ANMELDEN
Tawa riuh para undangan dalam acara Gala Cakrawala Bisnis, memenuhi ballroom, Acara Tahunan yang diadakan Hendri untuk berkumpulnya para pengusaha muda untuk menjalin silaturahmi dan kerjasama.
Hendri adalah Ketua dari perkumpulan pengusaha muda, dia selalu tampil sempurna dalam segala hal, agar bisa menaikkan pamor dan citra dia dikalangan para pengusaha. "Senyum sedikit, Siska. Jangan pasang wajah menyedihkan begitu. Kamu mau orang-orang berpikir aku menyiksa istri sendiri?" Bisikan itu terasa panas dan tajam di telinga Siska, sangat kontras dengan udara malam Bali yang sejuk. Wanita berusia 43 tahun itu menelan ludah, berusaha keras mempertahankan senyum kaku di wajah cantiknya saat tangan Hendri melingkar posesif di pinggangnya. Cengkeraman itu bukan tanda sayang, melainkan peringatan. "Aku sudah tersenyum, Mas," jawab Siska pelan, suaranya nyaris tak terdengar. "Kakiku sakit sekali pakai sepatu hak tinggi ini terus dari tadi sore." "Halah, alasan saja kamu ini. Bilang saja kamu minder karena banyak wanita yang lebih muda dan kencang di sini, kan?" Hendri terkekeh pelan. Bagi orang lain yang melihat dari jauh, itu tampak seperti candaan mesra suami istri, padahal mata pria itu menatap Siska dengan kilatan meremehkan yang menyakitkan. "Coba kamu lihat istri Pak Gunawan di sana itu. Umurnya sama denganmu, tapi kulitnya masih segar dan kencang. Tidak keriput dan layu seperti lehermu itu." Jantung Siska berdenyut nyeri. Refleks, tangan halusnya meraba leher jenjangnya sendiri yang sebenarnya masih sangat terawat. Rasa tidak percaya diri langsung merayapi benaknya. "Mas... kenapa harus bicara begitu di sini? Aku sudah berusaha tampil cantik untuk Mas," lirih Siska. "Dengar Siska, kamu harus berterima kasih karena aku masih mau membawamu ke pesta bergengsi begini. Kalau bukan demi citraku sebagai pengusaha keluarga baik-baik, aku lebih baik bawa Veni. Dia jauh lebih enak dipandang, lebih muda, dan tidak membosankan sepertimu." Mata Siska memanas seketika. Nama itu lagi. Sekretaris suaminya. Wanita muda yang selalu dibawa Hendri ke luar kota jika tidak ada acara formal yang mewajibkan membawa istri sah. "Mas, tolong... aku lelah. Aku mau ke toilet sebentar," pinta Siska dengan suara bergetar. "Pergilah. Jangan lama-lama. Jangan bikin malu aku dengan wajah sembabmu itu." Siska berjalan cepat meninggalkan keramaian ballroom. Dia tidak menuju toilet, melainkan terus melangkah keluar lobi hotel menuju jalanan Legian yang ramai dan bising. Dadanya sesak bukan main. Dia butuh udara. Dia butuh melupakan suara Hendri yang terus berdengung di kepalanya, mengatakan bahwa dia tua, jelek, dan tidak berguna. Kaki Siska melangkah tanpa arah yang jelas, mengikuti insting lukanya, hingga dia berhenti di depan sebuah bar dengan lampu neon redup yang berkedip-kedip. Tanpa pikir panjang, wanita yang biasanya sangat menjaga martabat itu masuk ke dalam. "Satu gelas vodka. Double," pinta Siska pada bartender begitu dia duduk di kursi tinggi di ujung bar. "Malam yang berat, Nona?" tanya bartender itu ramah sambil menuangkan minuman. Satu gelas. Dua gelas. Tiga gelas. Dunia di sekitar Siska mulai berputar. Wajah menyebalkan dan kata-kata tajam Hendri di kepalaku mulai kabur, berganti dengan rasa rindu yang menyiksa. Siska menelungkupkan wajahnya di meja bar. Kenapa? Kenapa setelah semua pengabdian dan kesabarannya selama ini, Hendri tidak pernah mencintainya? "Sendirian