Share

141|

Author: Shanum Belle
last update publish date: 2026-03-18 19:00:48

Setiap Ningsih keluar keraton, Muniratri selalu menunggunya pulang di kursi panjang yang tersedia di halaman Paviliun Kantil. Ia ingin mendengar cerita di luar sana melalui mulut dayang tersebut.

“NINGSIH!” Muniratri melambaikan tangan agar si dayang mudah menemukannya.

Ningsih hanya bisa menghela napas melihat kelakuan sang majikan. Andai saja wanita itu tahu bahwa tindak-tanduknya membuat Ningsih pusing.

Kursi panjang yang ada di halaman paviliun terlihat je

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   163|

    Serangan Putri Hadiwangsa terhadap Putri Mahkota Badra di Balai Purwa membuat Muniratri mengarungi dua pulau dalam sekali dayung. Ia berhasil menggoyahkan kekuatan sang Putra Mahkota dan juga meninggalkan keraton.Wanita itu kembali ke kediaman Pangeran Agung Hadiwangsa di Ibu Kota. Di sana, Ayunda dan Astuti menyambutnya dengan suka cita.“Selamat datang Kanjeng Putri.” Semua orang di kediaman Pangeran Hadiwangsa menyambut kedatangan Muniratri.Wanita yang pipinya masih memar itu mengangguk. “Silakan berdiri.”Sudah lama Muniratri tak mengunjungi kediaman sang Pangeran. Wanita itu pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk bernostalgia dengan masa lalu.Momen yang paling Muniratri suka saat di kediaman adalah ketika angin bertiup dari selatan. Ia membawa semilir yang menyejukkan dan juga wangi bunga.Muniratri merentangkan tangan seraya memejamkan mata. “Akhirnya aku bebas juga dari paviliun yang menyesak

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   162| Pertarungan dalam Istana

    Seorang pelayan diam-diam mengunjungi Gedhong Wari yang merupakan kediaman Selir Mulia Sri—ibu kandung Pangeran Atmajaya.“Yang Mulia, Putra Mahkota dan Putri Mahkota dimasukkan ke penjara bawah tanah dan Kanjeng Pangeran Atmajaya diberi wewenang langsung oleh Baginda untuk menyelidiki kasus yang melibatkan mereka,” tutur pelayan itu.Selir Mulia Sri senang bukan main saat mendengar berita tersebut. Ia langsung memberikan imbalan yang besar kepada pelayan itu sebagai bentuk penghargaan.“Putraku pasti akan sibuk. Cepat, suruh dapur keraton untuk menyiapkan makan siang untuk Pangeran Atmajaya! Aku akan mengantarnya secara langsung,” perintah Selir Mulia Sri kepada dayangnya.“Ibunda tidak perlu melakukan itu!” seru Pangeran Atmajaya.Selesai rapat di Balai Purwa, lelaki tersebut langsung bertandang ke kediaman ibunya. Ia tak sabar ingin berbagi cerita dengan wanita tersebut.“Hm!” Selir Mulia Sri mengibaskan tangan, menyuruh semua orang—kecuali Atmajaya untuk meninggalkan ruangan.Wanit

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   161| Papan Catur telah Dibuka

    Bahuwirya pikir, dengan mengembalikan wewenang Badan Pangan kepada Damarteja maka ia sudah membeli harga diri sang Pangeran. Orang-orang akan menganggapnya sebagai lelaki murah karena ia mendapat jabatan dengan mengorbankan istrinya sendiri.‘Kehormatan keluarga keraton tercoreng dan aku harus mengorbankan Putra Mahkota untuk membayarnya. Sekarang kamu mendapatkan kedudukan, namun harus mengorbankan kehormatanmu. Ini baru impas,’ batin sang Prabu.“Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa, mengapa Anda tidak mengucapkan terima kasih kepada Baginda?” seru Kasim Swari.“Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa diam saja, apa kamu masih memiliki keluhan?” Prabu Bahuwirya tersenyum ramah.Sang Prabu menarik napas santai, menikmati wangi bunga kenanga di atas meja. Baginya, masalah telah berlalu, dan ia bisa bernapas lega.Suara dengungan para pejabat di bawah sana menambah rasa percaya diri Bahuwirya. Ia meyakini bah

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   160| Merebut Kembali Badan Pangan

