LOGINBeruntungnya, ketika Salsa melihat Crystal hendak bergegas menyerbu pintu hotel tanpa pikir panjang, Salsa akhirnya menghentikannya tepat waktu.
"Crystal, tidak sekarang!" Ucap Salsa dengan alis mengerut. Hatinya menjadi hangat mendengar kata kata Crystal. Kali ini ia tidak akan salah pilih teman lagi. "Jika aku tidak melakukannya, aku tidak akan merasa lega! Aku akan membalaskan dendammu, bagaimana mereka bisa memperlakukanmu seperti ini?" Celetuk Crystal masih dengan amarah yang jelas dalam ekspresi wajahnya. Salsa menggelengkan kepalanya lembut dan meraih lengan Crystal dengan sedikit genit. "Tidak sekarang, yang lebih penting sekarang tolong antar aku ke rumah! Orang tua itu pasti sudah menungguku pulang!" Ucap Salsa dengan kecemasan dan kegugupan yang jelas dalam nada suaranya. Crystal terdiam sejenak lalu tubuhnya sedikit tersentak. "Maksudmu, ayahmu kembali? Dan kamu masih berani menyelinap keluar?" Tanya Crystal sambil menatap Salsa dengan penuh ketidakpercayaan. "Bukankah itu karena aku penasaran?" Lirih Salsa dengan penuh rasa bersalah. Crystal menghela nafas tak berdaya dan hanya bisa mencubit telinga Salsa ringan agar tidak menyakiti pemilik telinga terlalu banyak. Salsa hanya bisa merasakan sensasi geli dan hanya tertawa bodoh. Crystal meraih Salsa masuk ke kursi penumpang mobilnya. Mobil sport itu hanya memiliki dua kursi, jadi Salsa secara otomatis duduk di kursi penumpang yang ada di samping kursi kemudi. Crystal mengeluarkan sebuah obat dan memberikannya pada Salsa. "Minum ini, obat pencegah kehamilan. Kamu bilang, semalam kamu tidur dengan orang asing itu. Minum ini dulu, jangan sampai hamil." Ucap Crystal sambil memberikan obat kecil itu pada Salsa. Masih dengan rasa takut yang tersisa, jantung Salsa berdegup kencang mengingat apa yang terjadi semalam. Dia tidak mau hamil muda! Jadi Salsa mengambil pil itu dan meminumnya dengan cepat. Crystal tersenyum puas melihat hal itu, lalu ia mengemudikan mobilnya dengan cepat membawa Salsa kembali ke rumahnya. Di dalam mobil, Salsa sudah mendiskusikan bagaimana ia harus menghindari amarah ayahnya. "Begitu kita masuk, kamu bantu aku. Katakan saja aku bersama denganmu semalam! Oke! Kumohon!" Ucap Salsa dengan penuh permohonan. Crystal tak berdaya dan melirik Salsa sambil tersenyum lembut. Ia menganggukkan kepalanya dan menenangkan Salsa yang masih dipenuhi kepanikan dan kecemasan. "Baiklah, kamu tenang saja! Kamu jangan gugup, atau semuanya akan terbongkar nanti. Jika kamu tidak tahu harus bicara apa, diam saja! Biar aku yang mengatasinya. Intinya dengarkan aku!" Ucap Crystal dengan penuh keseriusan. Seharusnya ia tidak membantu Salsa menyembunyikan hal besar ini. Namun, siapa yang suruh ia terlalu menyayangi sahabatnya ini. Salsa dalam benaknya tampak begitu tinggi, ceria, dan berani. Seperti mentari kecil yang diam diam bersinar dan menyinari semua orang di sekitarnya. Dahulu Crystal bukanlah sosok yang anggun dan dewasa seperti saat ini. Ia tampak kesepian dan menyendiri. Ia tersingkirkan dan diabaikan dalam pergaulannya. Crystal sama sekali tidak memiliki teman, selain gadis kecil yang ceria dan berani yang selalu menyeretnya pergi kemana mana. Ketika Crystal dibully dan dihina oleh teman temannya karena tidak memiliki ibu. Salsa seperti mentari kecil yang melindunginya dan menyinari dunianya yang abu abu. Tubuh