로그인"Apakah aku punya rumah?" Mendengar perkataan Akas baru saja, Salsa akhirnya memiliki sedikit kesadaran dan bertanya dengan linglung. Akas memeluk Salsa, dan akhirnya membawanya ke dalam dekapannya. Salsa terkejut dan memeluk leher Akas dengan erat.Akas tersenyum tipis, ia melirik Dimas dan memberi isyarat agar membereskan kekacauan ini. Kemudian, ia membawa Salsa berjalan keluar dari ruangan. Akas baru saja keluar ketika ia melihat sekelompok pria tua ini benar benar menunggunya dengan keras kepala di depan pintu.Mereka tampak terkejut melihat Akas memeluk seorang gadis dengan pelukan seorang putri. Gadis itu tampak mabuk dan terus bergumam dengan tidak jelas. Sesekali bahkan terdengar isak tangis darinya."Tuan Akas, gadis ini adalah?" Seorang pria tua tidak bisa menahan diri dan bertanya dengan ragu. Ia baru kemudian tersadar bahwa sepertinya ia terlalu penasaran dan terlalu ikut campur. Takut Akas tidak senang dengan sikapnya, ia buru buru hendak minta maaf. Namun Akas menjawab
Night bar, malam hari. Salsa terhuyung kembali ke tempat duduknya. Ia memesan beberapa botol bir lagi dan meneguknya habis. Matanya tidak bisa fokus dan air mata terus menetes entah mengapa. Padahal ia sudah berkata pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik baik saja, namun melihat ayahnya memiliki keluarga bahagia bertiga dan mengecualikan dirinya bahkan melupakan ibunya masih membuatnya merasa sakit hati.Dadanya begitu sesak, rambutnya berantakan dan Salsa meringkuk sendirian di kamar VIP yang luas tersebut. Musik masih memenuhi seluruh ruangan, bersama Isak tangis yang tak pernah terhenti."Mengapa? Apakah ibu salah pilih? Seharusnya aku tidak mempermasalahkannya mencari wanita lain. Lagipula ibu sudah meninggal begitu lama dan dia pasti kesepian. Namun mengapa? Rasanya masih terasa sangat menyesakkan." Gumam Salsa lirih. Salsa tidak mengetahui bahwa di ruangan lainnya, seorang pria yang familiar baru saja keluar dari ruangan pribadi dengan sekelompok pria paruh baya yang sib
Sienna adalah wanita baik baik yang ia temukan di luar negeri. Henry mengenalinya dan membawanya kembali sebagai kekasih bukan hanya karena Henry tertarik secara pribadi. Tapi juga karena Sienna telah menjadi penyelamatnya di perjalanan bisnis nya kali ini. Jadi disini seharusnya Salsa yang mengalah.Lagipula Salsa sudah memiliki semuanya sejak kecil. Kurang lebih itulah yang Henry pikirkan saat ini, ia merasa bersalah namun ia tidak larut dalam perasaan bersalah tersebut. Ia menatap Akas dengan sikap keras kepala dan berkata dengan suara sedikit terbata."Ka-kamu berani? Apakah kamu tidak bisa memandang hubungan kita di masa lalu?" Ucap Henry dengan suara tajam dan penuh sikap menyalahkan. Akas terdiam dan memandangnya dengan tenang, ia perlahan mengatakan satu demi satu kata yang jauh lebih kejam dan menusuk."Henry, jika kamu menganggap hubungan kita di masa lalu begitu berharga. Maukah kau putus dengan wanita ini?" Tanya Akas tanpa rasa bersalah dengan sikap yang sangat menghakimi
"Aku datang untuk memberikan hadiah pada putri baptisku." Akas berkata dengan dingin. Namun ungkapannya sudah menyiratkan bahwa ia sangat mementingkan Salsa. Disisi lain, Salsa sedikit mengangkat kepalanya menatap Akas dengan ekspresi rumit. Jika sebelumnya ia akan merasa kesal, namun kini sebutan 'Putri Baptis' itu lebih terasa begitu berharga.Arus hangat lembut membuat tubuh Salsa hangat. Kasih sayang yang asing seakan menebus semua kasih sayang ayah yang hilang dari hidupnya. Ketika Salsa berfikir bahwa kasih sayang ayahnya cukup, ternyata kasih sayang ayahnya yang telah menemaninya selama 18 tahun hidupnya sama sekali tidak sebanding dengan kasih sayang ayah angkat yang baru ia temui beberapa hari.Namun ketika mengingat malam asing yang penuh dengan keintiman antara ia dengan Akas, rasanya sedikit rumit. Namun itu tidak mencegah jantung Salsa berdebar begitu kencang hanya karena bagaimana Akas melindunginya dan bahkan membalas mereka yang merundungnya."Ayah aku juga menginginka
"Aku dengar dari paman Sam bahwa kamu suka melukis dan menggambar komik. Jadi aku membelikanmu alat lukis, ada juga tab yang bisa kamu gunakan untuk membuat komik, aku juga membelikan laptop dengan konfigurasi terbaik." Akas berkata dengan suara tenang, namun ada jejak kasih sayang dalam beberapa nada suaranya. Ia meletakkan bingkisan tab dan laptop di atas meja agar Salsa dapat melihatnya lebih jelas. Dua produk elektronik ini adalah yang paling mahal di antara hadiah Akas yang lainnya. Salsa nampak begitu bersemangat dan hendak angkat bicara ketika sebuah suara mengganggu seluruh suasana yang ada. "Wah, bonekanya besar sekali." Seorang gadis yang lincah namun penuh keanggunan datang dengan langkah sedikit cepat. Begitu ia datang, ia melihat boneka setinggi dua meter dalam pelukan Salsa dan dengan sedikit gerakan ia meraihnya dan merebutnya dari pelukan Salsa. Hal tersebut terjadi sangat cepat hingga membuat Salsa tertegun dan tidak bereaksi selama beberapa saat.Salsa menatap tanga
Dalam perjalanan pulang, Dimas yang sedang menyetir juga berbicara dengan nada sedikit ragu dalam suaranya."Tuan, aku dengar Tuan Henry memarin pulang membawa seorang wanita yang memiliki anak perempuan. Anak perempuan utu umurnya mungkin hampir sama dengan nona Salsa." Ucap Dimas. Ketika Akas mendengar kabar tersebut, ia sedikit mengerutkan keningnya. Karena bagasi mobilnya tidak cukup, bahkan kursi penumpang di samping Akas kini dipenuhi oleh bingkisan hadiah."Maksudmu Henry memiliki hubungan romantis dengan wanita itu?" Akas bertanya dengan suara muram, untuk sejenak kemarahannya pada Henry meningkat dan niat baiknya sedikit menurun. "Sepertinya." Jawab Dimas dengan anggukan kepalanya. Bagaimana mungkin Akas tidak mengerti dengan kabar yang baru saja Dimas beritahukan padanya? Jika itu benar maka Salsa akan menanggung dampaknya.Dampak seperti apa yang Salsa akan alami, Akas tidak tahu tapi Akas yakin saat ini Salsa mungkin sudah bersedih bahkan menangis. Sebagai orang dewasa ya







