LOGIN"Siska? Kok bengong sih?" Suara cempreng Tante Mira memecah keheningan, menyentak Siska kembali ke realita yang mengerikan.
Mira menyikut pinggang wanita itu pelan. "Jabat tangannya. Jangan malu-maluin aku dong. Coach Arga ini orang sibuk, lho." Siska menelan ludah yang terasa seperti pasir berduri. Jika dia tidak menjabat tangan pria itu, Mira akan curiga. Jika dia lari sekarang, Arga pasti akan melakukan sesuatu yang nekat. Pria ini sudah berani memodifikasi anting Siska menjadi cincin dan memakainya terang-terangan di hadapannya. Dia jelas tidak takut pada apa pun. Dengan tangan gemetar hebat yang tak bisa disembunyikan, Siska mengangkat lengannya. Pelan sekali. Seperti orang yang menyerahkan diri ke tiang gantungan. Saat kulit telapak tangan Siska bersentuhan dengan kulit telapak tangan Arga yang besar dan kasar, pria itu langsung meremasnya. Kuat. Sangat kuat. Jauh dari jabat tangan sopan biasa. "Tangan Ibu dingin sekali," komentar Arga. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, tapi matanya menatap Siska tajam seolah sedang menelanjangi jiwanya. "Apa Ibu sedang sakit? Atau... sedang menyembunyikan sesuatu?" Siska tersentak. Dia mencoba menarik tangannya tapi cengkeraman Arga justru mengeras. Ibu jari pria itu mengusap punggung tangan Siska sekilas. Gerakan yang sangat intim, mengingatkan Siska pada sentuhan Arga di malam itu. "Sa... saya hanya kedinginan. AC di sini terlalu besar," jawab Siska tergagap, menghindari tatapan mata pria itu. "Lepaskan tangan saya... tolong." Arga melepaskan tangan Siska perlahan seolah enggan. Dia masih tersenyum. Senyum pemangsa yang baru saja mendapatkan buruannya. "AC di sini sudah diatur suhu standar, Bu Siska. Mungkin darah Ibu yang tidak lancar. Ibu butuh banyak 'latihan' untuk memanaskan tubuh. Dan kebetulan, saya ahlinya," ucap Arga penuh arti ganda. "Nah! Itu maksudku, Sis!" Mira menimpali dengan antusias, sama sekali tidak menangkap ketegangan di antara mereka. "kamu denger kan? kamu butuh dipanasin biar nggak beku kayak es batu. Coach Arga, tolong ya, sahabat saya ini diurus biar badannya hot lagi. Suaminya rewel banget soalnya." Arga mengalihkan pandangannya pada Mira, bersikap sopan namun tetap dingin. "Tentu, Bu Mira. Saya akan mengurusnya secara pribadi. Saya pastikan dia tidak akan sama lagi setelah masuk ke sini." Kata-kata itu membuat bulu kuduk Siska meremang. "Oke deh! aku mau ganti baju dulu ya. Sis, lo tunggu sini bentar, jangan kabur!" Mira melambaikan tangan lalu berjalan cepat menuju ruang ganti wanita, meninggalkan Siska sendirian bersama monster ini. Begitu punggung Mira menghilang di tikungan lorong, atmosfer di lobi itu berubah drastis. Udara terasa berat dan mencekik. Arga tidak lagi tersenyum. Wajahnya datar, dingin, dan menakutkan. Dia melangkah maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga Siska bisa mencium aroma parfum woody maskulin yang sama persis dengan yang tercium di kamar penginapan Bali. Aroma yang menghantui Siska tiga hari ini. "Apa mau kamu?" desis Siska pelan. Matanya liar melihat sekeliling, takut ada staf lain yang mendengar. "Kenapa kamu ada di sini? Kenapa kamu pakai anting itu?" Arga mengangkat tangan kirinya, memamerkan cincin di kelingkingnya dengan santai. Dia memutarnya pelan. "Ini?" tanyanya pura-pura polos. "Saya menemukannya di bantal saya. Pemiliknya pergi tanpa pamit, bahkan tidak meninggalkan uang tip. Jadi saya anggap ini sebagai... kenang-kenangan. Atau jaminan." "Kembalikan," pinta Siska dengan suara bergetar menahan