Share

Bab 4

Author: Tinta Senyap
last update publish date: 2026-01-24 07:59:32

"Kamu kenapa sih, Sis? Dari tadi mukamu pucat banget kayak orang mau pingsan. Tadi di dalem diapain aja sama Coach Arga?"

Suara Mira yang cempreng menyentak kesadaran Siska.

Wanita itu nyaris tersandung hak sepatunya sendiri karena kakinya masih gemetar hebat. Bayangan wajah Arga yang dingin dan ancaman di ruangannya tadi masih menari-nari di pelupuk matanya. Kontrak itu. Rekaman CCTV itu. Anting itu. Semuanya berputar menjadi pusaran teror yang mencekik leher Siska.

Siska menoleh pada Mira. Dia berusaha memasang senyum paling meyakinkan yang bisa dibuatnya meski rasanya bibirnya kaku seperti kayu.

"Enggak diapa-apain kok, Mir. Cuma bahas jadwal latihan aja. Dia... tegas banget orangnya," jawab Siska pelan sambil meremas tali tasnya erat-erat.

"Iya lah tegas! Namanya juga profesional. Tapi kamu sadar nggak sih tatapan dia ke kamu tadi? Wah, intens banget, Sis! aku curiga dia naksir kamu deh," celoteh Mira tanpa dosa sambil menekan tombol kunci mobilnya. "Coba bayangin, owner turun tangan langsung ngurusin member baru. Biasanya dia cuma ongkang-ongkang kaki di ruangan kaca itu. Kamu spesial tau."

Siska menelan ludah yang terasa pahit. Spesial? Ya, dia spesial karena dia memegang tiket kehancuran rumah tangganya sendiri di tangan pria itu. Kalau Mira tahu apa yang sebenarnya terjadi, dia pasti sudah menyebarkannya ke seluruh grup arisan Jakarta Selatan dalam hitungan detik.

"Jangan ngaco deh, Mir. Dia itu masih bocah. Umurnya mungkin baru dua puluhan," elak Siska cepat.

"Justru itu enaknya! Brondong, Sis! Masih kenceng, stamina oke, nggak kayak laki kita yang dikit-dikit encok," Mira tertawa terbahak-bahak. Tawa yang membuat perut Siska mulas.

"Udah ah, besok kamu jangan lupa dateng. Awas kalau bolos. Aku pantau lho."

"Iya... aku duluan ya."

Siska buru-buru masuk ke dalam mobilnya, mengunci pintu, dan bersandar lemas di kemudi. Napasnya memburu. Dia melirik jam di dashboard. Pukul sebelas siang. Dia punya waktu kurang dari dua puluh jam sebelum dia harus kembali ke kandang singa itu.

"Tuhan... tolong aku," bisik Siska lirih. Air matanya kembali menetes membasahi pipi. "Kenapa harus aku? Kenapa kesalahan satu malam hukumannya seberat ini?"

***

Malam itu, suasana di meja makan rumah Siska hening dan dingin seperti biasa.

Hanya ada suara denting sendok beradu dengan piring porselen.

Hendri duduk di ujung meja, sibuk dengan ponselnya sambil menyuap nasi tanpa selera. Grace, putrinya, makan sambil memakai headphone besar di telinganya. Anak itu memblokir dunia luar, termasuk ibunya sendiri.

Siska menatap mereka berdua bergantian. Suami yang menganggapnya sampah dan anak yang menganggapnya tidak ada. Ironis sekali. Dia mati-matian menyembunyikan aib di Bali demi mempertahankan keutuhan keluarga ini, tapi apakah keluarga ini layak dipertahankan?

"Mas..." panggil Siska pelan, memecah keheningan.

Hendri tidak menoleh. Matanya masih terpaku pada layar ponsel. Mungkin sedang membaca laporan saham atau chat dari wanita lain. "Apa?"

"Mulai besok... aku mau rutin olahraga," ucap Siska hati-hati seperti berjalan di atas kulit telur. "Aku sudah daftar di tempat gym baru di Kemang. Kata Mira tempatnya bagus."

Hendri mendengus kasar lalu meletakkan sendoknya dengan berisik. Dia akhirnya menatap Siska tapi dengan sorot mata meremehkan yang sudah sangat dihafal Siska di luar kepala.

"Olahraga? Kamu?" Hendri tertawa sinis. "Sadar diri, Siska. Kamu itu napas dikit aja ngos-ngosan. Paling juga seminggu berhenti. Buang-buang duit aja."

