ANMELDENSementara itu, Dimas yang duduk di kursi kemudi sesekali melirik ke arah kaca. Ia melihat Akas dan Salsa duduk berdampingan, meski canggung dan sepi. Dapat dilihat suasana di antara keduanya yang manis. Tidak seperti ayah dan anak, lebih seperti pasangan yang saling cuek namun perhatian. Bagaimana ia bisa tidak menyadari nya sebelumnya."Mau pergi kemana?" Salsa mengerutkan keningnya, melihat bahwa mobil tidak melaju menuju apartemen tempat tinggal mereka. Akas mendongak, melirik ke arah jalanan kota yang ramai dan menjawab dengan ringan. "Pergi makan." Ucapnya.Salsa semakin tidak senang, "Mengapa tidak masak di rumah saja?" Tanya nya dengan sedikit kesal. Semalam ia sudah diganggu oleh pria ini hingga larut malam. Kemudian pergi kuliah di pagi hari, ia sekarang hanya ingin pulang dan tidur. Akas juga menyadari bahwa Salsa tampaknya dalam keadaan tidak bahagia."Baiklah, kalau kamu ingin makan di rumah ya makan di rumah. Dimas, putar balik menuju apartemen." Akas berkata dengan santa
"Sekarang bisakah kamu jelaskan semua yang terjadi?" Akas bertanya setelah ia menganggukkan kepalanya menyanggupi permintaan Hendry. Untuk sejenak, bangsal ViP itu menjadi hening. Namun Akas tidak buru buru atau mendesak Hendry. Ia hanya berusaha menjadi pendengar yang baik."Di luar negeri, aku di selamatkan oleh Sienna. Aku hampir mati saat itu." Ucap Hendry dengan suara gemetar. Akas mengangkat alisnya dan terus mendengarkan dengan tenang. Perasaan balas budi? Seharusnya hal itu tidak sampai membuat Hendry membawanya kembali ke rumah dan dinikahi sebagai istri."Balas budi tidak harus dengan mengorbankan diriku. Namun aku membaca suratnya, surat yang ditinggalkan mendiang istriku untuk Sienna yang ternyata adalah sahabat baik mendiang istriku di masa lalu." Cerita terus berlanjut, dan semakin jauh Hendry bercerita semakin merah matanya. Sementara Akas sudah memiliki dugaan awal tentang apa yang terjadi."Di surat itu tertulis, mendiang istriku meminta Sienna untuk menjagaku. Menem
Di kantor Hendry, salah satu gedung kantor sepuluh lantai di pusat kota. Konvoi mobil bisnis yang berasal dari Asa Group menyusuri jalanan kota yang ramai hingga tiba di gerbang utama perusahaan Hendry. Para penjaga keamanan berkeringat dingin ketakutan. Namun Akaa langsung mengarahkan kakinya menuju lantai paling atas, tepatnya lantai tempat Hendry yang merupakan direktur perusahaan ini bekerja."Teman lama? Ada apa kamu datang ke perusahaanku kali ini? Kamu hampir membuat seluruh penjaga keamanan perusahaan ku pingsan karena ketakutan." Ucap Hendry dengan sambutan hangat dan senyum profesional. Namun Akas bisa melihat jejak kelelahan di antara alisnya. Sesekali Hendry bahkan memijat pelipisnya yang berdenyut sakit."Apakah pertempuran semalam begitu intens? Kamu terlihat sangat kelelahan." Tanya Akas spontan, namun terdapat jejak ejekan dan nada sinis dalam suaranya. Hendry tidak tahu dimana ia menyinggung orang besar ini, namun Akas terlihat cukup tidak senang dengannya." Pertempu
Di universitas, Salsa mengambil pil KB dan air minum. Kemudian meneguknya dalam satu kali jalan. Ia sudah ambil libur kelas pagi, namun ia tetap harus mengikuti kelas sore. Setelah menyetujui usulan Akas, Salsa langsung mendapatkan banyak saldo tambahan dari Akas. Tiba tiba ia merasa benar benar menjadi seorang simpanan pria kaya."Hei, ada apa denganmu? Kamu sedang minum obat? Apa kamu sakit?" Rosa yang tiba tiba datang tiba tiba membuat Salsa hampir tersedak seketika. Ia tidak berani ragu dan langsung menelan obat KB bersama air yang ada di mulutnya. Matanya melotot, menatap Rosa dengan penuh kekesalan."Hehe, maaf. Aku hanya terkejut, kamu tiba tiba minum obat. Selain lelah, aku tidak melihat kamu sedang sakit. Apakah perlu aku bantu pergi ke ruang kesehatan?" Rosa bertanya lagi, ia mengambil sebungkus keripik kentang laku membukanya di depan Salsa. Keduanya sudah cukup akrab, dan belakangan ini mereka seperti lem yang tak bisa dipisahkan."Ngomong ngomong, aku baru saja berpapasan
