แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Tinta Senyap
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-02-20 22:29:38

Siska berdiri di depan cermin besar kamarnya sambil merapikan gaun sutra berwarna biru tua yang membalut tubuhnya. Gaun itu adalah pilihan Hendri, yang katanya sangat cocok untuk mendampinginya di jamuan bisnis malam ini. Siska memoleskan lipstik merah tipis, berharap warna itu bisa menyembunyikan wajahnya yang pucat karena kelelahan setelah sesi latihan neraka bersama Arga pagi tadi. Tubuhnya masih terasa nyeri, namun dia tidak berani mengeluh.

"Sudah selesai belum? Kita bisa terlambat," teriak Hendri dari ruang tengah.

Siska segera mengambil tas tangannya dan keluar kamar. Dia mendapati Hendri sedang merapikan jam tangan mewahnya. Hendri melirik Siska dari ujung rambut hingga ujung kaki tanpa ekspresi kagum sedikit pun.

"Mas, apa penampilanku sudah cukup pantas?" tanya Siska pelan.

Hendri mendengus sambil berjalan menuju pintu. "Pantas saja tidak cukup, Siska. Kamu harus terlihat seperti istri pengusaha kelas atas. Jangan pasang wajah memelas begitu, orang bisa mengira aku menyiksamu di rumah."

"Maaf, Mas. Aku hanya sedikit lelah karena olahraga tadi pagi," jawab Siska sambil mengikuti langkah suaminya.

"Itu pilihanmu sendiri untuk mulai berolahraga, jadi jangan jadikan alasan untuk bermalas-malasan malam ini," balas Hendri dingin saat mereka masuk ke dalam mobil.

Perjalanan menuju restoran mewah di pusat kota itu terasa sangat sunyi. Siska hanya menatap jalanan dari balik jendela, sementara Hendri asyik dengan ponselnya. Sesekali pria itu tersenyum kecil saat menatap layar, sebuah pemandangan yang jarang Siska dapatkan di rumah.

Begitu sampai di restoran, seorang wanita cantik dengan blazer merah ketat sudah menunggu di lobi. Veni, sekretaris pribadi Hendri, tersenyum lebar menyambut mereka.

"Selamat malam, Pak Hendri. Meja untuk kolega bisnis kita sudah siap di lantai atas," sapa Veni dengan suara yang sangat manis. Dia kemudian beralih menatap Siska dengan tatapan yang sulit diartikan. "Selamat malam juga, Bu Siska. Wah, gaunnya bagus sekali."

"Terima kasih, Veni," jawab Siska singkat. Dia mencoba tersenyum, meski hatinya terasa perih melihat betapa akrabnya Veni dengan suaminya.

Mereka bertiga naik ke lantai atas. Di sana, sudah ada Pak Gunawan dan istrinya. Makan malam dimulai dengan obrolan bisnis yang sangat kaku bagi Siska. Hendri duduk di samping Siska, namun perhatiannya sepenuhnya tertuju pada Pak Gunawan dan Veni yang duduk di depannya.

"Veni ini memang sekretaris andalan saya, Pak Gunawan. Tanpa dia, jadwal saya pasti berantakan," ucap Hendri sambil tertawa kecil.

Veni tersenyum malu-malu. "Ah, Pak Hendri terlalu memuji. Saya hanya melakukan tugas saya."

"Tapi kinerjamu memang luar biasa, Veni. Saya sangat menghargainya," tambah Hendri lagi.

Siska hanya duduk diam sambil memutar-mutar garpunya. Dia mencoba ikut tersenyum saat mereka tertawa, namun dia merasa seperti orang asing di mejanya sendiri. Tidak ada satu pun yang menanyakan kabarnya atau mengajaknya bicara.

"Siska, tolong ambilkan sausnya untuk Pak Gunawan," perintah Hendri tanpa menoleh padanya.

Siska melakukan perintah itu dengan patuh. Namun, saat dia bergerak, tangannya yang masih gemetar akibat kelelahan otot membuat botol saus itu tersenggol sedikit.

"Hati-hati, Siska! Jangan ceroboh," bentak Hendri dengan suara rendah namun tajam.

"Maaf, Mas. Tanganku sedikit lemas," bisik Siska dengan wajah merah padam karena malu.

"Sudahlah, biarkan Veni saja yang melakukannya. Kamu duduk diam saja daripada merusak suasana," kata Hendri dingin.