tangis. "Tolong kembalikan. Suamiku bisa membunuhku kalau dia tahu." "Suami?" Arga tertawa kecil, suara tawa yang kering dan tanpa humor. "Maksudmu pria tua yang membentakmu di hotel itu? Pria yang bilang otakmu tidak seharga anting ini?" Mata Siska membelalak. "Ka... kamu dengar?" "Saya ada di sana, Siska," bisik Arga, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar. "Saya mendengar semuanya. Teriakan dia, tangisan kamu, dan betapa menyedihkannya kamu memohon-mohon di kakinya." Rasa malu yang luar biasa menghantam Siska. Pria itu tahu. Dia tahu betapa rendahnya harga diri Siska di hadapan Hendri. "Kalau kamu tahu dia sejahat itu, kenapa kamu malah menerorku?" tanya Siska putus asa. "Kamu mau uang? Berapa? Sebutkan harganya. Aku akan bayar asalkan kamu kembalikan anting itu dan pergi dari hidupku." Arga terdiam. Tatapannya menelusuri wajah Siska, dari mata yang sembab hingga bibirnya yang gemetar. "Ikut saya," perintahnya tiba-tiba. "Apa? Tidak! Aku mau pulang!" "Ikut ke ruangan saya untuk tanda tangan kontrak member, atau saya teriak panggil Bu Mira sekarang dan bilang kalau kita pernah tidur bareng di Bali," ancamnya santai seolah sedang membicarakan cuaca. Kaki Siska lemas. Dia tidak punya pilihan. "Baik," cicit Siska. Arga berbalik dan berjalan menuju sebuah pintu kaca buram bertuliskan CEO & Head Coach. Siska mengekor di belakangnya seperti kerbau yang dicocok hidung, berdoa dalam hati agar Tuhan memberinya jalan keluar. Ruangan itu luas dan mewah, didominasi warna abu-abu gelap dan hitam. Ada sebuah meja kerja besar dari kayu mahoni, sofa kulit, dan dinding kaca yang menghadap ke area gym di bawah. Dari sini, dia bisa melihat semua orang yang sedang berlatih seperti raja yang mengawasi rakyatnya. Arga masuk lalu menahan pintu agar Siska masuk. Begitu wanita itu melangkah masuk, Arga menutup pintu dan terdengar bunyi klik kunci otomatis yang membuat jantung Siska berhenti. "Duduk," perintahnya, menunjuk kursi di depan mejanya. Siska menggeleng, tetap berdiri di dekat pintu sambil memeluk tasku erat-erat. "Aku tidak mau duduk. Aku cuma mau antingku. Tolong, sebut harganya." Arga menghela napas panjang, terlihat kecewa. Dia berjalan memutari mejanya lalu duduk di kursi kebesarannya dengan santai. Dia membuka laci, mengambil sebuah amplop cokelat, dan meletakkannya di atas meja. "Kamu pikir saya butuh uang suamimu?" tanya Arga dingin. "Saya bisa membeli harga diri suamimu kalau saya mau." "Lalu apa maumu?" teriak Siska frustrasi. Air mata mulai menetes membasahi pipinya. "Kenapa kamu menyiksaku begini? Aku tahu aku salah, aku tahu aku berdosa tidur sama kamu! Tapi tolong... jangan hancurkan rumah tanggaku. Aku punya anak perempuan... kasihan dia..." Mendengar kata 'anak', ekspresi Arga sedikit berubah. Ada kilatan emosi yang tak bisa dibaca Siska, tapi pria itu segera menutupinya lagi. "Justru karena kamu punya anak, saya melakukan ini. Kamu pikir ibu macam apa yang membiarkan dirinya diinjak-injak laki-laki seperti Hendri?" "Itu urusanku! Bukan urusanmu!" "Mulai sekarang, itu urusan saya," potong Arga tegas. Dia mengetuk amplop cokelat di meja. "Di dalam sini ada flashdisk. Isinya rekaman CCTV koridor hotel saat saya memapah kamu masuk kamar. Wajah kamu terlihat jelas. Wajah saya juga." Kaki Siska benar-benar tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Dia merosot duduk di kursi yang tadi ditunjuk Arga. CCTV. Bukti yang tidak bisa disangkal dengan alasan 'tukang pijat'. "Kamu... kamu merekamnya?" tanya Siska lirih, merasa dikhianati meski