LOGINAkas yang baru saja keluar kamar mandi merasa suasananya menjadi canggung. Ia sudah melalui kehidupan sepanjang empat dekade lamanya, namun untuk situasi seperti ini yang juga pertama kali ia alami. Bahkan dia sendiri merasa canggung dan bingung. Namun ia tahu, bahwa hal pertama yang harus dia lakukan adalah menenangkan gadis kecil itu.
Akas merasakan rasa bersalah yang kuat. Di umurnya yang melebihi empat puluh tahun, ia tidur dengan seorang gadis muda yang bahkan Akas tidak tahu apakah pihak lain sudah dewasa atau belum. Akas mengulurkan tangannya dan membantu Salsa untuk bangun dan kembali ke atas tempat tidur. Ketika ia di kamar mandi barusan, ia juga mendengar suara jatuh yang keras. Ketika Akas menoleh, ada sedikit luka goresan di lutut dan siku gadis kecil itu. Untuk sesaat matanya menjadi gelap, ia meraih selimut dan menutupi bagian tubuh gadis tersebut yang terbuka. Salsa tidak berani bergerak dan hanya bisa patuh, namun hatinya terasa cemas dan panik. Ia melihat bahwa pria di depannya ini mengenakan handuk baju yang cukup longgar hingga Salsa merasa hampir dapat melihat yang berada di balik handuk baju tersebut. Salsa segera menundukkan kepalanya dan tidak berani melihat. Namun ia merasakan bahwa tubuh pria itu sedikit bergetar, lalu pihak lain menekuk tubuhnya dan perlahan berlutut pada Salsa. Untuk sejenak, Salsa tertegun. Harus ia akui bahwa pria ini sangat tampan! Namun Salsa bisa menebak bahwa pria ini cukup tua. Ia terlihat seperti berumur tiga puluh tahun. Namun ada jejak rambut putih di atas kepalanya, lipatan keriput di sudut matanya menandakan jejak berlalunya waktu pada tubuh pria itu. 'Aku benar benar tidur dengan pria tua ini?' Gumam Salsa dengan ekspresi tak percaya. Namun karena ketampanan Akas, Salsa memaafkannya dengan cepat. Mungkin bukan sebuah kerugian tidur dengan paman tampan ini kan? Pandangan Salsa turun, dan delapan otot perut yang dipahat rapi bersama garis duyung yang seksi muncul dalam bidang penglihatannya. Meneguk ludahnya kasar, Salsa sontak mengalihkan perhatiannya meski ia merasa air liurnya menetes tak terkendali. 'Salsa! Jangan sampai kamu tergila gila karena tubuh orang lain! Dia memang tampan dan seksi! Meski dia sudah tua, tapi... tapi... ' Salsa bergumam dan terpaku dalam ingatannya sendiri. Tepat ketika Salsa tenggelam dalam pikirannya, suara Akas terdengar penuh rasa bersalah. Apalagi ketika Akas melihat gadis kecil ini menatap kosong seakan akan tak bernyawa setelah mengetahui semalam terjadi hal besar seperti itu. "Maafkan aku, tentang semalam..." Ucap Akas dengan suara lembut dan seraknya. Salsa tersadar dan sontak langsung berdiri dari tempat tidur yang menyebabkan tubuhnya bergetar setelah rasa sakit menyerang bagai gelombang dahsyat. "A-Anggap saja itu kecelakaan, Ti-tidak ada yang terjadi di antara kita." Ucap Salsa dengan rasa takut yang tersisa ketika mengingat apa yang terjadi semalam. Ingatannya sedikit kabur namun ia masih mengingat dengan jelas gelombang kenikmatan dan rasa sakit yang menemaninya sepanjang malam. Salsa menatap langit yang sudah cerah dan wajahnya seketika memucat. Ia teringat dengan ucapan Paman Sam di rumah semalam bahwa ayahnya akan tiba di rumah pagi ini. Daripada paman tampan di depannya, Salsa merasa ayahnya adalah urusan yang paling penting saat ini. Jadi ia buru buru bangkit dan berjalan mengambil satu demi satu pakaiannya dan mengenakannya. Ia tidak peduli dengan Akas yang berdiri di