Share

JERAT MANIS BERONDONG POSESIF
JERAT MANIS BERONDONG POSESIF
Author: Tinta Senyap

Bab 1

Author: Tinta Senyap
last update publish date: 2026-01-23 21:56:19

Tawa riuh para undangan dalam acara Gala Cakrawala Bisnis, memenuhi ballroom, Acara Tahunan yang diadakan Hendri untuk berkumpulnya para pengusaha muda untuk menjalin silaturahmi dan kerjasama.

Hendri adalah Ketua dari perkumpulan pengusaha muda, dia selalu tampil sempurna dalam segala hal, agar bisa menaikkan pamor dan citra dia dikalangan para pengusaha.

"Senyum sedikit, Siska. Jangan pasang wajah menyedihkan begitu. Kamu mau orang-orang berpikir aku menyiksa istri sendiri?"

Bisikan itu terasa panas dan tajam di telinga Siska, sangat kontras dengan udara malam Bali yang sejuk.

Wanita berusia 43 tahun itu menelan ludah, berusaha keras mempertahankan senyum kaku di wajah cantiknya saat tangan Hendri melingkar posesif di pinggangnya. Cengkeraman itu bukan tanda sayang, melainkan peringatan.

"Aku sudah tersenyum, Mas," jawab Siska pelan, suaranya nyaris tak terdengar.

"Kakiku sakit sekali pakai sepatu hak tinggi ini terus dari tadi sore."

"Halah, alasan saja kamu ini. Bilang saja kamu minder karena banyak wanita yang lebih muda dan kencang di sini, kan?" Hendri terkekeh pelan.

Bagi orang lain yang melihat dari jauh, itu tampak seperti candaan mesra suami istri, padahal mata pria itu menatap Siska dengan kilatan meremehkan yang menyakitkan.

"Coba kamu lihat istri Pak Gunawan di sana itu. Umurnya sama denganmu, tapi kulitnya masih segar dan kencang. Tidak keriput dan layu seperti lehermu itu."

Jantung Siska berdenyut nyeri. Refleks, tangan halusnya meraba leher jenjangnya sendiri yang sebenarnya masih sangat terawat. Rasa tidak percaya diri langsung merayapi benaknya.

"Mas... kenapa harus bicara begitu di sini? Aku sudah berusaha tampil cantik untuk Mas," lirih Siska.

"Dengar Siska, kamu harus berterima kasih karena aku masih mau membawamu ke pesta bergengsi begini. Kalau bukan demi citraku sebagai pengusaha keluarga baik-baik, aku lebih baik bawa Veni. Dia jauh lebih enak dipandang, lebih muda, dan tidak membosankan sepertimu."

Mata Siska memanas seketika. Nama itu lagi. Sekretaris suaminya. Wanita muda yang selalu dibawa Hendri ke luar kota jika tidak ada acara formal yang mewajibkan membawa istri sah.

"Mas, tolong... aku lelah. Aku mau ke toilet sebentar," pinta Siska dengan suara bergetar.

"Pergilah. Jangan lama-lama. Jangan bikin malu aku dengan wajah sembabmu itu."

Siska berjalan cepat meninggalkan keramaian ballroom. Dia tidak menuju toilet, melainkan terus melangkah keluar lobi hotel menuju jalanan Legian yang ramai dan bising.

Dadanya sesak bukan main. Dia butuh udara. Dia butuh melupakan suara Hendri yang terus berdengung di kepalanya, mengatakan bahwa dia tua, jelek, dan tidak berguna.

Kaki Siska melangkah tanpa arah yang jelas, mengikuti insting lukanya, hingga dia berhenti di depan sebuah bar dengan lampu neon redup yang berkedip-kedip. Tanpa pikir panjang, wanita yang biasanya sangat menjaga martabat itu masuk ke dalam.

"Satu gelas vodka. Double," pinta Siska pada bartender begitu dia duduk di kursi tinggi di ujung bar.

"Malam yang berat, Nona?" tanya bartender itu ramah sambil menuangkan minuman.

Satu gelas. Dua gelas. Tiga gelas. Dunia di sekitar Siska mulai berputar. Wajah menyebalkan dan kata-kata tajam Hendri di kepalaku mulai kabur, berganti dengan rasa rindu yang menyiksa. Siska menelungkupkan wajahnya di meja bar. Kenapa? Kenapa setelah semua pengabdian dan kesabarannya selama ini, Hendri tidak pernah mencintainya?

"Sendirian saja?"

Sebuah suara menyapa dari samping. Siska menoleh dengan pandangan yang buram. Sosok tinggi tegap berdiri di sana, namun pandangan Siska yang kabur hanya menangkap siluet pria itu.

