Pesta akhirnya selesai.
Lampu-lampu ballroom mulai diredupkan satu per satu, para tamu perlahan meninggalkan gedung dengan obrolan yang masih dipenuhi cerita tentang kejutan dua pernikahan saudari yang berlangsung di tempat yang sama hari ini. Musik yang sejak sore mengalun kini hanya tersisa gema samar.
Mayra berdiri di salah satu lorong hotel dengan gaun pengantinnya yang masih rapi, tapi tubuhnya terasa jauh lebih lelah daripada yang ingin ia akui.
“Nyonya Mayra, kamar pengantin sudah disiapkan di lantai atas. Malam ini Anda akan bermalam disini dulu sebelum besok menuju kediaman Keluarga Hutama.”
Suara perempuan di sampingnya menarik perhatiannya. Perempuan itu mengenakan setelan formal dengan rambut yang tersanggul rapi, sekretaris pribadi Savian.
“Pak Savian masih harus menyelesaikan beberapa urusan dengan keluarga dan pihak hotel. Beliau akan menyusul nanti.”
Mayra mengangguk pelan. Jujur saja, ia bahkan tidak tahu harus merasa lega atau semakin canggung dengan informasi itu. Ia berjalan mengikuti langkah sekretaris itu menuju area lift. Namun sebelum mereka sempat masuk, langkah Mayra tiba-tiba terhenti ketika melihat keramaian di lobi hotel.
Rombongan lain yang sangat familiar baru saja keluar dari salah satu aula.
Gaun pengantin lain, Karina.
Di sampingnya berdiri Naviro dengan setelan pengantin yang sama megahnya. Di belakang mereka, keluarga besar terlihat berbincang santai, seolah hari ini benar-benar menjadi perayaan yang sempurna.
Mayra merasa sesuatu di dadanya mengencang.
Bukan Karina tampak begitu bahagia. Tapi karena melihat ayahnya.
Pria itu tertawa kecil ketika salah satu kerabat menepuk bahunya. Wajahnya terlihat ringan, bangga, bahkan.
Ada rasa getir yang tiba-tiba menyusup pelan di dada Mayra. Ia tidak ingat kapan terakhir kali ayahnya menatapnya dengan ekspresi seperti itu.
Bahkan hari ini… ketika ia menikah. Bahkan setelah keputusan sepihak yang pria itu buat, mengganti mempelai pria Mayra hanya dalam hitungan menit demi melindungi reputasi putri satunya.
Ayahnya tidak pernah benar-benar bertanya apakah ia baik-baik saja. Tidak pernah berkata apa-apa padanya. Seolah semuanya hanya sebuah langkah yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan nama keluarga.
Bibirnya mengukir senyum getir. Tuan Prawitha yang terhormat, bahkan sejak pernikahannya berubah alur, pria itu tak pernah menanyai pendapat ataupun menghubunginya untuk alasan apapun. Secara sepihak membuatnya menikahi seorang pria asing yang bahkan tidak dia kenali. Bahkan tidak muncul dalam acaranya lebih dari lima menit dan langsung beranjak menuju pernikahan 'si putri kesayangan'.
Hubungan mereka entah sejak kapan jadi sedingin ini. Cukup samar dalam ingatannya, bagaimana pria itu pernah menggendongnya dan tersenyum cerah di masa kecilnya. Masa-masa dimana keluarga mereka masih utuh dan harmonis. Meski hal itu tidak berlangsung lama.
Tepat saat ulang tahunnya yang ketujuh, Mayra harus menyaksikan langsung ayah yang dia sayangi menggandeng wanita lain bersama dengan putri kecilnya. Hanya berselang dua hari dari pemakaman mamanya. Dia bahkan masih berkabung, tapi ayahnya sudah memboyong yang katanya kebahagiaan barunya, tentu tanpa memikirkan perasaannya.
