LOGINGila. Siapa yang dengan gagah berani menyampaikan ide gila itu dengan lantang?
Ketika lontaran saran paling absurd tentang pernikahan dan kemungkinan poligami yang melibatkan dua kakak adik, Mayra tertawa miris. Bukan karena lucu, tapi karena getir.Hell nah! Tidak ada dalam kamus hidupnya sama sekali. Menikahi satu pria yang sama dengan wanita lainnya. Terlebih itu Karina? Si adik tiri manis kebanggaan keluarganya itu? "Nggak. Aku nggak mau! Lebih baik aku batal menikah daripada harus diduakan begitu," Mayra menolak tegas. Tapi manusia-manusia disekitarnya sepertinya tak punya lagi akal sehat. "Jangan keras kepala! Berita sudah tersebar bahwa hari ini putri sulung keluarga Prawitha yang akan menikah. Meskipun mereka mungkin belum tahu bahwa seharusnya kamu dan Naviro yang menikah, tapi akan sangat memalukan kalau kamu keluar dari sini dengan status lajang." Ujar salah satu bibinya lagi. Punya keluarga besar apalagi yang tidak waras memang benar-benar merepotkan.Pesta intimate ini memang tidak secara bebas mempublikasikan siapa mempelai hari ini. Hanya ada desas-desus bahwa putri sulung keluarga Prawitha yang akan menikah dengan pihak keluarga Hutama. Selain itu, undangan yang hadir pun terbatas, hanya sanak keluarga dan beberapa kolega bisnis dekat saja.
Namun tetap saja, dengan ramainya pemberitaan diluar sana mengenai tersebarnya video panas antara terduga Karina dan Naviro, pasti akan memunculkan beragam spekulasi liar dan skandal yang merusak baik citra keluarga maupun perusahaan. Apalagi keberadaan wartawan yang mengintai mereka sekarang. Siapapun yang keluar dari pintu utama ini pasti akan diserbu pertanyaan. Kedua pihak keluarga sekarang memutuskan berdiskusi untuk situasi ini dan bergerak satu komando.
Mayra tersenyum tipis, senyum yang lebih menyakitkan daripada amarah mana pun. Kenapa jadi harus dia yang menanggung malu? Siapa sih yang berbuat kesalahan? Siapa yang membuat situasi jadi se-rumit ini sejak awal? "Tapi aku akan lebih malu lagi kalau berada dalam pernikahan semacam itu," dia mendecih lantas melirik kembali satu per satu wanita yang sudah menikah di ruangan itu. "Jika ini terjadi pada tante, kalian yakin mau dipoligami?" Setiap mata yang dipandangnya menurunkan pandangan tak percaya diri. Jelas. Siapa manusia tidak waras yang berlindung dibalik kata 'ikhlas' dengan case yang seperti ini? "Semuanya!" Suara tegas Tuan Prawitha menggelegar di udara. Untuk beberapa saat, Mayra memandang ayahnya. Pria yang dia harap bisa berdiri di sisinya dan setidaknya bicara mendukungnya. Lelaki itu menarik nafas panjang. "Naviro harus bertanggungjawab pada Karina! Itu pasti!" Ujarnya tegas dan mengundang lebih banyak kegaduhan."Tapi belum tentu itu anak dari Naviro, kan?" Bantah Mama Naviro tidak terima.
Tuan Prawitha menggeleng dengan wajahnya yang sudah merah padam. "Saya percaya pada Karina, dia tidak mungkin melakukan sesuatu yang lebih murahan dari ini," ucapnya entah membela tapi di saat yang bersamaan juga terdengar tidak cukup menyenangkan.
"Media tahu siapa yang ada di dalam video itu. Bahkan kita tidak bisa menuntut mereka dengan indikasi pemalsuan atau apapun karena bisa dibuktikan bahwa rekaman itu sama sekali bukan hasil rekayasa. Pun putri saya sudah mengakui kebenarannya," ucap Tuan Prawitha tegas.Kini pandangannya beralih dari keluarga Hutama kearah Mayra.
"Namun memang benar. Berita soal pernikahan putri sulung keluarga Prawitha sudah banyak beredar luas. Biar bagaimanapun, kamu tidak bisa keluar dari ruangan ini tanpa status pernikahan. Jadi apapun yang terjadi, Mayra tetap harus menikah hari ini," ujarnya kearah Mayra dan langsung melunturkan senyum tipis di bibir Mayra.Perasaan Mayra yang sudah kacau kini jadi semakin runyam.
