Share

Bab 2

Author: Tinta Senyap
last update publish date: 2026-01-24 07:47:47

Dengan langkah gontai, ​Siska sampai di kamar hotelnya, hotel yang sama, yang Siska habiskan untuk bermalam bersama pria itu.

Siska menyeret kakinya yang gemetar keluar dari kamar mandi, setelah satu jam di dalam meratapi kebodohannya.

Kulitnya memerah dan perih karena digosok terlalu keras di bawah guyuran air panas. Dia berharap panas itu bisa melunturkan jejak sentuhan pria asing semalam, namun rasa kotor itu tetap melekat dijiwanya.

​"Bodoh. Siska bodoh," Siska menatap pada pantulan wajah sembab di cermin. "Kamu istri orang. Bagaimana bisa kamu tidur dengan orang asing hanya karena mabuk?"

​Siska buru-buru memoles wajahnya dengan foundation tebal untuk menutupi mata bengkak dan tanda merah samar di lehernya. Dia harus terlihat sempurna sebelum Hendri kembali dari main golf. Dia harus mengubur rahasia ini di Bali selamanya.

​Wanita itu meraih tas tangannya untuk merapikan isi dompet. Namun saat merogoh saku bagian dalam, jarinya menyentuh sesuatu yang asing. Teksturnya keras dan dingin. Siska menariknya keluar.

​Jantungnya seakan berhenti berdetak.

​Itu anting berliannya. Anting yang dia kira hilang saat lari dari penginapan pria itu. Kini benda itu ada di tangannya, terbungkus selembar tisu koktail berwarna hitam dengan tulisan tinta perak yang tegas.

‘​Barang berhargamu tertinggal di sebelah bantalku, Nyonya

Siska. Kamu pergi terlalu cepat. Padahal aku belum menagih bayaran untuk servis memuaskan semalam. Sampai ketemu di Jakarta. - A’

​Napas Siska tercekat. Pria itu tahu siapa dia. Pria itu bahkan menyelipkan ini ke dalam tasnya tanpa dia sadari. ‘Dia pasti bukan orang sembarangan. Kapan Dia lakukan itu? Jangan-jangan dia mengikutiku sampai ke hotel ini?’ batin Siska seakan ingin berteriak.

​"Sedang apa kamu?"

​Suara dingin Hendri menyambar dari arah pintu. Siska tersentak hebat. Suaminya sudah berdiri di sana, menatapnya dengan alis terangkat curiga.

​"Mas Hendri... sudah pulang?" tanya Siska terbata, tangannya refleks mengepal menyembunyikan tisu itu di balik punggung.

​Hendri melangkah masuk sambil melempar tas golfnya ke sofa. "Kenapa mukamu pucat begitu? Dan apa yang kamu sembunyikan di tanganmu?"

​"Ti... tidak ada, Mas. Cuma sampah tisu."

​"Buka tanganmu," perintah Hendri datar tapi mematikan.

​"Mas, ini kotor..."

​"Aku bilang buka!" bentak Hendri. Suaranya menggelegar memenuhi kamar hotel mewah itu.

​Siska memejamkan mata. Habis sudah. Dengan tangan gemetar hebat, dia membuka kepalan tangannya. Hendri menyambar tisu itu kasar. Pria itu melihat anting di dalamnya yang hanya sebelah, lalu membaca tulisan di tisu itu. ​Wajah Hendri merah padam. Urat lehernya menonjol. Dia meremas tisu itu dan melemparnya tepat ke wajah Siska.

​"Jelaskan," desis Hendri. "Servis macam apa yang kamu lakukan sampai anting seharga mobil ini ketinggalan di bantal laki-laki lain?"

​Siska jatuh bersimpuh di kaki Hendri. Otaknya berputar cepat mencari kebohongan yang bisa menyelamatkan nyawanya.

​"Itu tukang pijat, Mas! Demi Tuhan!" jerit Siska histeris.

​Hendri mengerutkan kening jijik. "Tukang pijat?"

​"Iya! Semalam aku mabuk dan pusing. Aku masuk ke tempat refleksi pinggir jalan bernama 'Arjuna Reflexology'. Aku ketiduran di sana. Pas bangun, tukang pijatnya minta tips besar tapi dompetku ketinggalan. Mungkin dia marah dan selipin itu buat meras aku," Siska mengarang cerita sambil menangis tersedu-sedu. "Maaf, Mas. Tempatnya remang-remang. Aku tidak tahu."

