LOGINSelesai kelas selanjutnya, bel baru saja berdering dan Salsa sudah melarikan diri lebih dulu. Dia tidak tahan untuk duduk di samping Rossa lebih lama lagi, atau orang itu akan terus mengusiknya dan menanyainya tentang siapa pria itu. Jadi sebelum Rosa sempat bereaksi, begitu bel berdering Salsa melarikan diri lebih dulu. Keluar dari gedung Universitas, Salsa berjalan cepat menuju gerbang. Dalam perjalanan, suruh mata selalu mengarah padanya. Tidak jarang Salsa mendengar bisik-bisik yang membahas tentang dirinya. Entah itu baik atau buruk, pada akhirnya seperti inilah konsekuensinya. Ilham berhasil menariknya ke sorotan publik Universitas. Apakah bisa dikatakan sejak Salsa menginjakkan kaki di Universitas ini, dia sudah ditakdirkan menjadi orang yang populer. Sebelumnya itu hanya masalah antara dirinya dan Audrey, yang tidak terlalu menarik. Namun sekarang ada Ilham yang seperti bahan bakarnya, membakar seluruh hutan tanpa terkecuali. Salsa baru saja melangkah keluar dari gerbang un
Salsa berlari turun ke lantai bawah, iya langsung menuju pintu keluar bertemu dengan kerumunan besar orang. Di tengah kerumunan, Ilham masih berdiri membawa buket bunga besar. Salsa menghentikan langkahnya, namun ia sama sekali tidak mengubah ekspresinya. "Salsa, Aku mencintaimu, maukah kamu jadi kekasihku." Ulang Ilham sekali lagi untuk pernyataan cintanya pada Salsa. Sejujurnya, ini bukan kali pertama Salsa mendapatkan pengakuan cinta. Sudah ada banyak surat cinta di mejanya terakhir kali, Salsa mengumpulkannya namun sama sekali tidak memperdulikannya. Ia hanya meletakkannya di sebuah kotak, lalu mengabaikannya. Namun Ilham berbeda, pernyataan cintanya terlalu tulus, keramaiannya terlalu menyebar luas. Karena status Ilham ada di sana, Dia adalah seorang ketua badan Eksekutif Mahasiswa, gerak-geriknya dipantau oleh seluruh kampus. Bahkan termasuk dosen-dosen mereka.Salsa membuka mulutnya, hampir semua orang jelas sudah menantikan jawabannya. Mereka berpikir, menduga, dan mengira h
Di universitas, Salsa tidak bisa fokus pada mata kuliahnya hari ini. Sepanjang jam kuliah, ia memandang ke arah handphone. Takut sewaktu waktu Akas menghubunginya karena sesuatu terjadi di rumah, namun karena ia terlambat mengangkatnya akan menjadi bencana.Hingga mata kuliah berakhir, Salsa menghela nafas lega. Sepertinya Akas baik baik saja, ia mengambil handphone nya dan menanyakan tentang kondisi pihak lain. Namun lama tidak mendapat jawaban dari Akas membuatnya merasa kecewa."Kenapa nona muda? Kenapa rasanya hari ini kamu sangat murung dan tidak fokus?" Tanya Rosa yang baru saja tiba membawa berbagai bingkisan makanan di tangannya. Salsa mendongak dengan kesal karena pesannya masih belum juga dibalas. Melihat makanan di pelukan Rosa, ia mengambil satu satu di antaranya begitu saja.Rosa terkejut mendapati bahwa suasana hati Salsa memang sangat buruk belakangan ini. Tiga hari ia diam dan terus merenung di kelas, ia tidak fokus dan menatap handphone nya lama sekali. Ia mengira har
Dimas baru saja pergi, Akas bersandar di sofa dengan lelah. Pusing yang awalnya mereda kembali terasa sakit sekarang. Akas memejamkan matanya, mulai mengistirahatkan dirinya sendiri. Jika tidak, ketika Salsa kembali, ia akan melihatnya kembali jatuh sakit. Akas mungkin akan di omeli selama tiga hari tiga malam. Tidak apa apa jika hanya berteriak dan membentak, namun jika harus perang dingin lagi, Akas tidak mampu.Pada saat ini, telephone nya berdering. Akas mengangkat ponselnya dan melihat bahwa yang menghubunginya adalah ibunya. Firasat buruk merasuk dalam benak Akas. Apa yang terjadi di mall beberapa waktu yang laku pasti sudah sampai di telinga ibunya. Meski Akas tidak ingin mengangkat telepon, bagaimanapun pihak lain adalah ibunya. Akas tidak bisa mengabaikan nya.Begitu telephone terhubung, anehnya Diana tidak langsung berbicara. Kesunyian itu berlangsung cukup lama meski telephone sudah terhubung. Jantung Akas berdegup dengan kencang, ia tahu bahwa diam dari ibunya adalah masal
