MasukIn the heart of the city, there exists a hidden world of werewolves, where humans remain unaware of the shapeshifters living among them. Anna is a hardworking journalist, determined to uncover the secrets of this world and reveal them to the public. But when she meets the enigmatic and alluring alpha werewolf, Edmond, she finds herself drawn to him in ways she never imagined. Edmond is used to keeping his distance from humans, but something about Anna makes him want to break all the rules. As they navigate their forbidden attraction, they must also contend with a dangerous rival pack that threatens to destroy everything they hold dear. Caught between their desire for each other and the dangers that surround them, Anna and Edmond must find a way to bridge the divide between their worlds and protect their love at all costs. But when an unexpected betrayal threatens to tear them apart, they must choose between their loyalty to their pack and their loyalty to each other. As the stakes grow higher and the danger becomes more real, Anna and Edmond will have to fight for their love and their lives in a world where anything is possible and everything is at stake. Will their love be enough to overcome the obstacles in their path, or will the secrets and dangers of the werewolf world tear them apart forever?
Lihat lebih banyak"Kamu... sangat cantik," bisik Arka di telinga Nia, membuatnya menggelinjang. Arka mulai menciumi leher Nia yang jenjang. Bibirnya menelusuri setiap inci kulit lembut itu, merasakan denyut nadi Nia yang semakin kencang.
Nia mendesah lebih keras kali ini. "Arka...hhmmhh…. kita tidak seharusnya..."
"Tapi kita menginginkannya," balas Arka, terus menelusuri lehernya.
Tangannya mulai meraba punggung Nia, kemudian bergerak ke depan. Jari-jarinya mulai mendekati dada Nia yang ranum, membayangkan bagaimana rasanya menyentuh bagian yang selama ini hanya bisa dia pandangi dari jauh.
Nia mendesah lagi, tapi kali ini ada nada panik dalam suaranya. "Aaaahhhh…..Tunggu..."
*
TING TONG. TING TONG.
Suara bel pintu yang nyaring dan berulang memecah konsentrasi Arka. Kepalanya yang sedang pusing menatap layar laptop, dipenuhi baris-baris kode HTML yang tak kunjung membentuk website yang sempurna, terangkat dengan geram.
"Siapa ini?" gumamnya kesal, suaranya parau. Jam di sudut layar menunjukkan pukul 09.10 pagi. Bukan waktu yang biasa untuk tamu.
TING TONG.
Bel itu berbunyi untuk ketiga kalinya, lebih panjang dan lebih nekat, seolah menantangnya untuk tidak membukakan pintu.
Dengan mengeluh, Arka mendorong tubuhnya dari kursi. Dia mengenakan kaos oblong lusuh dan celana training yang sudah pudar, seragamnya selama berbulan-bulan bekerja dari rumah. Ruang kerjanya yang sebenarnya adalah sudut ruang tamu berantakan dengan tumpukan kertas dan cangkir kopi yang sudah kering.
Dia membuka pintu dengan gerakan kasar, siap melontarkan kata-kata tak ramah. Namun, semua kata itu tertahan di kerongkongannya.
Berdiri di balik pintu adalah seorang perempuan muda.
"Selamat pagi, Pak," ucap perempuan itu dengan suara merdu namun penuh hormat, disertai sedikit anggukan kepala.
Arka hanya bisa menatap. Perempuan itu mengenakan seragam sederhana: kemeja putih lengan pendek dan rok hitam polos hingga sedikit di atas lutut. Di tangannya, ada sebuah tas kain sederhana dan sebuah map biru. Rambutnya yang coklat bergelombang diikat rapi ke belakang, menampilkan wajahnya yang oval dengan mata besar berwarna coklat tua. Kulitnya yang eksotis tampak halus dan sehat, diterpa sinar matahari pagi.
Tapi yang membuat Arka terpana bukanlah kerapiannya. Itu adalah keseluruhan fisiknya. Lehernya yang jenjang menjulur dari kerah baju yang rapi. Kemeja putihnya, meski sederhana, tidak bisa menyembunyikan bentuk payudaranya yang bulat dan ranum. Pinggangnya ramping, kontras dengan pinggulnya yang berlekuk seksi, dibalut rok hitam yang pas di badan. Tubuhnya adalah perpaduan sempurna antara keanggunan dan daya tarik fisik yang primitif.
Arka sadar dirinya terdiam terlalu lama. "I-ya. Selamat pagi," balasnya akhirnya, berusaha mengembalikan suaranya yang tiba-tiba serak.
"Maaf mengganggu, Pak. Saya Nia. Dari Yayasan Pekerja ART Tunas Mandiri," ujar perempuan itu, memperkenalkan diri dengan sopan. Matanya yang jernih menatap Arka, tidak berkedip, seakan menilai pria di hadapannya. "Saya dijadwalkan untuk bertemu Ibu Clara dan Bapak hari ini."
Nia. Namanya sederhana, tapi terasa anehnya di telinga Arka. Lalu, seperti tersambar petir, ingatannya kembali. Percakapan singkat dengan Clara seminggu lalu.
