Share

06. Pillow Talk

Author: Estaruby
last update Last Updated: 2026-02-25 22:42:35

"Kita bisa bicara sambil rebahan."

 Savian mengambil selimut tambahan dan meletakkannya di sofa panjang dekat jendela.“Aku tidur di sana malam ini,” ucapnya santai.

Mayra menatapnya, sedikit terkejut. “Kamu yakin?”

Savian tersenyum tipis. “Aku duda, bukan predator.”

Untuk pertama kalinya malam itu, Mayra hampir tertawa.

 Lampu utama dimatikan. Tersisa cahaya kota yang menyusup lewat celah tirai. Dua orang yang pagi tadi bukan siapa-siapa bagi satu sama lain, kini berada dalam satu kamar, meskipun tak seranjang.

"Ada lagi pertanyaan yang ingin kamu utarakan?" Tanya Savian.

 Mayra menatap langit-langit kamar hotel. Memilih untuk lanjut mewawancarai suaminya itu.

 "Punya anak? Dimana mantan istrimu?" tanya Mayra.

 Savian tersenyum tipis mendengarnya. Dia cukup tenang menjawab segala pertanyaan yang Mayra lontarkan padanya, "Hanya menikah setahun dan belum dikaruniai keturunan," jawabnya.

 “Kenapa bercerai?” tanya Mayra hati-hati.

 “Tidak semua orang cocok meski dipaksa bertahan,” jawab Savian singkat. Tidak pahit. Tidak pula dramatis. Hanya fakta.

 Mayra mengangguk pelan. Ada kedewasaan dalam cara pria itu berbicara. Tidak menyalahkan siapa pun. Tidak mencari simpati. Dia masih penasaran dan ingin tahu lebih banyak, tapi mungkin malam ini bukanlah waktu yang tepat untuk membahas lebih banyak soal masa lalu Savian. Terlebih, dia merasa tak punya cukup tenaga, Mayra butuh waktu untuk mencerna semua yang terjadi secara mendadak dalam hidupnya. Mungkin nanti dia akan menggali semuanya pelan-pelan.

 "Kenapa tidak keberatan untuk menikahiku?" Dia beralih menanyakan topik yang lain  tanpa basa-basi. Ini adalah pertanyaan paling dasar yang membuatnya sangat penasaran. 

Savian tidak langsung menjawab. Pria itu menaikkan selimutnya sampai dada. Sempat sedikit curi-curi pandang kearah ranjang yang kini ditempati Mayra.

 "Saya... butuh seorang istri. Sementara kamu perlu kabur dari keluarga toxic," jawabnya singkat, cukup menghakimi.

 Sebelum Mayra bisa membuka mulut untuk membalasnya, Savian sudah lebih dulu menyambung kalimatnya, "Apa yang terjadi hari ini sudah cukup untuk membuat saya melihat secara langsung bagaimana kamu diperlakukan di keluarga itu," ujarnya. 

Mayra tidak ingin dikasihani. Tapi dia yakin, seseorang se-rasional Savian Mandala Hutama tidak mungkin menggunakan alasan 'kasihan' untuk melakukan sesuatu sebesar ini. Terlebih, dia bilang dia perlu 'istri'.

 Mayra mengendikkan bahu, "Baik, tapi kenapa aku? Maksudku, ada banyak wanita kompeten diluar sana yang pasti lebih baik dariku. Mengapa kamu memilihku?" Tanya Mayra lagi.

 Savian bergumam sebentar sembari menatap langit kamar sebelum akhirnya mengeluarkan kalimatnya.

 "Mutualisme, kupikir aku mendapatkan partner yang tepat," ucapnya.

 Mayra mengerutkan keningnya. Satu kalimat cukup menggelitiknya, Partner yang tepat? Atas dasar apa?

 "Aku rasa kamu cukup gigih dan cerdas. Aku butuh partner dengan 'otak' untuk membantuku," bubuh Savian lagi.

Mayra sepertinya tidak begitu puas dengan alasan tersebut. Menyadari hal itu, Savian lantas kembali melanjutkan narasinya.

"Kamu tahu kenapa Vania terlihat begitu bersikeras untuk awalnya menikahkan kamu dengan Naviro?"