ibu Crystal sangat lemah ketika ia mengandung Crystal. Kemudian ia meninggal ketika ia berhasil melahirkan Crystal. Kelahiran Crystal merenggut nyawanya, kemudian ayahnya yang terlalu mencintai ibunya sangat mengabaikan Crystal dan membiarkannya tumbuh secara mandiri di tangan pengasuh. Selain memenuhi kebutuhan materi, bisa dikatakan Crystal tidak mendapatkan kasih sayang ibu dan ayah sejak ia masih kecil. Meski begitu Crystal selalu bersyukur, setidaknya ayahnya mau membiayainya dan menampungnya meskipun tanpa kasih sayang. Ayahnya tidak menyalahkannya atas meninggalnya ibunya meski sikapnya sangat cuek dan dingin padanya. Namun pendapat ayahnya berbeda dengan pendapat orang orang, mereka memandang Crystal seperti pembunuh. Anak anak memandangnya dengan rendah, seekor makhluk kecil tanpa ibu dan ayah. Ditengah semua itu, hanya Salsa yang berdiri di sampingnya dan menggenggam tangannya. ... Kembali pada waktu saat ini, mobil sport itu hampir menerobos lampu merah beberapa kali dan kecepatannya terus meningkat hampir menembus batas aturan jalan raya. Baru kemudian, ketika mobil sport memasuki kawasan mewah, mobil tersebut bergerak lebih pelan dan melaju menuju sebuah villa mewah dengan desain modern setinggi tiga lantai. Ini adalah villa terbaik di kawasan bangsawan tersebut. Bahkan halamannya pun cukup lebar untuk ditanami oleh berbagai jenis bunga berbagai warna. Saat ini di depan rumah tersebut, sebuah mobil bangsawan dengan patung emas berdiri di kap mobilnya sedang terparkir dengan tenang. Plat nomor mobil tersebut sangat spesial, Huruf depan adalah AK kemudian hanya ada dua angka di tengah 01 dan terakhir nama panjang itu begitu mencolok 'DHANURAJA'. Salsa tidak pernah melihat mobil ini di rumah sebelumnya. Namun, ia tidak terlalu memikirkannya. Mungkin ini adalah mobil milik tamu ayahnya. Jadi ia bergegas berjalan masuk dan hampir meninggalkan Crystal yang mengikutinya. Memasuki halaman, Salsa akhirnya melihatnya. Mobil milik ayahnya! Mobil tua yang langka itu adalah mobil kesayangan ayahnya! Ayahnya membeli mobil ini dengan harga selangit dan butuh usaha yang sangat keras untuk membelinya. Ayahnya berkata bahwa mobil bobrok ini adalah peninggalan perang masa itu. Jantung Salsa berdegup kencang, ini artinya ayahnya sudah kembali! Tangannya mencengkeram erat lengan Crystal, disisi lain Crystal juga mengerti begitu melihat emosi Salsa yang bergejolak. Ia hanya menepuk lembut punggung Salsa dan berusaha menenangkannya. Keduanya berjalan masuk dan melihat suara tawa terdengar dari ruang tamu. Jarak antara pintu masuk dan ruang tamu tidak jauh, tepat di sebelah kanan. Ketika Salsa dan Crystal menoleh, tubuh Salsa membeku dan ia merasa terkejut ketika ia melihat sosok yang familiar sebenarnya duduk bersama ayahnya disana dan sedang bercanda tawa sangat akrab dengan ayahnya.Ketika waktu tiup lilin tiba, seluruh ruangan menjadi gelap. Tirai dijatuhkan menghalangi sinar matahari. Akas mengusap puncak kepala Salsa dan berkata, "Ayo, katakan harapanmu." Salsa mengedipkan matanya, hatinya menghangat. Ia bahkan menduga bahwa Hendry sudah melupakan hari apa hari ini, namun pria di sampingnya yang bukan keluarganya dan selalu menindasnya ini justru merayakan ulang tahunnya dengan cara paling manis dan meriah meski rasanya canggung.Salsa tidak meminta banyak harapan, ia hanya berharap dirinya sehat dan mimpinya tercapai, ia juga berharap Akas sehat. Terakhir, ia mengingat Hendry yang mungkin sedang bersama istri baru dan putri barunya. Bisakah ia berharap agar ayahnya kembali menjadi ayahnya seorang diri? Salsa tidak berharap banyak.Begitu Salsa membuka matanya, ia meniup lilinnya dengan lembut. Umurnya bertambah satu tahun, matanya sedikit memerah. Ia melihat seorang pelayan restoran membawa tumpukan kado. Ia menoleh pada Akas dan bertanya, "Mengapa kado nya b
