LOGINDi kantor Hendry, salah satu gedung kantor sepuluh lantai di pusat kota. Konvoi mobil bisnis yang berasal dari Asa Group menyusuri jalanan kota yang ramai hingga tiba di gerbang utama perusahaan Hendry. Para penjaga keamanan berkeringat dingin ketakutan. Namun Akaa langsung mengarahkan kakinya menuju lantai paling atas, tepatnya lantai tempat Hendry yang merupakan direktur perusahaan ini bekerja."Teman lama? Ada apa kamu datang ke perusahaanku kali ini? Kamu hampir membuat seluruh penjaga keamanan perusahaan ku pingsan karena ketakutan." Ucap Hendry dengan sambutan hangat dan senyum profesional. Namun Akas bisa melihat jejak kelelahan di antara alisnya. Sesekali Hendry bahkan memijat pelipisnya yang berdenyut sakit."Apakah pertempuran semalam begitu intens? Kamu terlihat sangat kelelahan." Tanya Akas spontan, namun terdapat jejak ejekan dan nada sinis dalam suaranya. Hendry tidak tahu dimana ia menyinggung orang besar ini, namun Akas terlihat cukup tidak senang dengannya." Pertempu
Di universitas, Salsa mengambil pil KB dan air minum. Kemudian meneguknya dalam satu kali jalan. Ia sudah ambil libur kelas pagi, namun ia tetap harus mengikuti kelas sore. Setelah menyetujui usulan Akas, Salsa langsung mendapatkan banyak saldo tambahan dari Akas. Tiba tiba ia merasa benar benar menjadi seorang simpanan pria kaya."Hei, ada apa denganmu? Kamu sedang minum obat? Apa kamu sakit?" Rosa yang tiba tiba datang tiba tiba membuat Salsa hampir tersedak seketika. Ia tidak berani ragu dan langsung menelan obat KB bersama air yang ada di mulutnya. Matanya melotot, menatap Rosa dengan penuh kekesalan."Hehe, maaf. Aku hanya terkejut, kamu tiba tiba minum obat. Selain lelah, aku tidak melihat kamu sedang sakit. Apakah perlu aku bantu pergi ke ruang kesehatan?" Rosa bertanya lagi, ia mengambil sebungkus keripik kentang laku membukanya di depan Salsa. Keduanya sudah cukup akrab, dan belakangan ini mereka seperti lem yang tak bisa dipisahkan."Ngomong ngomong, aku baru saja berpapasan
Sepanjang malam di malam itu, rembulan bersinar terang mengintip dari celah celah kamar tidur. Sementara pertempuran di kamar tidur telah di mulai dan sudah berlangsung lebih dari dua jam namun tidak ada tanda tanda berhenti. Beruntungnya apartemen Akas ini memiliki peredam bising yang baik. Nafas yang terus memburu, suara derit ranjang yang tak terhenti, suara ambigu yang terus berlanjut. Tidak tahu seberapa lama waktu berlalu, namun Akas akhirnya berhenti setelah melihat Salsa pingsan di bawah tubuhnya. Dia hampir dengan panik menelepon dokter, namun menyadari bahwa Salsa ternyata hanya tertidur karena kelelahan.Ia membuka selimutnya, tubuhnya sangat lengket. Ia mengenakan pakaiannya secara simbolis saja, kemeja itu bahkan tidak di kancing dan celananya tidak dikenakan dengan benar. Yang terakhir, ia belum menyelesaikannya. Karena partner nya sudah tertidur, Akas harus menyelesaikannya sendiri.Ia masuk ke kamar mandi dan berdiam selama satu jam lebih sebelum keluar dengan handuk
"Paman Akas, aku tidak punya tempat tinggal. Bolehkah aku tinggal di tempatmu mulai saat ini?" Salsa membuka pembicaraan, suaranya terdengar manja dan manis. Seperti diolesi madu, namun Akas jelas tahu bahwa suara tersebut sengaja dibuat buat. Namun ia tetap menyukainya, Salsa yang bersikap genit padanya.Bukan berarti gadis semacam ini adalah tipe nya. Jika itu wanita lain, Akas tak peduli namun jika itu Salsa lain cerita alasannya. Ia bersandar di pintu, menatap Salsa dengan sorot mata yang semakin dalam. Ia benar benar tidak sabar dan ingin menerjang gadis kecil itu saat ini juga."Ingin tinggal? Tidak gratis!" Akas berkata dengan nada menggoda. Ia berniat mengusir gadis kecil itu dari sini. Namun melihat penampilannya yang berantakan membuatnya tidak tega. Saat ini Akas berada dalam posisi bimbang. Pada akhirnya di tengah keadaan mabuk nya, ia mengambil keputusan bukan sesuai akal sehat namun sesuai dengan kemauan hati."Mengapa tidak gratis? Bukankah sebelumnya aku bebas tinggal
