LOGINGedung Pengadilan Agama Jakarta Selatan pagi ini tampak lebih ramai dari biasanya. Para pemburu berita sudah berkumpul di depan pagar, berharap mendapatkan gambar atau pernyataan dari pasangan yang kasusnya sedang menjadi perbincangan nasional. Di dalam sebuah mobil mewah yang terparkir agak jauh dari kerumunan, Siska duduk dengan tenang. Rambut bob barunya membingkai wajahnya dengan sangat cantik, memberikan kesan wanita karier yang sukses dan tangguh. Jantung Siska berdegup kencang, namun bukan karena takut. Itu adalah debaran kegembiraan karena akhirnya dia berani mengambil langkah paling nyata untuk memutus rantai penderitaannya. Arga, yang duduk di sampingnya, menggenggam tangan Siska. Dia bisa merasakan sedikit keringat dingin di telapak tangan wanita itu. Arga menarik tangan Siska dan mengecupnya.. "Ingat, Siska. Hari ini bukan tentang dia. Hari ini adalah tentang kemerdekaanmu," bisik Arga dengan suara baritonnya yang menenangkan. Siska menatap Arga, pria yang telah me
Siska berdiri di depan sebuah cermin besar yang menghiasi dinding kamar Arga. Dia menatap bayangannya sendiri, namun yang dia lihat bukan lagi Siska yang tegar. Dia melihat sisa-sisa perempuan yang dulu selalu merunduk, selalu merasa rendah diri, dan selalu menyembunyikan bekas luka di bawah kain panjang yang menutupi betisnya. Meskipun Arga telah berjanji akan melindunginya, Siska merasa ada sesuatu yang harus dia selesaikan dengan dirinya sendiri, dia harus menyelamatkan identitasnya yang telah lama dicuri oleh Hendri. "Kenapa diam melamun, sayang?" Arga melingkarkan tangannya di pinggang Siska. Dagu Arga bertumpu di bahu Siska, mereka berdua menatap cermin yang sama. "Aku merasa... aku masih membawa bayang-bayang Siska yang dulu, Ga. Siska yang lemah, yang rambutnya ditarik oleh Hendri, yang kakinya selalu dihina. Aku ingin membuang semua itu," bisik Siska dengan suara yang bergetar. Arga mencium leher Siska dengan lembut, memberikan sensasi hangat yang menjalar ke seluruh
Pagi itu, udara di Jakarta terasa sangat menyesakkan bagi seorang Veni. Wanita yang biasanya tampil dengan riasan tebal dan pakaian bermerek itu kini tampak sangat kacau. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini sedikit berantakan. Dia duduk di ruang tamu apartemen mewahnya, menatap tumpukan tas bermerek dan kotak perhiasan di atas meja kaca.Veni baru saja melihat berita pagi. Nama Hendri disebut sebagai tersangka utama dalam kasus pencucian uang dan korupsi. Semua rekening Hendri sudah dibekukan. Veni tahu betul, sebentar lagi pihak berwenang pasti akan melacak aset-aset yang dialirkan Hendri kepada orang-orang terdekatnya, termasuk dirinya."Aku tidak boleh ikut jatuh. Aku harus pergi dari sini sebelum polisi datang," gumam Veni dengan suara gemetar.Dia meraih sebuah tas tangan berwarna merah marun, salah satu koleksi terbatas yang harganya mencapai ratusan juta rupiah. Tas itu adalah hadiah ulang tahun dari Hendri tahun lalu. Dulu, dia memakainya dengan bangga di depan teman-teman
Pagi itu, suasana di dalam penthouse Arga masih terasa sangat tegang. Arga duduk di sampingnya, membawa secangkir teh hangat. Dia menatap Siska dengan penuh kelembutan, seolah ingin mentransfer seluruh kekuatannya kepada wanita itu. "Minum ini dulu, Siska. Kamu butuh energi untuk menghadapi hari ini," ucap Arga dengan suara yang sangat tenang. Arga meletakkan cangkir itu di meja kecil, lalu dia memutar tubuh Siska agar menghadapnya. Dia memegang kedua pipi Siska, memaksa wanita itu untuk menatap matanya. "Dengarkan aku, sayang," bisik Arga. "Kita tidak boleh mundur. Semakin kita menunjukkan kelemahan, semakin Hendri merasa berkuasa. Kita harus memutus sumber kekuatannya, yaitu uangnya. Tanpa uang, dia tidak bisa membayar orang-orang jahat itu." Siska menatap mata Arga yang berkilauan karena keyakinan. "Kamu yakin ini akan berhasil?" Arga mencium kening Siska dengan sangat lama. "Aku berjanji dengan nyawaku. Kita harus memastikan Hendri tidak punya kekuatan lagi untuk melarik
