Teilen

Bab 3

last update Zuletzt aktualisiert: 24.01.2026 07:49:54

"Siska? Kok bengong sih?" Suara cempreng Tante Mira memecah keheningan, menyentak Siska kembali ke realita yang mengerikan.

Mira menyikut pinggang wanita itu pelan. "Jabat tangannya. Jangan malu-maluin aku dong. Coach Arga ini orang sibuk, lho."

Siska menelan ludah yang terasa seperti pasir berduri. Jika dia tidak menjabat tangan pria itu, Mira akan curiga. Jika dia lari sekarang, Arga pasti akan melakukan sesuatu yang nekat.

Pria ini sudah berani memodifikasi anting Siska menjadi cincin dan memakainya terang-terangan di hadapannya. Dia jelas tidak takut pada apa pun.

Dengan tangan gemetar hebat yang tak bisa disembunyikan, Siska mengangkat lengannya. Pelan sekali. Seperti orang yang menyerahkan diri ke tiang gantungan.

Saat kulit telapak tangan Siska bersentuhan dengan kulit telapak tangan Arga yang besar dan kasar, pria itu langsung meremasnya.

Kuat.

Sangat kuat.

Jauh dari jabat tangan sopan biasa.

"Tangan Ibu dingin sekali," komentar Arga. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, tapi matanya menatap Siska tajam seolah sedang menelanjangi jiwanya. "Apa Ibu sedang sakit? Atau... sedang menyembunyikan sesuatu?"

Siska tersentak. Dia mencoba menarik tangannya tapi cengkeraman Arga justru mengeras. Ibu jari pria itu mengusap punggung tangan Siska sekilas. Gerakan yang sangat intim, mengingatkan Siska pada sentuhan Arga di malam itu.

"Sa... saya hanya kedinginan. AC di sini terlalu besar," jawab Siska tergagap, menghindari tatapan mata pria itu. "Lepaskan tangan saya... tolong."

Arga melepaskan tangan Siska perlahan seolah enggan. Dia masih tersenyum. Senyum pemangsa yang baru saja mendapatkan buruannya.

"AC di sini sudah diatur suhu standar, Bu Siska. Mungkin darah Ibu yang tidak lancar. Ibu butuh banyak 'latihan' untuk memanaskan tubuh. Dan kebetulan, saya ahlinya," ucap Arga penuh arti ganda.

"Nah! Itu maksudku, Sis!" Mira menimpali dengan antusias, sama sekali tidak menangkap ketegangan di antara mereka. "kamu denger kan? kamu butuh dipanasin biar nggak beku kayak es batu. Coach Arga, tolong ya, sahabat saya ini diurus biar badannya hot lagi. Suaminya rewel banget soalnya."

Arga mengalihkan pandangannya pada Mira, bersikap sopan namun tetap dingin. "Tentu, Bu Mira. Saya akan mengurusnya secara pribadi. Saya pastikan dia tidak akan sama lagi setelah masuk ke sini."

Kata-kata itu membuat bulu kuduk Siska meremang.

"Oke deh! aku mau ganti baju dulu ya. Sis, lo tunggu sini bentar, jangan kabur!" Mira melambaikan tangan lalu berjalan cepat menuju ruang ganti wanita, meninggalkan Siska sendirian bersama monster ini.

Begitu punggung Mira menghilang di tikungan lorong, atmosfer di lobi itu berubah drastis. Udara terasa berat dan mencekik. Arga tidak lagi tersenyum. Wajahnya datar, dingin, dan menakutkan.

Dia melangkah maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga Siska bisa mencium aroma parfum woody maskulin yang sama persis dengan yang tercium di kamar penginapan Bali. Aroma yang menghantui Siska tiga hari ini.

"Apa mau kamu?" desis Siska pelan. Matanya liar melihat sekeliling, takut ada staf lain yang mendengar. "Kenapa kamu ada di sini? Kenapa kamu pakai anting itu?"

Arga mengangkat tangan kirinya, memamerkan cincin di kelingkingnya dengan santai. Dia memutarnya pelan.

"Ini?" tanyanya pura-pura polos. "Saya menemukannya di bantal saya. Pemiliknya pergi tanpa pamit, bahkan tidak meninggalkan uang tip. Jadi saya anggap ini sebagai... kenang-kenangan. Atau jaminan."