Keesokan paginya, ketika Akas terbangun Salsa sudah tidak berada di atas ranjang. Ranjang besar itu hanya menyisakan Akas seorang diri. Akas melihat bahwa infusnya juga sudah dicabut. Ia hendak bangkit dari tempat tidur. Lagipula kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia tidak lagi demam, hanya sedikit pusing. Efek obatnya bekerja sangat baik.Namun belum sempat Akas berdiri, Salsa datang sambil membawa nampan dan semangkuk bubur. "Istirahat di rumah hari ini, makan buburnya lalu minum obatnya. Aku masih ada kelas, jadi aku harus pergi. Paman sudah tua, jangan seperti anak kecil. Minum obatnya tepat waktu." Ucap Salsa sambil menyerahkan nampan berisi semangkuk bubur itu pada Akas sebelum berlari pergi.Akas terdiam, menatap kepergian Salsa dalam diam. Melihat jam dinding, jam pertama mata kuliah Salsa memang hampir dimulai. Ia menyesap bubur itu sampai habis, lalu meminum obatnya tepat waktu. Baru kemudian sambil bersandar di sandaran tempat tidur, ia mengambil handphone ny
Akas hendak beranjak mencari keberadaan Salsa. Pada saat ini dari pintu kamar yang terbuka lebar, salah satu jalan masuk sambil membawa nampan berisi semangkuk bubur. "Jangan bangun dari tempat tidur, Apakah demamnya sudah turun? Aku memasakkan makan malam. Makanlah selagi hangat dan jangan tertawakan jika rasanya tidak enak." Celetuk Salsa.Akas terdiam memandang semangkuk bubur itu dalam dalam. Biasanya Ia hanya mendapatkan semangkuk bubur dari bibit pengasuh, dari pelayan atau dari koki. Ini adalah kali pertamanya seseorang memaksakan bubur secara pribadi untuknya. Akas melirik ke arah Salsa, kekhawatirannya terlihat jelas dalam sorot matanya. Mungkin bubur ini juga bentuk perhatian gadis kecil ini untuk dirinya. "Kamu memasaknya sendiri?" Tanya Akas sambil mengambil semangkuk bubur itu dengan kedua tangannya. Salsa menganggukan kepalanya dan bergumam, "Belakangan ini aku memang belajar memasak, tapi rasanya terkadang enak tapi juga terkadang tidak. Setidaknya bisa dimakan." Salsa
Akas sedikit terkejut ketika Salsa bahkan menolak kontaknya. Melihat Salsa yang buru buru berbalik hendak pergi, Akas mengeluarkan kartu nama miliknya dari dalam dompetnya. "Setidaknya kamu bisa menerima kartu nama ini kan? Hubungi aku jika kamu butuh sesuatu." Ucap Akas dengan sedikit kelembutan. S
Akas yang baru saja keluar kamar mandi merasa suasananya menjadi canggung. Ia sudah melalui kehidupan sepanjang empat dekade lamanya, namun untuk situasi seperti ini yang juga pertama kali ia alami. Bahkan dia sendiri merasa canggung dan bingung. Namun ia tahu, bahwa hal pertama yang harus dia lakuk
Kembali pada waktu saat ini. Fajar akhirnya tiba, dan hari mulai pagi. Matahari bersinar dengan cahaya jingga di ufuk timur. Naik sedikit demi sedikit dan perlahan membangunkan semua orang dari tidurnya.Di dalam kamar hotel mewah tersebut, sepasang kekasih sedang tidur dengan sikap yang intim. Tid
Akas memandang wajah pucat Salsa dan rasa bersalahnya semakin kuat. Ternyata semalam gadis kecil ini di beri obat dan hendak dibawa ke tempat tidur laki laki lain. Tapi sepertinya gadis kecil ini berhasil melarikan diri namun ia justru masuk ke dalam pelukan serigala lainnya. Awalnya Akas mengira