​Hendri menatap istrinya dengan tatapan merendahkan. Bagi ego Hendri yang tinggi, jauh lebih masuk akal istrinya yang tua dan membosankan ini masuk ke tempat pijat murah daripada berhasil menarik perhatian pria muda untuk berselingkuh.

​"Dasar perempuan murahan," cibir Hendri sambil menendang pelan kaki Siska agar menjauh. "Masuk tempat pijat esek-esek pinggir jalan cuma karena pusing? Di hotel bintang lima ini kurang spa apa?"

​Hendri memungut anting itu lalu melemparnya ke dada Siska.

​"Ambil. Cuci pakai alkohol sampai bersih. Jijik aku bayangkan anting mahal itu dipegang tukang pijat mesum. Cepat mandi lagi! Kita pulang ke Jakarta sekarang. Jangan harap aku mau duduk sebelahmu di pesawat."

***

​Sejak kejadian itu. Siska berusaha menebus kesalahannya dengan melayani Hendri sebaik mungkin. Dia bangun subuh, memasak, dan menyambut suaminya pulang kerja. Namun Hendri tetap menganggapnya tidak ada.

​"Minggir. Jangan sentuh aku," tepis Hendri saat Siska mencoba memijat bahunya. "Mending kamu urus badanmu itu. Lihat perutmu. Sudah mulai buncit dan kendur. Malu aku kalau ajak kamu ke pesta lagi." Hendri berlalu meninggalkan Siska seorang diri.

​Siska menelan ludah pahit. Dia menatap cermin. Tubuhnya masih langsing untuk wanita 43 tahun, tapi di mata Hendri dia selalu cacat.

​Bel rumah berbunyi menyelamatkan Siska dari lamunan. Tante Mira, sahabat sosialitanya, datang dengan heboh.

​"Ya ampun Siska! Kenapa kamu di rumah terus kayak tahanan kota?" cerocos Mira sambil menyeret Siska ke kamar. "Ganti baju buruan. Gue mau nyulik kamu ke Grand Opening tempat wellness baru di Kemang. Namanya Iron & Orchid."

​"Aku nggak bisa, Mir. Nanti Mas Hendri marah," tolak Siska lemah.

​"Hendri lagi meeting. Aman! Dengerin aku ya, tempat ini eksklusif banget. Isinya istri pejabat semua. kamu harus olahraga biar badan kamu kenceng lagi. Kalau kamu cantik dan glowing, Hendri pasti nempel lagi. Percaya aku deh."

​Kata-kata Mira tentang tubuh kencang dan cinta suami membuat pertahanan Siska runtuh. Demi memperbaiki pernikahannya yang di ujung tanduk, Siska akhirnya setuju.

​Iron & Orchid Wellness Center bukanlah tempat olahraga biasa. Bangunannya mewah dengan gaya industrial modern, lebih mirip lobi hotel bintang lima daripada tempat gym. Namun entah kenapa, Siska merasa bulu kuduknya meremang saat melangkah masuk. Dia merasa diawasi oleh ribuan mata.

​"Selamat datang Ibu Mira," sapa resepsionis cantik. "Silakan isi data diri dulu."

​Siska duduk di sofa beludru, mengisi formulir dengan tangan berkeringat. Saat dia menulis nama Hendri Wijaya di kolom kontak darurat, sebuah suara bariton menyapanya.

​"Sudah selesai?"

​Pena Siska tergelincir jatuh. Suara itu. Siska mengenalnya. Itu suara yang membisikkan kata-kata manis saat dia mabuk di Bali. Siska mendongak perlahan. Jantungnya seolah berhenti berdetak.

Seorang pria berdiri di belakang resepsionis. Tubuhnya tegap dibalut kaos polo hitam ketat yang mencetak otot dadanya. Wajahnya tampan dengan rahang tegas dan tatapan mata elang yang tajam.

​Itu dia. Pria inisial A.

​Siska membeku. Darah di wajahnya surut seketika. Dia ingin lari tapi kakinya terpaku di lantai.

​Mira menyenggol lengannya. "Tuh kan Sis, ganteng banget kan owner-nya? Kenalin, ini Coach Arga."

Arga tersenyum miring. Dia berjalan memutari meja resepsionis dengan langkah dominan, mendekati Siska yang mematung ketakutan.

​Pria itu mengulurkan tangan besarnya ke hadapan Siska. Di jari kelingkingnya melingkar sebuah cincin emas putih yang aneh. Mata Siska membelalak. Itu bukan cincin biasa. Itu adalah anting berlian pasangannya yang hilang di Bali. Anting itu telah dimodifikasi menjadi cincin pria.