Veni dengan sigap mengambil alih tugas Siska. "Biar saya saja, Pak Hendri. Bu Siska sepertinya memang sedang kurang sehat."

Siska merasa dadanya sesak. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Dia tidak tahan lagi. Kebencian pada dirinya sendiri dan rasa terhina karena diabaikan oleh suaminya di depan orang lain membuat pertahanannya runtuh.

"Mas, aku izin ke toilet sebentar," pamit Siska lirih.

Hendri hanya mengangguk tanpa melihatnya. Siska segera berdiri dan berjalan cepat menuju toilet wanita. Begitu sampai di dalam bilik toilet, dia mengunci pintu dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Isak tangis yang sejak tadi ditahannya pecah.

Dia merasa sangat tidak berharga. Di rumah dia diabaikan, di depan kolega dia dipermalukan, dan sekarang dia terjebak dalam ancaman seorang pria muda yang menguntitnya. Hidupnya benar-benar terasa seperti benang kusut yang tidak bisa diurai.

Tiba-tiba, ponsel di tas tangannya bergetar. Siska menghapus air matanya dan mengambil ponsel itu, mengira ada pesan penting dari Grace. Namun, matanya membelalak saat melihat pesan dari nomor yang tidak dikenal.

"Jangan menangis untuk pria yang bahkan tidak melihatmu. Hapus air matamu, atau aku yang ke sana menghapusnya sekarang juga."

Siska tersentak. Jantungnya berpacu liar. Dia sangat mengenali gaya bicara itu. Arga.

"Bagaimana dia tahu aku menangis? Di mana dia?" bisik Siska ketakutan.

Dia segera mencuci wajahnya dan memperbaiki riasannya dengan tangan gemetar. Dia harus segera kembali ke meja agar Hendri tidak curiga. Rasa takut dan cemas kini bercampur dengan perasaan aneh yang sulit dijelaskan. Arga memperhatikannya. Pria itu tahu apa yang sedang dia rasakan, sesuatu yang bahkan suaminya sendiri tidak peduli.

Siska berjalan keluar dari toilet menuju meja makannya kembali. Dia mencoba bersikap normal, meski matanya masih sedikit sembab. Saat dia duduk, dia melihat Hendri sedang menyentuh punggung tangan Veni sambil tertawa pelan mendengarkan lelucon Pak Gunawan. Perlakuan itu sangat kontras dengan caranya membentak Siska tadi.

"Kenapa lama sekali di toilet?" tanya Hendri ketus tanpa melihat Siska.

"Maaf, Mas. Tadi ada sedikit masalah dengan riasanku," jawab Siska dengan suara yang diusahakan tetap stabil.

"Ya sudah, habiskan makanmu. Sebentar lagi kita pulang," perintah Hendri.

Siska tidak selera makan. Dia menoleh ke arah jendela besar di samping meja mereka yang menghadap ke jalan raya di bawah. Restoran ini berada di lantai dua, sehingga dia bisa melihat jelas kendaraan yang parkir di seberang jalan.

Matanya menyisir deretan mobil yang terparkir. Dan di sana, di bawah lampu jalan yang temaram, dia melihatnya. Sebuah mobil sport berwarna hitam mengkilap terparkir di seberang jalan. Kaca mobil itu gelap, namun Siska bisa merasakan ada seseorang di dalamnya yang sedang menatap lurus ke arah jendela tempat dia duduk.

Siska membeku. Dia tahu itu mobil Arga. Pria itu benar-benar ada di sana, mengawasinya dari kejauhan seperti pemangsa yang menjaga mangsanya.

Tiba-tiba, ponsel Siska bergetar lagi. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang sama.

"Berhentilah menatapku, Siska. Fokuslah pada makan malam durimu itu. Tapi ingat, setiap tetes air mata yang jatuh karena bajingan itu, harus kamu bayar dengan ketaatan padaku besok pagi."

Siska menelan ludah dengan susah payah. Dia merasa seperti sedang diawasi oleh ribuan mata. Hendri yang duduk di sampingnya tidak tahu apa-apa, sementara di luar sana, seorang pria muda sedang mengendalikan rasa takut dan jiwanya.

"Mas, aku sungguh ingin pulang sekarang," ucap Siska pada Hendri, suaranya terdengar sangat putus asa.