"Pergi... aku mau sendiri," gumam Siska, mencoba berdiri tapi tubuhnya oleng.

Tangan kekar pria itu menahan bahu Siska dengan sigap sebelum dia jatuh ke lantai.

"Hati-hati. Kamu sudah terlalu mabuk untuk berdiri."

Siska menyipitkan mata, mencoba memfokuskan pandangannya. Aroma parfum maskulin yang segar dan mahal tercium. Dalam mabuknya, otak Siska memproyeksikan sosok yang paling dia harapkan.

"Mas... Mas Hendri?" tanya Siska lirih.

Pria itu terdiam sejenak, menatap Siska dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Aku bukan Hendri, Aku antar kamu istirahat ya. Kamu tidak aman sendirian di tempat seperti ini."

"Mas Hendri jemput aku?" Siska tertawa sumbang, air mata tiba-tiba menetes membasahi pipinya yang memerah karena alkohol.

"Tumben... biasanya Mas cuma bisa maki-maki aku. Mas sudah tidak marah sama Siska?"

Pria itu tidak menjawab. Dia memapah Siska keluar dari bar yang bising itu, membawanya masuk ke dalam sebuah mobil, dan tak lama kemudian mereka sampai di sebuah kamar penginapan. Saat pria itu membaringkan Siska di kasur yang empuk, Siska menahan tangan pria itu agar tidak pergi.

"Mas... jangan pergi..." rengek Siska, menarik leher pria itu hingga wajah mereka begitu dekat. Napas hangat pria itu menerpa wajah Siska.

"Kenapa Mas jahat sekali sama Siska? Siska kurang apa, Mas? Siska rawat rumah, rawat Grace, jaga penampilan mati-matian demi Mas..."

"Sstt... tenanglah," bisik pria itu lembut. Jemarinya yang kasar namun hangat menyeka air mata di pipi Siska. Sentuhan itu... begitu memabukkan bagi Siska. Berbeda jauh dengan sentuhan Hendri yang biasanya kasar, dingin, dan menuntut.

"Aku kangen Mas yang dulu..." racau Siska lagi, memeluk tubuh tegap itu erat-erat, seolah takut pria itu akan menghilang jika dia melepaskannya.

"Cintai aku, Mas. Sekali saja... tolong buat aku merasa diinginkan. Jangan bilang aku layu... jangan bilang aku tua..."

"Kamu cantik, Siska. Sangat cantik, kamu sempurna dimataku Siska, setelah sekian lama, akhirnya aku menemukanmu" ucap pria itu. Suaranya terdengar begitu tulus di telinga Siska yang berdenging.

"Buktikan..." tantang Siska setengah berbisik, lalu tanpa sadar dia menarik tengkuk pria itu dan mencium bibirnya.

Pria itu sempat kaku sejenak, namun detik berikutnya dia membalas ciuman Siska. Ciuman yang menuntut, bergairah, namun penuh pemujaan.

Malam itu, dalam ketidak sadarannya, Siska merasa menjadi wanita paling dicintai di dunia. Tidak ada kata-kata pedas. Tidak ada hinaan tentang fisiknya. Hanya desah napas, kehangatan kulit, dan penyatuan yang membuatnya lupa siapa dirinya, lupa pada luka bakar di betisnya, dan lupa pada sakit hatinya.

***

Sinar matahari pagi yang terik menusuk kelopak mata Siska. Kepalanya pening luar biasa, Siska menoleh ke samping dan jantungnya nyaris berhenti berdetak saat itu juga.

Seorang pria muda sedang tertidur pulas di sebelahnya. Dada bidangnya yang polos naik turun dengan teratur. Kulitnya kecokelatan eksotis, otot lengannya tercetak jelas. Wajahnya tampan dengan rahang tegas tapi terlihat... sangat muda. Jauh lebih muda darinya.

Dia bukan Hendri.

"Ya Tuhan!" pekik Siska tertahan, menutup mulutnya dengan tangan gemetar.

Siska menyingkap selimut dan melihat tubuhnya sendiri polos tanpa benang. Memori semalam berkelebat cepat di kepalanya seperti film rusak. Ciuman itu, sentuhan itu, desahan itu... Dia melakukannya dengan orang asing!

"Gila... Siska, kamu gila!" Sesal Siska pada dirinya sendiri sambil gemetar memunguti gaun pestanya yang tercecer berantakan di lantai.