Akas tidak menjawab pertanyaan Salsa. Ia hanya menatapnya dalam diam yang membuat Salsa merasa tidak nyaman pada awalnya. Setelah beberapa saat, Salsa juga terbiasa. Ia hanya memfokuskan pikirannya sendiri pada buket bunga di pelukannya. Setelah menghitungnya dengan bosan, itu lengkap sembilan puluh sembilan sembilan bunga mawar merah muda. Akas memilih jumlah ini bukan karena alasan lain. Karena itu jumlah paling banyak yang bisa dibuat buket menurut pemilik toko bunga nya. Tanpa mengetahui arti darinya.Ketika Akas membeli buket bunga, pemilik toko bertanya. "Mau satu tangkai? Tiga? Empat? Atau dua belas? Lima puluh atau sembilan puluh sembilan?" Masing masing tentu memiliki arti yang berbeda. Setelah Akas mendengarnya, tanpa tahu artinya ia hanya memilih yang paling banyak.Dimas ingin mengingatkan, namun ekspresi Akas memperlihatkan kekeras kepalaannya. Ia jelas juga mengerti arti angka mawar tersebut. Seperti satu tangkai yang berarti cinta pertama dan satu satunya. Tiga tangkai
Salsa memeluk buku mata kuliah di dadanya, kemudian menggelengkan kepalanya kuat. "Maaf kak, hari ini aku sudah ada janji." Ucap Salsa dengan penuh penyesalan. Ekspresi Ilham berubah menjadi kecewa, sementara Rosa merasa tak berdaya. Padahal menurutnya dua orang ini sangat cocok bersama, namun rintangan nya sepertinya tidak mudah dilewati.Pada saat ini, seorang mahasiswi berjalan melewati Salsa. "Apakah kamu anak baru yang bernama Salsa? Ada orang yang mencarimu di lapangan. Dia sepertinya sudah cukup lama menunggumu." Ucap mahasiswi tersebut. Sementara Salsa mengangkat alisnya tahu, siapa yang mencarinya ke universitas. Itu tidak mungkin Akas kan?"Baiklah terimakasih." Setelah mengatakan terimakasih, Salsa berjalan pergi dengan langkah cepat. Sementara Rosa dan Ilham mengikutinya di belakang dengan rasa penasaran."Junior, kamu benar benar mengenal pria mapan setampan itu!" Ucap mahasiswa senior yang baru saja memberitahu Salsa kabar tersebut. Salsa mengabaikannya, namun ucapan pih
Kamar tidur Novi, saat ini kepala pelayan keluarga Hendry dan bawahan khusus di bawah perintah Akas itu sedang diam diam membuka handphone nya untuk menghubungi Akas. Tidak butuh waktu lama hingga telephone terhubung.Akas duduk di kursi kantor yang tenang, dengan tumpukan dokumen di atas mejanya. Dinding kaca di belakang punggungnya menunjukkan panorama pemandangan seluruh kota malan itu dengan sangat detail."Bagaimana situasi disana?" Akas membuka mulutnya lebih dulu dan bertanya. Entah mengapa beberapa waktu belakangan ini ia merasa firasat buruk menghantuinya. Akas mendongak menatap Novi yang tampak memasang ekspresi rumit, bingung dan bimbang tentang bagaimana harus menceritakan apa yang telah terjadi.Ekspresi Akas berubah menjadi buruk, jangan jangan sesuatu terjadi pada Salsa? Jika itu benar, maka ia tidak akan pernah memaafkan Hendry lagi seumur hidupnya. Novi menggelengkan kepalanya lembut dan mulai bercerita. Mulai dari Salsa yang baru saja pulang sekolah dan langsung men
