ANMELDEN"Kamu kenapa sih, Sis? Dari tadi mukamu pucat banget kayak orang mau pingsan. Tadi di dalem diapain aja sama Coach Arga?"
Suara Mira yang cempreng menyentak kesadaran Siska. Wanita itu nyaris tersandung hak sepatunya sendiri karena kakinya masih gemetar hebat. Bayangan wajah Arga yang dingin dan ancaman di ruangannya tadi masih menari-nari di pelupuk matanya. Kontrak itu. Rekaman CCTV itu. Anting itu. Semuanya berputar menjadi pusaran teror yang mencekik leher Siska. Siska menoleh pada Mira. Dia berusaha memasang senyum paling meyakinkan yang bisa dibuatnya meski rasanya bibirnya kaku seperti kayu. "Enggak diapa-apain kok, Mir. Cuma bahas jadwal latihan aja. Dia... tegas banget orangnya," jawab Siska pelan sambil meremas tali tasnya erat-erat. "Iya lah tegas! Namanya juga profesional. Tapi kamu sadar nggak sih tatapan dia ke kamu tadi? Wah, intens banget, Sis! aku curiga dia naksir kamu deh," celoteh Mira tanpa dosa sambil menekan tombol kunci mobilnya. "Coba bayangin, owner turun tangan langsung ngurusin member baru. Biasanya dia cuma ongkang-ongkang kaki di ruangan kaca itu. Kamu spesial tau." Siska menelan ludah yang terasa pahit. Spesial? Ya, dia spesial karena dia memegang tiket kehancuran rumah tangganya sendiri di tangan pria itu. Kalau Mira tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia pasti sudah menyebarkannya ke seluruh grup arisan Jakarta Selatan dalam hitungan detik. "Jangan ngaco deh, Mir. Dia itu masih bocah. Umurnya mungkin baru dua puluhan," elak Siska cepat. "Justru itu enaknya! Brondong, Sis! Masih kenceng, stamina oke, nggak kayak laki kita yang dikit-dikit encok," Mira tertawa terbahak-bahak. Tawa yang membuat perut Siska mulas. "Udah ah, besok kamu jangan lupa dateng. Awas kalau bolos. Aku pantau lho." "Iya... aku duluan ya." Siska buru-buru masuk ke dalam mobilnya, mengunci pintu, dan bersandar lemas di kemudi. Napasnya memburu. Dia melirik jam di dashboard. Pukul sebelas siang. Dia punya waktu kurang dari dua puluh jam sebelum dia harus kembali ke kandang singa itu. "Tuhan... tolong aku," bisik Siska lirih. Air matanya kembali menetes membasahi pipi. "Kenapa harus aku? Kenapa kesalahan satu malam hukumannya seberat ini?" *** Malam itu, suasana di meja makan rumah Siska hening dan dingin seperti biasa. Hanya ada suara denting sendok beradu dengan piring porselen. Hendri duduk di ujung meja, sibuk dengan ponselnya sambil menyuap nasi tanpa selera. Grace, putrinya, makan sambil memakai headphone besar di telinganya. Anak itu memblokir dunia luar, termasuk ibunya sendiri. Siska menatap mereka berdua bergantian. Suami yang menganggapnya sampah dan anak yang menganggapnya tidak ada. Ironis sekali. Dia mati-matian menyembunyikan aib di Bali demi mempertahankan keutuhan keluarga ini, tapi apakah keluarga ini layak dipertahankan? "Mas..." panggil Siska pelan, memecah keheningan. Hendri tidak menoleh. Matanya masih terpaku pada layar ponsel. Mungkin sedang membaca laporan saham atau chat dari wanita lain. "Apa?" "Mulai besok... aku mau rutin olahraga," ucap Siska hati-hati seperti berjalan di atas kulit telur. "Aku sudah daftar di tempat gym baru di Kemang. Kata Mira tempatnya bagus." Hendri mendengus kasar lalu meletakkan sendoknya dengan berisik. Dia akhirnya menatap Siska tapi dengan sorot mata meremehkan yang sudah sangat dihafal Siska di luar kepala. "Olahraga? Kamu?" Hendri tertawa sinis. "Sadar diri, Siska. Kamu itu napas dikit aja ngos-ngosan. Paling juga seminggu berhenti. Buang-buang duit aja." "Kali ini aku serius, Mas," bantah Siska. Dia mencoba terdengar tegas meski hatinya ciut. "Kata Mas kan... perutku buncit. Kulitku kendur. Aku mau perbaiki itu. Biar Mas nggak malu jalan sama