    Desakan Prabu Bahuwirya membuat Ndari makin gugup. Ia ingin menjawab pertanyaan yang diajukan untuknya. Semua. Namun ketika Ndari hendak membuka suara, pikirannya memaksa untuk berhenti.“Baginda, maafkan saya. Saya ....” Ndari meletakkan telapak tangan di depan dada, menjaga supaya jantungnya tidak melompat.Perihal selendang yang manik-maniknya dibuang oleh Ndari adalah rahasia. Tak satu orang pun tahu masalah ini, kecuali dia seorang.Begitu pun alasan tentang hilangnya manik-manik tersebut, ia tak boleh mengatakannya. Kehilangan dukungan Prameswari adalah konsekuensi yang akan ia tanggung jika hal tersebut diketahui orang lain.“KAMU APA, PUTRI MAHKOTA?! Katakan yang jelas!” Bahuwirya memukul meja di sampingnya karena geregetan.Ndari dihujani tatapan tajam oleh semua orang. Ia pun terpojok.Wanita itu tak bisa tinggal diam dan hanya menunggu keadaan menjadi lebih baik. Ia harus mengarang alasan agar dirinya selam

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   159|

    Hal pertama yang dilakukan oleh para hadirin di Aula Hutama saat Muniratri memasuki ruangan ialah mendelik. Luka lebam yang ada di sekujur tubuh Muniratri menjadi penyebabnya.Alih-alih risi dengan pandangan orang-orang, Muniratri justru menikmatinya. Ia memamerkan tubuhnya yang babak belur dengan bangga.“Saya memberi hormat pada Baginda Prabu, Yang Mulia Putra Mahkota dan juga Yang Mulia Putri Mahkota.” Muniratri menundukkan kepala dan juga merendahkan badannya.Di belakang tempatnya berdiri, Muniratri mendengar dengan jelas bagaimana para pejabat berbisik. Mereka mempertanyakan apa yang terjadi pada wanita tersebut.Sikap Muniratri tak berubah seperti saat memasuki ruangan. Ia tersenyum menyeringai di balik luka yang meradang.“Silakan berdiri, Putri Hadiwangsa,” ucap Bahuwirya.Saat Muniratri hendak menegakkan badan, tubuhnya limbung. Untung saja Damarteja berada di samping wanita itu.“Terima kasih, Paduka,” ucap Muniratri saat Damarteja menopang badannya agar tak jatuh ke lantai

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   158|

    Kamakarna memang terlambat menghadiri rapat pagi. Namun karena dia datang bersama dengan Ndari, dia masih bisa berjalan dengan dada membusung.‘Orang-orang itu pasti mengiranya aku sengaja datang lebih lambat karena harus menemani Putri Mahkota yang pertama kali datang ke Aula Hutama,’ pikir Kamakarna.“Yang Mulia ... mereka semua melihat ke arah sini. Saya takut.” Ndari berpegang erat pada lengan Kamakarna.Putra Mahkota menepuk-nepuk punggung tangan Ndari untuk memberikan ketenangan. dengan begitu dia akan mendapat kesan sebagai suami yang baik.“Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa,” ucap Kamakarna pelan. Hanya Ndari yang dapat mendengarnya.Kamakarna datang dengan penuh percaya diri, bahwa tatapan para pejabat yang tengah menghujani mereka hanyalah bentuk dari perhatian dan rasa hormat. Ia tak tahu bahwa ada sesuatu yang besar sedang menanti di depan sana.‘Kenapa mereka diam saja?’

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   131|

    “Nimas, kenapa kamu baru datang?” Kamakarna mengulurkan tangan menyambut Muniratri yang berlari tergopoh-gopoh.Sudah satu jam sang Putra Mahkota berdiri di depan Gedhong Prabayekti. Alih-alih kesal karena menunggu Muniratri untuk waktu yang lama, lelaki itu justru menunjukkan

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   130|

    Puri kembangan adalah taman bunga pribadi milik Widuri. Tempat itu terletak persis di halaman belakang kediaman sang Prameswari. Tak ada yang mengetahui tempat rahasia tersebut, kecuali Widuri dan para dayang kepercayaannya.Apabila ada pihak lain menemukan tempat itu, yang bersangkutan ak

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   129|

    Berita Kamakarna mengunjungi Muniratri terdengar ke berbagai kompleks keraton, termasuk Kompleks Kusumaswari. Widuri tak habis pikir dengan kelakuan sang anak.Meskipun hanya kalangan tertentu yang mengetahui kelakuan sang Putra Mahkota, sebagai ibunya tentu saja Widuri tak tahan. Darahnya

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   128|

    Dahulu Muniratri pernah menyelidiki siapa saja yang terlibat dalam kasus ayahnya. Namun saat itu dia lakukan secara diam-diam. Kali ini, ia bisa melakukannya dengan leluasa karena dirinya diperbolehkan memasuki Gedhong Prabayekti secara bebas.Wanita itu boleh membaca buku apa saja. Ia men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status