Hendri menghela napas panjang, merasa terganggu. "Siska, bisa tidak kamu berhenti bersikap egois? Kita sedang ada tamu. Tunggu sampai Pak Gunawan selesai bicara."

Siska terdiam. Dia kembali menoleh ke jendela. Mobil sport itu masih di sana. Siska merasa dunianya benar-benar sudah terbelah. Dia terjepit di antara suami yang memperlakukannya seperti pajangan rusak, dan seorang pria muda yang memberinya perhatian dengan cara yang mengerikan.

"Pak Hendri, sepertinya istri Anda benar-benar lelah," ujar Pak Gunawan menyadari wajah Siska yang semakin pucat.

"Ah, maafkan dia, Pak Gunawan. Mungkin dia terlalu banyak olahraga pagi tadi," sahut Hendri sambil tersenyum paksa. Dia kemudian menoleh pada Siska dan berbisik sangat tajam di telinganya. "Awas kamu kalau berani pingsan di sini."

Siska menggigit bibir bawahnya. Dia menatap ke luar jendela lagi. Lampu mobil sport itu tiba-tiba menyala dua kali, seolah memberi kode padanya.

Siska memejamkan mata sejenak, merasakan getaran ketakutan sekaligus desiran aneh di hatinya. Dia berbisik sangat pelan, hampir tidak terdengar oleh siapapun di meja itu.

"Arga, apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 27

    "Buka matamu, Siska. Jangan biarkan suamimu menang dalam keheningan ini." Suara bariton Arga merayap pelan di antara kesadaran Siska yang masih berkabut. Perlahan, kelopak mata Siska yang terasa seberat timah terbuka. Cahaya sore yang jingga menyeruak masuk melalui celah gorden kamar utama, menerangi wajah Arga yang berada tepat di hadapannya. Pria itu tidak lagi memakai baju olahraga hitamnya, ia hanya mengenakan kaos polos yang pas di tubuh, memperlihatkan otot dadanya yang tegap saat ia duduk di tepi ranjang milik Hendri. Siska mencoba menggerakkan tubuhnya, namun rasa lemas masih mengunci setiap sendinya. Ia menatap Arga dengan pandangan yang basah. Ada rasa syukur yang membuncah, namun di saat yang sama, rasa takut yang luar biasa menghantam dadanya. Ini adalah kamar tidurnya bersama Hendri. Tempat suci pernikahannya, meskipun tidak ada lagi kesucian di sana. "Kenapa kamu masih di sini, Arga? Tolong pergi sebelum seseorang melihatmu," bisik Siska dengan suara yang serak dan pe

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 26

    "Siska! Jawab aku atau aku akan merobohkan pintu ini sekarang juga!" Suara bariton Arga berdentum keras, memantul di dinding-dinding lobi depan rumah mewah keluarga Wijaya. Di dalam kegelapan kesadarannya, Siska mendengar suara itu seperti guntur di kejauhan. Ia ingin menggerakkan jarinya, ingin mengeluarkan suara untuk memberi tahu bahwa ia sedang sekarat di lantai dapur, namun tubuhnya tetap membeku dalam kedinginan yang amat sangat. Di luar gerbang, Arga menatap layar ponselnya dengan napas memburu. Titik biru yang menunjukkan lokasi Siska sama sekali tidak bergerak sejak tiga jam yang lalu. Pesan-pesannya tidak dibaca, teleponnya tidak diangkat. Arga tahu Siska tidak sedang menghindarinya. Instingnya sebagai seorang predator sekaligus pelatih yang mengenal setiap inci kapasitas fisik Siska mengatakan ada sesuatu yang salah. Sangat salah. "Maaf, Pak, tapi pemilik rumah sedang tidak ada di tempat. Saya tidak bisa membiarkan orang asing masuk tanpa izin Bapak Hendri," ucap petugas