belakang memandangnya. Pikirannya penuh dengan apakah ayahnya sudah tiba di rumah. Menahan rasa sakit dan pegal di sekujur tubuhnya, Salsa benar benar ketakutan jika amarah ayahnya tumpah ketika ia tidak melihatnya di rumah. ... Untuk sejenak Salsa menyesal karena harus menyelinap pergi dari rumah semalam. Berjalan menuju pintu, Salsa hendak membuka pintu kamar hotel ketika tangannya tiba tiba terhenti. Suara di luar kamar cukup keras hingga dapat Salsa dengar. "Bukankah sudah kukatakan untuk membawanya ke kamar hotel ini?" Suara seorang laki laki familiar menggema di telinga Salsa. "Kakak Liam, kami benar benar sudah membawanya kemari. Kami sudah memasukkannya ke kamar ini." Suara seorang wanita menyahutnya dengan sedikit rasa kesal. "Kalau kamu sudah membawanya kemari, mana buktinya? Aku baru saja hendak bersenang senang, tapi aku tidak menemukan perempuan itu dimanapun." Orang yang dipanggil Kakak Liam itu kembali berkata dengan penuh amarah. Salsa mengenali kedua suara tersebut dengan sangat jelas. Laki laki itu adalah teman sekelasnya yang penuh dengan rumor buruk. Ia adalah seorang Tuan Muda, dengan memanfaatkan identitasnya dan latar belakang keluarganya ia membuat kerusuhan kemanapun ia pergi. Sebelumnya Salsa hanya mendengar rumornya, namun kini ia mengetahui bahwa semua rumor tersebut nyata dan tidak di buat buat. Sedangkan suara perempuan itu, Salsa sangat mengenalnya. Lagipula Salsa sudah menghabiskan tiga tahun bersamanya. Bagaimana ia tidak bisa mengenalnya. Suara itu adalah milik sahabatnya di sekolah menengah, Sania. Untuk sejenak tubuh Salsa membeku, jantungnya berdebar kencang dan tubuhnya menjadi lemas. Meskipun ia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan di luar, namun Salsa masih bisa mengingat kejadian semalam dengan cukup jelas. Ia mengetahui bahwa kamar ini tepat di seberang kamar tempat Sania dan Marry mengantarnya kembali ke hotel semalam. Maksudnya, apakah ada alasan Sania dan Marry mengantarnya ke kamar tersebut? Hanya untuk menyerahkan dirinya pada orang yang disebut Tuan Muda Liam itu? Dimana jejak persahabatan mereka? Apakah sahabat bisa mengorbankan dan menjebak teman sendiri? "Tuan Muda Liam, apakah benar benar tidak ada yang salah dengan obatnya. Aku dan Sania benar benar sudah membawa ke kamar hotel ini sesuai instruksi mu. Bahkan jika Salsa ingin melarikan diri, itu tidak mungkin." Suara Marry terdengar dan ikut bergabung dalam perdebatan yang sengit tersebut. Salsa akhirnya dengan tak percaya mengakui bahwa kemarin ia benar benar di jebak oleh kedua sahabatnya, Marry dan Sania. Ia meminum obat dan membawanya ke kamar hotel yang di pesan Tuan Muda Liam agar laki laki bajingan bernama Liam itu bermain dengannya. Untuk sejenak Salsa tidak bisa menahan rasa mualnya, ia terhuyung mundur dan tanpa sengaja menabrak dada bidang milik Akas yang entah sejak kapan sudah berada tepat di belakang punggung Salsa. Akas tidak berbicara, namun ia memandang Salsa dengan sedikit kelembutan dan kasih sayang. Karena bukan hanya Salsa yang mendengar percakapan barusan, tapi Akas juga mendengarnya dari awal sampai akhir.Ketika waktu tiup lilin tiba, seluruh ruangan menjadi gelap. Tirai dijatuhkan menghalangi sinar matahari. Akas mengusap puncak kepala Salsa dan berkata, "Ayo, katakan harapanmu." Salsa mengedipkan matanya, hatinya menghangat. Ia bahkan menduga bahwa Hendry sudah melupakan hari apa hari ini, namun pria di sampingnya yang bukan