LOGINKembali pada waktu saat ini. Fajar akhirnya tiba, dan hari mulai pagi. Matahari bersinar dengan cahaya jingga di ufuk timur. Naik sedikit demi sedikit dan perlahan membangunkan semua orang dari tidurnya.
Di dalam kamar hotel mewah tersebut, sepasang kekasih sedang tidur dengan sikap yang intim. Tidak bisa dikatakan sebagai kekasih, namun semalam telah terjadi pertempuran yang tidak seharusnya terjadi di kamar hotel ini. Jendela besar yang tepat mengarah ke timur perlahan membawa cahaya terang mentari pagi untuk masuk dan menerangi seluruh kamar yang awalnya gelap tersebut. Seorang pria dewasa sedang memeluk gadis kecil yang telanjang tersebut ke dalam pelukannya. Perasaan memeluk kehangatan tersebut sangat damai, tubuh gadis kecil itu sangat nyaman untuk dipeluk. Namun tidak butuh waktu lama hingga cahaya mentari tersebut berubah menjadi sengatan panas yang membangunkan pria itu dari tidurnya. Ketika Akas terbangun, ia hanya melihat seluruh kamar hotelnya berantakan. Alisnya mengerut dan ia menyapu rambutnya ke belakang. Pakaiannya berserakan di seluruh lantai, dan tangannya kini terasa sangat berat. Seluruh tubuhnya bugar dan terdapat jejak kenyamanan dan kedamaian yang belum pernah terjadi. Namun semuanya tiba tiba menjadi canggung ketika Akas mendengar suara nafas lembut tepat di sampingnya. Ketika ia sedikit menundukkan kepalanya, ia melihat seorang gadis muda yang cantik jelita sedang terbaring dalam pelukannya. Keduanya telanjang dan menyisakan sebuah selimut untuk menutupi tubuh mereka. Di balik selimut, Akas masih bisa melihat jejak merah terang yang sangat kontras dengan warna sprei tempat tidur yang putih bersih. Noda darah yang terlihat jelas di atas tempat tidur menandakan bahwa kesucian pertama gadis muda di dalam pelukannya ini telah direnggutnya. Akas memijat pangkal hidungnya dan perlahan mencoba mengingat semua yang terjadi kemarin malam. Nama pria itu adalah Akas Dhanuraja, yang kerap dipanggil Akas. Semalam ia baru saja kembali ke negara ini yang merupakan tanah kelahirannya, setelah ia berkembang di luar negeri selama dua dekade lamanya. Hal pertama yang dilakukannya setelah pulang tentu saja berkumpul dengan beberapa teman dan berbicara bersama dengan beberapa gelas wine. Namun ia terlalu mabuk semalam, dan seorang gadis kecil masuk ke dalam pelukannya begitu saja hingga akhirnya semua yang seharusnya telah terjadi. Ingatan tentang apa yang terjadi semalam mengalir begitu saja ke dalam otaknya. Gadis tersebut di bius, dan dirinya memilih untuk kehilangan kendali dan mengambil kesucian gadis kecil dalam pelukannya tersebut. Akas ingat bahwa ia sempat menolak namun sikap proaktif gadis itu mengalahkannya. Bukan berarti Akas tidak pernah mengalami hal yang sama. Biasanya ia memiliki kendali nafsu yang kuat atas dirinya sendiri. Bahkan jika ia dalam keadaan mabuk sekalipun, ia tidak akan pernah kehilangan kendalinya. Apalagi semalam ia tidak terlalu banyak minum wine. Jika tidak, ia pasti sudah sakit kepala dan tidak mengingat apa yang terjadi semalam. Ingatannya saat ini sangat jelas, Akas ingat bagaimana ia datang dan masuk ke kamar hotel. Ia juga ingat bagaimana gadis kecil ini melompat masuk ke dalam pelukannya dan bersikap proaktif. Ia juga ingat bagaimana ia kehilangan kendalinya, kehilangan akal sehatnya dan membiarkan nafsu menguasai dirinya. Melahap gadis yang tampak belum dewasa itu dengan sedikit kasar. 