LOGINPagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah mewakili perasaan Siska yang sedang berjalan menuju pintu masuk Iron & Orchid Wellness Center. Tubuhnya terasa berat, seakan ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kakinya. Siska menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Dia mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna hitam yang sengaja Arga siapkan untuknya. Pakaian itu terasa seperti kulit kedua yang membuatnya merasa telanjang dan terekspos.
Begitu memasuki area VIP, Siska langsung disambut oleh sosok Arga yang sudah berdiri tegak di tengah ruangan. Pria itu tampak sangat berbeda dari Arga yang dia temui di Bali. Tidak ada senyum nakal atau binar main-main di matanya. Yang ada hanyalah sosok pelatih profesional yang dingin dan disiplin. "Tepat waktu, Ibu Siska," ucap Arga dengan nada formal yang kaku. Pria itu menatap jam di pergelangan tangannya tanpa melihat ke arah Siska. "Silakan taruh tas Anda di loker. Kita mulai dengan pemanasan di atas mesin lari sepuluh menit." Siska hanya mengangguk pelan. Dia berjalan menuju mesin lari dengan perasaan hampa. Saat mesin itu mulai bergerak, Siska terpaksa menggerakkan kakinya. Napasnya mulai memburu setelah beberapa menit. Keringat mulai membasahi pelipisnya. Arga berdiri tidak jauh dari sana, mencatat sesuatu di papan jalan sambil terus mengawasi gerakannya. "Tambah kecepatannya, Ibu Siska. Jangan manja," suara Arga terdengar lantang, bergema di ruangan yang sepi itu. "Aku sudah tidak kuat, Ga... maksud saya, Coach," rintih Siska. Dadanya terasa sesak. Napasnya mulai tersengal-sengal. Arga melangkah mendekat. Dia tidak mematikan mesinnya, justru menambah kecepatannya satu tingkat lagi. Siska terpekik kecil, kakinya nyaris tersandung jika dia tidak segera mempercepat langkahnya. "Waktu Anda tinggal lima menit lagi. Fokus," perintah Arga tegas. Siska merasa ingin menangis. Rasa sakit di kakinya mulai menjalar ke pinggang. Namun, ancaman Arga tentang rekaman video itu terus membayangi pikirannya. Dia tidak punya pilihan selain patuh. Pria ini sedang menyiksanya, dan Siska tahu itu adalah bagian dari hukuman yang Arga rencanakan. Setelah mesin lari berhenti, Siska nyaris terjatuh kalau saja dia tidak berpegangan pada tiang besi di depannya. Dia membungkuk, berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin. "Minum air secukupnya, lalu ambil batang besi itu. Kita masuk ke sesi squat," kata Arga tanpa belas kasihan. Siska meneguk air mineralnya dengan tangan gemetar. Dia kemudian berjalan menuju rak beban dan mengambil batang besi panjang. Saat dia mulai menempatkan besi itu di pundaknya, Arga melangkah ke belakang tubuhnya. Siska bisa merasakan aura panas dari tubuh pria itu yang berdiri sangat dekat. "Buka kakimu lebih lebar. Turunkan panggulmu lebih rendah," instruksi Arga. Suaranya terdengar sangat profesional di telinga orang lain, namun nadanya berubah saat dia menunduk ke arah bahu Siska. Arga mengulurkan tangannya, menyentuh pinggang Siska untuk membetulkan posisinya. Sentuhan itu terasa membakar kulit Siska. Siska tersentak, berusaha menjauh, namun cengkeraman Arga di pinggangnya justru mengeras. "Jangan bergerak. Aku sedang membenarkan posisimu," bisik Arga. Bibirnya nyaris menyentuh daun telinga Siska. Siska memejamkan mata. Dia benci bagaimana tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan pria muda ini. Meskipun hatinya dipenuhi rasa benci dan takut, ada aliran listrik yang membuatnya merinding setiap kali jari-jari Arga menekan kulitnya. "Turun lagi, Siska," bisik Arga lagi. Suaranya kini terdengar rendah dan serak, sangat intim. "Napasmu pendek sekali. Persis seperti malam itu di Bali saat aku menyentuhmu di bawah selimut." Darah Siska terasa berhenti mengalir. Wajahnya merah padam karena malu. "Tolong, jangan