"Kali ini aku serius, Mas," bantah Siska. Dia mencoba terdengar tegas meski hatinya ciut. "Kata Mas kan... perutku buncit. Kulitku kendur. Aku mau perbaiki itu. Biar Mas nggak malu jalan sama aku."

Mendengar itu, ekspresi Hendri sedikit berubah. Bukan menjadi lembut, tapi menjadi penuh perhitungan. Dia menatap tubuh Siska sekilas.

"Bagus kalau kamu sadar diri," ucapnya dingin. "Ya sudah. Terserah. Asal jangan ganggu jam urus rumah. Jam berapa kamu pergi?"

"Pagi, Mas. Jam tujuh sampai jam sembilan. Setelah Mas berangkat kerja dan Grace sekolah," jawab Siska cepat. Itu jadwal yang diperintahkan Arga.

"Terserah. Awas kalau sampai rumah berantakan pas aku pulang. Dan ingat, jangan genit-genit di sana. Pakai baju yang sopan. Jangan pamer lemak di mana-mana," Hendri kembali fokus ke makanannya, menganggap percakapan itu selesai.

Siska menghela nafas lega. Setidaknya satu rintangan sudah terlewati. Hendri mengizinkan. Tapi rintangan sebenarnya baru akan dimulai besok pagi.

"Grace, kamu dengar Mama kan? Besok Mama mulai gym," kata Siska mencoba mencari dukungan dari anaknya.

Grace hanya melirik sekilas lalu melepas headphone-nya sebelah. "Apa? Mama gym? Ati-ati encok, Ma. Udah tua jangan banyak gaya."

Lalu dia memasang kembali headphone-nya.

Hati Siska nyeri. Tidak ada satupun yang mendukungnya. Dia sendirian. Benar-benar sendirian menghadapi teror ini. Dan di tengah kesepian itu, tiba-tiba terngiang ucapan Arga di ruangannya tadi.

'Iblis ini satu-satunya yang peduli padamu saat kamu sekarat...'

Siska menggeleng kuat-kuat. Tidak. Jangan termakan omongannya. Arga itu predator. Dia memanipulasinya. Siska harus mengingat itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 52

    "Kenapa kamu masih melamun di sana, Siska? Cepat dandan! Kita tidak punya banyak waktu," teriak Hendri dari arah ruang kerja, suaranya terdengar tidak sabar. Siska menarik napas panjang. Ia mengambil gaun hitam itu. Saat kain sutra itu menyentuh kulitnya, ia teringat bagaimana Arga memujinya di vila kemarin. Arga bilang dia adalah wanita yang berkelas, bukan sekadar pajangan. Kepercayaan diri yang baru saja tumbuh itu membuatnya nekat mengenakan gaun tersebut. "Aku bukan lagi wanita yang bisa kamu atur sesukamu, Mas," bisik Siska pada pantulannya di cermin. Ia memoleskan riasan yang sedikit lebih tajam. Lipstik merah menyala menghiasi bibirnya. Ia terlihat segar, jauh lebih cantik daripada biasanya. Namun, di balik kecantikan itu, jantungnya berdegup tidak karuan. Ia merogoh tas tangannya, mencari ponselnya. Begitu layar menyala, Siska segera mengetik sebuah pesan untuk Arga. Tangannya sedikit gemetar saat menekan tombol huruf di layar. "Malam ini aku ikut Hendri ke Gala Din

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 51

    Jantung Siska berdebar sangat kencang, seolah ada genderang yang dipukul bertalu-talu di dalam dadanya. Siska meremas tali tas tangannya, mencoba mengatur napas agar terlihat tenang. Ia merasa seolah ada tulisan "Pengkhianat" yang tercetak jelas di dahinya. Begitu ia melewati ruang tamu, langkahnya mendadak terhenti. Hendri ada di sana. Suaminya itu duduk santai di sofa kulit, sedang membaca koran bisnis dengan segelas kopi di sampingnya. Pemandangan yang seharusnya biasa saja, namun kali ini terasa seperti sebuah jebakan bagi Siska. "Baru pulang, Siska? Aku pikir kamu akan sampai sore nanti," ucap Hendri tanpa menoleh dari korannya. "Iya, acaranya selesai lebih cepat dari jadwal. Udara di gunung mulai terlalu dingin, jadi kami dipulangkan lebih awal," jawab Siska dengan nada yang diusahakan sedatar mungkin. Siska mencoba berjalan cepat menuju tangga, berharap bisa segera masuk ke kamar dan menghilangkan semua jejak Arga di tubuhnya. Namun, saat ia melintasi sofa tempat Hendri