saja?" Sebuah suara menyapa dari samping. Siska menoleh dengan pandangan yang buram. Sosok tinggi tegap berdiri di sana, namun pandangan Siska yang kabur hanya menangkap siluet pria itu. "Pergi... aku mau sendiri," gumam Siska, mencoba berdiri tapi tubuhnya oleng. Tangan kekar pria itu menahan bahu Siska dengan sigap sebelum dia jatuh ke lantai. "Hati-hati. Kamu sudah terlalu mabuk untuk berdiri." Siska menyipitkan mata, mencoba memfokuskan pandangannya. Aroma parfum maskulin yang segar dan mahal tercium. Dalam mabuknya, otak Siska memproyeksikan sosok yang paling dia harapkan. "Mas... Mas Hendri?" tanya Siska lirih. Pria itu terdiam sejenak, menatap Siska dengan tatapan yang sulit diartikan. "Aku bukan Hendri, Aku antar kamu istirahat ya. Kamu tidak aman sendirian di tempat seperti ini." "Mas Hendri jemput aku?" Siska tertawa sumbang, air mata tiba-tiba menetes membasahi pipinya yang memerah karena alkohol. "Tumben... biasanya Mas cuma bisa maki-maki aku. Mas sudah tidak marah sama Siska?" Pria itu tidak menjawab. Dia memapah Siska keluar dari bar yang bising itu, membawanya masuk ke dalam sebuah mobil, dan tak lama kemudian mereka sampai di sebuah kamar penginapan. Saat pria itu membaringkan Siska di kasur yang empuk, Siska menahan tangan pria itu agar tidak pergi. "Mas... jangan pergi..." rengek Siska, menarik leher pria itu hingga wajah mereka begitu dekat. Napas hangat pria itu menerpa wajah Siska. "Kenapa Mas jahat sekali sama Siska? Siska kurang apa, Mas? Siska rawat rumah, rawat Grace, jaga penampilan mati-matian demi Mas..." "Sstt... tenanglah," bisik pria itu lembut. Jemarinya yang kasar namun hangat menyeka air mata di pipi Siska. Sentuhan itu... begitu memabukkan bagi Siska. Berbeda jauh dengan sentuhan Hendri yang biasanya kasar, dingin, dan menuntut. "Aku kangen Mas yang dulu..." racau Siska lagi, memeluk tubuh tegap itu erat-erat, seolah takut pria itu akan menghilang jika dia melepaskannya. "Cintai aku, Mas. Sekali saja... tolong buat aku merasa diinginkan. Jangan bilang aku layu... jangan bilang aku tua..." "Kamu cantik, Siska. Sangat cantik, kamu sempurna dimataku Siska, setelah sekian lama, akhirnya aku menemukanmu" ucap pria itu. Suaranya terdengar begitu tulus di telinga Siska yang berdenging. "Buktikan..." tantang Siska setengah berbisik, lalu tanpa sadar dia menarik tengkuk pria itu dan mencium bibirnya. Pria itu sempat kaku sejenak, namun detik berikutnya dia membalas ciuman Siska. Ciuman yang menuntut, bergairah, namun penuh pemujaan. Malam itu, dalam ketidak sadarannya, Siska merasa menjadi wanita paling dicintai di dunia. Tidak ada kata-kata pedas. Tidak ada hinaan tentang fisiknya. Hanya desah napas, kehangatan kulit, dan penyatuan yang membuatnya lupa siapa dirinya, lupa pada luka bakar di betisnya, dan lupa pada sakit hatinya. *** Sinar matahari pagi yang terik menusuk kelopak mata Siska. Kepalanya pening luar biasa, Siska menoleh ke samping dan jantungnya nyaris berhenti berdetak saat itu juga. Seorang pria muda sedang tertidur pulas di sebelahnya. Dada bidangnya yang polos naik turun dengan teratur. Kulitnya kecokelatan eksotis, otot lengannya tercetak jelas. Wajahnya tampan dengan rahang tegas tapi terlihat... sangat muda. Jauh lebih muda darinya. Dia bukan Hendri. "Ya Tuhan!" pekik Siska tertahan, menutup mulutnya dengan tangan gemetar. Siska menyingkap selimut dan melihat tubuhnya sendiri polos tanpa