MasukBegitu Crystal membuka mulutnya, seluruh pasang mata menatapnya secara bersamaan. Salsa menatap Crustal dengan penuh rasa terimakasih atas penyelamatannya yang hebat di titik krusial tersebut. Sementara Henry memandang Crystal dengan ragu namun jelas ada kelegaan dalam sorot matanya.
Salsa yang diam di samping Crystal, entah secara sengaja atau tidak sengaja melirik Akas. Ia diam diam memperhatikan pria itu dengan harapan agar pria tersebut tidak ikut campur lebih jauh dalam urusan ini. Lagipula ini bukan hanya tentangnya, tapi juga tentang pria itu. 'Kumohon jangan berbicara! Kumohon jangan katakan yang sebenarnya! Kumohon jangan katakan apapun.' Gumam Salsa dalam hatinya, emosinya yang intens antara kegugupan dan kecemasan membuat alisnya sedikit mengerut yang akhirnya menyebabkan ekspresinya sedikit berubah. Hingga kedua pasang mata itu bertemu, untuk sejenak Salsa merasa jantungnya berhenti berdetak dan wilayah di sekelilingnya memasuki kondisi terhenti sejenak. Kemudian, Salsa dengan cepat berusaha memalingkan mukanya dari Akas dengan penuh kepanikan. Disisi lain, ekspresi Akas berubah menjadi sedikit aneh. Ia memandang Salsa dengan penuh keraguan. Kedua pasang mata itu bertemu sesaat dan Akas bisa merasakan kepanikan juga rasa gugup dan kecemasan dari sorot mata gadis kecil itu. Namun pada akhirnya ia tetap menutup mulutnya dan tidak berbicara. Hal ini juga membuat Salsa menghela nafas lega ketika melihat Akas tidak berniat ikut campur, jika tidak maka hari ini akan menjadi bencana besar. Jika tidak hari ini mungkin tidak akan berakhir dengan damai. "Lain kali tidak bisakah kamu lewat pintu? Mengapa harus menyelinap jika ingin bermain dengan Crystal? Lain kali minta Crystal menjemputmu saja. Jangan pergi sendirian, malam hari sangat berbahaya untuk para gadis." Ucap Henry penuh nasihat baik, pada akhirnya ekspresinya juga membaik dan dia tidak mengungkit banyak hal. Itu karena Henry sangat percaya pada Crystal, lagipula sejak kecil Salsa sudah menjadi gadis yang aktif dan terkadang sangat nakal. Namun Crystal selalu mampu melindunginya dan berdiri di depannya lebih dulu. Melihat ayahnya sama sekali tidak marah, Salsa gembira dan menghela nafas lega. Asalkan ayahnya tidak marah, maka semuanya baik baik saja. Lalu perhatian Salsa kembali beralih pada sosok Akas di samping ayahnya. Seakan akan Henry memahami sorot mata Salsa, ia juga memperkenalkan. "Ini Akas, sahabat lama ayah. Kamu bisa memanggilnya paman Akas." Ucap Henry, Salsa tersenyum canggung namun ia tetap patuh dan sedikit menganggukkan kepalanya pada Akas sambil menyapa lembut. "Paman Akas." Sapa Salsa dengan hati yang perlahan telah tenang. "Lalu, ini adalah putriku, Salsa!" Lanjut Henry memperkenalkan Salsa pada Akas. Sudut bibir Salsa berkedut mendengarnya, ia tersenyum sambil menatap Akas sementara Akas juga tersenyum dan menyapa. "Hallo, Salsa." Suara berat yang khas penuh dengan pesona membuat Salsa merasa candu. Untuk sejenak bayangan semalam bagaimana Akas mendesah dan berbicara lembut dengan suara berat di dekat telinganya, membuat telinga salsa memerah semerah tomat. Padahal ketika keduanya berpisah pagi ini, Salsa yang menganggap apa yang terjadi semalam hanyalah kecelakaan