LOGINSiska berdiri di depan cermin besar kamarnya sambil merapikan gaun sutra berwarna biru tua yang membalut tubuhnya. Gaun itu adalah pilihan Hendri, yang katanya sangat cocok untuk mendampinginya di jamuan bisnis malam ini. Siska memoleskan lipstik merah tipis, berharap warna itu bisa menyembunyikan wajahnya yang pucat karena kelelahan setelah sesi latihan neraka bersama Arga pagi tadi. Tubuhnya masih terasa nyeri, namun dia tidak berani mengeluh.
"Sudah selesai belum? Kita bisa terlambat," teriak Hendri dari ruang tengah. Siska segera mengambil tas tangannya dan keluar kamar. Dia mendapati Hendri sedang merapikan jam tangan mewahnya. Hendri melirik Siska dari ujung rambut hingga ujung kaki tanpa ekspresi kagum sedikit pun. "Mas, apa penampilanku sudah cukup pantas?" tanya Siska pelan. Hendri mendengus sambil berjalan menuju pintu. "Pantas saja tidak cukup, Siska. Kamu harus terlihat seperti istri pengusaha kelas atas. Jangan pasang wajah memelas begitu, orang bisa mengira aku menyiksamu di rumah." "Maaf, Mas. Aku hanya sedikit lelah karena olahraga tadi pagi," jawab Siska sambil mengikuti langkah suaminya. "Itu pilihanmu sendiri untuk mulai berolahraga, jadi jangan jadikan alasan untuk bermalas-malasan malam ini," balas Hendri dingin saat mereka masuk ke dalam mobil. Perjalanan menuju restoran mewah di pusat kota itu terasa sangat sunyi. Siska hanya menatap jalanan dari balik jendela, sementara Hendri asyik dengan ponselnya. Sesekali pria itu tersenyum kecil saat menatap layar, sebuah pemandangan yang jarang Siska dapatkan di rumah. Begitu sampai di restoran, seorang wanita cantik dengan blazer merah ketat sudah menunggu di lobi. Veni, sekretaris pribadi Hendri, tersenyum lebar menyambut mereka. "Selamat malam, Pak Hendri. Meja untuk kolega bisnis kita sudah siap di lantai atas," sapa Veni dengan suara yang sangat manis. Dia kemudian beralih menatap Siska dengan tatapan yang sulit diartikan. "Selamat malam juga, Bu Siska. Wah, gaunnya bagus sekali." "Terima kasih, Veni," jawab Siska singkat. Dia mencoba tersenyum, meski hatinya terasa perih melihat betapa akrabnya Veni dengan suaminya. Mereka bertiga naik ke lantai atas. Di sana, sudah ada Pak Gunawan dan istrinya. Makan malam dimulai dengan obrolan bisnis yang sangat kaku bagi Siska. Hendri duduk di samping Siska, namun perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Pak Gunawan dan Veni yang duduk di depannya. "Veni ini memang sekretaris andalan saya, Pak Gunawan. Tanpa dia, jadwal saya pasti berantakan," ucap Hendri sambil tertawa kecil. Veni tersenyum malu-malu. "Ah, Pak Hendri terlalu memuji. Saya hanya melakukan tugas saya." "Tapi kinerjamu memang luar biasa, Veni. Saya sangat menghargainya," tambah Hendri lagi. Siska hanya duduk diam sambil memutar-mutar garpunya. Dia mencoba ikut tersenyum saat mereka tertawa, namun dia merasa seperti orang asing di mejanya sendiri. Tidak ada satu pun yang menanyakan kabarnya atau mengajaknya bicara. "Siska, tolong ambilkan sausnya untuk Pak Gunawan," perintah Hendri tanpa menoleh padanya. Siska melakukan perintah itu dengan patuh. Namun, saat dia bergerak, tangannya yang masih gemetar akibat kelelahan otot membuat botol saus itu tersenggol sedikit. "Hati-hati, Siska! Jangan ceroboh," bentak Hendri dengan suara rendah namun tajam. "Maaf, Mas. Tanganku sedikit lemas," bisik Siska dengan wajah merah padam karena malu. "Sudahlah, biarkan Veni saja yang melakukannya. Kamu duduk diam saja daripada merusak suasana," kata Hendri dingin. Veni dengan sigap mengambil alih tugas Siska. "Biar saya saja, Pak Hendri. Bu Siska sepertinya memang sedang kurang sehat." Siska merasa dadanya sesak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak tahan lagi. Kebencian pada dirinya sendiri dan rasa terhina karena diabaikan oleh suaminya di depan orang lain membuat pertahanannya runtuh. "Mas, aku izin ke