benang. Memori semalam berkelebat cepat di kepalanya seperti film rusak. Ciuman itu, sentuhan itu, desahan itu... Dia melakukannya dengan orang asing! "Gila... Siska, kamu gila!" Sesal Siska pada dirinya sendiri sambil gemetar memunguti gaun pestanya yang tercecer berantakan di lantai. Siska berpakaian secepat kilat, menahan rasa tangis yang mendesak keluar. Apa yang sudah dia lakukan? Dia istri orang. Bagaimana kalau Hendri tahu? Bagaimana kalau Grace tahu ibunya tidur dengan laki-laki yang mungkin seumuran dengan teman-teman sekolah Grace? Dengan panik, Siska menyambar tas tangannya di atas meja nakas, memastikan dompet dan ponselnya ada, lalu berlari keluar dari penginapan itu tanpa menoleh lagi ke arah pria yang masih terlelap itu. Rasa bersalah menghantam Siska lebih keras daripada sakit kepalanya. “Maafin aku mas Hendri, Maafin aku Grace.” Dia berlalu sambil menangis.Pagi itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah mewakili perasaan Siska yang sedang berjalan menuju pintu masuk Iron & Orchid Wellness Center. Tubuhnya terasa berat, seakan ada beban berton-ton yang mengikat pergelangan kakinya. Siska menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Dia mengenakan pakaian olahraga ketat berwarna hitam yang sengaja Arga siapkan untuknya. Pakaian itu terasa seperti kulit kedua yang membuatnya merasa telanjang dan terekspos. Begitu memasuki area VIP, Siska langsung disambut oleh sosok Arga yang sudah berdiri tegak di tengah ruangan. Pria itu tampak sangat berbeda dari Arga yang dia temui di Bali. Tidak ada senyum nakal atau binar main-main di matanya. Yang ada hanyalah sosok pelatih profesional yang dingin dan disiplin. "Tepat waktu, Ibu Siska," ucap Arga dengan nada formal yang kaku. Pria itu menatap jam di pergelangan tangannya tanpa melihat ke arah Siska. "Silakan taruh tas Anda di loker. Kita mulai dengan pemanasa
Pukul 06.45 pagi.Siska memarkirkan mobilnya di basement gedung Iron & Orchid. Tangannya basah oleh keringat dingin. Dia sengaja datang lima belas menit lebih awal karena takut terlambat. Ancaman Arga tentang mengirim video ke kantor Hendri terus berputar di kepalanya seperti sirene bahaya.Siska mengenakan setelan olahraga terburuk yang dia punya: kaos oblong kedodoran bekas fun run lima tahun lalu dan celana training gombrong. Dia sengaja memakai ini. Dia tidak mau Arga melihat bentuk tubuhnya. Dia ingin pria itu jijik, bosan, lalu melepaskannya.Dengan langkah ragu, Siska naik ke lantai lobi. Resepsionis yang kemarin menyapanya dengan ramah sudah menunggu."Selamat pagi, Ibu Siska. Silahkan langsung masuk. Coach Arga berpesan Ibu bisa menggunakan ruang ganti VIP nomor 1. Itu akses khusus untuk Ibu.""VIP?" tanya Siska bingung. "Saya tidak pesan VIP.""Itu fasilitas complimentary dari owner, Bu. Silahkan," resepsionis itu menyerahkan kartu akses berwarna hitam.Siska menerimanya den
"Kamu kenapa sih, Sis? Dari tadi mukamu pucat banget kayak orang mau pingsan. Tadi di dalem diapain aja sama Coach Arga?" Suara Mira yang cempreng menyentak kesadaran Siska. Wanita itu nyaris tersandung hak sepatunya sendiri karena kakinya masih gemetar hebat. Bayangan wajah Arga yang dingin dan ancaman di ruangannya tadi masih menari-nari di pelupuk matanya. Kontrak itu. Rekaman CCTV itu. Anting itu. Semuanya berputar menjadi pusaran teror yang mencekik leher Siska. Siska menoleh pada Mira. Dia berusaha memasang senyum paling meyakinkan yang bisa dibuatnya meski rasanya bibirnya kaku seperti kayu. "Enggak diapa-apain kok, Mir. Cuma bahas jadwal latihan aja. Dia... tegas banget orangnya," jawab Siska pelan sambil meremas tali tasnya erat-erat. "Iya lah tegas! Namanya juga profesional. Tapi kamu sadar nggak sih tatapan dia ke kamu tadi? Wah, intens banget, Sis! aku curiga dia naksir kamu deh," celoteh Mira tanpa dosa sambil menekan tombol kunci mobilnya. "Coba bayangin, owner