tidak lagi berniat menghubungi Akas dan berharap tidak lagi bertemu dengan pihak lain. Tidak pernah menyangka bahwa baru saja Salsa berpikir demikian namun ketika ia tiba di rumah, ia melihat Akas yang tidak ingin di temuinya. "Ngomong ngomong Akas, kamu pernah berkata bahwa jika aku memiliki anak, kamu akan menjadi ayah baptis anakku. Atau karena Paman Akas mu sudah berkata bahwa dia ingin kamu jadi putri baptisnya. Jadi Salsa, kamu juga bisa memanggilnya ayah baptis." Ucap Henry ringan tanpa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Mendengar kata kata ayahnya, Salsa merasa otaknya hampir meledak dan dadanya naik turun karena marah. Ia menatap Akas dengan penuh kebencian sambil berfikir bahwa Akas benar benar bajingan. Mereka tidur bersama tadi malam dan pagi harinya, pihak lain justru memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan ayah baptis? Apa Akas tidak tahu malu? Akas merasa tidak berdaya, ia telah disalahkan tanpa sebab. Salah paham ini harus segera diluruskan. Lagipula siapa yang tahu bahwa begitu ia pulang dari luar negeri, ia tidur dengan seorang gadis kecil dan yang paling tidak masuk akal adalah gadis kecil itu ternyata putri dari sahabat lamanya. Akas memang pernah berjanji bahwa ia akan menjadi ayah baptis anak temannya ini, tapi ia tidak menginginkan janji itu lagi sekarang. Karena memang tidak tepat meminta gadis kecil yang telah ia tiduri semalam justru ia minta untuk memanggilnya 'Ayah Baptis'. Ia juga bukan seorang bajingan yang tidak tahu malu. "Tidak perlu, jika Salsa tidak ingin maka jangan dipaksakan." Ucap Akas dengan sedikit canggung namun nada suaranya tetap tenang tanpa gejolak emosi sama sekali yang membuat Salsa benar benar tidak mengerti dan tidak mengetahui bagaimana perasaan Akas saat ini yang sangat menyebalkan. "Tidak bisa, kamu ayah baptisnya dan dia adalah putri baptismu. Setelah kamu kembali, aku bisa tenang jika kamu bisa membantuku merawat gadis nakal ini. Salsa, cepat sapa ayah baptismu!" Ucap Henry keras kepala. Salsa akhirnya tahu darimana sifat keras kepalanya itu menurun, ternyata dari ayahnya. Pantas saja ibunya selalu berkata bahwa penampilannya mirip ibunya namun sifatnya mirip ayahnya. Salsa ingin rasanya memukul ayahnya itu. Mustahil baginya menyapa pria ini dengan sapaan ayah baptis! Salsa merasa ingin menangis sekarang! Menahan amarahnya, Salsa tersenyum kaku dan canggung sambil menahan air mata kesalnya. "Ayah baptis!" Ucapan Salsa berhasil membuat tubuh Akas tersentak. Ia hendak memberikan penjelasan pada Henry namun siapa yang tahu bahwa ia terlambat pada detik berikutnya dan Salsa sudah lebih dulu memanggilnya dengan sapaan 'Ayah Baptis'. Bibir Akas sedikir berkedut dan ia terbatuk sambil berusaha untuk tenang. Suasana di antara keduanya menjadi semakin canggung. Entah itu Akas yang semakin merasa bersalah atau Salsa yang dipenuhi amarah. Crystal menyadari ada sesuatu yang aneh diantara Akas dan Salsa, sementara Henry sama sekali tidak menyadarinya. Di Tengah suasana yang bergejolak dalam sunyi dan diam, sesuatu di leher Salsa segera menarik perhatian Henry. Ayah tua itu melihat bercak kemerahan di leher Salsa yang membuat kecurigaannya kembali tiba tiba. Namun ia masih