'Kacau! Semuanya kacau!' Gumam Akas dalam hatinya. Apapun yang terjadi, ia ingin membiarkan pikirannya tenang terlebih dahulu. Ia dengan hati hati bangkit dari tempat tidurnya, dan berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh tubuhnya yang lengket setelah bertempur hampir sepanjang malam. Bahkan saat ia melakukannya bersama dengan istrinya, ia tidak begitu gila dan lepas kendali seperti saat yang terjadi semalam. Begitu Akas masuk ke dalam kamar mandi, kelopak mata yang tertutup milik Salsa perlahan bergetar. Bulu matanya berkibar ringan dan sepasang mata cantik yang jernih membuat seluruh dunianya perlahan menjadi terang. Ya, gadis kecil yang tidur dengan Akas semalam adalah Salsa. Pria yang memeluk Salsa semalam adalah Akas. Saat ini, Salsa hanya merasakan seluruh tubuhnya sakit seakan akan ia baru saja dihantam oleh benda berat. Salsa perlahan bangkit dari tempat tidurnya dan merasakan perasaan lengket di sekujur tubuhnya. Dengan keadaan setengah sadar ia hanya melihat kekacauan di seluruh tempat. Pakaiannya yang berserakan di lantai sepertinya bukan hanya sepenuhnya miliknya. Ada beberapa pakaian asing seperti jas, celana dan kemeja. Salsa jelas masih melamun dan tidak menyadari apa yang sebenarnya telah terjadi. Ketika kesadarannya perlahan pulih, sambil memijat pinggangnya yang pegal Salsa menatap sekeliling kamar dengan ragu. Ia yakin sedang berada di dalam kamar hotel, pikirannya untuk sejenak memproses apa yang terjadi semalam ketika melihat kekacauan di seluruh kamar. Detik berikutnya ekspresi Salsa berubah menjadi pucat pasi, ia melihat noda darah di atas tempat tidur. Rasa sakit di suatu tempat dan seluruh tubuhnya yang pegal pegal. 'Ini buruk! Ini sangat buruk!' Gumam Salsa di dalam hatinya. Ia bergegas bangun, namun rasa sakit di pinggangnya membuatnya yang hendak bergerak seketika berhenti. 'Sial! Sakit sekali!' Bisik Salsa mengumpat keras dalam hatinya. Ia menapakkan kakinya ke tanah, melihat tubuhnya sendiri yang telanjang dan penuh dengan jejak kemerahan. Salsa menarik selimut dan menutupi dirinya sendiri, ia hendak berdiri dan mengambil pakaian miliknya sendiri begitu ia telah sedikit membiasakan diri dengan rasa sakitnya. Ia bangkit berdiri dengan kaki gemetar, menggunakan tangan untuk menopang dirinya sendiri. Ia tidak percaya dengan apa yang kemudian ia alami. BUG!!! Salsa menatap kosong pada kakinya yang lemas dan tanpa tenaga. Ia mengumpat berkali kali dalam hatinya, berfikir monster seperti apa yang telah dia singgung semalam. Mengapa rasanya sangat menyakitkan, padahal novel novel itu berkata rasanya sangat nikmat. Bibir Salsa memucat, dan ia hendak memaksakan dirinya untuk berdiri ketika ia melihat pintu geser ke kamar mandi perlahan terbuka. Untuk sejenak tubuhnya membeku dan pikirannya kosong. Hanya ada satu kalimat terngiang dalam benaknya, 'Pria itu masih disini!' Tubuh Salsa kaku dan ia tidak berani mendongak sama sekali. Bahkan keinginannya untuk segera berdiri pun hilang karena bukan hanya kakinya yang kehilangan tenaga saat ini, tapi bahkan pikirannya pun kosong.Ketika waktu tiup lilin tiba, seluruh ruangan menjadi gelap. Tirai dijatuhkan menghalangi sinar matahari. Akas mengusap puncak kepala Salsa dan berkata, "Ayo, katakan harapanmu." Salsa mengedipkan matanya, hatinya menghangat. Ia bahkan menduga bahwa Hendry sudah melupakan hari apa hari ini, namun pria di sampingnya yang bukan keluarganya dan selalu menindasnya ini justru