aku." Mendengar itu, ekspresi Hendri sedikit berubah. Bukan menjadi lembut, tapi menjadi penuh perhitungan. Dia menatap tubuh Siska sekilas. "Bagus kalau kamu sadar diri," ucapnya dingin. "Ya sudah. Terserah. Asal jangan ganggu jam urus rumah. Jam berapa kamu pergi?" "Pagi, Mas. Jam tujuh sampai jam sembilan. Setelah Mas berangkat kerja dan Grace sekolah," jawab Siska cepat. Itu jadwal yang diperintahkan Arga. "Terserah. Awas kalau sampai rumah berantakan pas aku pulang. Dan ingat, jangan genit-genit di sana. Pakai baju yang sopan. Jangan pamer lemak di mana-mana," Hendri kembali fokus ke makanannya, menganggap percakapan itu selesai. Siska menghela nafas lega. Setidaknya satu rintangan sudah terlewati. Hendri mengizinkan. Tapi rintangan sebenarnya baru akan dimulai besok pagi. "Grace, kamu dengar Mama kan? Besok Mama mulai gym," kata Siska mencoba mencari dukungan dari anaknya. Grace hanya melirik sekilas lalu melepas headphone-nya sebelah. "Apa? Mama gym? Ati-ati encok, Ma. Udah tua jangan banyak gaya." Lalu dia memasang kembali headphone-nya. Hati Siska nyeri. Tidak ada satupun yang mendukungnya. Dia sendirian. Benar-benar sendirian menghadapi teror ini. Dan di tengah kesepian itu, tiba-tiba terngiang ucapan Arga di ruangannya tadi. 'Iblis ini satu-satunya yang peduli padamu saat kamu sekarat...' Siska menggeleng kuat-kuat. Tidak. Jangan termakan omongannya. Arga itu predator. Dia memanipulasinya. Siska harus mengingat itu.Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah mewakili perasaan Siska yang sedang berjalan menuju pintu masuk Iron & Orchid Wellness Center. Tubuhnya terasa berat, seakan ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kakinya. Siska menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Dia mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna hitam yang sengaja Arga siapkan untuknya. Pakaian itu terasa seperti kulit kedua yang membuatnya merasa telanjang dan terekspos. Begitu memasuki area VIP, Siska langsung disambut oleh sosok Arga yang sudah berdiri tegak di tengah ruangan. Pria itu tampak sangat berbeda dari Arga yang dia temui di Bali. Tidak ada senyum nakal atau binar main-main di matanya. Yang ada hanyalah sosok pelatih profesional yang dingin dan disiplin. "Tepat waktu, Ibu Siska," ucap Arga dengan nada formal yang kaku. Pria itu menatap jam di pergelangan tangannya tanpa melihat ke arah Siska. "Silakan taruh tas Anda di loker. Kita mulai dengan pemanasa
Pukul 06.45 pagi.Siska memarkirkan mobilnya di basement gedung Iron & Orchid. Tangannya basah oleh keringat dingin. Dia sengaja datang lima belas menit lebih awal karena takut terlambat. Ancaman Arga tentang mengirim video ke kantor Hendri terus berputar di kepalanya seperti sirene bahaya.Siska mengenakan setelan olahraga terburuk yang dia punya: kaos oblong kedodoran bekas fun run lima tahun lalu dan celana training gombrong. Dia sengaja memakai ini. Dia tidak mau Arga melihat bentuk tubuhnya. Dia ingin pria itu jijik, bosan, lalu melepaskannya.Dengan langkah ragu, Siska naik ke lantai lobi. Resepsionis yang kemarin menyapanya dengan ramah sudah menunggu."Selamat pagi, Ibu Siska. Silahkan langsung masuk. Coach Arga berpesan Ibu bisa menggunakan ruang ganti VIP nomor 1. Itu akses khusus untuk Ibu.""VIP?" tanya Siska bingung. "Saya tidak pesan VIP.""Itu fasilitas complimentary dari owner, Bu. Silahkan," resepsionis itu menyerahkan kartu akses berwarna hitam.Siska menerimanya den