Malam yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan opini publik berubah menjadi malam yang paling sibuk dikediaman Arga. Tidak ada lagi alunan musik klasik yang lembut atau makan malam romantis di bawah cahaya lilin. Ruang makan yang luas itu telah berubah fungsi menjadi sebuah pusat komando atau ruang perang. Meja kayu jati yang biasanya bersih kini tertutup tumpukan map cokelat, dokumen legal, laptop yang menyala, dan kabel-kabel yang melintang di mana-mana. Siska berdiri di dekat jendela besar, menatap kerlap-kerlip lampu kota Jakarta. Pikirannya masih melayang pada kejadian-kejadian sebelumnya, namun kini matanya tidak lagi menunjukkan ketakutan. Ada api baru yang menyala di sana, api keberanian untuk mengakhiri semuanya. Arga menghampiri Siska dari belakang. Dia tidak langsung bicara. Pria itu menyampirkan jaket wol lembut ke bahu Siska, lalu melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. Dia menyandarkan dagunya di bahu Siska, menghirup aroma lavender dari rambut wanita yang
Aula konferensi pers baru saja dikosongkan, namun gemanya masih terasa menggetarkan dinding gedung. Siska duduk di dalam mobil, bersandar pada bahu Arga yang kokoh. Napasnya masih terasa pendek, namun beban di dadanya seolah terangkat sebagian. Dia baru saja melakukan hal yang paling mustahil dalam hidupnya: melawan Hendri yang selama ini menginjak-injak harga dirinya di depan jutaan pasang mata. Arga tidak melepaskan genggaman tangannya. Pria itu terus mengusap punggung tangan Siska dengan jempolnya, sebuah gerakan kecil yang memberikan ketenangan luar biasa bagi Siska. "Kamu melakukannya dengan sangat luar biasa, sayang," bisik Arga. "Suaramu tidak bergetar sama sekali. Kamu terlihat seperti seorang pejuang." Siska menoleh, menatap mata Arga yang berbinar penuh rasa bangga. "Aku melakukannya karena aku tahu kamu ada di belakangku, Ga. Kalau aku sendirian, mungkin aku sudah pingsan sejak pertanyaan pertama." Arga mengecup kening Siska dengan sangat lama. "Kamu tidak akan pern
Kalimat dingin dan menusuk dari Arga itu membuat suasana lobi utama Iron & Orchid Wellness Center mendadak hening. Siska menahan napasnya. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga terasa sakit di dada. Ia menatap pria berondong di sampingnya itu dengan perasaan campur aduk. Veni membelalakkan mat
Sepanjang sore, Siska mengemudikan mobilnya menuju Iron & Orchid Wellness Center bukan untuk berlatih gym dengan Arga, tapi rutinitas menjemput grace setelah gym. Dengan perasaan yang sangat kacau. Jantungnya berdebar gelisah. Perlakuan Arga yang kasar lalu tiba tiba berubah menjadi sangat lembut b
Udara pagi yang dingin dan segar, seakan membawa ketenangan, tapi nafas Siska tersengal sengal saat ia berlari tergesa gesa menyusuri lorong lobi Iron & Orchid. Jam di dinding lobi sudah menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit. Keringat dingin membasahi pelipis Siska. Jantungnya berdebar sang
Dua minggu telah berlalu sejak kejadian memalukan di atas matras tersebut. Dua minggu yang dipenuhi dengan siksaan fisik, aturan makan yang ketat, dan tatapan mata Arga yang terus menerus menguliti sisa pertahanan batinnya. Malam ini, Siska berdiri di depan cermin besar di dalam kamar tidurnya yan