​Arga menatap manik mata Siska dalam-dalam, mengunci wanita itu dalam pesonanya yang berbahaya.

"Selamat datang di dunia saya, Ibu Siska," ucap Arga pelan, menekan setiap suku kata dengan nada yang membuat Siska merinding ngeri. "Saya Arga. Senang sekali akhirnya 'barang berharga' saya kembali ke tempat yang seharusnya.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 149

    Setelah makan malam selesai, mereka berjalan perlahan menyusuri bibir pantai. Air laut yang dingin sesekali menyentuh kaki mereka. Arga tiba-tiba berhenti dan menarik Siska ke dalam pelukannya. "Siska, aku punya satu hadiah lagi untukmu," ucap Arga. "Hadiah apa lagi, Mas? Tadi kan sudah makan malam yang luar biasa," tanya Siska heran. Arga mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sayap burung phoenix yang kecil namun sangat detail. Dia memasangkannya di leher Siska. "Burung phoenix ini melambangkan kamu. Kamu yang sudah bangkit dari abu kehancuran di masa lalu, dan kini terbang tinggi bersamaku. Jangan pernah merasa rendah diri, ya?" bisik Arga di telinga Siska. Siska menyentuh liontin itu dengan jari yang gemetar. Air mata kebahagiaan tidak bisa lagi ia bendung. "Aku mencintaimu, Mas Arga. Sangat mencintaimu." "Aku lebih mencintaimu, Siska," jawab Arga sebelum mendaratkan ciuman yang sangat dalam di bibir Siska di bawah siraman cahaya bulan Bali yang pera

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 148

    Pagi itu, rumah terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya. Siska baru saja selesai menyiapkan sarapan saat Arga turun dari lantai atas dengan setelan kemeja santai berwarna biru muda. Wajahnya tampak sangat segar, dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Hari ini adalah hari istimewa, ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga sejak janji suci itu diucapkan kembali di rumah baru mereka. "Selamat ulang tahun pernikahan, istriku yang hebat," bisik Arga sambil memeluk Siska dari belakang saat wanita itu sedang meletakkan piring di meja. Siska menoleh dan tersenyum manis. "Selamat ulang tahun pernikahan juga, Mas Arga. Terima kasih sudah bersabar menghadapi aku selama tiga tahun ini." "Bersabar? Aku rasa aku tidak perlu bersabar untuk mencintai wanita sepertimu, Siska. Itu adalah hal termudah yang pernah aku lakukan dalam hidupku," Arga mengecup pipi Siska dengan lembut. Grace turun dengan wajah ceria, dia sudah siap dengan pakaian santainya. "Selamat ulang tahun pernika

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 147

    Beberapa minggu setelah pemakaman Hendri, kehidupan Siska dan Arga berjalan dengan kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Namun, di balik senyum yang selalu Siska tunjukkan di depan yayasan dan keluarganya, ada sebuah keresahan kecil yang mulai tumbuh di lubuk hatinya. Sebuah keresahan yang bersifat sangat pribadi, yang berkaitan dengan jati dirinya sebagai seorang istri. Pagi itu, Siska duduk di tepi ranjang sambil menatap kalender kecil di ponselnya. Wajahnya tampak tegang, jemarinya sedikit bergetar saat menghitung hari. "Sudah telat dua minggu," gumam Siska lirih. Ada secercah harapan yang tiba-tiba membuncah di dadanya. Harapan yang mungkin terdengar mustahil mengingat usianya, namun tetap saja membuat jantungnya berdebar kencang. Apakah mungkin Tuhan memberikannya keajaiban? Apakah mungkin di dalam rahimnya kini sedang tumbuh buah cintanya dengan Arga? "Mama, kenapa belum turun? Papi sudah menunggu di bawah untuk sarapan," suara Grace terdengar dari balik