"Kamu kenapa sih, Sis? Dari tadi mukamu pucat banget kayak orang mau pingsan. Tadi di dalem diapain aja sama Coach Arga?" Suara Mira yang cempreng menyentak kesadaran Siska. Wanita itu nyaris tersandung hak sepatunya sendiri karena kakinya masih gemetar hebat. Bayangan wajah Arga yang dingin dan ancaman di ruangannya tadi masih menari-nari di pelupuk matanya. Kontrak itu. Rekaman CCTV itu. Anting itu. Semuanya berputar menjadi pusaran teror yang mencekik leher Siska. Siska menoleh pada Mira. Dia berusaha memasang senyum paling meyakinkan yang bisa dibuatnya meski rasanya bibirnya kaku seperti kayu. "Enggak diapa-apain kok, Mir. Cuma bahas jadwal latihan aja. Dia... tegas banget orangnya," jawab Siska pelan sambil meremas tali tasnya erat-erat. "Iya lah tegas! Namanya juga profesional. Tapi kamu sadar nggak sih tatapan dia ke kamu tadi? Wah, intens banget, Sis! aku curiga dia naksir kamu deh," celoteh Mira tanpa dosa sambil menekan tombol kunci mobilnya. "Coba bayangin, owner
"Siska? Kok bengong sih?" Suara cempreng Tante Mira memecah keheningan, menyentak Siska kembali ke realita yang mengerikan. Mira menyikut pinggang wanita itu pelan. "Jabat tangannya. Jangan malu-maluin aku dong. Coach Arga ini orang sibuk, lho." Siska menelan ludah yang terasa seperti pasir berduri. Jika dia tidak menjabat tangan pria itu, Mira akan curiga. Jika dia lari sekarang, Arga pasti akan melakukan sesuatu yang nekat. Pria ini sudah berani memodifikasi anting Siska menjadi cincin dan memakainya terang-terangan di hadapannya. Dia jelas tidak takut pada apa pun. Dengan tangan gemetar hebat yang tak bisa disembunyikan, Siska mengangkat lengannya. Pelan sekali. Seperti orang yang menyerahkan diri ke tiang gantungan. Saat kulit telapak tangan Siska bersentuhan dengan kulit telapak tangan Arga yang besar dan kasar, pria itu langsung meremasnya. Kuat. Sangat kuat. Jauh dari jabat tangan sopan biasa. "Tangan Ibu dingin sekali," komentar Arga. Bibirnya menyunggingkan senyum t
Dengan langkah gontai, Siska sampai di kamar hotelnya, hotel yang sama, yang Siska habiskan untuk bermalam bersama pria itu. Siska menyeret kakinya yang gemetar keluar dari kamar mandi, setelah satu jam di dalam meratapi kebodohannya. Kulitnya memerah dan perih karena digosok terlalu keras di bawah guyuran air panas. Dia berharap panas itu bisa melunturkan jejak sentuhan pria asing semalam, namun rasa kotor itu tetap melekat dijiwanya. "Bodoh. Siska bodoh," Siska menatap pada pantulan wajah sembab di cermin. "Kamu istri orang. Bagaimana bisa kamu tidur dengan orang asing hanya karena mabuk?" Siska buru-buru memoles wajahnya dengan foundation tebal untuk menutupi mata bengkak dan tanda merah samar di lehernya. Dia harus terlihat sempurna sebelum Hendri kembali dari main golf. Dia harus mengubur rahasia ini di Bali selamanya. Wanita itu meraih tas tangannya untuk merapikan isi dompet. Namun saat merogoh saku bagian dalam, jarinya menyentuh sesuatu yang asing. Teksturnya keras
Tawa riuh para undangan dalam acara Gala Cakrawala Bisnis, memenuhi ballroom, Acara Tahunan yang diadakan Hendri untuk berkumpulnya para pengusaha muda untuk menjalin silaturahmi dan kerjasama. Hendri adalah Ketua dari perkumpulan pengusaha muda, dia selalu tampil sempurna dalam segala hal, agar bisa menaikkan pamor dan citra dia dikalangan para pengusaha."Senyum sedikit, Siska. Jangan pasang wajah menyedihkan begitu. Kamu mau orang-orang berpikir aku menyiksa istri sendiri?"Bisikan itu terasa panas dan tajam di telinga Siska, sangat kontras dengan udara malam Bali yang sejuk.Wanita berusia 43 tahun itu menelan ludah, berusaha keras mempertahankan senyum kaku di wajah cantiknya saat tangan Hendri melingkar posesif di pinggangnya. Cengkeraman itu bukan tanda sayang, melainkan peringatan."Aku sudah tersenyum, Mas," jawab Siska pelan, suaranya nyaris tak terdengar."Kakiku sakit sekali pakai sepatu hak tinggi ini terus dari tadi sore.""Halah, alasan saja kamu ini. Bilang saja kamu