 Pertanyaan tiba-tiba yang Savian sampaikan dengan mencatut nama kakaknya sekaligus mantan calon mertua Mayra—Vania Hutama.

 Mayra menggeleng. 

 Savian bersiap untuk menceritakan versinya. Menggeser lengannya untuk turut menjadi bantalan lebih tinggi untuk kepalanya.

"Ada alasan kenapa Vania, meskipun juga telah diakui sebagai anak dari ayahku, dia tidak akan pernah mendapat pengakuan atau hak lebih tinggi apapun dari keluarga Mandala Hutama. Sebab apa yang dimiliki Mandala Hutama sekarang adalah hasil dari ayah dan ibuku, dan seluruh keluarga besar kami menjaga prinsip itu. Sementara dia adalah hasil hubungan gelap ayahku di masa mudanya dengan seorang wanita penghibur yang jauh lebih tua darinya. Hubungan yang terjalin jauh sebelum ayah dan ibuku bertemu."

 Savian melirik Mayra sebentar yang nampak lucu memandang langit kamar sembari fokus mendengarnya menyuapi informasi.

 "Untuk memperkuat posisinya, dia butuh penyokong yang punya kekuatan hampir setara dengan Mandala Hutama. Salah satunya, lewat keluarga Prawitha Apalagi setelah dia mengetahui bahwa yang akan dijodohkan adalah putri sulung dan sah, itu kamu, Mayra Jeanne Prawitha."

Mendengar nama lengkapnya disebut dengan suara dalam itu, entah mengapa Mayra sedikit berdesir.

"Tidak heran kalau dia sangat memaksa kamu untuk tetap menikah dengan putranya tadi. Sebab kedudukanmu sah dan jelas berbeda dengan adik tirimu itu.

 Mayra berdecih. Sebal sekali rasanya mendengar dirinya disandingkan dengan anak gundik itu.

"Meskipun kamu memiliki ibu tiri dan adik tiri, tidak semudah itu menggeser kedudukanmu di keluarga Prawitha."

Mayra tertawa sumbang, "Sejak lama aku sudah nggak punya posisi apapun di keluarga itu, bahkan sebagai putri," ujarnya miris.

 Savian mengerti, pria itu lantas menyambung ucapannya, "Meski begitu, kamu tetap pewaris sah dan pemilik kuasa tertinggi disana. Bukan hanya harta orang tuamu, tapi kamu juga akan mewarisi seluruh aset dari keluarga besar ibumu. Itu yang sebenarnya hendak Vania incar," terang Savian.

 Pria itu menatap keluar kamar, "Dan meskipun Naviro telah menikahi Karina hari ini, tidak ada jaminan bahwa Vania akan melepaskanmu dengan mudah. Sebab apa yang dia kejar,  hanya ada pada dirimu. Maka dari itu, satu-satunya jalan mengamankanmu adalah menikah denganku," ucap Savian percaya diri.

 Mayra menelaah ucapan lelaki yang baru saja menjadi suaminya itu.Tidak terdengar seperti kebohongan disana, namun dia enggan seratus persen percaya.

 "Semuanya terdengar hanya untuk melindungiku, apa yang akan kamu dapat dari pernikahan ini kalau kamu bilang ini mutualisme?" Cecar Mayra lagi.

Savian suka bahwa Mayra cukup kritis. Pria itu tersenyum, "kecerdasan... dan kamu punya sesuatu yang diinginkan oleh Vania. Aku nggak akan mengambilnya, tapi setidaknya aku bisa mencegah wanita itu mendapatkan apa yang dia mau," jelas Savian akhirnya.

 Memiliki posisi yang sedikit mirip yakni ayah sama-sama punya gundik dan juga punya saudara tiri, Mayra kurang lebih bisa memahami apa yang Savian mau.

 Pada akhirnya, Mayra mengangguk. Pernikahan ini mungkin tidak seburuk yang awalnya dia kira.

 “Jadi…” Savian mengangkat kepala dan lengannya. Menatap Mayra dari tempatnya, "Boleh aku sampaikan beberapa kesepakatan?" 