merayakan ulang tahunnya dengan cara paling manis dan meriah meski rasanya canggung.Salsa tidak meminta banyak harapan, ia hanya berharap dirinya sehat dan mimpinya tercapai, ia juga berharap Akas sehat. Terakhir, ia mengingat Hendry yang mungkin sedang bersama istri baru dan putri barunya. Bisakah ia berharap agar ayahnya kembali menjadi ayahnya seorang diri? Salsa tidak berharap banyak.Begitu Salsa membuka matanya, ia meniup lilinnya dengan lembut. Umurnya bertambah satu tahun, matanya sedikit memerah. Ia melihat seorang pelayan restoran membawa tumpukan kado. Ia menoleh pada Akas dan bertanya, "Mengapa kado nya b
Akas tidak menjawab pertanyaan Salsa. Ia hanya menatapnya dalam diam yang membuat Salsa merasa tidak nyaman pada awalnya. Setelah beberapa saat, Salsa juga terbiasa. Ia hanya memfokuskan pikirannya sendiri pada buket bunga di pelukannya. Setelah menghitungnya dengan bosan, itu lengkap sembilan puluh sembilan sembilan bunga mawar merah muda. Akas memilih jumlah ini bukan karena alasan lain. Karena itu jumlah paling banyak yang bisa dibuat buket menurut pemilik toko bunga nya. Tanpa mengetahui arti darinya.Ketika Akas membeli buket bunga, pemilik toko bertanya. "Mau satu tangkai? Tiga? Empat? Atau dua belas? Lima puluh atau sembilan puluh sembilan?" Masing masing tentu memiliki arti yang berbeda. Setelah Akas mendengarnya, tanpa tahu artinya ia hanya memilih yang paling banyak.Dimas ingin mengingatkan, namun ekspresi Akas memperlihatkan kekeras kepalaannya. Ia jelas juga mengerti arti angka mawar tersebut. Seperti satu tangkai yang berarti cinta pertama dan satu satunya. Tiga tangkai
Salsa memeluk buku mata kuliah di dadanya, kemudian menggelengkan kepalanya kuat. "Maaf kak, hari ini aku sudah ada janji." Ucap Salsa dengan penuh penyesalan. Ekspresi Ilham berubah menjadi kecewa, sementara Rosa merasa tak berdaya. Padahal menurutnya dua orang ini sangat cocok bersama, namun rintangan nya sepertinya tidak mudah dilewati.Pada saat ini, seorang mahasiswi berjalan melewati Salsa. "Apakah kamu anak baru yang bernama Salsa? Ada orang yang mencarimu di lapangan. Dia sepertinya sudah cukup lama menunggumu." Ucap mahasiswi tersebut. Sementara Salsa mengangkat alisnya tahu, siapa yang mencarinya ke universitas. Itu tidak mungkin Akas kan?"Baiklah terimakasih." Setelah mengatakan terimakasih, Salsa berjalan pergi dengan langkah cepat. Sementara Rosa dan Ilham mengikutinya di belakang dengan rasa penasaran."Junior, kamu benar benar mengenal pria mapan setampan itu!" Ucap mahasiswa senior yang baru saja memberitahu Salsa kabar tersebut. Salsa mengabaikannya, namun ucapan pih
Kamar tidur Novi, saat ini kepala pelayan keluarga Hendry dan bawahan khusus di bawah perintah Akas itu sedang diam diam membuka handphone nya untuk menghubungi Akas. Tidak butuh waktu lama hingga telephone terhubung.Akas duduk di kursi kantor yang tenang, dengan tumpukan dokumen di atas mejanya. Dinding kaca di belakang punggungnya menunjukkan panorama pemandangan seluruh kota malan itu dengan sangat detail."Bagaimana situasi disana?" Akas membuka mulutnya lebih dulu dan bertanya. Entah mengapa beberapa waktu belakangan ini ia merasa firasat buruk menghantuinya. Akas mendongak menatap Novi yang tampak memasang ekspresi rumit, bingung dan bimbang tentang bagaimana harus menceritakan apa yang telah terjadi.Ekspresi Akas berubah menjadi buruk, jangan jangan sesuatu terjadi pada Salsa? Jika itu benar, maka ia tidak akan pernah memaafkan Hendry lagi seumur hidupnya. Novi menggelengkan kepalanya lembut dan mulai bercerita. Mulai dari Salsa yang baru saja pulang sekolah dan langsung men