"Kembalikan," pinta Siska dengan suara bergetar menahan tangis. "Tolong kembalikan. Suamiku bisa membunuhku kalau dia tahu."

"Suami?" Arga tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tanpa humor. "Maksudmu pria tua yang membentakmu di hotel itu? Pria yang bilang otakmu tidak seharga anting ini?"

Mata Siska membelalak. "Ka... kamu dengar?"

"Saya ada di sana, Siska," bisik Arga, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar. "Saya mendengar semuanya. Teriakan dia, tangisan kamu, dan betapa menyedihkannya kamu memohon-mohon di kakinya."

Rasa malu yang luar biasa menghantam Siska. Pria itu tahu. Dia tahu betapa rendahnya harga diri Siska di hadapan Hendri.

"Kalau kamu tahu dia sejahat itu, kenapa kamu malah menerorku?" tanya Siska putus asa. "Kamu mau uang? Berapa? Sebutkan harganya. Aku akan bayar asalkan kamu kembalikan anting itu dan pergi dari hidupku."

Arga terdiam. Tatapannya menelusuri wajah Siska, dari mata yang sembab hingga bibirnya yang gemetar.

"Ikut saya," perintahnya tiba-tiba.

"Apa? Tidak! Aku mau pulang!"

"Ikut ke ruangan saya untuk tanda tangan kontrak member, atau saya teriak panggil Bu Mira sekarang dan bilang kalau kita pernah tidur bareng di Bali," ancamnya santai seolah sedang membicarakan cuaca.

Kaki Siska lemas. Dia tidak punya pilihan.

"Baik," cicit Siska.

Arga berbalik dan berjalan menuju sebuah pintu kaca buram bertuliskan CEO & Head Coach. Siska mengekor di belakangnya seperti kerbau yang dicocok hidung, berdoa dalam hati agar Tuhan memberinya jalan keluar.

Ruangan itu luas dan mewah, didominasi warna abu-abu gelap dan hitam. Ada sebuah meja kerja besar dari kayu mahoni, sofa kulit, dan dinding kaca yang menghadap ke area gym di bawah. Dari sini, dia bisa melihat semua orang yang sedang berlatih seperti raja yang mengawasi rakyatnya.

Arga masuk lalu menahan pintu agar Siska masuk. Begitu wanita itu melangkah masuk, Arga menutup pintu dan terdengar bunyi klik kunci otomatis yang membuat jantung Siska berhenti.

"Duduk," perintahnya, menunjuk kursi di depan mejanya.

Siska menggeleng, tetap berdiri di dekat pintu sambil memeluk tasku erat-erat. "Aku tidak mau duduk. Aku cuma mau antingku. Tolong, sebut harganya."

Arga menghela napas panjang, terlihat kecewa. Dia berjalan memutari mejanya lalu duduk di kursi kebesarannya dengan santai. Dia membuka laci, mengambil sebuah amplop cokelat, dan meletakkannya di atas meja.

"Kamu pikir saya butuh uang suamimu?" tanya Arga dingin. "Saya bisa membeli harga diri suamimu kalau saya mau."

"Lalu apa maumu?" teriak Siska frustrasi. Air mata mulai menetes membasahi pipinya. "Kenapa kamu menyiksaku begini? Aku tahu aku salah, aku tahu aku berdosa tidur sama kamu! Tapi tolong... jangan hancurkan rumah tanggaku. Aku punya anak perempuan... kasihan dia..."

Mendengar kata 'anak', ekspresi Arga sedikit berubah. Ada kilatan emosi yang tak bisa dibaca Siska, tapi pria itu segera menutupinya lagi.

"Justru karena kamu punya anak, saya melakukan ini. Kamu pikir ibu macam apa yang membiarkan dirinya diinjak-injak laki-laki seperti Hendri?"

"Itu urusanku! Bukan urusanmu!"

"Mulai sekarang, itu urusan saya," potong Arga tegas. Dia mengetuk amplop cokelat di meja. "Di dalam sini ada flashdisk. Isinya rekaman CCTV koridor hotel saat saya memapah kamu masuk kamar. Wajah kamu terlihat jelas. Wajah saya juga."

Kaki Siska benar-benar tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Dia merosot duduk di kursi yang tadi ditunjuk Arga. CCTV. Bukti yang tidak bisa disangkal dengan alasan 'tukang pijat'.