"Siska? Kok bengong sih?" Suara cempreng Tante Mira memecah keheningan, menyentak Siska kembali ke realita yang mengerikan. Mira menyikut pinggang wanita itu pelan. "Jabat tangannya. Jangan malu-maluin aku dong. Coach Arga ini orang sibuk, lho." Siska menelan ludah yang terasa seperti pasir berduri. Jika dia tidak menjabat tangan pria itu, Mira akan curiga. Jika dia lari sekarang, Arga pasti akan melakukan sesuatu yang nekat. Pria ini sudah berani memodifikasi anting Siska menjadi cincin dan memakainya terang-terangan di hadapannya. Dia jelas tidak takut pada apa pun. Dengan tangan gemetar hebat yang tak bisa disembunyikan, Siska mengangkat lengannya. Pelan sekali. Seperti orang yang menyerahkan diri ke tiang gantungan. Saat kulit telapak tangan Siska bersentuhan dengan kulit telapak tangan Arga yang besar dan kasar, pria itu langsung meremasnya. Kuat. Sangat kuat. Jauh dari jabat tangan sopan biasa. "Tangan Ibu dingin sekali," komentar Arga. Bibirnya menyunggingkan senyum t
Dengan langkah gontai, Siska sampai di kamar hotelnya, hotel yang sama, yang Siska habiskan untuk bermalam bersama pria itu. Siska menyeret kakinya yang gemetar keluar dari kamar mandi, setelah satu jam di dalam meratapi kebodohannya. Kulitnya memerah dan perih karena digosok terlalu keras di bawah guyuran air panas. Dia berharap panas itu bisa melunturkan jejak sentuhan pria asing semalam, namun rasa kotor itu tetap melekat dijiwanya. "Bodoh. Siska bodoh," Siska menatap pada pantulan wajah sembab di cermin. "Kamu istri orang. Bagaimana bisa kamu tidur dengan orang asing hanya karena mabuk?" Siska buru-buru memoles wajahnya dengan foundation tebal untuk menutupi mata bengkak dan tanda merah samar di lehernya. Dia harus terlihat sempurna sebelum Hendri kembali dari main golf. Dia harus mengubur rahasia ini di Bali selamanya. Wanita itu meraih tas tangannya untuk merapikan isi dompet. Namun saat merogoh saku bagian dalam, jarinya menyentuh sesuatu yang asing. Teksturnya keras
Tawa riuh para undangan dalam acara Gala Cakrawala Bisnis, memenuhi ballroom, Acara Tahunan yang diadakan Hendri untuk berkumpulnya para pengusaha muda untuk menjalin silaturahmi dan kerjasama. Hendri adalah Ketua dari perkumpulan pengusaha muda, dia selalu tampil sempurna dalam segala hal, agar bisa menaikkan pamor dan citra dia dikalangan para pengusaha."Senyum sedikit, Siska. Jangan pasang wajah menyedihkan begitu. Kamu mau orang-orang berpikir aku menyiksa istri sendiri?"Bisikan itu terasa panas dan tajam di telinga Siska, sangat kontras dengan udara malam Bali yang sejuk.Wanita berusia 43 tahun itu menelan ludah, berusaha keras mempertahankan senyum kaku di wajah cantiknya saat tangan Hendri melingkar posesif di pinggangnya. Cengkeraman itu bukan tanda sayang, melainkan peringatan."Aku sudah tersenyum, Mas," jawab Siska pelan, suaranya nyaris tak terdengar."Kakiku sakit sekali pakai sepatu hak tinggi ini terus dari tadi sore.""Halah, alasan saja kamu ini. Bilang saja kamu