"A-akan ku katakan! A-akan ku katakan. A-aku membuangnya di tempat sampah halaman belakang!" Teriak Audrey dengan putus asa setelah ia merasakan rasa sakit di tangannya semakin menyakitkan. Ia takut jika terus di tarik, tangannya akan benar benar patah.Salsa menepis tangan Audrey ke samping. Nova yang menyaksikan semua yang terjadi dengan pucat segera bergegas pergi ke tempat yang dikatakan Audrey untuk mengambil boneka tersebut. Meski ia tidak tahu apa alasan Salsa begitu keras kepala tentang boneka itu. Namun ia tahu bahwa jika sesuatu yang besar terjadi pada Salsa hari ini, bos nya tidak akan mengampuninya. Lagipula Salsa adalah kesayangan bos nya."SALSA!!!" Pada saat yang sama, Hendry yang baru saja datang memandang situasi Audrey yang buruk. Terutama tangannya yang lebam merah kebiruan Sienna menangis histeris, menghampiri Audrey dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.Sementata Hendry, dengan langkah cepat dan tanpa pikir panjang. Ia mengangkat tangannya tinggi dan mengayun
Tidak butuh waktu lama, dalam perjalanan yang lancar. Akas dan Salsa hampir tidak berbicara satu kata patah pun. Suasana di dalam mobil semakin dingin dan canggung hingga membuat Dimas merinding.Ketika mobil akhirnya berhenti di depan villa tempat tinggal Salsa. Salsa tidak buru buru turun. Ia duduk dengan tenang di dalam mobil, mempertahankan sikap canggung yang sama. Salsa merasa bersalah dan Akas jauh lebih merasa bersalah. Keduanya sama sama memalingkan muka.Salsa terdiam sejenak, kemudian berkata dengan lembut. "Terimakasih." Salsa kemudian membuka pintu mobil, ia tidak mendapatkan jawaban atas ucapan terima kasihnya. Hanya sebuah deheman ringan yang hampir tidak terdengar.Salsa menutup pintu mobilnya, ia berdiri disana selama beberapa saat dan mengetuk ringan jendela mobil Akas. Dimas yang melihatnya buru buru menekan tombol untuk menurunkan kaca mobil. Salsa sedikit membungkukkan badannya, matanya berkilat dengan rasa ragu namun ia tetap berbicara. "Lain kali ayo makan bersa
"Lalu, ini adalah putriku, Salsa!" Lanjut Henry memperkenalkan Salsa pada Akas. Sudut bibir Salsa berkedut mendengarnya, ia tersenyum sambil menatap Akas sementara Akas juga tersenyum dan menyapa. "Hallo, Salsa." Suara berat yang khas penuh dengan pesona membuat Salsa merasa candu. Untuk sejenak ba
Otak Salsa seakan akan tidak mampu merespon informasi yang baru diperolehnya. Ia berjalan linglung dengan bantuan Crystal dan seluruh matanya menatap kosong pada sosok tersebut.Mendengar suara langkah kaki mendengar, dua orang yang berada di ruang tamu utu juga mengalihkan pandangannya. Ketika Hen
Night bar, malam hari. Salsa terhuyung kembali ke tempat duduknya. Ia memesan beberapa botol bir lagi dan meneguknya habis. Matanya tidak bisa fokus dan air mata terus menetes entah mengapa. Padahal ia sudah berkata pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik baik saja, namun melihat ayahnya memi
"Aku datang untuk memberikan hadiah pada putri baptisku." Akas berkata dengan dingin. Namun ungkapannya sudah menyiratkan bahwa ia sangat mementingkan Salsa. Disisi lain, Salsa sedikit mengangkat kepalanya menatap Akas dengan ekspresi rumit. Jika sebelumnya ia akan merasa kesal, namun kini sebutan