"Kamu... kamu merekamnya?" tanya Siska lirih, merasa dikhianati meski mereka tidak punya hubungan apa-apa.

"Saya pemilik penginapan itu, Siska. CCTV itu otomatis," jawabnya datar. "Dengar baik-baik tawaran saya. Saya tidak akan minta uang sepeser pun darimu."

Siska mendongak, sedikit harapan muncul. "Lalu?"

"Saya mau kamu jadi klien saya. Eksklusif," ucap Arga. Matanya menatap Siska tajam penuh obsesi. "Daftar di gym ini. Datang latihan setiap hari Senin sampai Jumat, jam 7 sampai jam 9 pagi. Tidak boleh terlambat, tidak boleh bolos, tidak boleh ada alasan."

Siska mengerutkan kening bingung. "Cuma itu? Kamu mau aku latihan?"

"Jangan remehkan syarat saya. Latihan dengan saya bukan sekadar lari di treadmill sambil gosip. Saya akan mengatur hidup kamu. Apa yang kamu makan, jam berapa kamu tidur, apa yang kamu pakai. Saya akan membongkar ulang tubuh dan mental kamu yang sudah dirusak suamimu itu."

"Aku tidak bisa..." tolak Siska lemah. "Mas Hendri tidak akan mengizinkan aku keluar rumah setiap pagi."

Arga menyandarkan punggungnya, memutar-mutar cincin anting itu di jarinya lagi. Gerakan yang sengaja dia lakukan untuk mengintimidasi.

"Kalau begitu, pilihan kedua. Kamu keluar dari pintu ini sekarang. Tapi lima menit lagi, flashdisk ini dan anting aslimu akan dikirim kurir ke kantor Hendri Wijaya. Saya dengar dia sedang pusing karena saham turun, pasti dia butuh hiburan nonton video istrinya check-in sama brondong, kan?"

"Jahat..." isak Siska. "Kamu iblis..."

"Mungkin. Tapi iblis ini satu-satunya yang peduli padamu saat kamu sekarat di lantai hotel kemarin," balas Arga tajam. "Jadi bagaimana, Nyonya Siska? Pilih jadi member saya dan perbaiki hidupmu, atau pilih hancur sekarang juga di tangan suamimu?"

Keheningan menyelimuti ruangan itu. Siska menatap amplop coklat itu lalu menatap wajah Arga yang keras. Dia terjebak. Maju kena, mundur kena. Tapi jika dia menuruti Arga, setidaknya rahasia ini aman sementara waktu. Dia bisa mengulur waktu. Mungkin sebulan, dua bulan, lalu dia bisa cari alasan untuk berhenti.

"Berapa lama?" tanya Siska parau. "Berapa lama aku harus jadi budakmu?"

Arga tersenyum tipis. Bukan senyum jahat, tapi senyum kemenangan yang anehnya terlihat tulus.

"Sampai kamu sadar kalau kamu berharga, Siska. Sampai kamu bisa berdiri di depan suamimu tanpa gemetar."

Siska tidak mengerti maksudnya. Dia tidak peduli filosofinya. Dia hanya ingin selamat.

"Oke," bisik Siska pasrah. "Aku setuju. Aku akan latihan di sini."

Arga mengangguk puas. Dia menyodorkan selembar kertas kontrak dan pena mahal ke hadapan Siska.

"Tanda tangan di sini. Dan ingat, Siska..." Arga mencondongkan tubuhnya. Suaranya merendah menjadi bisikan yang menggelitik telinga Siska. "Sekali kamu tanda tangan, tubuhmu, waktumu, dan ketaatanmu di jam latihan adalah milikku. Jangan pernah coba-coba berbohong padaku seperti kamu berbohong pada suamimu. Karena aku... selalu tahu."

Dengan tangan gemetar, Siska menggoreskan tanda tangannya di atas kertas itu. Tinta hitam itu terasa seperti darah yang mengikat perjanjian dengan setan.

"Bagus," kata Arga sambil menarik kertas itu. Dia berdiri lalu berjalan memutar meja dan berdiri tepat di samping kursi Siska.

Siska menahan napas saat tangan besar pria itu terulur menyentuh bahunya. Tidak meremas, hanya menyentuh ringan. Panas tubuhnya menembus kain tipis baju Siska.

"Sekarang, hapus air matamu. Pasang kembali topeng istri bahagiamu. Temanmu Bu Mira sebentar lagi selesai ganti baju," bisik Arga.