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 25

    "Tentu saja boleh, Nyonya Siska. Tapi besok jangan harap kamu bisa pulang dengan tubuh yang tidak memar-memar karena hukuman atas kebohonganmu selama tiga hari ini." Kalimat ancaman dari Arga itu terus berputar-putar di benak Siska saat ia mencoba membuka matanya di pagi buta. Siska ingin segera bangun, ia ingin memenuhi janjinya untuk datang ke gym jam enam pagi demi meredam amarah Arga. Namun, saat ia mencoba menggerakkan lengannya, tubuhnya terasa seberat timah. Kepalanya berdenyut-denyut sangat hebat, seolah-olah ada ribuan jarum yang ditusukkan ke dalam otaknya secara bersamaan. Siska mengerang pelan, mencoba menyentuh dahinya sendiri. Panas. Kulitnya terasa seperti membara, namun di saat yang sama, ia merasa kedinginan yang amat sangat hingga ke tulang sumsum. Tubuhnya benar-benar sudah mencapai batasnya. Stres batin yang menumpuk, diet ketat yang dipaksakan Arga, serta tekanan dari Hendri akhirnya meledakkan pertahanan kesehatannya. Siska jatuh sakit, dan kali ini bukan bohon

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 24

    "Siska, apakah kamu sudah siap jika suatu saat nanti aku benar-benar mengambilmu dari rumah itu dan membuat Hendri berlutut memohon ampun di depan kaki kita berdua?" Pertanyaan Arga itu terus menggema di dalam kepala Siska layaknya kutukan yang tidak kunjung hilang. Sepanjang perjalanan pulang hingga ia merebahkan tubuh di ranjang, Siska merasa dunianya berputar dengan sangat cepat. Ia ketakutan. Bukan hanya karena keberanian Arga yang ingin menghancurkan Hendri, tetapi karena ia menyadari bahwa sebagian dari dirinya mulai menginginkan hal itu terjadi. Ia takut pada getaran di hatinya setiap kali Arga mengklaimnya sebagai milik pria itu. Siska menatap langit-langit kamarnya yang mewah. Ia sadar bahwa ia telah melampaui batas profesional. Perhatian Arga yang begitu detail, sentuhannya yang protektif, hingga caranya mendengarkan keluh kesah Siska telah menjadi candu yang berbahaya. Siska merasa dirinya seperti tawanan yang mulai mencintai penjaganya. "Aku tidak boleh seperti ini. Aku

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 23

    Pagi ini, Siska tidak hanya membawa beban sakit punggung yang mulai memudar, tetapi juga membawa luka baru yang jauh lebih perih di dalam dadanya. Mata wanita itu tampak sangat sembab, bengkak, dan memerah, menceritakan kehancuran hatinya tanpa perlu satu kata pun terucap. Kehancuran itu bermula beberapa jam yang lalu di meja makan rumahnya yang mewah namun terasa mencekam. Grace, putri tunggalnya yang biasanya penurut, tiba-tiba meledak. Gadis remaja itu berteriak bahwa ia muak melihat Siska yang selalu terlihat menyedihkan dan lemah di depan ayahnya. Grace bahkan menyebut Siska sebagai ibu yang tidak punya harga diri karena terus memaafkan pengkhianatan Hendri yang sudah menjadi rahasia umum di sekolahnya. "Kamu tidak becus mendidik anak, Siska! Lihat bagaimana anakmu sendiri merendahkan ibunya!" bentak Hendri tadi pagi, alih-alih membela istrinya. Hendri justru menggunakan kemarahan Grace untuk kembali menyudutkan Siska, lalu pergi begitu saja meninggalkan Siska yang tersungkur d

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 22

    "Jadi, menurutmu ke mana perginya kalung berlian senilai tiga ratus juta itu jika tidak ada di dalam tas suamimu semalam, Siska?" Pertanyaan Arga itu masih menggema di telinga Siska seperti lonceng kematian. Siska tidak menjawab. Ia hanya bisa menatap lantai matras dengan pandangan kosong sementara napasnya terasa berat. Arga tidak mengejarnya lebih jauh, pria itu membiarkan Siska pulang dengan membawa kepingan fakta yang merobek jantungnya. Pagi ini, dunia Siska terasa semakin sempit. Saat ia mencoba bangun dari tempat tidur, sebuah rasa nyeri yang tajam menusuk dari pinggang hingga ke punggung bagian atas. Siska meringis, memegangi pinggangnya dengan tangan gemetar. Stres yang bertubi-tubi, rahasia kalung berlian yang hilang, dan bayangan Veni seolah bermuara pada otot-otot tubuhnya yang kini mengeras karena tekanan batin. "Mas Hendri," panggil Siska lirih saat melihat suaminya sedang mematut diri di depan cermin, merapikan dasi sutranya yang mahal. Hendri hanya melirik dari pan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status