bahas itu di sini." "Kenapa? Kamu malu diingatkan betapa pasrahnya kamu saat itu?" Arga kembali memberikan penekanan pada pinggang Siska, memaksa wanita itu melakukan gerakan squat dengan benar. "Ayo, turunkan lagi panggulmu. Jangan biarkan kakimu gemetar. Kamu harus kuat jika ingin melayani suamimu... atau melayaniku." "Kamu jahat, Arga," isak Siska pelan. Air matanya jatuh menetes ke lantai matras. "Kenapa kamu melakukan ini padaku?" "Aku tidak melakukan apa-apa, Ibu Siska. Aku hanya sedang melatih klienku," jawab Arga, kembali ke suara profesionalnya yang keras karena ada seorang staf kebersihan yang lewat di luar ruangan kaca. "Ayo, naik! Tahan otot perutmu! Sepuluh repetisi lagi!" Latihan itu benar-benar menjadi neraka bagi Siska. Setiap gerakan yang dia lakukan selalu dikritik oleh Arga. Setiap kali Arga menyentuh tubuhnya untuk membenarkan posisi, pria itu akan membisikkan kata-kata yang menyayat hati atau sindiran tentang malam mereka. Siska merasa dipermalukan secara fisik dan mental. Dia merasa seperti pelacur yang sedang dilatih untuk menyenangkan tuannya. "Cukup untuk hari ini," ucap Arga akhirnya setelah dua jam berlalu. Siska merosot ke lantai. Tubuhnya benar-benar hancur. Dia tidak pernah merasa selelah ini seumur hidupnya. Seluruh ototnya berteriak kesakitan. Dia menelungkupkan wajahnya di atas matras, menangis dalam diam. "Bangun dan bersihkan dirimu. Suamimu sudah ada di lobi," kata Arga sambil menendang pelan sepatu Siska. Siska terlonjak. "Mas Hendri? Dia menjemputku?" "Begitulah. Katanya ingin menjemput istri tercintanya sebagai kejutan," Arga tersenyum miring. Senyum yang penuh dengan kebencian tersembunyi. Siska terburu-buru membersihkan keringatnya dan mengganti pakaian. Dia tidak ingin Hendri curiga. Dengan langkah goyah, dia keluar menuju lobi utama didampingi oleh Arga yang berjalan di sampingnya dengan wajah datar. Di lobi, Hendri sudah berdiri dengan gagah mengenakan setelan jas mahalnya. Begitu melihat Siska, wajah Hendri berubah menjadi sangat ramah. Dia merentangkan tangannya seolah sedang menyambut ratu yang baru pulang dari peperangan. "Sayang! Wah, lihat istriku. Kamu terlihat sangat segar walau berkeringat," ucap Hendri dengan nada manis yang dibuat-buat. Pria itu mencium kening Siska di depan para staf dan member lain yang ada di lobi. Siska hanya bisa tersenyum kaku. Dia tahu ini hanya pencitraan. Hendri ingin terlihat sebagai suami idaman di tempat bergengsi ini. "Kenalkan, Mas. Ini Coach Arga yang melatihku," kata Siska dengan suara bergetar. Hendri menoleh ke arah Arga. Dia mengulurkan tangannya dengan gaya angkuh seorang pengusaha sukses. "Terima kasih sudah menjaga istri saya. Tolong pastikan dia rajin latihan. Saya ingin dia kembali cantik seperti dulu." Arga menerima jabat tangan itu. Siska memperhatikan bagaimana tangan Arga meremas tangan Hendri dengan sangat kuat. Tatapan Arga tertuju langsung ke mata Hendri, tajam dan penuh permusuhan yang tidak disadari oleh suaminya. "Tentu, Pak Hendri. Saya akan memastikan istri Anda mendapatkan semua yang tidak pernah Bapak berikan padanya di rumah," jawab Arga dengan suara rendah yang penuh ancaman terselubung. Hendri tertawa, menganggap ucapan itu sebagai bentuk profesionalisme pelatih kebugaran. "Bagus. Saya suka semangat Anda. Ayo sayang, kita pergi. Ada janji makan siang dengan kolega bisnisku." Hendri merangkul bahu Siska dengan posesif, menyeretnya menuju mobil mewah yang terparkir di depan. Siska sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Arga masih berdiri di sana, menatap mereka dengan rahang mengeras dan tangan yang mengepal di samping tubuh. Saat Siska sudah duduk di dalam mobil dan Hendri mulai menyalakan mesin, ponsel Siska bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun Siska tahu itu dari