Salsa berjalan dengan lunglai, ia melihat toko restorasi yang masih buka tidak jauh dari tempatnya berada. Sorot matanya kusam dan pelupuk matanya memerah lelah. Seluruh tubuhnya memang terlihat mewah, namun ia tidak membawa barang apapun kecuali handphone di tangannya. "Permisi tuan, apakah disini bisa membantu restorasi foto?" Salsa bertanya sambil menyerahkan potongan potongan foto yang ia genggam di tangannya. Pemilik toko tersebut sedang merokok, ketika melihat Salsa datang tengah malam dengan mata memerah sambil membawa robekan foto, ia sudah memikirkan berbagai macam situasi di dalam hatinya. "Boleh saya lihat dulu nona?" Pemilik tersebut mengulurkan tangannya. Ia memeriksa sobekan foto itu dengan hati hati, tidak seperti beberapa orang yang menganggap hanya sekedar foto atau bahkan merobeknya begitu saja tanpa peduli perasaan pihak lain. "Bagaimana?" Salsa bertanya dengan ragu, pemilik tersebut menganggukkan kepalanya ringan. "Bisa diperbaiki, ini mudah! Namun komisinya....
"Sekarang aku bertanya pada ayah. Ayah harus memilih, usir ibu dan anak ini dari rumah ini atau aku yang pergi dari sini." Ucap Salsa untuk kompromi terakhir kalinya. Ia menatap ayahnya dengan tenang, tidak ada gejolak emosi sama sekali. Tidak ada rasa takut akan ditolak atau antisipasi, kecemasan atau bahkan harapan dan sedikit rasa kasihan sedikitpun.Mata yang jernih, membuat Hendry merasa jantungnya seperti di tusuk oleh ribuan pisau. Jelas jelas hanya sepasang mata yang jernih, namun air mata yang tertahan di pelupuk matanya membuat jatinya terhimpit, menjerit merasakan sakit seperti diiris menjadi seribu bagian.Hendry membuka mulutnya, ingin berkata bahwa Salsa tidak boleh pergi dari rumah ini. Namun gadis kesayangannya ini terlalu menderita di tempat yang awalnya dipenuhi kenangan bahagia ini. Di tempat ini juga rasa sakitnya dimulai. Sejak Hendry membawa pulang Sienna dan Audrey. Hendry mungkin tidak akan menduganya, bahwa semuanya akan sampai titik yang tidak bisa kembali se
Night bar, malam hari. Salsa terhuyung kembali ke tempat duduknya. Ia memesan beberapa botol bir lagi dan meneguknya habis. Matanya tidak bisa fokus dan air mata terus menetes entah mengapa. Padahal ia sudah berkata pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik baik saja, namun melihat ayahnya memi
"Aku datang untuk memberikan hadiah pada putri baptisku." Akas berkata dengan dingin. Namun ungkapannya sudah menyiratkan bahwa ia sangat mementingkan Salsa. Disisi lain, Salsa sedikit mengangkat kepalanya menatap Akas dengan ekspresi rumit. Jika sebelumnya ia akan merasa kesal, namun kini sebutan
Dalam perjalanan pulang, Dimas yang sedang menyetir juga berbicara dengan nada sedikit ragu dalam suaranya."Tuan, aku dengar Tuan Henry memarin pulang membawa seorang wanita yang memiliki anak perempuan. Anak perempuan utu umurnya mungkin hampir sama dengan nona Salsa." Ucap Dimas. Ketika Akas men
Ketika Salsa sedang sibuk bermain dengan cat minyak dan canvasnya. Suara notifikasi handphone mengganggunya. Salsa mengerutkan keningnya dan sedikit mencondongkan tubuhnya. Melihat pesan siapa yang tiba di handphonenya. Lagipula Crystal sudah pergi ke luar negeri, seharusnya Salsa tidak memiliki te