"Jadi bagaimana, Indra? Kamu mau tetap menikahkan Mayra dengan Naviro? Lalu Karina menyusul setelahnya? Atau justru mengganti mempelai pria untuk Mayra?" Tanya saudaranya menyambung karena ucapan ambigu tuan Prawitha.
Hati Mayra hancur. Bukan hanya karena pernikahannya yang diselimuti penghianatan, tapi juga semakin menyadari bahwa sang ayah benar-benar tak punya sedikitpun rasa sayang yang tersisa untuknya. Pria itu benar-benar hanya menganggapnya sebagai alat untuk transaksi keluarga dan mempertahankan citra. Bahkan secara terang-terangan menginjaknya demi melindungi kebahagiaan Karina.
Tuan Prawitha menarik nafas dalam, ia melirik pihak keluarga Hutama yang berdiri menunggu kalimatnya selanjutnya.
"Satu orang menikahi kedua putri kami secara bersamaan, terdengar seperti penghinaan untuk saya..." ucapannya menggantung.
Hening hingga akhirnya suara berat memecah gema dan membuat seluruh fokus terarah padanya.
"Maka sebaiknya mencari sosok mempelai pengganti" Semua menoleh pada kehadiran sosok lelaki tinggi dengan paras yang menawan namun tanpa ekspresi itu, Savian Mandala Hutama—paman dari Naviro. Langkahnya tenang, mantap, dengan setelan gelap yang jatuh sempurna di tubuhnya. Usianya jelas belum sebegitu pantas disebut paman sebab wajahnya masih terlalu muda, sorot matanya terlalu tajam. Namun tak satu pun orang di ruangan itu berani meremehkannya. Savian adalah pemimpin yang diakui, satu-satunya pewaris sah yang memegang kendali penuh atas nama besar keluarga Mandala Hutama. Suaranya jarang meninggi, tapi setiap kata darinya selalu berakhir sebagai keputusan. Tatapan Savian menyapu ruangan. Wajah-wajah tegang, mata yang menghindar, dan di sudut sana Naviro berdiri kaku, sementara Mayra tampak sedikit rapuh meskipun bertahan dengan punggung tegak, berseberangan dengan Karina yang masih mengangkat pisaunya. "Tuan Prawitha," Savian menyebut nama pria itu.Senyum Tuan Prawitha muncul setitik, dia menjabat tangan Savian dengan erat. "Tuan Savian... saya tidak menyangka akan bertemu dengan Anda disini. Sebuah kehormatan bagi saya," ucapnya.
Meskipun perhelatan kali ini adalah antara keluarga Prawitha dan Hutama, tapi kehadiran Savian Mandala Hutama jelas tidak pernah mereka perhitungkan. Pria itu untouchable. Savian dikenal sibuk mengurus perusahaan utama dan pastinya tak pernah mau banyak terjun dan ikut campur dalam acara-acara keluarga semacam ini. Apalagi hubungannya dengan sang kakak tiri—Mama Naviro, tidak begitu baik. Meskipun Mama Naviro menggunakan nama Hutama, dia bukanlah garis keturunan resmi keluarga tersebut. Dia tidak punya power sebesar Savian.
Savian tersenyum tipis, melirik wajah tegang deretan keluarga 'kakak tirinya'. Lalu sempat beberapa saat melabuhkan pandangan pada mempelai 'gagal' yang berdiri dengan segala kerapuhannya namun masih berusaha tegar itu.
"Tentu saja datang. Saya sudah menerima undangan pernikahan ini sejak seminggu lalu. Terlebih, mempelainya adalah keponakan saya sendiri." Kalimat yang sebenarnya terdengar biasa saja namun entah mengapa terkesan dingin.
Mama dan Ayah Naviro saling melirik kaku. Mengirimkan undangan hanya sebatas formalitas, tak berharap Savian datang sebab biasanya pria itu tak akan pernah datang. Tapi tumben sekali hari ini...siapa yang menduga dia akan benar-benar hadir?