mereka tidak punya hubungan apa-apa. "Saya pemilik penginapan itu, Siska. CCTV itu otomatis," jawabnya datar. "Dengar baik-baik tawaran saya. Saya tidak akan minta uang sepeser pun darimu." Siska mendongak, sedikit harapan muncul. "Lalu?" "Saya mau kamu jadi klien saya. Eksklusif," ucap Arga. Matanya menatap Siska tajam penuh obsesi. "Daftar di gym ini. Datang latihan setiap hari Senin sampai Jumat, jam 7 sampai jam 9 pagi. Tidak boleh terlambat, tidak boleh bolos, tidak boleh ada alasan." Siska mengerutkan kening bingung. "Cuma itu? Kamu mau aku latihan?" "Jangan remehkan syarat saya. Latihan dengan saya bukan sekadar lari di treadmill sambil gosip. Saya akan mengatur hidup kamu. Apa yang kamu makan, jam berapa kamu tidur, apa yang kamu pakai. Saya akan membongkar ulang tubuh dan mental kamu yang sudah dirusak suamimu itu." "Aku tidak bisa..." tolak Siska lemah. "Mas Hendri tidak akan mengizinkan aku keluar rumah setiap pagi." Arga menyandarkan punggungnya, memutar-mutar cincin anting itu di jarinya lagi. Gerakan yang sengaja dia lakukan untuk mengintimidasi. "Kalau begitu, pilihan kedua. Kamu keluar dari pintu ini sekarang. Tapi lima menit lagi, flashdisk ini dan anting aslimu akan dikirim kurir ke kantor Hendri Wijaya. Saya dengar dia sedang pusing karena saham turun, pasti dia butuh hiburan nonton video istrinya check-in sama brondong, kan?" "Jahat..." isak Siska. "Kamu iblis..." "Mungkin. Tapi iblis ini satu-satunya yang peduli padamu saat kamu sekarat di lantai hotel kemarin," balas Arga tajam. "Jadi bagaimana, Nyonya Siska? Pilih jadi member saya dan perbaiki hidupmu, atau pilih hancur sekarang juga di tangan suamimu?" Keheningan menyelimuti ruangan itu. Siska menatap amplop coklat itu lalu menatap wajah Arga yang keras. Dia terjebak. Maju kena, mundur kena. Tapi jika dia menuruti Arga, setidaknya rahasia ini aman sementara waktu. Dia bisa mengulur waktu. Mungkin sebulan, dua bulan, lalu dia bisa cari alasan untuk berhenti. "Berapa lama?" tanya Siska parau. "Berapa lama aku harus jadi budakmu?" Arga tersenyum tipis. Bukan senyum jahat, tapi senyum kemenangan yang anehnya terlihat tulus. "Sampai kamu sadar kalau kamu berharga, Siska. Sampai kamu bisa berdiri di depan suamimu tanpa gemetar." Siska tidak mengerti maksudnya. Dia tidak peduli filosofinya. Dia hanya ingin selamat. "Oke," bisik Siska pasrah. "Aku setuju. Aku akan latihan di sini." Arga mengangguk puas. Dia menyodorkan selembar kertas kontrak dan pena mahal ke hadapan Siska. "Tanda tangan di sini. Dan ingat, Siska..." Arga mencondongkan tubuhnya. Suaranya merendah menjadi bisikan yang menggelitik telinga Siska. "Sekali kamu tanda tangan, tubuhmu, waktumu, dan ketaatanmu di jam latihan adalah milikku. Jangan pernah coba-coba berbohong padaku seperti kamu berbohong pada suamimu. Karena aku... selalu tahu." Dengan tangan gemetar, Siska menggoreskan tanda tangannya di atas kertas itu. Tinta hitam itu terasa seperti darah yang mengikat perjanjian dengan setan. "Bagus," kata Arga sambil menarik kertas itu. Dia berdiri lalu berjalan memutar meja dan berdiri tepat di samping kursi Siska. Siska menahan napas saat tangan besar pria itu terulur menyentuh bahunya. Tidak meremas, hanya menyentuh ringan. Panas tubuhnya menembus kain tipis baju Siska. "Sekarang, hapus air matamu. Pasang kembali topeng istri bahagiamu. Temanmu Bu Mira sebentar lagi selesai ganti baju," bisik Arga. Siska buru-buru menyeka pipinya dengan punggung tangan lalu berdiri dengan canggung. "Boleh aku minta antingku sekarang? Sebagai