keluarganya dan selalu menindasnya ini justru merayakan ulang tahunnya dengan cara paling manis dan meriah meski rasanya canggung.Salsa tidak meminta banyak harapan, ia hanya berharap dirinya sehat dan mimpinya tercapai, ia juga berharap Akas sehat. Terakhir, ia mengingat Hendry yang mungkin sedang bersama istri baru dan putri barunya. Bisakah ia berharap agar ayahnya kembali menjadi ayahnya seorang diri? Salsa tidak berharap banyak.Begitu Salsa membuka matanya, ia meniup lilinnya dengan lembut. Umurnya bertambah satu tahun, matanya sedikit memerah. Ia melihat seorang pelayan restoran membawa tumpukan kado. Ia menoleh pada Akas dan bertanya, "Mengapa kado nya b
Akas tidak menjawab pertanyaan Salsa. Ia hanya menatapnya dalam diam yang membuat Salsa merasa tidak nyaman pada awalnya. Setelah beberapa saat, Salsa juga terbiasa. Ia hanya memfokuskan pikirannya sendiri pada buket bunga di pelukannya. Setelah menghitungnya dengan bosan, itu lengkap sembilan puluh sembilan sembilan bunga mawar merah muda. Akas memilih jumlah ini bukan karena alasan lain. Karena itu jumlah paling banyak yang bisa dibuat buket menurut pemilik toko bunga nya. Tanpa mengetahui arti darinya.Ketika Akas membeli buket bunga, pemilik toko bertanya. "Mau satu tangkai? Tiga? Empat? Atau dua belas? Lima puluh atau sembilan puluh sembilan?" Masing masing tentu memiliki arti yang berbeda. Setelah Akas mendengarnya, tanpa tahu artinya ia hanya memilih yang paling banyak.Dimas ingin mengingatkan, namun ekspresi Akas memperlihatkan kekeras kepalaannya. Ia jelas juga mengerti arti angka mawar tersebut. Seperti satu tangkai yang berarti cinta pertama dan satu satunya. Tiga tangkai
Salsa memeluk buku mata kuliah di dadanya, kemudian menggelengkan kepalanya kuat. "Maaf kak, hari ini aku sudah ada janji." Ucap Salsa dengan penuh penyesalan. Ekspresi Ilham berubah menjadi kecewa, sementara Rosa merasa tak berdaya. Padahal menurutnya dua orang ini sangat cocok bersama, namun rintangan nya sepertinya tidak mudah dilewati.Pada saat ini, seorang mahasiswi berjalan melewati Salsa. "Apakah kamu anak baru yang bernama Salsa? Ada orang yang mencarimu di lapangan. Dia sepertinya sudah cukup lama menunggumu." Ucap mahasiswi tersebut. Sementara Salsa mengangkat alisnya tahu, siapa yang mencarinya ke universitas. Itu tidak mungkin Akas kan?"Baiklah terimakasih." Setelah mengatakan terimakasih, Salsa berjalan pergi dengan langkah cepat. Sementara Rosa dan Ilham mengikutinya di belakang dengan rasa penasaran."Junior, kamu benar benar mengenal pria mapan setampan itu!" Ucap mahasiswa senior yang baru saja memberitahu Salsa kabar tersebut. Salsa mengabaikannya, namun ucapan pih
Kamar tidur Novi, saat ini kepala pelayan keluarga Hendry dan bawahan khusus di bawah perintah Akas itu sedang diam diam membuka handphone nya untuk menghubungi Akas. Tidak butuh waktu lama hingga telephone terhubung.Akas duduk di kursi kantor yang tenang, dengan tumpukan dokumen di atas mejanya. Dinding kaca di belakang punggungnya menunjukkan panorama pemandangan seluruh kota malan itu dengan sangat detail."Bagaimana situasi disana?" Akas membuka mulutnya lebih dulu dan bertanya. Entah mengapa beberapa waktu belakangan ini ia merasa firasat buruk menghantuinya. Akas mendongak menatap Novi yang tampak memasang ekspresi rumit, bingung dan bimbang tentang bagaimana harus menceritakan apa yang telah terjadi.Ekspresi Akas berubah menjadi buruk, jangan jangan sesuatu terjadi pada Salsa? Jika itu benar, maka ia tidak akan pernah memaafkan Hendry lagi seumur hidupnya. Novi menggelengkan kepalanya lembut dan mulai bercerita. Mulai dari Salsa yang baru saja pulang sekolah dan langsung men