Sepanjang malam di malam itu, rembulan bersinar terang mengintip dari celah celah kamar tidur. Sementara pertempuran di kamar tidur telah di mulai dan sudah berlangsung lebih dari dua jam namun tidak ada tanda tanda berhenti. Beruntungnya apartemen Akas ini memiliki peredam bising yang baik. Nafas yang terus memburu, suara derit ranjang yang tak terhenti, suara ambigu yang terus berlanjut. Tidak tahu seberapa lama waktu berlalu, namun Akas akhirnya berhenti setelah melihat Salsa pingsan di bawah tubuhnya. Dia hampir dengan panik menelepon dokter, namun menyadari bahwa Salsa ternyata hanya tertidur karena kelelahan.Ia membuka selimutnya, tubuhnya sangat lengket. Ia mengenakan pakaiannya secara simbolis saja, kemeja itu bahkan tidak di kancing dan celananya tidak dikenakan dengan benar. Yang terakhir, ia belum menyelesaikannya. Karena partner nya sudah tertidur, Akas harus menyelesaikannya sendiri.Ia masuk ke kamar mandi dan berdiam selama satu jam lebih sebelum keluar dengan handuk
"Paman Akas, aku tidak punya tempat tinggal. Bolehkah aku tinggal di tempatmu mulai saat ini?" Salsa membuka pembicaraan, suaranya terdengar manja dan manis. Seperti diolesi madu, namun Akas jelas tahu bahwa suara tersebut sengaja dibuat buat. Namun ia tetap menyukainya, Salsa yang bersikap genit padanya.Bukan berarti gadis semacam ini adalah tipe nya. Jika itu wanita lain, Akas tak peduli namun jika itu Salsa lain cerita alasannya. Ia bersandar di pintu, menatap Salsa dengan sorot mata yang semakin dalam. Ia benar benar tidak sabar dan ingin menerjang gadis kecil itu saat ini juga."Ingin tinggal? Tidak gratis!" Akas berkata dengan nada menggoda. Ia berniat mengusir gadis kecil itu dari sini. Namun melihat penampilannya yang berantakan membuatnya tidak tega. Saat ini Akas berada dalam posisi bimbang. Pada akhirnya di tengah keadaan mabuk nya, ia mengambil keputusan bukan sesuai akal sehat namun sesuai dengan kemauan hati."Mengapa tidak gratis? Bukankah sebelumnya aku bebas tinggal
"jika kamu terus seperti ini, aku tidak akan bercerita." Celetuk Adam dengan nada dingin. Ia meneguk habis anggur dalam gelasnya dan membanting gelas kosong itu ke atas meja. Membuat Carles tersentak dan terkejut.Adam memikirkannya berkali kali, mengingat ingat berkali kali tentang semua yang terj
"Kalian seharusnya mengerti alasan kalian dipanggil hari ini! Profesor Adam, seingat saya anda adalah orang yang sangat tenang. Sekali anda membuat rumor, itu adalah bom atom kan? Sulit di percaya, anda bisa melakukan hal ini." Ketua pihak kesiswaan menegur dengan keras. Meski begitu ia tidak meman
Pada akhirnya, Adam tetap diam di tempatnya tanpa bergerak meski Isla sudah berbalik dan berlari pergi hingga menghilang dari pandangannya. Ucapan Isla seperti sebuah kutukan yang terus menggema di pikirannya. Namun Adam tidak bisa menghapusnya seketika. Ia jatuh terduduk di kursinya, mengingat ka
Di negeri yang asing, Crystal mengerucutkan bibirnya. Ia sudah lama tidak terhubung ke internet dan hanya bisa menyelami buku buku manajemen ini. Sangat mengesalkan, ia bahkan tidak bisa menanyakan kabar Salsa.Ia melirik jam tangannya, bel tanda berakhirnya mata kuliah perlahan terdengar. Ketika C