toilet sebentar," pamit Siska lirih. Hendri hanya mengangguk tanpa melihatnya. Siska segera berdiri dan berjalan cepat menuju toilet wanita. Begitu sampai di dalam bilik toilet, dia mengunci pintu dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya pecah. Dia merasa sangat tidak berharga. Di rumah dia diabaikan, di depan kolega dia dipermalukan, dan sekarang dia terjebak dalam ancaman seorang pria muda yang menguntitnya. Hidupnya benar-benar terasa seperti benang kusut yang tidak bisa diurai. Tiba-tiba, ponsel di tas tangannya bergetar. Siska menghapus air matanya dan mengambil ponsel itu, mengira ada pesan penting dari Grace. Namun, matanya membelalak saat melihat pesan dari nomor yang tidak dikenal. "Jangan menangis untuk pria yang bahkan tidak melihatmu. Hapus air matamu, atau aku yang ke sana menghapusnya sekarang juga." Siska tersentak. Jantungnya berpacu liar. Dia sangat mengenali gaya bicara itu. Arga. "Bagaimana dia tahu aku menangis? Di mana dia?" bisik Siska ketakutan. Dia segera mencuci wajahnya dan memperbaiki riasannya dengan tangan gemetar. Dia harus segera kembali ke meja agar Hendri tidak curiga. Rasa takut dan cemas kini bercampur dengan perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Arga memperhatikannya. Pria itu tahu apa yang sedang dia rasakan, sesuatu yang bahkan suaminya sendiri tidak peduli. Siska berjalan keluar dari toilet menuju meja makannya kembali. Dia mencoba bersikap normal, meski matanya masih sedikit sembab. Saat dia duduk, dia melihat Hendri sedang menyentuh punggung tangan Veni sambil tertawa pelan mendengarkan lelucon Pak Gunawan. Perlakuan itu sangat kontras dengan caranya membentak Siska tadi. "Kenapa lama sekali di toilet?" tanya Hendri ketus tanpa melihat Siska. "Maaf, Mas. Tadi ada sedikit masalah dengan riasanku," jawab Siska dengan suara yang diusahakan tetap stabil. "Ya sudah, habiskan makanmu. Sebentar lagi kita pulang," perintah Hendri. Siska tidak selera makan. Dia menoleh ke arah jendela besar di samping meja mereka yang menghadap ke jalan raya di bawah. Restoran ini berada di lantai dua, sehingga dia bisa melihat jelas kendaraan yang parkir di seberang jalan. Matanya menyisir deretan mobil yang terparkir. Dan di sana, di bawah lampu jalan yang temaram, dia melihatnya. Sebuah mobil sport berwarna hitam mengkilap terparkir di seberang jalan. Kaca mobil itu gelap, namun Siska bisa merasakan ada seseorang di dalamnya yang sedang menatap lurus ke arah jendela tempat dia duduk. Siska membeku. Dia tahu itu mobil Arga. Pria itu benar-benar ada di sana, mengawasinya dari kejauhan seperti pemangsa yang menjaga mangsanya. Tiba-tiba, ponsel Siska bergetar lagi. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sama. "Berhentilah menatapku, Siska. Fokuslah pada makan malam durimu itu. Tapi ingat, setiap tetes air mata yang jatuh karena bajingan itu, harus kamu bayar dengan ketaatan padaku besok pagi." Siska menelan ludah dengan susah payah. Dia merasa seperti sedang diawasi oleh ribuan mata. Hendri yang duduk di sampingnya tidak tahu apa-apa, sementara di luar sana, seorang pria muda sedang mengendalikan rasa takut dan jiwanya. "Mas, aku sungguh ingin pulang sekarang," ucap Siska pada Hendri, suaranya terdengar sangat putus asa. Hendri menghela napas panjang, merasa terganggu. "Siska, bisa tidak kamu berhenti bersikap egois? Kita sedang ada tamu. Tunggu sampai Pak Gunawan selesai bicara." Siska terdiam. Dia kembali menoleh ke jendela. Mobil sport itu masih di sana. Siska merasa dunianya benar-benar sudah terbelah. Dia terjepit di antara suami yang memperlakukannya seperti pajangan rusak, dan seorang pria muda yang memberinya perhatian dengan cara yang mengerikan. "Pak Hendri, sepertinya istri Anda benar-benar lelah," ujar Pak Gunawan menyadari wajah Siska yang semakin pucat. "Ah, maafkan dia, Pak Gunawan. Mungkin dia terlalu banyak olahraga pagi