Tuan Prawitha sebagai pebisnis cukup peka untuk menyadari makna kalimat yang terdengar satir. Dia tahu, kehadiran Pimpinan Utama Mandala Hutama itu jelas tidak sesederhana membersamai kegiatan keluarga. Lebih dari itu, kehadiran Savian membuktikan bahwa skandal ini cukup mengusiknya dan dia jelas harus berhati-hati menghadapi pria yang dikenal punya temperamen tak terbaca itu.
"Kami dengan tulus meminta maaf karena secara tidak langsung turut terlibat dalam kekacauan ini," ucapnya sedikit menunduk.
Savian tersenyum miring, "Pantas saja Ayah sangat mempercayai Anda dulu, Tuan Prawitha. Kepekaan Anda memang luar biasa," ucapnya.
Savian mengeluarkan kedua tangannya dari kantung celana mahalnya, "Sejujurnya, saya datang kesini karena menghormati hubungan baik antara ayah dan juga anda. Tapi siapa sangka, justru turut mendapat tontonan gratis yang cukup menarik?"
Ucapan yang sekaligus membuat pihak keluarga Naviro makin tertampar. Seolah mengisyaratkan bahwa mereka benar-benar tidak diperhitungkan di keluarga Hutama.
"Untuk itu... saya mengganti tujuan kehadiran kali ini," ujar Savian lebih serius. Savian menatap Mayra lebih lama kali ini, sementara gadis itu sepertinya sudah hampir tak punya konsentrasi apapun dalam acara ini."Tuan Prawitha, tanpa mengurangi rasa hormat, izinkan saya melamar putri sulung Anda."
"Kita bisa bicara sambil rebahan." Savian mengambil selimut tambahan dan meletakkannya di sofa panjang dekat jendela.“Aku tidur di sana malam ini,” ucapnya santai.Mayra menatapnya, sedikit terkejut. “Kamu yakin?”Savian tersenyum tipis. “Aku duda, bukan predator.”Untuk pertama kalinya malam itu, Mayra hampir tertawa. Lampu utama dimatikan. Tersisa cahaya kota yang menyusup lewat celah tirai. Dua orang yang pagi tadi bukan siapa-siapa bagi satu sama lain, kini berada dalam satu kamar, meskipun tak seranjang."Ada lagi pertanyaan yang ingin kamu utarakan?" Tanya Savian. Mayra menatap langit-langit kamar hotel. Memilih untuk lanjut mewawancarai suaminya itu. "Punya anak? Dimana mantan istrimu?" tanya Mayra. Savian tersenyum tipis mendengarnya. Dia cukup tenang menjawab segala pertanyaan yang Mayra lontarkan padanya, "Hanya menikah setahun dan belum dikaruniai keturunan," jawabnya. “Kenapa bercerai?” tanya Mayra hati-hati. “Tidak semua orang cocok meski dipaksa bertahan,” jawab S
Rasanya segar setelah benar-benar selesai membersihkan diri. Menghapus makeup, mengganti gaun beratnya dan mandi guna menyegarkan diri kembali. Seharian ini terasa seperti badai yang memindahkannya dari satu kehidupan ke kehidupan lain tanpa jeda.Mayra terduduk di ujung ranjang. Tidak ada taburan kelopak mawar. Tidak ada lilin-lilin romantis seperti dalam film. Hanya satu kamar luas dengan lampu temaram, aroma pendingin ruangan yang terlalu rapi. Tangannya otomatis menyentuh cincin di jari manisnya, seolah memastikan semuanya nyata.Lebih nyata lagi ketika terdengar suara pintu kamar hotel terbuka. Savian muncul dengan pakaian yang sama sembari membawa satu buah tas yang familiar bagi Mayra—miliknya. Pria itu menyerahkannya pada Mayra dan Mayra menerimanya dengan sopan, sedikit canggung lebih tepatnya.Atmosfer kamar jadi sedikit berbeda. Tenggorokan Mayra ikut gatal hingga beberapa kali ia berdehem."Kamu sudah selesai mandi?" Tanya Savian yang dengan cepat dibalas anggukan oleh