Sejak hari itu, Tuan Prawitha makin berubah. Mayra merasa seperti tak mengenal sosok ayahnya itu lagi. Pria itu cenderung dingin padanya, namun hangat pada Karina dan Carlina si nyonya baru itu. Ayahnya bahkan tak peduli jikalau Mayra mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan dulu. Seolah membiarkan istri barunya bertindak semena-mena pada Mayra.
Entah apa salahnya, tapi yang pasti, sejak itu Mayra merasa benar-benar sendiri. Bahkan hingga hari ini... ayahnya seolah tak menunjukkan sedikit pun kepedulian padanya. Kalau bukan karena perjodohan busuk sebelumnya, pria itu bahkan tak akan pernah menghubunginya yang tengah nyaman menimba ilmu dan karir diluar negeri.
Langkah Mayra akhirnya membuat rombongan itu menyadarinya.
Karina yang pertama melihatnya. Senyumnya berubah sedikit, tipis, tajam, dan terlalu manis untuk terasa tulus. "Selamat atas pernikahanmu ya, Kak."
Mayra diam, tidak berniat membalas karena ucapan Karina itu jelas hanya sebuah ejekan darinya.
Naviro berdiri di samping Karina, wajahnya kaku. Ia tidak mengatakan apa-apa. Hanya menatap Mayra sebentar sebelum akhirnya mengalihkan pandangan ke lantai. Keluarga dari pihak Naviro hanya saling bertukar pandang, seolah tidak tahu harus bersikap bagaimana di situasi yang canggung itu. Apalagi, mereka juga kini menjadi satu keluarga, meskipun berbeda garisnya...
"Selamat datang di keluarga Hutama, Mayra. Meskipun tidak menjadi menantuku dan justru secara tidak terduga malah menjadi iparku," ucap Mama Naviro dengan nada sedikit satir disana. Sikap wanita itu langsung berubah. Mungkin karena masih kecewa karena Mayra sempat menolak dan tidak jadi menjadi menantunya.
Yah, siapapun yang mungkin mengetahui situasi ini mungkin akan turut menertawakan mereka. Calon mertuaku justru ternyata iparku, atau judul-judul sejenisnya akan mengantri untuk meliput kisah ini, bukan?
"Saya gak menyangka kamu begitu tamak! Alih-alih Naviro, kamu justru mengincar Savian!" Kalimat selanjutnya membuat Mayra tak habis pikir. Mengapa dia masih disalahkan sementara semua keputusan hari ini bahkan bukan keputusannya sendiri.
Mama Naviro mendengus lalu segera melangkah mendahului rombongan itu dan turut dikejar suaminya. Oh ya, Mayra hampir lupa bahwa ada Mama Naviro yang juga tidak bahagia dengan hasil hari ini namun kalah suara. Entah apa alasan wanita itu awalnya begitu menginginkan Mayra untuk menjadi menantunya, tapi dengan kejadian hari ini, semuanya pupus.
Yang akhirnya melangkah maju justru ayah Mayra. Pria itu menatapnya sebentar, tatapan yang terlalu datar untuk disebut hangat. Tidak ada pelukan. Tidak ada ucapan selamat. Hanya satu kalimat yang ia sampaikan dengan suara rendah namun jelas.
“Kamu sudah menjadi bagian dari keluarga Hutama sekarang.”
Mayra menunggu. Mungkin ada sesuatu yang lain. Satu kalimat yang lebih… personal. Namun ternyata tidak.
“Jadilah istri yang baik untuk Pak Savian,” lanjut ayahnya. “Dan jangan mempermalukan keluarga Prawitha kita.”
Mayra merasakan jari-jarinya sedikit mengeras di sisi gaunnya.
Hanya itu.
Bukan selamat menikah.
Bukan kamu baik-baik saja?
Hanya pesan tentang nama keluarga.
Karina tersenyum tipis di belakang ayah mereka, seolah menikmati momen itu.
Mayra akhirnya menarik napas pelan. Lalu ia mengangguk kecil.
"Baik, Ayah.”
Hanya dua kata. Tidak ada nada marah. Tidak ada air mata.