tadi," sahut Hendri sambil tersenyum paksa. Dia kemudian menoleh pada Siska dan berbisik sangat tajam di telinganya. "Awas kamu kalau berani pingsan di sini." Siska menggigit bibir bawahnya. Dia menatap ke luar jendela lagi. Lampu mobil sport itu tiba-tiba menyala dua kali, seolah memberi kode padanya. Siska memejamkan mata sejenak, merasakan getaran ketakutan sekaligus desiran aneh di hatinya. Dia berbisik sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh siapapun di meja itu. "Arga, apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"Hendri masih di sana, tertawa parau dengan tatapan mata yang liar karena pengaruh alkohol dan dendam. Dia mengira tindakannya barusan akan membuat Arga mengamuk dan Siska menangis malu. Namun, yang dia lihat justru pemandangan yang membuatnya merasa semakin kecil. "Mas Hendri," suara Siska terdengar sangat stabil dan dingin. Tidak ada lagi nada ketakutan yang biasanya menghiasi suaranya jika berhadapan dengan pria itu. "Kau meludah karena kau tahu kau sudah kalah, Mas. Kau melakukannya karena kau tidak lagi memiliki kata-kata untuk membela dirimu sendiri. Kau tidak lagi memiliki kuasa untuk menjatuhkan kami dengan caramu yang dulu," ujar Siska sambil menatap lurus ke dalam mata Hendri yang memerah. Hendri hendak menyela, namun Siska mengangkat tangannya, membungkam pria itu dengan wibawanya yang baru. "Ludahmu tadi tidak menghina Arga. Sedikit pun tidak. Tindakanmu justru memperlihatkan kepada semua orang di ruangan ini betapa rendahnya kelasmu. Kau datang ke sini dengan jas m
Beberapa hari ini adalah hari yang menenangkan untuk Siska dan Arga. Dan tepat di malam ini adalah acara Gala Diner yang dihadiri para pengusaha muda. Arga dan Siska tampil sangat memukau, Siska memakai gaun merah dengan belahan yang tinggi dan memperlihatkan tato baru dikakinya, Siska tampil begitu cantik dan percaya diri, sedangkan Arga tampil menggunakan setelan jas hitam yang memperlihatkan wibawanya. Dalam kehangatan suasana Gala Diner itu, tiba-tiba suara teriakan kasar dan bunyi benturan benda keras merusak keanggunan malam itu. Para tamu undangan serentak menoleh ke arah pintu kayu jati besar yang kini terbuka lebar. "Mana Siska?! Di mana kalian menyembunyikan wanita jalang itu?!" Sesosok pria muncul dengan langkah sempoyongan. Dia adalah Hendri. Penampilannya sangat mengenaskan. Jas mahalnya tampak kusut dan tidak terkancing, dasinya miring, dan rambutnya yang biasa klimis kini berantakan menutupi dahi. Bau alkohol yang sangat menyengat langsung tercium bahkan dari jara
Siska duduk di kursi empuk ruang kerja Arga, menatap rintik hujan yang membasahi kaca jendela besar di depannya. Kehadiran Arga di ruangan itu seperti pelindung yang tak kasat mata namun sangat kuat. Arga berjalan menghampiri Siska sambil membawa dua cangkir teh hangat. Aroma melati yang menenangkan menyeruak ke seluruh ruangan. Dia meletakkan cangkir itu di meja, lalu berlutut di depan Siska. Dia menggenggam kedua tangan Siska yang terasa dingin. Siska menatap mata Arga yang dalam. "Kenapa kamu begitu baik padaku, Ga? Padahal hidupku hanya membawa masalah bagimu." Arga tersenyum, sebuah senyuman yang sanggup meluluhkan beban di pundak Siska. "Karena mencintaimu adalah hal paling masuk akal yang pernah kulakukan dalam hidupku. Masalahmu adalah masalahku juga. Kita akan menghadapi badai ini bersama-sama, sampai matahari terbit lagi untuk kita berdua." Siska merasa hatinya seperti dipeluk. "Terima kasih. Aku benar-benar beruntung memilikimu." Tiba-tiba, ponsel Arga bergetar di