"A-akan ku katakan! A-akan ku katakan. A-aku membuangnya di tempat sampah halaman belakang!" Teriak Audrey dengan putus asa setelah ia merasakan rasa sakit di tangannya semakin menyakitkan. Ia takut jika terus di tarik, tangannya akan benar benar patah.Salsa menepis tangan Audrey ke samping. Nova yang menyaksikan semua yang terjadi dengan pucat segera bergegas pergi ke tempat yang dikatakan Audrey untuk mengambil boneka tersebut. Meski ia tidak tahu apa alasan Salsa begitu keras kepala tentang boneka itu. Namun ia tahu bahwa jika sesuatu yang besar terjadi pada Salsa hari ini, bos nya tidak akan mengampuninya. Lagipula Salsa adalah kesayangan bos nya."SALSA!!!" Pada saat yang sama, Hendry yang baru saja datang memandang situasi Audrey yang buruk. Terutama tangannya yang lebam merah kebiruan Sienna menangis histeris, menghampiri Audrey dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.Sementata Hendry, dengan langkah cepat dan tanpa pikir panjang. Ia mengangkat tangannya tinggi dan mengayun
Tidak butuh waktu lama, dalam perjalanan yang lancar. Akas dan Salsa hampir tidak berbicara satu kata patah pun. Suasana di dalam mobil semakin dingin dan canggung hingga membuat Dimas merinding.Ketika mobil akhirnya berhenti di depan villa tempat tinggal Salsa. Salsa tidak buru buru turun. Ia duduk dengan tenang di dalam mobil, mempertahankan sikap canggung yang sama. Salsa merasa bersalah dan Akas jauh lebih merasa bersalah. Keduanya sama sama memalingkan muka.Salsa terdiam sejenak, kemudian berkata dengan lembut. "Terimakasih." Salsa kemudian membuka pintu mobil, ia tidak mendapatkan jawaban atas ucapan terima kasihnya. Hanya sebuah deheman ringan yang hampir tidak terdengar.Salsa menutup pintu mobilnya, ia berdiri disana selama beberapa saat dan mengetuk ringan jendela mobil Akas. Dimas yang melihatnya buru buru menekan tombol untuk menurunkan kaca mobil. Salsa sedikit membungkukkan badannya, matanya berkilat dengan rasa ragu namun ia tetap berbicara. "Lain kali ayo makan bersa
Night bar, malam hari. Salsa terhuyung kembali ke tempat duduknya. Ia memesan beberapa botol bir lagi dan meneguknya habis. Matanya tidak bisa fokus dan air mata terus menetes entah mengapa. Padahal ia sudah berkata pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik baik saja, namun melihat ayahnya memi
"Aku datang untuk memberikan hadiah pada putri baptisku." Akas berkata dengan dingin. Namun ungkapannya sudah menyiratkan bahwa ia sangat mementingkan Salsa. Disisi lain, Salsa sedikit mengangkat kepalanya menatap Akas dengan ekspresi rumit. Jika sebelumnya ia akan merasa kesal, namun kini sebutan
Dalam perjalanan pulang, Dimas yang sedang menyetir juga berbicara dengan nada sedikit ragu dalam suaranya."Tuan, aku dengar Tuan Henry memarin pulang membawa seorang wanita yang memiliki anak perempuan. Anak perempuan utu umurnya mungkin hampir sama dengan nona Salsa." Ucap Dimas. Ketika Akas men
Ketika Salsa sedang sibuk bermain dengan cat minyak dan canvasnya. Suara notifikasi handphone mengganggunya. Salsa mengerutkan keningnya dan sedikit mencondongkan tubuhnya. Melihat pesan siapa yang tiba di handphonenya. Lagipula Crystal sudah pergi ke luar negeri, seharusnya Salsa tidak memiliki te







