatu yang sensitif. Terutama jika skandal telah mencuat ke media dan menjadi santapan publik.Strategi mengalahkan panas dengan yang lebih panas lagi. Sebuah prinsip yang Mayra awalnya percayai namun untuk pertama kalinya kini membuatnya meragukan keyakinannya selama ini. Lewat sebuah kalimat santai bernada narsistik. Lelucon macam apa yang baru saja disampaikan oleh pria yang katanya paman muda dari Naviro itu?Menikah dengan dia saja katanya?Memangnya mereka pikir Mayra ini apa? Barang yang dengan mudah saja dilempar sana-sini? Dia sempat tenggelam dengan pemikirannya sendiri, menghiraukan perbincangan-perbincangan antarkeluarga termasuk momen masuknya si presdir penguasa itu. Namun kesadarannya langsung kembali begitu namanya disebut dalam sebuah kalimat yang tak pernah terpikirkan olehnya. "Alih-alih dipoligami, bukankah lebih baik kalau Mayra menjadi istri saya?"Semua orang yang berada di dalam ruangan jelas ter
Gila. Siapa yang dengan gagah berani menyampaikan ide gila itu dengan lantang?Ketika lontaran saran paling absurd tentang pernikahan dan kemungkinan poligami yang melibatkan dua kakak adik, Mayra tertawa miris. Bukan karena lucu, tapi karena getir. Hell nah! Tidak ada dalam kamus hidupnya sama sekali. Menikahi satu pria yang sama dengan wanita lainnya. Terlebih itu Karina? Si adik tiri manis kebanggaan keluarganya itu?"Nggak. Aku nggak mau! Lebih baik aku batal menikah daripada harus diduakan begitu," Mayra menolak tegas.Tapi manusia-manusia disekitarnya sepertinya tak punya lagi akal sehat."Jangan keras kepala! Berita sudah tersebar bahwa hari ini putri sulung keluarga Prawitha yang akan menikah. Meskipun mereka mungkin belum tahu bahwa seharusnya kamu dan Naviro yang menikah, tapi akan sangat memalukan kalau kamu keluar dari sini dengan status lajang." Ujar salah satu bibinya lagi. Punya keluarga besar apalagi yang tidak waras memang benar-benar merepotkan.Pesta intimate ini m
"Sekarang kamu pilih, Naviro! Mau melanjutkan pernikahanmu dengan Mayra atau bertanggung jawab atas kandungan Karina?!"Ballroom hotel yang seharusnya sebentar lagi dipenuhi oleh riuh bahagia pernikahan mendadak dikerubungi udara yang terasa berat. Seolah setiap orang didalamnya tengah menahan napas. Keluarga besar kedua mempelai terlibat dalam percakapan serius yang akan menentukan jalannya pesta yang hendak dimulai kurang dari 60 menit lagi. Beberapa tamu mungkin saja sudah mulai hadir dan menunggu di lobi.Pesta yang dipersiapkan mewah namun intimate, kini justru terancam gagal total. Apalagi dengan kehadiran wartawan di depan pintu hotel yang seolah mengepung mereka.Berkat beberapa gambar dan video intim yang tiba-tiba tersebar di jagat maya, kehebohan langsung menyeruak. Nama dari dua keluarga tersohor terjerat, jelas jadi santapan yang amat diminati para pemburu berita dan konsumennya."Aku hamil... dan itu milik Naviro!" Aku Karina. Adik tiri dari mempelai wanita yang seharus