Siska berpakaian secepat kilat, menahan rasa tangis yang mendesak keluar. Apa yang sudah dia lakukan? Dia istri orang. Bagaimana kalau Hendri tahu? Bagaimana kalau Grace tahu ibunya tidur dengan laki-laki yang mungkin seumuran dengan teman-teman sekolah Grace?

Dengan panik, Siska menyambar tas tangannya di atas meja nakas, memastikan dompet dan ponselnya ada, lalu berlari keluar dari penginapan itu tanpa menoleh lagi ke arah pria yang masih terlelap itu. Rasa bersalah menghantam Siska lebih keras daripada sakit kepalanya.

“Maafin aku mas Hendri, Maafin aku Grace.” Dia berlalu sambil menangis.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 149

    Setelah makan malam selesai, mereka berjalan perlahan menyusuri bibir pantai. Air laut yang dingin sesekali menyentuh kaki mereka. Arga tiba-tiba berhenti dan menarik Siska ke dalam pelukannya. "Siska, aku punya satu hadiah lagi untukmu," ucap Arga. "Hadiah apa lagi, Mas? Tadi kan sudah makan malam yang luar biasa," tanya Siska heran. Arga mengeluarkan sebuah kalung perak dengan liontin berbentuk sayap burung phoenix yang kecil namun sangat detail. Dia memasangkannya di leher Siska. "Burung phoenix ini melambangkan kamu. Kamu yang sudah bangkit dari abu kehancuran di masa lalu, dan kini terbang tinggi bersamaku. Jangan pernah merasa rendah diri, ya?" bisik Arga di telinga Siska. Siska menyentuh liontin itu dengan jari yang gemetar. Air mata kebahagiaan tidak bisa lagi ia bendung. "Aku mencintaimu, Mas Arga. Sangat mencintaimu." "Aku lebih mencintaimu, Siska," jawab Arga sebelum mendaratkan ciuman yang sangat dalam di bibir Siska di bawah siraman cahaya bulan Bali yang pera

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 148

    Pagi itu, rumah terasa sedikit lebih sibuk dari biasanya. Siska baru saja selesai menyiapkan sarapan saat Arga turun dari lantai atas dengan setelan kemeja santai berwarna biru muda. Wajahnya tampak sangat segar, dengan senyum yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Hari ini adalah hari istimewa, ulang tahun pernikahan mereka yang ketiga sejak janji suci itu diucapkan kembali di rumah baru mereka. "Selamat ulang tahun pernikahan, istriku yang hebat," bisik Arga sambil memeluk Siska dari belakang saat wanita itu sedang meletakkan piring di meja. Siska menoleh dan tersenyum manis. "Selamat ulang tahun pernikahan juga, Mas Arga. Terima kasih sudah bersabar menghadapi aku selama tiga tahun ini." "Bersabar? Aku rasa aku tidak perlu bersabar untuk mencintai wanita sepertimu, Siska. Itu adalah hal termudah yang pernah aku lakukan dalam hidupku," Arga mengecup pipi Siska dengan lembut. Grace turun dengan wajah ceria, dia sudah siap dengan pakaian santainya. "Selamat ulang tahun pernika

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 147

    Beberapa minggu setelah pemakaman Hendri, kehidupan Siska dan Arga berjalan dengan kedamaian yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Namun, di balik senyum yang selalu Siska tunjukkan di depan yayasan dan keluarganya, ada sebuah keresahan kecil yang mulai tumbuh di lubuk hatinya. Sebuah keresahan yang bersifat sangat pribadi, yang berkaitan dengan jati dirinya sebagai seorang istri. Pagi itu, Siska duduk di tepi ranjang sambil menatap kalender kecil di ponselnya. Wajahnya tampak tegang, jemarinya sedikit bergetar saat menghitung hari. "Sudah telat dua minggu," gumam Siska lirih. Ada secercah harapan yang tiba-tiba membuncah di dadanya. Harapan yang mungkin terdengar mustahil mengingat usianya, namun tetap saja membuat jantungnya berdebar kencang. Apakah mungkin Tuhan memberikannya keajaiban? Apakah mungkin di dalam rahimnya kini sedang tumbuh buah cintanya dengan Arga? "Mama, kenapa belum turun? Papi sudah menunggu di bawah untuk sarapan," suara Grace terdengar dari balik