siapa. Siska membuka pesan itu dengan tangan gemetar. Matanya membelalak membaca kalimat singkat yang tertulis di sana. "Nikmati makan siangmu dengan suamimu, Siska. Tapi ingat satu hal..." Siska menelan ludah, dadanya sesak saat membaca baris terakhir pesan itu. "Malam ini, suamimu mungkin memiliki tubuhmu, tapi besok pagi... aku akan memastikan kamu memohon agar aku tidak berhenti menghancurkanmu."Setelah makan malam selesai, mereka berjalan perlahan menyusuri bibir pantai. Air laut yang dingin sesekali menyentuh kaki mereka. Arga tiba-tiba berhenti dan menarik Siska ke dalam pelukannya. "Siska, aku punya satu hadiah lagi untukmu," ucap Arga. "Hadiah apa lagi, Mas? Tadi kan sudah makan malam yang luar biasa," tanya Siska heran. Arga mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sayap burung phoenix yang kecil namun sangat detail. Dia memasangkannya di leher Siska. "Burung phoenix ini melambangkan kamu. Kamu yang sudah bangkit dari abu kehancuran di masa lalu, dan kini terbang tinggi bersamaku. Jangan pernah merasa rendah diri, ya?" bisik Arga di telinga Siska. Siska menyentuh liontin itu dengan jari yang gemetar. Air mata kebahagiaan tidak bisa lagi ia bendung. "Aku mencintaimu, Mas Arga. Sangat mencintaimu." "Aku lebih mencintaimu, Siska," jawab Arga sebelum mendaratkan ciuman yang sangat dalam di bibir Siska di bawah siraman cahaya bulan Bali yang pera
Pagi itu, rumah terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya. Siska baru saja selesai menyiapkan sarapan saat Arga turun dari lantai atas dengan setelan kemeja santai berwarna biru muda. Wajahnya tampak sangat segar, dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Hari ini adalah hari istimewa, ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga sejak janji suci itu diucapkan kembali di rumah baru mereka. "Selamat ulang tahun pernikahan, istriku yang hebat," bisik Arga sambil memeluk Siska dari belakang saat wanita itu sedang meletakkan piring di meja. Siska menoleh dan tersenyum manis. "Selamat ulang tahun pernikahan juga, Mas Arga. Terima kasih sudah bersabar menghadapi aku selama tiga tahun ini." "Bersabar? Aku rasa aku tidak perlu bersabar untuk mencintai wanita sepertimu, Siska. Itu adalah hal termudah yang pernah aku lakukan dalam hidupku," Arga mengecup pipi Siska dengan lembut. Grace turun dengan wajah ceria, dia sudah siap dengan pakaian santainya. "Selamat ulang tahun pernika
Beberapa minggu setelah pemakaman Hendri, kehidupan Siska dan Arga berjalan dengan kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Namun, di balik senyum yang selalu Siska tunjukkan di depan yayasan dan keluarganya, ada sebuah keresahan kecil yang mulai tumbuh di lubuk hatinya. Sebuah keresahan yang bersifat sangat pribadi, yang berkaitan dengan jati dirinya sebagai seorang istri. Pagi itu, Siska duduk di tepi ranjang sambil menatap kalender kecil di ponselnya. Wajahnya tampak tegang, jemarinya sedikit bergetar saat menghitung hari. "Sudah telat dua minggu," gumam Siska lirih. Ada secercah harapan yang tiba-tiba membuncah di dadanya. Harapan yang mungkin terdengar mustahil mengingat usianya, namun tetap saja membuat jantungnya berdebar kencang. Apakah mungkin Tuhan memberikannya keajaiban? Apakah mungkin di dalam rahimnya kini sedang tumbuh buah cintanya dengan Arga? "Mama, kenapa belum turun? Papi sudah menunggu di bawah untuk sarapan," suara Grace terdengar dari balik