"A-akan ku katakan! A-akan ku katakan. A-aku membuangnya di tempat sampah halaman belakang!" Teriak Audrey dengan putus asa setelah ia merasakan rasa sakit di tangannya semakin menyakitkan. Ia takut jika terus di tarik, tangannya akan benar benar patah.Salsa menepis tangan Audrey ke samping. Nova yang menyaksikan semua yang terjadi dengan pucat segera bergegas pergi ke tempat yang dikatakan Audrey untuk mengambil boneka tersebut. Meski ia tidak tahu apa alasan Salsa begitu keras kepala tentang boneka itu. Namun ia tahu bahwa jika sesuatu yang besar terjadi pada Salsa hari ini, bos nya tidak akan mengampuninya. Lagipula Salsa adalah kesayangan bos nya."SALSA!!!" Pada saat yang sama, Hendry yang baru saja datang memandang situasi Audrey yang buruk. Terutama tangannya yang lebam merah kebiruan Sienna menangis histeris, menghampiri Audrey dan memeluknya dengan penuh kasih sayang.Sementata Hendry, dengan langkah cepat dan tanpa pikir panjang. Ia mengangkat tangannya tinggi dan mengayun
Tidak butuh waktu lama, dalam perjalanan yang lancar. Akas dan Salsa hampir tidak berbicara satu kata patah pun. Suasana di dalam mobil semakin dingin dan canggung hingga membuat Dimas merinding.Ketika mobil akhirnya berhenti di depan villa tempat tinggal Salsa. Salsa tidak buru buru turun. Ia duduk dengan tenang di dalam mobil, mempertahankan sikap canggung yang sama. Salsa merasa bersalah dan Akas jauh lebih merasa bersalah. Keduanya sama sama memalingkan muka.Salsa terdiam sejenak, kemudian berkata dengan lembut. "Terimakasih." Salsa kemudian membuka pintu mobil, ia tidak mendapatkan jawaban atas ucapan terima kasihnya. Hanya sebuah deheman ringan yang hampir tidak terdengar.Salsa menutup pintu mobilnya, ia berdiri disana selama beberapa saat dan mengetuk ringan jendela mobil Akas. Dimas yang melihatnya buru buru menekan tombol untuk menurunkan kaca mobil. Salsa sedikit membungkukkan badannya, matanya berkilat dengan rasa ragu namun ia tetap berbicara. "Lain kali ayo makan bersa
Night bar, malam hari. Salsa terhuyung kembali ke tempat duduknya. Ia memesan beberapa botol bir lagi dan meneguknya habis. Matanya tidak bisa fokus dan air mata terus menetes entah mengapa. Padahal ia sudah berkata pada dirinya sendiri bahwa semuanya akan baik baik saja, namun melihat ayahnya memi
"Aku datang untuk memberikan hadiah pada putri baptisku." Akas berkata dengan dingin. Namun ungkapannya sudah menyiratkan bahwa ia sangat mementingkan Salsa. Disisi lain, Salsa sedikit mengangkat kepalanya menatap Akas dengan ekspresi rumit. Jika sebelumnya ia akan merasa kesal, namun kini sebutan
Dalam perjalanan pulang, Dimas yang sedang menyetir juga berbicara dengan nada sedikit ragu dalam suaranya."Tuan, aku dengar Tuan Henry memarin pulang membawa seorang wanita yang memiliki anak perempuan. Anak perempuan utu umurnya mungkin hampir sama dengan nona Salsa." Ucap Dimas. Ketika Akas men
Ketika Salsa sedang sibuk bermain dengan cat minyak dan canvasnya. Suara notifikasi handphone mengganggunya. Salsa mengerutkan keningnya dan sedikit mencondongkan tubuhnya. Melihat pesan siapa yang tiba di handphonenya. Lagipula Crystal sudah pergi ke luar negeri, seharusnya Salsa tidak memiliki te