Siska buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangan lalu berdiri dengan canggung. "Boleh aku minta antingku sekarang? Sebagai tanda jadi?"

Arga tertawa kecil. Dia mengangkat tangannya, mencium sekilas cincin anting itu di depan mata Siska.

"Tidak semudah itu, Sayang. Anting ini tetap di sini," ucapnya sambil menunjuk jarinya sendiri. "Ini jaminan biar kamu rajin datang. Setiap kamu melihat jari saya, kamu akan ingat siapa pemilikmu di jam 7 sampai jam 9 pagi."

"Kamu gila..."

"Mungkin," Arga berjalan menuju pintu, membuka kuncinya. "Sampai ketemu besok jam 7 pagi, Siska. Jangan terlambat satu detik pun. Atau saya yang akan menjemput ke kamarmu."

Siska lari keluar dari ruangan itu seperti orang gila, menabrak Mira yang baru saja muncul dengan baju olahraga neon yang mencolok.

"Eh, Sis! Udah kelar? Gimana? Coach Arga oke banget kan?" tanya Mira riang.

Siska menoleh ke belakang sekilas. Arga masih berdiri di ambang pintu ruangannya, bersandar santai dengan tangan bersedekap, menatapnya dengan sorot mata yang membuat lututnya lemas. Pria itu mengedipkan sebelah matanya.

"Iya, Mir..." jawab Siska lirih, rasanya ingin pingsan. "Dia... mengerikan.”

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 6

    Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah mewakili perasaan Siska yang sedang berjalan menuju pintu masuk Iron & Orchid Wellness Center. Tubuhnya terasa berat, seakan ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kakinya. Siska menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Dia mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna hitam yang sengaja Arga siapkan untuknya. Pakaian itu terasa seperti kulit kedua yang membuatnya merasa telanjang dan terekspos. Begitu memasuki area VIP, Siska langsung disambut oleh sosok Arga yang sudah berdiri tegak di tengah ruangan. Pria itu tampak sangat berbeda dari Arga yang dia temui di Bali. Tidak ada senyum nakal atau binar main-main di matanya. Yang ada hanyalah sosok pelatih profesional yang dingin dan disiplin. "Tepat waktu, Ibu Siska," ucap Arga dengan nada formal yang kaku. Pria itu menatap jam di pergelangan tangannya tanpa melihat ke arah Siska. "Silakan taruh tas Anda di loker. Kita mulai dengan pemanasa

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 5

    Pukul 06.45 pagi.Siska memarkirkan mobilnya di basement gedung Iron & Orchid. Tangannya basah oleh keringat dingin. Dia sengaja datang lima belas menit lebih awal karena takut terlambat. Ancaman Arga tentang mengirim video ke kantor Hendri terus berputar di kepalanya seperti sirene bahaya.Siska mengenakan setelan olahraga terburuk yang dia punya: kaos oblong kedodoran bekas fun run lima tahun lalu dan celana training gombrong. Dia sengaja memakai ini. Dia tidak mau Arga melihat bentuk tubuhnya. Dia ingin pria itu jijik, bosan, lalu melepaskannya.Dengan langkah ragu, Siska naik ke lantai lobi. Resepsionis yang kemarin menyapanya dengan ramah sudah menunggu."Selamat pagi, Ibu Siska. Silahkan langsung masuk. Coach Arga berpesan Ibu bisa menggunakan ruang ganti VIP nomor 1. Itu akses khusus untuk Ibu.""VIP?" tanya Siska bingung. "Saya tidak pesan VIP.""Itu fasilitas complimentary dari owner, Bu. Silahkan," resepsionis itu menyerahkan kartu akses berwarna hitam.Siska menerimanya den