Gedung Pengadilan Agama Jakarta Selatan pagi ini tampak lebih ramai dari biasanya. Para pemburu berita sudah berkumpul di depan pagar, berharap mendapatkan gambar atau pernyataan dari pasangan yang kasusnya sedang menjadi perbincangan nasional. Di dalam sebuah mobil mewah yang terparkir agak jauh dari kerumunan, Siska duduk dengan tenang. Rambut bob barunya membingkai wajahnya dengan sangat cantik, memberikan kesan wanita karier yang sukses dan tangguh. Jantung Siska berdegup kencang, namun bukan karena takut. Itu adalah debaran kegembiraan karena akhirnya dia berani mengambil langkah paling nyata untuk memutus rantai penderitaannya. Arga, yang duduk di sampingnya, menggenggam tangan Siska. Dia bisa merasakan sedikit keringat dingin di telapak tangan wanita itu. Arga menarik tangan Siska dan mengecupnya.. "Ingat, Siska. Hari ini bukan tentang dia. Hari ini adalah tentang kemerdekaanmu," bisik Arga dengan suara baritonnya yang menenangkan. Siska menatap Arga, pria yang telah me
Siska berdiri di depan sebuah cermin besar yang menghiasi dinding kamar Arga. Dia menatap bayangannya sendiri, namun yang dia lihat bukan lagi Siska yang tegar. Dia melihat sisa-sisa perempuan yang dulu selalu merunduk, selalu merasa rendah diri, dan selalu menyembunyikan bekas luka di bawah kain panjang yang menutupi betisnya. Meskipun Arga telah berjanji akan melindunginya, Siska merasa ada sesuatu yang harus dia selesaikan dengan dirinya sendiri, dia harus menyelamatkan identitasnya yang telah lama dicuri oleh Hendri. "Kenapa diam melamun, sayang?" Arga melingkarkan tangannya di pinggang Siska. Dagu Arga bertumpu di bahu Siska, mereka berdua menatap cermin yang sama. "Aku merasa... aku masih membawa bayang-bayang Siska yang dulu, Ga. Siska yang lemah, yang rambutnya ditarik oleh Hendri, yang kakinya selalu dihina. Aku ingin membuang semua itu," bisik Siska dengan suara yang bergetar. Arga mencium leher Siska dengan lembut, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh
Pagi itu, udara di Jakarta terasa sangat menyesakkan bagi seorang Veni. Wanita yang biasanya tampil dengan riasan tebal dan pakaian bermerek itu kini tampak sangat kacau. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan. Dia duduk di ruang tamu apartemen mewahnya, menatap tumpukan tas bermerek dan kotak perhiasan di atas meja kaca.Veni baru saja melihat berita pagi. Nama Hendri disebut sebagai tersangka utama dalam kasus pencucian uang dan korupsi. Semua rekening Hendri sudah dibekukan. Veni tahu betul, sebentar lagi pihak berwenang pasti akan melacak aset-aset yang dialirkan Hendri kepada orang-orang terdekatnya, termasuk dirinya."Aku tidak boleh ikut jatuh. Aku harus pergi dari sini sebelum polisi datang," gumam Veni dengan suara gemetar.Dia meraih sebuah tas tangan berwarna merah marun, salah satu koleksi terbatas yang harganya mencapai ratusan juta rupiah. Tas itu adalah hadiah ulang tahun dari Hendri tahun lalu. Dulu, dia memakainya dengan bangga di depan teman-teman
"Siska, apakah kamu sudah siap jika suatu saat nanti aku benar-benar mengambilmu dari rumah itu dan membuat Hendri berlutut memohon ampun di depan kaki kita berdua?" Pertanyaan Arga itu terus menggema di dalam kepala Siska layaknya kutukan yang tidak kunjung hilang. Sepanjang perjalanan pulang hin
Pagi ini, Siska tidak hanya membawa beban sakit punggung yang mulai memudar, tetapi juga membawa luka baru yang jauh lebih perih di dalam dadanya. Mata wanita itu tampak sangat sembab, bengkak, dan memerah, menceritakan kehancuran hatinya tanpa perlu satu kata pun terucap. Kehancuran itu bermula b
"Jadi, menurutmu ke mana perginya kalung berlian senilai tiga ratus juta itu jika tidak ada di dalam tas suamimu semalam, Siska?" Pertanyaan Arga itu masih menggema di telinga Siska seperti lonceng kematian. Siska tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap lantai matras dengan pandangan kosong sementar
"Tidurlah yang nyenyak, Siska, karena besok adalah awal dari kebenaran yang akan merobek hatimu sampai tidak bersisa."Siska membisikkan kembali isi pesan Arga itu dengan bibir yang gemetar. Ia baru saja terbangun dari tidur yang tidak nyenyak. Matahari pagi menyelinap masuk melalui celah gorden ka