menahan diri dan berpikir bahwa ia sangat mungkin salah paham. Lagipula ia mengenal putri semata wayangnya tersebut yang pasti tidak akan gegabah dalam urusan hubungan. Namun tetap saja ketika Henry membuka mulutnya hendak bertanya, jantungnya berdebar kencang. "Ada apa dengan lehermu? Mengapa banyak kemerahan disana?" Tanya Henry curiga. Akas sedikit menegakkan punggungnya, dan matanya menyipit menatap Salsa dengan cemas.Begitu Crystal membuka mulutnya, seluruh pasang mata menatapnya secara bersamaan. Salsa menatap Crustal dengan penuh rasa terimakasih atas penyelamatannya yang hebat di titik krusial tersebut. Sementara Henry memandang Crystal dengan ragu namun jelas ada kelegaan dalam sorot matanya. Salsa yang diam di samping Crystal, entah secara sengaja atau tidak sengaja melirik Akas. Ia diam diam memperhatikan pria itu dengan harapan agar pria tersebut tidak ikut campur lebih jauh dalam urusan ini. Lagipula ini bukan hanya tentangnya, tapi juga tentang pria itu. 'Kumohon jangan berbicara! Kumohon jangan katakan yang sebenarnya! Kumohon jangan katakan apapun.' Gumam Salsa dalam hatinya, emosinya yang intens antara kegugupan dan kecemasan membuat alisnya sedikit mengerut yang akhirnya menyebabkan ekspresinya sedikit berubah. Hingga kedua pasang mata itu bertemu, untuk sejenak Salsa merasa jantungnya berhenti berdetak dan wilayah di sekelilingnya memasuki kondisi terhenti sejenak. Kemudian, Salsa
Salsa dalam benaknya tampak begitu tinggi, ceria, dan berani. Seperti mentari kecil yang diam diam bersinar dan menyinari semua orang di sekitarnya.Dahulu Crystal bukanlah sosok yang anggun dan dewasa seperti saat ini. Ia tampak kesepian dan menyendiri. Ia tersingkirkan dan diabaikan dalam pergaulannya. Crystal sama sekali tidak memiliki teman, selain gadis kecil yang ceria dan berani yang selalu menyeretnya pergi kemana mana. Ketika Crystal dibully dan dihina oleh teman temannya karena tidak memiliki ibu. Salsa seperti mentari kecil yang melindunginya dan menyinari dunianya yang abu abu.Tubuh ibu Crystal sangat lemah ketika ia mengandung Crystal. Kemudian ia meninggal ketika ia berhasil melahirkan Crystal. Kelahiran Crystal merenggut nyawanya, kemudian ayahnya yang terlalu mencintai ibunya sangat mengabaikan Crystal dan membiarkannya tumbuh secara mandiri di tangan pengasuh. Selain memenuhi kebutuhan materi, bisa dikatakan Crystal tidak mendapatkan kasih sayang ibu dan ayah sejak
"Presiden, Tuan Henry mengundang anda untuk datang ke rumahnya. Ia tahu anda baru saja kembali ke negara ini dan pihak lain tidak bisa mengikuti janji temu semalam, jadi ia mengundang anda secara pribadi untuk datang ke rumahnya sekaligus memperkenalkan putrinya." Ucap Dimas meminta pendapat Akas."Mengapa ia memperkenalkan putrinya padaku?" Akas balik bertanya dengan alis terangkat merasa sedikit bingung. Henry yang ada di bibir Dimas baru saja adalah teman dekat Akas yang statusnya hampir sama layaknya saudara angkat. Ia sudah berteman dengan Henry selama empat dekade dan keduanya banyak membantu satu sama lain. Meski Akas pergi ke luar negeri, keduanya hampir tidak pernah kehilangan kontak. Jadi Akas sangat akrab dengan pihak lain."Tuan Henry berkata bahwa anda pergi keluar negeri ketika istrinya sedang hamil saat itu. Bukankah anda bilang bahwa putri Tuan Henry juga putri anda?" Ucap Dimas sambil tersenyum. Akas sedikit terdiam lalu menganggukkan kepalanya sebagai isyarat bahwa i