tanda jadi?" Arga tertawa kecil. Dia mengangkat tangannya, mencium sekilas cincin anting itu di depan mata Siska. "Tidak semudah itu, Sayang. Anting ini tetap di sini," ucapnya sambil menunjuk jarinya sendiri. "Ini jaminan biar kamu rajin datang. Setiap kamu melihat jari saya, kamu akan ingat siapa pemilikmu di jam 7 sampai jam 9 pagi." "Kamu gila..." "Mungkin," Arga berjalan menuju pintu, membuka kuncinya. "Sampai ketemu besok jam 7 pagi, Siska. Jangan terlambat satu detik pun. Atau saya yang akan menjemput ke kamarmu." Siska lari keluar dari ruangan itu seperti orang gila, menabrak Mira yang baru saja muncul dengan baju olahraga neon yang mencolok. "Eh, Sis! Udah kelar? Gimana? Coach Arga oke banget kan?" tanya Mira riang. Siska menoleh ke belakang sekilas. Arga masih berdiri di ambang pintu ruangannya, bersandar santai dengan tangan bersedekap, menatapnya dengan sorot mata yang membuat lututnya lemas. Pria itu mengedipkan sebelah matanya. "Iya, Mir..." jawab Siska lirih, rasanya ingin pingsan. "Dia... mengerikan.”"Kenapa kamu masih melamun di sana, Siska? Cepat dandan! Kita tidak punya banyak waktu," teriak Hendri dari arah ruang kerja, suaranya terdengar tidak sabar. Siska menarik napas panjang. Ia mengambil gaun hitam itu. Saat kain sutra itu menyentuh kulitnya, ia teringat bagaimana Arga memujinya di vila kemarin. Arga bilang dia adalah wanita yang berkelas, bukan sekadar pajangan. Kepercayaan diri yang baru saja tumbuh itu membuatnya nekat mengenakan gaun tersebut. "Aku bukan lagi wanita yang bisa kamu atur sesukamu, Mas," bisik Siska pada pantulannya di cermin. Ia memoleskan riasan yang sedikit lebih tajam. Lipstik merah menyala menghiasi bibirnya. Ia terlihat segar, jauh lebih cantik daripada biasanya. Namun, di balik kecantikan itu, jantungnya berdegup tidak karuan. Ia merogoh tas tangannya, mencari ponselnya. Begitu layar menyala, Siska segera mengetik sebuah pesan untuk Arga. Tangannya sedikit gemetar saat menekan tombol huruf di layar. "Malam ini aku ikut Hendri ke Gala Din
Jantung Siska berdebar sangat kencang, seolah ada genderang yang dipukul bertalu-talu di dalam dadanya. Siska meremas tali tas tangannya, mencoba mengatur napas agar terlihat tenang. Ia merasa seolah ada tulisan "Pengkhianat" yang tercetak jelas di dahinya. Begitu ia melewati ruang tamu, langkahnya mendadak terhenti. Hendri ada di sana. Suaminya itu duduk santai di sofa kulit, sedang membaca koran bisnis dengan segelas kopi di sampingnya. Pemandangan yang seharusnya biasa saja, namun kali ini terasa seperti sebuah jebakan bagi Siska. "Baru pulang, Siska? Aku pikir kamu akan sampai sore nanti," ucap Hendri tanpa menoleh dari korannya. "Iya, acaranya selesai lebih cepat dari jadwal. Udara di gunung mulai terlalu dingin, jadi kami dipulangkan lebih awal," jawab Siska dengan nada yang diusahakan sedatar mungkin. Siska mencoba berjalan cepat menuju tangga, berharap bisa segera masuk ke kamar dan menghilangkan semua jejak Arga di tubuhnya. Namun, saat ia melintasi sofa tempat Hendri