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 146

    Siska masih merasakan kehangatan kecupan Arga di keningnya. Kata-kata suaminya tentang menjenguk Hendri masih terngiang jelas. Tawaran itu adalah sebuah bukti betapa luasnya hati Arga. Pria itu tidak hanya mencintai Siska, tetapi juga menghormati setiap kepingan masa lalu yang membentuk Siska menjadi wanita seperti sekarang. "Mas benar-benar tidak keberatan kalau kita ke sana?" tanya Siska meyakinkan sekali lagi. Tangannya masih memegang serbet yang tadi ia gunakan untuk merapikan meja. Arga tersenyum lembut, lalu menarik sebuah kursi dan duduk kembali di depan Siska. "Kenapa aku harus keberatan, Sayang? Siska, dengarkan aku. Rasa cemburu itu lahir dari rasa tidak percaya diri. Aku sangat percaya diri bahwa kamulah milikku sekarang. Menjenguk Hendri bukan berarti kita kembali ke masa lalu, tapi itu adalah cara kita menutup buku lama dengan cara yang elegan." Siska menghela napas panjang, merasa bebannya terangkat. "Terima kasih, Mas. Aku sempat takut kamu akan merasa tidak nyama

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 145

    Matahari pagi menyinari halaman luas sebuah rumah tapak bergaya modern minimalis yang asri. Rumput hijau yang terpotong rapi menjadi tempat favorit bagi beberapa ekor kelinci peliharaan yang sedang asyik bermain. Tiga tahun telah berlalu sejak malam yang sakral itu, dan hidup Siska Amalia telah berubah total, jauh melampaui imajinasi terliarnya sekalipun. Siska berdiri di teras rumah, menyesap teh melati hangatnya sambil menatap papan nama kayu kecil yang tergantung di paviliun samping rumahnya. Di sana tertulis: "Phoenix House - Yayasan Pemberdayaan Wanita". "Mama, sedang melamunkan apa?" suara yang kini terdengar jauh lebih dewasa menyapa pendengarannya. Siska menoleh dan tersenyum melihat Grace. Putrinya itu kini sudah lulus kuliah dan tampil sangat profesional dengan setelan kemeja kerja. Grace tidak lagi terlihat seperti gadis kecil yang ketakutan, melainkan wanita muda yang penuh percaya diri. "Mama hanya tidak menyangka, Grace. Phoenix House sudah membantu lebih dari se

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 144

    Malam semakin larut saat mobil Arga memasuki pelataran sebuah rumah baru yang lebih tenang dan asri. Arga sengaja tidak membawa Siska kembali ke rumah besar keluarganya atau ke tempat lama yang penuh kenangan pahit. Dia ingin mereka memulai semuanya dari titik nol, di sebuah hunian yang dia cicil sendiri dengan kerja kerasnya. Arga menuntun Siska masuk ke dalam kamar utama. Ruangan itu tidak terlalu luas, namun terasa sangat hangat dengan cahaya lampu tidur berwarna kekuningan. Kelopak bunga mawar putih tersebar di atas ranjang, memberikan aroma yang sangat menenangkan. "Selamat datang di rumah kita yang sebenarnya, Siska," bisik Arga sambil menutup pintu kamar perlahan. Siska berdiri di tengah ruangan, matanya berkaca-kaca menatap sekeliling. "Rumah kita. Kata-kata itu terdengar sangat indah di telingaku, Mas." Arga berjalan mendekat, dia berdiri tepat di belakang Siska dan melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. Dia menyandarkan dagunya di bahu Siska, menatap pantulan

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 32

    Cahaya lampu putih yang sangat terang membelah tirai hujan di jalan tol yang gelap itu. Siska masih meringkuk di kursi penumpang, memeluk lututnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Di belakangnya, deru mesin mobil sport yang berat terdengar mendekat, lalu berhenti dengan suara decitan halus ya

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 30

    "Apakah kamu yakin sanggup melakukannya, Siska? Balas dendam membutuhkan hati yang jauh lebih dingin daripada lantai dapur tempatmu pingsan tempo hari."Suara bariton Arga seolah masih berbisik di telinga Siska saat ia menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar utama. Pertanyaan itu dilontarkan

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 29

    "Aku datang tepat waktu, Arga, seperti yang kamu inginkan dalam pesanmu tadi siang." Siska melangkah masuk ke dalam ruang VIP Iron & Orchid dengan langkah yang jauh lebih mantap daripada hari-hari sebelumnya. Meskipun sisa-sisa rasa lemas akibat demam masih sedikit terasa di persendiannya, namun

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 28

    "Cepat sembuh, Nyonya Siska. Aku benci melihatmu lemah dan tidak berdaya seperti ini, karena hanya aku yang boleh membuatmu berlutut, bukan rasa sakitmu." Gema suara Arga semalam seolah masih bergetar di udara kamar yang kini terasa sangat luas bagi Siska. Ketika ia terbangun pagi ini, demamnya me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status