Lobi hotel itu sempat terdiam beberapa detik setelah ayah-anak itu selesai berbicara. Namun ketenangan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba Karina tertawa kecil. Bukan tawa bahagia—lebih seperti tawa yang sengaja dibuat agar terdengar oleh orang lain.
Ia melangkah mendekat sedikit, gaun pengantinnya berdesir pelan di lantai marmer.
“Ngomong-ngomong, Kak Mayra,” ucapnya manis, tapi matanya penuh sindiran. “Aku baru kepikiran sesuatu.”
Mayra menoleh tanpa banyak ekspresi. Sementara Karina melipat tangan di depan dada.
“Lucu juga ya takdir kita.” Senyumnya makin melebar. “Aku menikah dengan Naviro… dan kamu malah menikah dengan pamannya.”
Beberapa orang di sekitar mereka langsung saling pandang.
Karina melanjutkan dengan nada pura-pura heran.
“Artinya sekarang kita masih tetap satu keluarga.” Ia memiringkan kepala sedikit. “Bedanya… kamu sekarang jadi tanteku.”
Ia menahan tawa kecil, jelas menikmati kalimat itu. Kata itu ia tekankan dengan sengaja. Beberapa orang di sekitar mereka tampak tidak nyaman, tapi tidak ada yang menyela.
Mayra memandang Karina beberapa detik. Ekspresinya tetap datar. Tidak marah dan tidak tersinggung. Justru terlalu tenang.
Karina sempat mengira sindirannya berhasil—sampai Mayra akhirnya berbicara.
“Kalau begitu,” ujar Mayra pelan, “kamu seharusnya lebih hati-hati saat bicara.”
Karina mengerutkan alis, “Kenapa?”
Mayra menatapnya lurus.
"Karena kalau kita hitung dari status keluarga sekarang…” ia berhenti sejenak, “…aku bukan cuma tante kamu.”
Karina masih belum menangkap maksudnya.
Mayra melanjutkan dengan suara tenang yang justru membuat kalimatnya terasa lebih tajam.
“Aku juga sejajar dengan ibu mertua kamu.”
Hening.
Kalimat itu jatuh begitu saja di tengah lobi. Wajah Karina langsung berubah.
Mayra menambahkan dengan nada yang sama santainya. “Jadi kalau kamu ingin memanggilku tante, silakan.” Ia mengangkat bahu ringan. “Tapi jangan lupa… dalam struktur keluarga Hutama, posisiku sekarang berada satu tingkat di atas kamu.”
Naviro yang sejak tadi diam akhirnya terlihat menegang. Karina menatap Mayra dengan mata melebar, jelas tidak menyangka balasan itu.
Mayra bahkan belum selesai.
Dan satu hal lagi,” katanya pelan.
Karina mengepalkan tangannya. “Apa?”
Mayra menatapnya tanpa berkedip. Sempat melirik Naviro dengan pandangan remeh.
“Kalau kita bicara soal kuasa,” ujarnya ringan, “sepertinya aku yang menikah dengan orang yang memegang kendali di keluarga itu.”
Napas Karina tertahan.
Mayra tidak perlu menyebut nama Savian. Semua orang di sana sudah tahu siapa pria itu. Hanya Karina yang cukup bodoh untuk menyindirnya secara terang-terangan begitu.
Mayra lalu tersenyum tipis, bukan kemenangan yang mencolok, hanya cukup untuk membuat Karina semakin kesal.
“Jadi mulai sekarang,” tambahnya tenang, “belajarlah menghormati yang lebih tua.”
Karina terlihat hampir mengatakan sesuatu, tapi kata-katanya tertahan di tenggorokan.
Mayra berbalik tanpa menunggu reaksi lebih jauh. Ia berbalik tanpa berkata apa-apa lagi. Langkahnya terasa lebih ringan daripada yang ia bayangkan. Karena untuk pertama kalinya malam ini, Mayra benar-benar menyadari sesuatu, ia tidak lagi berdiri di sisi mereka. Ia sekarang adalah istri dari Savian Mandala Hutama.