"Aku sudah hubungi yayasan ART. Mereka akan kirim calon pembantu minggu depan. Kamu yang terima saja, ya? Aku sibuk."
Cara Clara berbicara, tanpa meminta pendapatnya, masih terngiang menyakitkan. Tapi di depan matanya sekarang adalah jawaban dari "ya"-nya yang setengah hati itu.
"Oh," ucap Arka, setelah mengingat ucapan Clara. Ia mencoba terdengar normal. "Nia. Iya, Ibu Clara bilang. Tapi... dia sudah berangkat kerja."
Ekspresi Nia sedikit berubah, tapi hanya sedetik. "Saya mengerti. Biasanya, wawancara dilakukan bersama calon majikan. Tapi mungkin Ibu sangat sibuk."
Arka merasa sedikit tersindir, entah mengapa. "Dia manager. Waktunya sangat terbatas," jawabnya, dan dia bisa mendengar nada defensif dalam suaranya sendiri.
"Tentu saja, Pak. Saya paham," jawab Nia dengan cepat, seolah menangkap kekakuan itu. "Kalau begitu, mungkin saya bisa kembali lain waktu?"
Arka melihatnya akan pergi, dan sebuah pikiran aneh melintas. Clara akan marah jika urusan pembantu ini molor lagi. Dan... dia tidak ingin perempuan ini pergi. Belum.
"Tidak perlu," ujarnya, mungkin terlalu cepat. Dia membuka pintu lebih lebar. "Silakan masuk. Kita... kita bisa bicara sebentar."
Nia tampak ragu sejenak, matanya mengamati Arka dan ruangan di belakangnya. "Baiklah, Pak. Terima kasih."
Dia melangkah masuk, sepatu flat-nya nyaris tidak bersuara di lantai marmer yang dingin. Aroma sabun mandi yang sederhana dan segar terbawa bersamanya, menciptakan kontras yang mencolok dengan aroma kopi dan kesendirian yang biasa menyelimuti rumah itu.
Arka menutup pintu, tiba-tiba sangat sadar akan kekacauan ruang tamunya. Dia buru-buru merapikan beberapa kertas dan mengambil cangkir kopi dari meja sofa.
"Maaf, keadaan agak... berantakan," ucapnya, merasa perlu berkomentar.
"Tidak apa-apa, Pak. Rumah besar seperti ini memang butuh perhatian ekstra," balas Nia dengan diplomatis. Dia tetap berdiri tegak, tasnya masih erat dipegang.
"Silakan duduk," kata Arka, menunjuk ke sofa.
"Terima kasih, Pak." Nia duduk di tepi sofa, punggungnya lurus, sikapnya sempurna. Dia meletakkan tasnya di lantai dan map biru di pangkuannya. "Ini surat perkenalan dan rekomendasi dari yayasan."
Arka mengambil map itu. Tangannya hampir bersentuhan dengan jari Nia, dan sebuah sensasi listrik singkat menyengatnya. Dia membuka map itu dengan cepat, pura-pura membaca dokumen di dalamnya. Sebenarnya, matanya hanya melayang di atas tulisan, tidak menangkap satu kata pun. Pikirannya dipenuhi oleh siluet tubuh perempuan di depannya.
"Dari dokumen ini, kelihatannya... baik," ujarnya, menutup map itu. Dia duduk di kursi di seberang Nia, merasa perlu menjaga jarak. "Jadi, kamu... Nia. Umur 23 tahun?"
"Betul, Pak. Saya lulusan SMA, dan sudah mengikuti pelatihan dari yayasan."
"Kenapa memilih bekerja sebagai ART?" tanya Arka, mencoba terdengar seperti seorang majikan yang melakukan wawancara.
Nia menundukkan pandangannya sebentar. "Saya harus menghidupi diri sendiri, Pak. Dan ibu saya. Ini adalah pekerjaan yang halal dan terhormat."
Arka mengangguk, tiba-tiba merasa seperti pria brengsek yang menanyai hidupnya. "Tentu. Tentu saja." Ia berdehem. "Ibu Clara yang akan menentukan tugas-tugasmu nanti. Tapi umumnya, semua pekerjaan rumah tangga: membersihkan, mencuci, menyetrika, memasak."
"Saya siap, Pak. Saya cepat belajar."
"Kamu akan tinggal di sini. Ada kamar pembantu di belakang, dekat dapur."
"Saya mengerti."
Diam yang canggung pun jatuh. Arka tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia hanya bisa memandangi Nia, mencatat setiap detail. Cara cahaya dari jendela menyentuh pipinya yang halus. Cara bibirnya yang alami terbentuk sempurna. Cara rok hitam itu menekankan pahanya yang ramping.
Nia tampak sadar akan pandangan Arka. Dia sedikit gelisah, merapikan ujung roknya. “Lalu bagaimana, Pak?”
Arka tersentak. Dia berdiri, tiba-tiba merasa ruangan ini terlalu sempit. "Maukah kamu... melihat kamarmu dulu? Sebelum memutuskan."
Itu adalah tawaran aneh. Dia sudah seperti mencoba menjual kamar itu, bukan mewawancarai calon pembantu.
"Tentu, Pak. Terima kasih," jawab Nia, tetap sopan.