Akas membawa mantel tersebut dan menghampiri Salsa. Ia melampirkannya dengan lembut ke atas kepala Salsa, dan membiarkan mantel panjang tersebut berhasil menutupi Salsa dan tubuh kecilnya. Menyembunyikan wajah pucat yang penuh keterkejutan dan kebingungan tersebut di baliknya."Tunggu sebentar, aku akan keluar bersamamu." Ucap Akas sambil berjalan mengambil pakaiannya dan segera berpakaian dengan cepat. Salsa memandang Akas dan perlahan kondisi pucat di wajahnya mereda digantikan rona merah ketika bagian belakang tubuh Akas tampil di depan matanya. Punggung tersebut penuh dengan bekas cakaran. Bahkan jika Akas tidak mengatakannya, Salsa tahu bahwa itu adalah jejak kuku jari jarinya. Lagipula tidak mungkin Akas membuat jejak itu sendiri di punggungnya.Salsa diam diam berpaling dan emosinya perlahan menjadi tenang. Ia telah salah memilih teman, dan ia tidak berniat melanjutkan hubungan dengan teman teman tersebut. Tentu saja Salsa ingin meminta penjelasan namun tidak sekarang. Priorita
Kembali pada waktu saat ini. Fajar akhirnya tiba, dan hari mulai pagi. Matahari bersinar dengan cahaya jingga di ufuk timur. Naik sedikit demi sedikit dan perlahan membangunkan semua orang dari tidurnya.Di dalam kamar hotel mewah tersebut, sepasang kekasih sedang tidur dengan sikap yang intim. Tidak bisa dikatakan sebagai kekasih, namun semalam telah terjadi pertempuran yang tidak seharusnya terjadi di kamar hotel ini.Jendela besar yang tepat mengarah ke timur perlahan membawa cahaya terang mentari pagi untuk masuk dan menerangi seluruh kamar yang awalnya gelap tersebut. Seorang pria dewasa sedang memeluk gadis kecil yang telanjang tersebut ke dalam pelukannya. Perasaan memeluk kehangatan tersebut sangat damai, tubuh gadis kecil itu sangat nyaman untuk dipeluk. Namun tidak butuh waktu lama hingga cahaya mentari tersebut berubah menjadi sengatan panas yang membangunkan pria itu dari tidurnya.Ketika Akas terbangun, ia hanya melihat seluruh kamar hotelnya berantakan. Alisnya mengerut
Sedikit Flashback, Beberapa waktu yang lalu. Salsa yang sebelumnya tengah sibuk di kamarnya kini sedang berjalan dengan langkah lambat dan mengendap endap. Ia memegang high heels di satu tangan dan tas mewah di tangan lainnya.Strateginya berhasil! Ia telah menahan diri dan berpura pura patuh dalam beberapa hari belakangan ini untuk mengurangi kewaspadaan seluruh penghuni villa. Kemudian setelah kewaspadaan mereka menurun, pada hari ini ia akan menyelinap keluar dan bermain. Salsa sudah menginjak umur delapan belas tahun beberapa waktu yang lalu dan sekarang ia sangat penasaran dengan dunia luar. Kebetulan kelasnya hari ini mengadakan pesta perpisahan. Namun pesta perpisahan ini tidak diadakan di tempat yang biasa saja. Tidak butuh waktu lama hingga Salsa akhirnya tiba di bagian belakang villa tempat tinggalnya. Ia sudah memikirkan bagaimana cara terbaik agar dapat melewati tembok ini. Begitu Salsa melompat dan akhirnya meraih tembok tersebut dengan kedua tangannya. Kemudian ia juga







