LOGINNingsih bolak-balik di depan Paviliun Kantil selama tiga jam. Dia menunggu kepulangan Muniratri dari Kompleks Kusumaswari.
Firasat buruk terus menyelimuti pikirannya. Seberapa keras ia mencoba menenangkan diri, tak pernah berhasil.
“Kenapa kamu bertingkah tidak jelas seperti ikan kepanasan?” seru Muniratri begitu dirinya melewati gerbang masuk.
“KANJENG PUTRI!” Kedua mata Ningsih membulat.
Dayang tersebut berlari menyambut tuannya. Ia memeri
“Kanjeng Pangeran! Apa yang Anda lakukan?!” teriak Raden Cakrasurya.Amarahnya membara karena saat hendak keluar kediaman, ia dihadang oleh Pangeran Atmajaya.“Apa yang aku lakukan?” Pangeran Atmajaya mendengus.“Tentu saja sedang menegakkan hukum,” sambungnya.Berbekal surat penangkapan yang diberi stempel RATU BADRA, Pangeran Atmajaya membawa lima ratus orang bersamanya. Ia mengepung kediaman sang Senapati sekaligus ayah Putri Mahkota.Sang Senapati mengeluarkan pedangnya. “Jangan keterlaluan! Bagaimanapun juga, aku adalah ayah ....”“Ayah si Putri Mahkota yang sedang dipenjara,” ejek Atmajaya.Perhatian sang Pangeran terfokus pada pedang yang ada di tangan Raden Cakrasurya. Pedang itu, mirip seperti pedang yang digunakan oleh lelaki yang menyerangnya semalam.“Jadi itu kamu, ya?” gumam Pangeran Atmajaya.Lelaki itu membuka kotak yang berisi surat
“Masih sakit?” Damarteja mengoleskan obat ke kulit istrinya.Kondisi Muniratri sudah jauh lebih sejak ia keluar dari keraton. Tubuh yang awalnya penuh memar, kini hanya menyisakan noda ungu yang sudah pudar.“Sedikit ....” Muniratri menyelusup ke ceruk leher sang Pangeran.Damarteja menghela napas berat. “Bukankah sudah kubilang waktu itu supaya kamu jangan ....”Muniratri menutup mulut Damarteja menggunakan jari telunjuknya.“Sudah cukup. Paduka sudah mengatakannya berulang kali sampai saya bosan.” Muniratri memonyongkan bibirnya.Tak bisa.Damarteja tak bisa melihat sang istri mengambek. Terlalu menggemaskan untuknya.“Baiklah ... baiklah ... ini yang terakhir kali.” Lelaki itu memeluk istrinya.Lelaki itu memejamkan mata, membayangkan betapa ironisnya hidup ini.Dahulu, ia sangat membenci Muniratri bahkan memiliki niat untuk menyiksanya setiap hari. Na
“Yang Mulia, Anda tidak boleh ke sini!” seru penjaga yang bertugas di depan pintu masuk penjara bawah tanah.“Lancang!” timpal Gendhis.“Sudah tahu kalau beliau adalah Yang Mulia Prameswari, tapi kamu masih berani menghalanginya,” sambung dayang itu.Dua petugas di depan pintu penjara saling bertukar pandang. Mereka menggunakan kontak mata untuk berkomunikasi.“Sudahlah! Jangan membuat keributan. Mereka hanya menjalankan tugas.” Prameswari Widuri merentangkan tangan kanannya agar Gendhis berhenti memprovokasi.Setelah ditegur oleh sang Prameswari, Gendhis pun menunduk. Ia menarik diri sejajar dengan dayang junior yang ada di belakangnya.“Yang Mulia Prameswari memang pengertian,” ucap salah satu petugas.Widuri tersenyum tipis. Ia kemudian menggerakkan jemarinya, memberi tanda pada dayang yang datang bersamanya untuk maju.Dua dayang yang membawa makanan dan minuman be