Arka memandunya melewati koridor menuju kamar di belakang rumah. Dia membuka pintu kamar kecil itu. Kamarnya bersih, ada tempat tidur tunggal, lemari, dan sebuah jendela kecil.
"Ini kamar mandi dalam," ujarnya, menunjuk ke sebuah pintu.
Nia melangkah masuk, matanya menyapu ruangan. "Bagus sekali, Pak. Lebih dari cukup untuk saya." Dia berbalik dan tersenyum pada Arka untuk pertama kalinya.
Senyuman itu seperti sinar matahari di tengah awan. Itu mengubah seluruh wajahnya, membuatnya semakin memesona. Arka merasa dadanya sesak.
"Baik. Kalau... kalau kamu setuju, kamu bisa kembali lagi nanti sore,” ucap Arka, tergagap.
Walter had always been a loyal member of the pack, obediently following Walter's command and respecting his authority. He had never thought about challenging Edmond's leadership or taking control of the pack himself. But as Pamela continued to subtly plant seeds of doubt in his mind, he started to see things differently.At first, he dismissed her comments as harmless gossip, but as Pamela persisted and continued to criticize Edmond's leadership, Walter began to take notice. He started to pay closer attention to the Edmond's actions and decisions, and he noticed some of the flaws that Pamela had pointed out.As he became more disillusioned with Edmond, Pamela began to offer him hope. She would talk about how he had the potential to be a great leader, and how he could do things differently if he were in charge. She would point out his strengths and encourage him to use them to take control of the pack.Walter was flattered by Pamela's compliments and her confidence in his leadership ab
Pamela did her best to get closer to Walter. She spent days observing him from a distance, trying to understand his habits and preferences. She watched as he interacted with his pack members, trying to pick up any information that might be useful to her mission.Finally, one day, she saw an opportunity. Walter was alone, sitting on a rock near the edge of the forest. She cautiously approached him, trying not to startle him."Hello, Walter," she said, trying to sound friendly.Walter looked up, surprised to see her. "Oh, hello," he said, sounding a little uncertain.Pamela smiled and sat down next to him. "It's a beautiful day, isn't it?" she said, trying to make small talk.Walter looked at her suspiciously. "What do you want, Pamela?" he asked.Pamela took a deep breath, summoning all her courage. "I just wanted to talk to you, Walter. I think we could be friends."Walter snorted. "Friends? You're from the enemy pack. How could we possibly be friends?"Pamela looked down, feeling a l
Anna's anxiety continued to grow as the night wore on. She couldn't concentrate on her work anymore and found herself pacing back and forth in Edmond's living room, waiting for any news.Finally, her phone rang, and she jumped to answer it."Anna, it's me," Edmond's voice came through the line, and she felt relief flood through her."Thank goodness. Are you okay?" she asked, her voice shaking."I'm fine. We managed to drive off the attackers, and everyone is safe. But we'll need to be vigilant, they might try to strike again," Edmond explained.Anna let out a shaky breath, feeling a weight lift off her shoulders. "I'm glad you're okay.""I'll be back soon. I promise," Edmond reassured her before hanging up.Anna spent the next few hours trying to distract herself, but her mind kept wandering back to Edmond and the danger he was facing. It was only when she heard a knock on the door that she jumped up, her heart in her throat.Opening the door, she found Edmond standing there, looking
As the morning light filtered through the spacious apartment, Anna slowly opened her eyes and took in her surroundings. She had spent the night with her newly found heartthrob, Edmond. She couldn't believe that she fell in love with the same person she wanted to share his secrets with the public. As she stretched her limbs, she couldn't help but smile at the thought of how lucky she felt to have such an energetic and handsome man in her life."What about my research? I can't give up on that," She thought to herself. "Good morning, sunshine," Edmond said, his face beaming with smiles. "Hope you slept well?" He asked, his voice low and smooth."I did, thank you," she replied, her voice barely above a whisper.Edmond sat up and stretched his muscular arms, Anna couldn't help but admire the way his biceps bulged under his skin. He was a force to be reckoned with, and yet he had a softness to him that she found irresistible."Would you like some coffee?" He asked, getting up from the bed
The moon was high in the sky, casting an eerie glow on the forest. The rival pack of werewolves gathered, their overall expression sensed anger and bitterness. They all stood with crossed arms and clenched fists as they mourned over their members who died in the hands of Edmond. Robert, the alpha
When they finally arrived at Edmond's apartment, Being in a secure location brought Anna relief. She fell to the couch, her heart pounding with adrenaline and fear. "That was insane," she said, her voice quivering. "I know," Edmond said, sitting down next to her. " But this is the world I live in
Anna kept having the feeling that someone was following her as she made her way through the city. She was aware of the dangers in the werewolf community and the need to exercise caution.She saw a narrow path which looked lonely, she decided to take that way to avoid being seen by anyone. It kept r
Stacks of papers and notes surrounded Anna as she sat in her compact apartment. For several months, she had been studying the werewolf community to learn its secrets and bring them to the public's attention. She understood that it was her duty as a journalist to tell the truth, no matter how risky






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.