Cahaya matahari pagi yang pucat menyelinap masuk melalui celah gorden vila, menelanjangi setiap jengkal dosa yang terjadi di balik pintu kamar itu semalam. Siska perlahan membuka matanya, merasakan berat yang hangat di pinggangnya. Ia masih berada di dalam pelukan Arga. Aroma tubuh pria itu, campuran antara kayu cendana dan sisa-sisa keringat semalam, kini memenuhi seluruh indra penciumannya. Siska menarik napas panjang, namun yang ia rasakan justru sesak yang amat sangat. Realita menghantam kepalanya seperti palu godam. Ia menatap langit-langit kayu yang mewah, menyadari bahwa mulai detik ini, ia bukan lagi wanita yang sama. Ia telah melompati jurang yang selama ini ia takuti. "Sudah bangun, Sayang?" suara bariton Arga terdengar serak di dekat telinganya. Siska tersentak kecil, ia mencoba duduk namun Arga justru mempererat pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Siska. "Arga, lepaskan... ini sudah pagi. Arga..., aku ingin buru-buru pulang." "Kenapa terburu-buru? Biarkan a
Siska terbaring dengan napas yang masih tersengal. Rambutnya yang panjang dan basah tergerai berantakan di atas bantal. Di bawah cahaya lampu tidur yang redup dan kekuningan, Siska menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang tidak menentu. Jantungnya berpacu begitu liar, seolah-olah ingin menembus tulang rusuknya. "Kenapa kamu hanya diam, Siska? Apakah air kolam tadi membuat lidahmu kaku?" tanya Arga sambil memposisikan tubuhnya di atas Siska, namun tetap menumpu berat badannya dengan kedua tangan yang kokoh di sisi kepala Siska. "Aku... aku hanya merasa dunia ini berputar sangat cepat, Arga," bisik Siska. Matanya yang basah menatap lurus ke dalam mata elang pria di hadapannya. Arga tidak langsung menciumnya lagi. Ia justru diam membisu, menatap wajah Siska dengan intensitas yang seolah-olah ingin menguliti setiap lapisan jiwa wanita itu. Tetesan air dari rambut Arga jatuh mengenai pipi Siska, terasa seperti air mata yang bukan miliknya. "Siska, lihat aku baik-baik," pe
Udara malam di pegunungan semakin menusuk, namun pikirannya jauh lebih dingin. Ia menatap hamparan kabut yang menyelimuti hutan pinus di bawah sana, merasa seolah hidupnya pun sedang tertutup kabut yang sama pekatnya. Siska memegang lengan bajunya, mencoba mencari kehangatan, sampai sebuah ketukan pelan di pintu kamar membuatnya tersentak. "Siska, keluarlah. Aku sudah menyiapkan kolam air hangat di belakang," suara Arga terdengar dari balik pintu. Siska membuka pintu sedikit, menatap Arga yang sudah bertelanjang dada, hanya mengenakan celana renang hitam. Otot-otot tubuhnya yang kokoh berkilat di bawah cahaya lampu lorong yang temaram. Siska menelan ludah, merasa jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba. "Sekarang? Ini sudah hampir tengah malam, Arga," bisik Siska ragu. "Justru ini waktu yang paling tepat. Airnya sangat hangat, dan uapnya akan membantumu tidur lebih nyenyak. Jangan membantah, pakailah baju renangmu," perintah Arga dengan nada yang tidak menerima penolakan. "A
Suara rendah Arga seolah menyatu dengan deru angin pegunungan yang masuk saat pintu vila terbuka. Siska berdiri mematung di ambang pintu, merasakan butiran gerimis yang tadi sempat membasahi mereka kini mulai menguap karena suhu dingin di Puncak. Ia tidak menjawab taruhan itu, namun kakinya yang melangkah masuk mengikuti Arga adalah sebuah tanda penyerahan diri yang nyata. Vila kayu itu tampak sangat hangat di dalam, sangat kontras dengan kabut pekat yang baru saja mereka tembus. "Arga, bajumu basah. Kamu bisa masuk angin kalau tetap memakainya," bisik Siska sambil memperhatikan kemeja linen Arga yang menempel di punggung tegapnya karena air hujan. "Ini hanya gerimis kecil, Siska. Tapi kamu benar, aku tidak mau bersin-bersin saat harus memasak untukmu," jawab Arga sambil meletakkan koper Siska di dekat tangga. "Kamu mau memasak? Bukankah kita bisa memesan sesuatu?" tanya Siska heran. "Di sini tidak ada pelayan, tidak ada ojek daring, dan tidak ada orang lain. Hanya ada aku," Arga