Pesta akhirnya selesai.Lampu-lampu ballroom mulai diredupkan satu per satu, para tamu perlahan meninggalkan gedung dengan obrolan yang masih dipenuhi cerita tentang kejutan dua pernikahan saudari yang berlangsung di tempat yang sama hari ini. Musik yang sejak sore mengalun kini hanya tersisa gema samar.Mayra berdiri di salah satu lorong hotel dengan gaun pengantinnya yang masih rapi, tapi tubuhnya terasa jauh lebih lelah daripada yang ingin ia akui.“Nyonya Mayra, kamar pengantin sudah disiapkan di lantai atas. Malam ini Anda akan bermalam disini dulu sebelum besok menuju kediaman Keluarga Hutama.”Suara perempuan di sampingnya menarik perhatiannya. Perempuan itu mengenakan setelan formal dengan rambut yang tersanggul rapi, sekretaris pribadi Savian.“Pak Savian masih harus menyelesaikan beberapa urusan dengan keluarga dan pihak hotel. Beliau akan menyusul nanti.”Mayra mengangguk pelan. Jujur saja, ia bahkan tidak tahu harus merasa lega atau semakin canggung dengan informasi itu. I
Untuk yang katanya keluarga 'terpandang', maka citra menjadi sesuatu yang sensitif. Terutama jika skandal telah mencuat ke media dan menjadi santapan publik.Strategi mengalahkan panas dengan yang lebih panas lagi. Sebuah prinsip yang Mayra awalnya percayai namun untuk pertama kalinya kini membuatnya meragukan keyakinannya selama ini. Lewat sebuah kalimat santai bernada narsistik. Lelucon macam apa yang baru saja disampaikan oleh pria yang katanya paman muda dari Naviro itu?Menikah dengan dia saja katanya?Memangnya mereka pikir Mayra ini apa? Barang yang dengan mudah saja dilempar sana-sini? Dia sempat tenggelam dengan pemikirannya sendiri, menghiraukan perbincangan-perbincangan antarkeluarga termasuk momen masuknya si presdir penguasa itu. Namun kesadarannya langsung kembali begitu namanya disebut dalam sebuah kalimat yang tak pernah terpikirkan olehnya. "Alih-alih dipoligami, bukankah lebih baik kalau Mayra menjadi istri saya?"Semua orang yang berada di dalam ruangan jelas ter
Gila. Siapa yang dengan gagah berani menyampaikan ide gila itu dengan lantang?Ketika lontaran saran paling absurd tentang pernikahan dan kemungkinan poligami yang melibatkan dua kakak adik, Mayra tertawa miris. Bukan karena lucu, tapi karena getir. Hell nah! Tidak ada dalam kamus hidupnya sama sekali. Menikahi satu pria yang sama dengan wanita lainnya. Terlebih itu Karina? Si adik tiri manis kebanggaan keluarganya itu?"Nggak. Aku nggak mau! Lebih baik aku batal menikah daripada harus diduakan begitu," Mayra menolak tegas.Tapi manusia-manusia disekitarnya sepertinya tak punya lagi akal sehat."Jangan keras kepala! Berita sudah tersebar bahwa hari ini putri sulung keluarga Prawitha yang akan menikah. Meskipun mereka mungkin belum tahu bahwa seharusnya kamu dan Naviro yang menikah, tapi akan sangat memalukan kalau kamu keluar dari sini dengan status lajang." Ujar salah satu bibinya lagi. Punya keluarga besar apalagi yang tidak waras memang benar-benar merepotkan.Pesta intimate ini m
"Sekarang kamu pilih, Naviro! Mau melanjutkan pernikahanmu dengan Mayra atau bertanggung jawab atas kandungan Karina?!"Ballroom hotel yang seharusnya sebentar lagi dipenuhi oleh riuh bahagia pernikahan mendadak dikerubungi udara yang terasa berat. Seolah setiap orang didalamnya tengah menahan napas. Keluarga besar kedua mempelai terlibat dalam percakapan serius yang akan menentukan jalannya pesta yang hendak dimulai kurang dari 60 menit lagi. Beberapa tamu mungkin saja sudah mulai hadir dan menunggu di lobi.Pesta yang dipersiapkan mewah namun intimate, kini justru terancam gagal total. Apalagi dengan kehadiran wartawan di depan pintu hotel yang seolah mengepung mereka.Berkat beberapa gambar dan video intim yang tiba-tiba tersebar di jagat maya, kehebohan langsung menyeruak. Nama dari dua keluarga tersohor terjerat, jelas jadi santapan yang amat diminati para pemburu berita dan konsumennya."Aku hamil... dan itu milik Naviro!" Aku Karina. Adik tiri dari mempelai wanita yang seharus