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 146

    Siska masih merasakan kehangatan kecupan Arga di keningnya. Kata-kata suaminya tentang menjenguk Hendri masih terngiang jelas. Tawaran itu adalah sebuah bukti betapa luasnya hati Arga. Pria itu tidak hanya mencintai Siska, tetapi juga menghormati setiap kepingan masa lalu yang membentuk Siska menjadi wanita seperti sekarang. "Mas benar-benar tidak keberatan kalau kita ke sana?" tanya Siska meyakinkan sekali lagi. Tangannya masih memegang serbet yang tadi ia gunakan untuk merapikan meja. Arga tersenyum lembut, lalu menarik sebuah kursi dan duduk kembali di depan Siska. "Kenapa aku harus keberatan, Sayang? Siska, dengarkan aku. Rasa cemburu itu lahir dari rasa tidak percaya diri. Aku sangat percaya diri bahwa kamulah milikku sekarang. Menjenguk Hendri bukan berarti kita kembali ke masa lalu, tapi itu adalah cara kita menutup buku lama dengan cara yang elegan." Siska menghela napas panjang, merasa bebannya terangkat. "Terima kasih, Mas. Aku sempat takut kamu akan merasa tidak nyama

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 145

    Matahari pagi menyinari halaman luas sebuah rumah tapak bergaya modern minimalis yang asri. Rumput hijau yang terpotong rapi menjadi tempat favorit bagi beberapa ekor kelinci peliharaan yang sedang asyik bermain. Tiga tahun telah berlalu sejak malam yang sakral itu, dan hidup Siska Amalia telah berubah total, jauh melampaui imajinasi terliarnya sekalipun. Siska berdiri di teras rumah, menyesap teh melati hangatnya sambil menatap papan nama kayu kecil yang tergantung di paviliun samping rumahnya. Di sana tertulis: "Phoenix House - Yayasan Pemberdayaan Wanita". "Mama, sedang melamunkan apa?" suara yang kini terdengar jauh lebih dewasa menyapa pendengarannya. Siska menoleh dan tersenyum melihat Grace. Putrinya itu kini sudah lulus kuliah dan tampil sangat profesional dengan setelan kemeja kerja. Grace tidak lagi terlihat seperti gadis kecil yang ketakutan, melainkan wanita muda yang penuh percaya diri. "Mama hanya tidak menyangka, Grace. Phoenix House sudah membantu lebih dari se

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 144

    Malam semakin larut saat mobil Arga memasuki pelataran sebuah rumah baru yang lebih tenang dan asri. Arga sengaja tidak membawa Siska kembali ke rumah besar keluarganya atau ke tempat lama yang penuh kenangan pahit. Dia ingin mereka memulai semuanya dari titik nol, di sebuah hunian yang dia cicil sendiri dengan kerja kerasnya. Arga menuntun Siska masuk ke dalam kamar utama. Ruangan itu tidak terlalu luas, namun terasa sangat hangat dengan cahaya lampu tidur berwarna kekuningan. Kelopak bunga mawar putih tersebar di atas ranjang, memberikan aroma yang sangat menenangkan. "Selamat datang di rumah kita yang sebenarnya, Siska," bisik Arga sambil menutup pintu kamar perlahan. Siska berdiri di tengah ruangan, matanya berkaca-kaca menatap sekeliling. "Rumah kita. Kata-kata itu terdengar sangat indah di telingaku, Mas." Arga berjalan mendekat, dia berdiri tepat di belakang Siska dan melingkarkan lengannya di pinggang wanita itu. Dia menyandarkan dagunya di bahu Siska, menatap pantulan

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 34

    "Belum, Arga. Ada apa? Kenapa kamu mengetuk pintuku malam-malam begini?" Suara Siska terdengar serak dari balik daun pintu kamar utama yang tertutup rapat. Ia masih meringkuk di bawah selimut, menghirup aroma maskulin Arga yang tertinggal di bantal, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang masi

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 32

    Cahaya lampu putih yang sangat terang membelah tirai hujan di jalan tol yang gelap itu. Siska masih meringkuk di kursi penumpang, memeluk lututnya dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya. Di belakangnya, deru mesin mobil sport yang berat terdengar mendekat, lalu berhenti dengan suara decitan halus ya

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 30

    "Apakah kamu yakin sanggup melakukannya, Siska? Balas dendam membutuhkan hati yang jauh lebih dingin daripada lantai dapur tempatmu pingsan tempo hari."Suara bariton Arga seolah masih berbisik di telinga Siska saat ia menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar utama. Pertanyaan itu dilontarkan

  • JERAT MANIS BERONDONG POSESIF   Bab 29

    "Aku datang tepat waktu, Arga, seperti yang kamu inginkan dalam pesanmu tadi siang." Siska melangkah masuk ke dalam ruang VIP Iron & Orchid dengan langkah yang jauh lebih mantap daripada hari-hari sebelumnya. Meskipun sisa-sisa rasa lemas akibat demam masih sedikit terasa di persendiannya, namun

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status