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 4

    "Kamu kenapa sih, Sis? Dari tadi mukamu pucat banget kayak orang mau pingsan. Tadi di dalem diapain aja sama Coach Arga?" Suara Mira yang cempreng menyentak kesadaran Siska. Wanita itu nyaris tersandung hak sepatunya sendiri karena kakinya masih gemetar hebat. Bayangan wajah Arga yang dingin dan ancaman di ruangannya tadi masih menari-nari di pelupuk matanya. Kontrak itu. Rekaman CCTV itu. Anting itu. Semuanya berputar menjadi pusaran teror yang mencekik leher Siska. Siska menoleh pada Mira. Dia berusaha memasang senyum paling meyakinkan yang bisa dibuatnya meski rasanya bibirnya kaku seperti kayu. "Enggak diapa-apain kok, Mir. Cuma bahas jadwal latihan aja. Dia... tegas banget orangnya," jawab Siska pelan sambil meremas tali tasnya erat-erat. "Iya lah tegas! Namanya juga profesional. Tapi kamu sadar nggak sih tatapan dia ke kamu tadi? Wah, intens banget, Sis! aku curiga dia naksir kamu deh," celoteh Mira tanpa dosa sambil menekan tombol kunci mobilnya. "Coba bayangin, owner

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 3

    "Siska? Kok bengong sih?" Suara cempreng Tante Mira memecah keheningan, menyentak Siska kembali ke realita yang mengerikan. Mira menyikut pinggang wanita itu pelan. "Jabat tangannya. Jangan malu-maluin aku dong. Coach Arga ini orang sibuk, lho." Siska menelan ludah yang terasa seperti pasir berduri. Jika dia tidak menjabat tangan pria itu, Mira akan curiga. Jika dia lari sekarang, Arga pasti akan melakukan sesuatu yang nekat. Pria ini sudah berani memodifikasi anting Siska menjadi cincin dan memakainya terang-terangan di hadapannya. Dia jelas tidak takut pada apa pun. Dengan tangan gemetar hebat yang tak bisa disembunyikan, Siska mengangkat lengannya. Pelan sekali. Seperti orang yang menyerahkan diri ke tiang gantungan. Saat kulit telapak tangan Siska bersentuhan dengan kulit telapak tangan Arga yang besar dan kasar, pria itu langsung meremasnya. Kuat. Sangat kuat. Jauh dari jabat tangan sopan biasa. "Tangan Ibu dingin sekali," komentar Arga. Bibirnya menyunggingkan senyum t

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 2

    Dengan langkah gontai, ​Siska sampai di kamar hotelnya, hotel yang sama, yang Siska habiskan untuk bermalam bersama pria itu. Siska menyeret kakinya yang gemetar keluar dari kamar mandi, setelah satu jam di dalam meratapi kebodohannya. Kulitnya memerah dan perih karena digosok terlalu keras di bawah guyuran air panas. Dia berharap panas itu bisa melunturkan jejak sentuhan pria asing semalam, namun rasa kotor itu tetap melekat dijiwanya. ​"Bodoh. Siska bodoh," Siska menatap pada pantulan wajah sembab di cermin. "Kamu istri orang. Bagaimana bisa kamu tidur dengan orang asing hanya karena mabuk?" ​Siska buru-buru memoles wajahnya dengan foundation tebal untuk menutupi mata bengkak dan tanda merah samar di lehernya. Dia harus terlihat sempurna sebelum Hendri kembali dari main golf. Dia harus mengubur rahasia ini di Bali selamanya. ​Wanita itu meraih tas tangannya untuk merapikan isi dompet. Namun saat merogoh saku bagian dalam, jarinya menyentuh sesuatu yang asing. Teksturnya keras

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 1

    Tawa riuh para undangan dalam acara Gala Cakrawala Bisnis, memenuhi ballroom, Acara Tahunan yang diadakan Hendri untuk berkumpulnya para pengusaha muda untuk menjalin silaturahmi dan kerjasama. Hendri adalah Ketua dari perkumpulan pengusaha muda, dia selalu tampil sempurna dalam segala hal, agar bisa menaikkan pamor dan citra dia dikalangan para pengusaha."Senyum sedikit, Siska. Jangan pasang wajah menyedihkan begitu. Kamu mau orang-orang berpikir aku menyiksa istri sendiri?"Bisikan itu terasa panas dan tajam di telinga Siska, sangat kontras dengan udara malam Bali yang sejuk.Wanita berusia 43 tahun itu menelan ludah, berusaha keras mempertahankan senyum kaku di wajah cantiknya saat tangan Hendri melingkar posesif di pinggangnya. Cengkeraman itu bukan tanda sayang, melainkan peringatan."Aku sudah tersenyum, Mas," jawab Siska pelan, suaranya nyaris tak terdengar."Kakiku sakit sekali pakai sepatu hak tinggi ini terus dari tadi sore.""Halah, alasan saja kamu ini. Bilang saja kamu

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status