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 50

    Cahaya matahari pagi yang pucat menyelinap masuk melalui celah gorden vila, menelanjangi setiap jengkal dosa yang terjadi di balik pintu kamar itu semalam. Siska perlahan membuka matanya, merasakan berat yang hangat di pinggangnya. Ia masih berada di dalam pelukan Arga. Aroma tubuh pria itu, campuran antara kayu cendana dan sisa-sisa keringat semalam, kini memenuhi seluruh indra penciumannya. Siska menarik napas panjang, namun yang ia rasakan justru sesak yang amat sangat. Realita menghantam kepalanya seperti palu godam. Ia menatap langit-langit kayu yang mewah, menyadari bahwa mulai detik ini, ia bukan lagi wanita yang sama. Ia telah melompati jurang yang selama ini ia takuti. "Sudah bangun, Sayang?" suara bariton Arga terdengar serak di dekat telinganya. Siska tersentak kecil, ia mencoba duduk namun Arga justru mempererat pelukannya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Siska. "Arga, lepaskan... ini sudah pagi. Arga..., aku ingin buru-buru pulang." "Kenapa terburu-buru? Biarkan a

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 49

    Siska terbaring dengan napas yang masih tersengal. Rambutnya yang panjang dan basah tergerai berantakan di atas bantal. Di bawah cahaya lampu tidur yang redup dan kekuningan, Siska menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang tidak menentu. Jantungnya berpacu begitu liar, seolah-olah ingin menembus tulang rusuknya. "Kenapa kamu hanya diam, Siska? Apakah air kolam tadi membuat lidahmu kaku?" tanya Arga sambil memposisikan tubuhnya di atas Siska, namun tetap menumpu berat badannya dengan kedua tangan yang kokoh di sisi kepala Siska. "Aku... aku hanya merasa dunia ini berputar sangat cepat, Arga," bisik Siska. Matanya yang basah menatap lurus ke dalam mata elang pria di hadapannya. Arga tidak langsung menciumnya lagi. Ia justru diam membisu, menatap wajah Siska dengan intensitas yang seolah-olah ingin menguliti setiap lapisan jiwa wanita itu. Tetesan air dari rambut Arga jatuh mengenai pipi Siska, terasa seperti air mata yang bukan miliknya. "Siska, lihat aku baik-baik," pe

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 48

    Udara malam di pegunungan semakin menusuk, namun pikirannya jauh lebih dingin. Ia menatap hamparan kabut yang menyelimuti hutan pinus di bawah sana, merasa seolah hidupnya pun sedang tertutup kabut yang sama pekatnya. Siska memegang lengan bajunya, mencoba mencari kehangatan, sampai sebuah ketukan pelan di pintu kamar membuatnya tersentak. "Siska, keluarlah. Aku sudah menyiapkan kolam air hangat di belakang," suara Arga terdengar dari balik pintu. Siska membuka pintu sedikit, menatap Arga yang sudah bertelanjang dada, hanya mengenakan celana renang hitam. Otot-otot tubuhnya yang kokoh berkilat di bawah cahaya lampu lorong yang temaram. Siska menelan ludah, merasa jantungnya berdegup kencang secara tiba-tiba. "Sekarang? Ini sudah hampir tengah malam, Arga," bisik Siska ragu. "Justru ini waktu yang paling tepat. Airnya sangat hangat, dan uapnya akan membantumu tidur lebih nyenyak. Jangan membantah, pakailah baju renangmu," perintah Arga dengan nada yang tidak menerima penolakan. "A

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 47

    Suara rendah Arga seolah menyatu dengan deru angin pegunungan yang masuk saat pintu vila terbuka. Siska berdiri mematung di ambang pintu, merasakan butiran gerimis yang tadi sempat membasahi mereka kini mulai menguap karena suhu dingin di Puncak. Ia tidak menjawab taruhan itu, namun kakinya yang melangkah masuk mengikuti Arga adalah sebuah tanda penyerahan diri yang nyata. Vila kayu itu tampak sangat hangat di dalam, sangat kontras dengan kabut pekat yang baru saja mereka tembus. "Arga, bajumu basah. Kamu bisa masuk angin kalau tetap memakainya," bisik Siska sambil memperhatikan kemeja linen Arga yang menempel di punggung tegapnya karena air hujan. "Ini hanya gerimis kecil, Siska. Tapi kamu benar, aku tidak mau bersin-bersin saat harus memasak untukmu," jawab Arga sambil meletakkan koper Siska di dekat tangga. "Kamu mau memasak? Bukankah kita bisa memesan sesuatu?" tanya Siska heran. "Di sini tidak ada pelayan, tidak ada ojek daring, dan tidak ada orang lain. Hanya ada aku," Arga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status