“Yang Mulia!”“Yang Mulia!”Gendhis berlari dari pintu masuk kediaman Muniratri. Sikapnya yang tergesa-gesa membuat wanita itu nyaris terjatuh.“Pelan-pelan saja. Kediamanku tidak pindah tempat.” Prameswari Widuri menertawai Gendhis saat langkahnya terbelit kakinya sendiri.“Ada apa?” tanya Widuri saat dayangnya tersebut berada di hadapannya.Napas Gendhis tersengal-sengal. Ia menarik napas panjang supaya lebih tenang.“Yang Mulia ... Yang Mulia Putra Mahkota ....” Gendhis mengacungkan jarinya ke belakang, ke arah penjara bawah tanah.Kepanikan yang dibawa oleh Gendhis bergerak liar bak virus pandemi. Ia menulari Widuri.“Ada apa dengan Putra Mahkota?!” Mata Widuri membulat.“Katakan yang jelas!” perintahnya dengan suara lantang.Gendhis meremas tangannya. Kepalanya menunduk, sedang menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk karena
Muniratri mengunjungi ruang kerja Pangeran Adipati Agung. Di sana, lelaki itu sedang mengadakan pertemuan rahasia dengan para menteri.“Kanjeng Putri, mohon maaf. Anda tidak boleh masuk.” Endra yang berjaga di depan pintu merentangkan tangan.“Kalau begitu, tolong serahkan ini kepada Paduka.” Muniratri menggunakan gerakan kepala sebagai kode agar Ningsih memberikan buku yang ditulis oleh ibu Ayunda.Endra menerima buku itu. Ia membukanya, memastikan tidak ada barang berbahaya yang terselip di salah satu halaman.Ketika Endra membaca isi buku itu, matanya membelalak. Ia pun segera menutupnya.“Kanjeng Putri, mohon silakan duduk dahulu. Saya akan memberikannya kepada Paduka Pangeran.” Damarteja menunjuk kursi kayu jati yang ada terletak di samping pintu masuk.Muniratri mengulum sebentar bibirnya saat melihat ke arah kursi. Tubuhnya masih sakit karena cambukkan Ndari tempo hari.“Kanjeng P
Putra Mahkota Kamakarna duduk bersimpuh di penjara bawah tanah yang gelap. Di hadapannya hanya ada bubur tawar dan segelas air bratawali dingin. Sajian yang tak menggugah selera sama sekali.Baru sehari menginap di penjara, lelaki itu sudah merindukan kediamannya yang nyaman. Matahari bersinar terang dan makanan lezat tersedia sepanjang waktu.“Kenapa tidak makan, Yang Mulia?” Pangeran Atmajaya tersenyum mengejek di hadapan sang Putra Mahkota.Sepanjang usianya, ia selalu memberi hormat tiap kali bertemu dengan Kamakarna. Baru kali ini dia bisa berdiri tegap tanpa menundukkan kepala kepada lelaki itu.“Apa Makanannya tidak sesuai dengan selera Anda?” Pangeran Atmajaya menendang mangkuk berisi bubur. Makanan tawar itu pun tumpah ke tanah.“Apa yang kalian tunggu?!” Pangeran itu bersuara lantang kepada dua orang prajurit yang datang bersamanya.“Cepat bantu Yang Mulia menikmati sarapannya!” perin
Damarteja tak jemu memainkan gagang kayu yang menjadi penyangga gulali. Perhatiannya hanya fokus pada permen berbentuk burung perkutut yang ia pegang.“Dari tadi Paduka hanya memandang gulali pemberian Kanjeng Putri. Kalau Anda suka, kenapa tidak dimakan saja?” ucap Endra.
Muniratri tak dapat mengabaikan para selir di taman depan vila milik damarteja di Ibu Kota. Mereka bertiga asyik cekikikan, apalagi saat Muniratri lewat di depan mereka, suara itu makin keras, dan terkesan disengaja.“Kanjeng Putri baru pulang?” tegur Kasmirah.Wan
Perayaan ulang tahun Prameswari Widuri tinggal menghitung hari. Pada masa-masa ini, Ibu Kota disibukkan oleh berbagai aktivitas tidak hanya warga lokal tetapi juga luar daerah bahkan luar negeri.Mereka datang jauh bukan hanya untuk memenuhi undangan keraton, tetapi juga memperkukuh hubung
Satu-satunya hal yang paling berisiko di dunia ini ialah tidak mau mengambil risiko. Atas dasar itu, Muniratri mempertaruhkan dirinya pada satu tindakan yang melawan arus.“Mas Endra, tolong masukkan obat tidur ke dalam catatan resep obat, biarkan Paduka tahu bahwa beliau tidur