Siska masih merasakan kehangatan kecupan Arga di keningnya. Kata-kata suaminya tentang menjenguk Hendri masih terngiang jelas. Tawaran itu adalah sebuah bukti betapa luasnya hati Arga. Pria itu tidak hanya mencintai Siska, tetapi juga menghormati setiap kepingan masa lalu yang membentuk Siska menjadi wanita seperti sekarang. "Mas benar-benar tidak keberatan kalau kita ke sana?" tanya Siska meyakinkan sekali lagi. Tangannya masih memegang serbet yang tadi ia gunakan untuk merapikan meja. Arga tersenyum lembut, lalu menarik sebuah kursi dan duduk kembali di depan Siska. "Kenapa aku harus keberatan, Sayang? Siska, dengarkan aku. Rasa cemburu itu lahir dari rasa tidak percaya diri. Aku sangat percaya diri bahwa kamulah milikku sekarang. Menjenguk Hendri bukan berarti kita kembali ke masa lalu, tapi itu adalah cara kita menutup buku lama dengan cara yang elegan." Siska menghela napas panjang, merasa bebannya terangkat. "Terima kasih, Mas. Aku sempat takut kamu akan merasa tidak nyama
Matahari pagi menyinari halaman luas sebuah rumah tapak bergaya modern minimalis yang asri. Rumput hijau yang terpotong rapi menjadi tempat favorit bagi beberapa ekor kelinci peliharaan yang sedang asyik bermain. Tiga tahun telah berlalu sejak malam yang sakral itu, dan hidup Siska Amalia telah berubah total, jauh melampaui imajinasi terliarnya sekalipun. Siska berdiri di teras rumah, menyesap teh melati hangatnya sambil menatap papan nama kayu kecil yang tergantung di paviliun samping rumahnya. Di sana tertulis: "Phoenix House - Yayasan Pemberdayaan Wanita". "Mama, sedang melamunkan apa?" suara yang kini terdengar jauh lebih dewasa menyapa pendengarannya. Siska menoleh dan tersenyum melihat Grace. Putrinya itu kini sudah lulus kuliah dan tampil sangat profesional dengan setelan kemeja kerja. Grace tidak lagi terlihat seperti gadis kecil yang ketakutan, melainkan wanita muda yang penuh percaya diri. "Mama hanya tidak menyangka, Grace. Phoenix House sudah membantu lebih dari se
Malam semakin larut saat mobil Arga memasuki pelataran sebuah rumah baru yang lebih tenang dan asri. Arga sengaja tidak membawa Siska kembali ke rumah besar keluarganya atau ke tempat lama yang penuh kenangan pahit. Dia ingin mereka memulai semuanya dari titik nol, di sebuah hunian yang dia cicil sendiri dengan kerja kerasnya. Arga menuntun Siska masuk ke dalam kamar utama. Ruangan itu tidak terlalu luas, namun terasa sangat hangat dengan cahaya lampu tidur berwarna kekuningan. Kelopak bunga mawar putih tersebar di atas ranjang, memberikan aroma yang sangat menenangkan. "Selamat datang di rumah kita yang sebenarnya, Siska," bisik Arga sambil menutup pintu kamar perlahan. Siska berdiri di tengah ruangan, matanya berkaca-kaca menatap sekeliling. "Rumah kita. Kata-kata itu terdengar sangat indah di telingaku, Mas." Arga berjalan mendekat, dia berdiri tepat di belakang Siska dan melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. Dia menyandarkan dagunya di bahu Siska, menatap pantulan
"Ini gila, Arga! Apa apaan isi kertas ini? Kamu menyuruhku laporan menu makan tiga kali sehari dan mengatur jam tidurku? Ini kontrak latihan olahraga atau surat perbudakan manusia?!" Siska membanting sebuah map kulit berwarna hitam ke atas meja kaca di ruang VIP. Pagi itu, alih alih langsung disur
"Halo. Saya Coach Arga, pelatih pribadi ibu kamu. Dan kamu pasti Grace, kan? Kebetulan sekali kamu mendaftar hari ini, karena mulai besok saya yang akan mengurus kalian berdua di tempat ini." Darah di sekujur tubuh Siska terasa membeku seketika. Jantungnya seakan berhenti berdetak sesaat sebelum a
Siska menatap pantulan wajahnya di cermin kamar mandi dengan tatapan kosong. Kantung matanya terlihat menghitam karena kurang tidur. Sentuhan hangat bibir Arga pada bekas luka bakarnya kemarin seolah masih menempel di kulit betisnya. Ciuman itu bukan sekadar sentuhan fisik biasa. Bagi Siska, ciuman
"Lari, Siska! Jangan seperti mayat hidup yang hanya membuang buang oksigen di sini!" Teriakan Arga menggelegar di seluruh penjuru area VIP, memecah kesunyian pagi yang dingin. Siska tersentak, mencoba memacu kakinya lebih cepat di atas karpet treadmill yang terus berputar tanpa ampun. Napas wanita