 Mayra menegakkan tubuhnya. Ia mengangguk menantikan lanjutan kalimat dari pria matang itu.

 “Kesepakatan pertama,” Savian berkata tenang, “kita jalani ini dengan saling menghormati. Tidak ada yang dipaksa.”

 Mayra mengangguk meskipun tak sepenuhnya menerima.

 “Kedua, urusan di luar keluarga, bisnis, publik, kita kompak. Apa pun yang terjadi di dalam, di luar kita tetap satu tim.”

 Itu masuk akal.

 “Dan yang ketiga?” tanya Mayra.

Savian menatapnya lebih lama kali ini. Tatapannya tidak tajam, tidak pula lembut berlebihan. Hanya serius.

“Kita beri pernikahan ini kesempatan. Minimal satu tahun. Kalau setelah itu kamu ingin pergi, aku tidak akan menahan.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   06. Pillow Talk

    "Kita bisa bicara sambil rebahan." Savian mengambil selimut tambahan dan meletakkannya di sofa panjang dekat jendela.“Aku tidur di sana malam ini,” ucapnya santai.Mayra menatapnya, sedikit terkejut. “Kamu yakin?”Savian tersenyum tipis. “Aku duda, bukan predator.”Untuk pertama kalinya malam itu, Mayra hampir tertawa. Lampu utama dimatikan. Tersisa cahaya kota yang menyusup lewat celah tirai. Dua orang yang pagi tadi bukan siapa-siapa bagi satu sama lain, kini berada dalam satu kamar, meskipun tak seranjang."Ada lagi pertanyaan yang ingin kamu utarakan?" Tanya Savian. Mayra menatap langit-langit kamar hotel. Memilih untuk lanjut mewawancarai suaminya itu. "Punya anak? Dimana mantan istrimu?" tanya Mayra. Savian tersenyum tipis mendengarnya. Dia cukup tenang menjawab segala pertanyaan yang Mayra lontarkan padanya, "Hanya menikah setahun dan belum dikaruniai keturunan," jawabnya. “Kenapa bercerai?” tanya Mayra hati-hati. “Tidak semua orang cocok meski dipaksa bertahan,” jawab S

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   05. Malam Pertama

    Rasanya segar setelah benar-benar selesai membersihkan diri. Menghapus makeup, mengganti gaun beratnya dan mandi guna menyegarkan diri kembali. Seharian ini terasa seperti badai yang memindahkannya dari satu kehidupan ke kehidupan lain tanpa jeda.Mayra terduduk di ujung ranjang. Tidak ada taburan kelopak mawar. Tidak ada lilin-lilin romantis seperti dalam film. Hanya satu kamar luas dengan lampu temaram, aroma pendingin ruangan yang terlalu rapi. Tangannya otomatis menyentuh cincin di jari manisnya, seolah memastikan semuanya nyata.Lebih nyata lagi ketika terdengar suara pintu kamar hotel terbuka. Savian muncul dengan pakaian yang sama sembari membawa satu buah tas yang familiar bagi Mayra—miliknya. Pria itu menyerahkannya pada Mayra dan Mayra menerimanya dengan sopan, sedikit canggung lebih tepatnya.Atmosfer kamar jadi sedikit berbeda. Tenggorokan Mayra ikut gatal hingga beberapa kali ia berdehem."Kamu sudah selesai mandi?" Tanya Savian yang dengan cepat dibalas anggukan oleh

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   04. Sejajar Dengan Mertuamu

    Pesta akhirnya selesai.Lampu-lampu ballroom mulai diredupkan satu per satu, para tamu perlahan meninggalkan gedung dengan obrolan yang masih dipenuhi cerita tentang kejutan dua pernikahan saudari yang berlangsung di tempat yang sama hari ini. Musik yang sejak sore mengalun kini hanya tersisa gema samar.Mayra berdiri di salah satu lorong hotel dengan gaun pengantinnya yang masih rapi, tapi tubuhnya terasa jauh lebih lelah daripada yang ingin ia akui.“Nyonya Mayra, kamar pengantin sudah disiapkan di lantai atas. Malam ini Anda akan bermalam disini dulu sebelum besok menuju kediaman Keluarga Hutama.”Suara perempuan di sampingnya menarik perhatiannya. Perempuan itu mengenakan setelan formal dengan rambut yang tersanggul rapi, sekretaris pribadi Savian.“Pak Savian masih harus menyelesaikan beberapa urusan dengan keluarga dan pihak hotel. Beliau akan menyusul nanti.”Mayra mengangguk pelan. Jujur saja, ia bahkan tidak tahu harus merasa lega atau semakin canggung dengan informasi itu. I

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   03. Pernikahan Tak Terhindarkan

    Untuk yang katanya keluarga 'terpandang', maka citra menjadi sesuatu yang sensitif. Terutama jika skandal telah mencuat ke media dan menjadi santapan publik.Strategi mengalahkan panas dengan yang lebih panas lagi. Sebuah prinsip yang Mayra awalnya percayai namun untuk pertama kalinya kini membuatnya meragukan keyakinannya selama ini. Lewat sebuah kalimat santai bernada narsistik. Lelucon macam apa yang baru saja disampaikan oleh pria yang katanya paman muda dari Naviro itu?Menikah dengan dia saja katanya?Memangnya mereka pikir Mayra ini apa? Barang yang dengan mudah saja dilempar sana-sini? Dia sempat tenggelam dengan pemikirannya sendiri, menghiraukan perbincangan-perbincangan antarkeluarga termasuk momen masuknya si presdir penguasa itu. Namun kesadarannya langsung kembali begitu namanya disebut dalam sebuah kalimat yang tak pernah terpikirkan olehnya. "Alih-alih dipoligami, bukankah lebih baik kalau Mayra menjadi istri saya?"Semua orang yang berada di dalam ruangan jelas ter

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   02. Menikah Dengannya?

    Gila. Siapa yang dengan gagah berani menyampaikan ide gila itu dengan lantang?Ketika lontaran saran paling absurd tentang pernikahan dan kemungkinan poligami yang melibatkan dua kakak adik, Mayra tertawa miris. Bukan karena lucu, tapi karena getir. Hell nah! Tidak ada dalam kamus hidupnya sama sekali. Menikahi satu pria yang sama dengan wanita lainnya. Terlebih itu Karina? Si adik tiri manis kebanggaan keluarganya itu?"Nggak. Aku nggak mau! Lebih baik aku batal menikah daripada harus diduakan begitu," Mayra menolak tegas.Tapi manusia-manusia disekitarnya sepertinya tak punya lagi akal sehat."Jangan keras kepala! Berita sudah tersebar bahwa hari ini putri sulung keluarga Prawitha yang akan menikah. Meskipun mereka mungkin belum tahu bahwa seharusnya kamu dan Naviro yang menikah, tapi akan sangat memalukan kalau kamu keluar dari sini dengan status lajang." Ujar salah satu bibinya lagi. Punya keluarga besar apalagi yang tidak waras memang benar-benar merepotkan.Pesta intimate ini m

  • JEBAKAN CINTA PAMAN TUNANGANKU   01. Skandal Gila

    "Sekarang kamu pilih, Naviro! Mau melanjutkan pernikahanmu dengan Mayra atau bertanggung jawab atas kandungan Karina?!"Ballroom hotel yang seharusnya sebentar lagi dipenuhi oleh riuh bahagia pernikahan mendadak dikerubungi udara yang terasa berat. Seolah setiap orang didalamnya tengah menahan napas. Keluarga besar kedua mempelai terlibat dalam percakapan serius yang akan menentukan jalannya pesta yang hendak dimulai kurang dari 60 menit lagi. Beberapa tamu mungkin saja sudah mulai hadir dan menunggu di lobi.Pesta yang dipersiapkan mewah namun intimate, kini justru terancam gagal total. Apalagi dengan kehadiran wartawan di depan pintu hotel yang seolah mengepung mereka.Berkat beberapa gambar dan video intim yang tiba-tiba tersebar di jagat maya, kehebohan langsung menyeruak. Nama dari dua keluarga tersohor terjerat, jelas jadi santapan yang amat diminati para pemburu berita dan konsumennya."Aku hamil... dan itu milik Naviro!" Aku Karina. Adik tiri dari mempelai wanita yang seharus

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status