เข้าสู่ระบบSebelum sang ayah tersandung kasus korupsi, Muniratri sudah biasa berkunjung ke Keraton Badra. Ia ke sana tak hanya untuk menghadiri acara-acara besar, tetapi juga sekadar untuk memenuhi undangan para anggota keraton.
“Tempat ini tidak berubah, tapi entah kenapa suasananya berbeda,” batin Muniratri.
Wanita itu melangkah ke dalam Kompleks Keputren. Ingatan masa lalu melambai-lambaikan tangannya. Kenangan-kenangan itu memaksa Muniratri bercengkerama dengan nostalgia ya
“Ayah ... Ibu ...!”Ndari yang berada di dalam penjara bawah tanah bergegas menuju pintu sel. Dia menatap orang tuanya dari balik jeruji besi.“Kenapa kalian ditahan di sini juga?!” Wanita itu menggenggam jeruji besi erat-erat, seolah ingin menghancurkannya.Raden Cakrasurya hanya bisa menghela napas berat, sementara sang istri sibuk memutar matanya. Ia menelisik ke seluruh penjuru ruangan gelap itu.“Kalian harus bersyukur karena ditempatkan di sel yang sama!” ejek Pangeran Atmajaya.Seorang sipir membuka gembok sel yang ditempati oleh Ndari. Ia menjebloskan kedua orang itu dengan kasar.“Ayah ... Ibu ... kalian tidak apa-apa?” tanya Ndari saat kedua orang tuanya jatuh tersungkur di atas jerami kering.Ndari dan Narti bahu-membahu mengangkat sang Senapati dan istrinya. Mereka menepuk-nepuk badan keduanya, membersihkan noda dan debu yang menempel di badan.“Ibunda, apa yang
“Kanjeng Pangeran! Apa yang Anda lakukan?!” teriak Raden Cakrasurya.Amarahnya membara karena saat hendak keluar kediaman, ia dihadang oleh Pangeran Atmajaya.“Apa yang aku lakukan?” Pangeran Atmajaya mendengus.“Tentu saja sedang menegakkan hukum,” sambungnya.Berbekal surat penangkapan yang diberi stempel RATU BADRA, Pangeran Atmajaya membawa lima ratus orang bersamanya. Ia mengepung kediaman sang Senapati sekaligus ayah Putri Mahkota.Sang Senapati mengeluarkan pedangnya. “Jangan keterlaluan! Bagaimanapun juga, aku adalah ayah ....”“Ayah si Putri Mahkota yang sedang dipenjara,” ejek Atmajaya.Perhatian sang Pangeran terfokus pada pedang yang ada di tangan Raden Cakrasurya. Pedang itu, mirip seperti pedang yang digunakan oleh lelaki yang menyerangnya semalam.“Jadi itu kamu, ya?” gumam Pangeran Atmajaya.Lelaki itu membuka kotak yang berisi surat
“Masih sakit?” Damarteja mengoleskan obat ke kulit istrinya.Kondisi Muniratri sudah jauh lebih sejak ia keluar dari keraton. Tubuh yang awalnya penuh memar, kini hanya menyisakan noda ungu yang sudah pudar.“Sedikit ....” Muniratri menyelusup ke ceruk leher sang Pangeran.Damarteja menghela napas berat. “Bukankah sudah kubilang waktu itu supaya kamu jangan ....”Muniratri menutup mulut Damarteja menggunakan jari telunjuknya.“Sudah cukup. Paduka sudah mengatakannya berulang kali sampai saya bosan.” Muniratri memonyongkan bibirnya.Tak bisa.Damarteja tak bisa melihat sang istri mengambek. Terlalu menggemaskan untuknya.“Baiklah ... baiklah ... ini yang terakhir kali.” Lelaki itu memeluk istrinya.Lelaki itu memejamkan mata, membayangkan betapa ironisnya hidup ini.Dahulu, ia sangat membenci Muniratri bahkan memiliki niat untuk menyiksanya setiap hari. Na
“Yang Mulia, Anda tidak boleh ke sini!” seru penjaga yang bertugas di depan pintu masuk penjara bawah tanah.“Lancang!” timpal Gendhis.“Sudah tahu kalau beliau adalah Yang Mulia Prameswari, tapi kamu masih berani menghalanginya,” sambung dayang itu.Dua petugas di depan pintu penjara saling bertukar pandang. Mereka menggunakan kontak mata untuk berkomunikasi.“Sudahlah! Jangan membuat keributan. Mereka hanya menjalankan tugas.” Prameswari Widuri merentangkan tangan kanannya agar Gendhis berhenti memprovokasi.Setelah ditegur oleh sang Prameswari, Gendhis pun menunduk. Ia menarik diri sejajar dengan dayang junior yang ada di belakangnya.“Yang Mulia Prameswari memang pengertian,” ucap salah satu petugas.Widuri tersenyum tipis. Ia kemudian menggerakkan jemarinya, memberi tanda pada dayang yang datang bersamanya untuk maju.Dua dayang yang membawa makanan dan minuman be
“Yang Mulia!”“Yang Mulia!”Gendhis berlari dari pintu masuk kediaman Muniratri. Sikapnya yang tergesa-gesa membuat wanita itu nyaris terjatuh.“Pelan-pelan saja. Kediamanku tidak pindah tempat.” Prameswari Widuri menertawai Gendhis saat langkahnya terbelit kakinya sendiri.“Ada apa?” tanya Widuri saat dayangnya tersebut berada di hadapannya.Napas Gendhis tersengal-sengal. Ia menarik napas panjang supaya lebih tenang.“Yang Mulia ... Yang Mulia Putra Mahkota ....” Gendhis mengacungkan jarinya ke belakang, ke arah penjara bawah tanah.Kepanikan yang dibawa oleh Gendhis bergerak liar bak virus pandemi. Ia menulari Widuri.“Ada apa dengan Putra Mahkota?!” Mata Widuri membulat.“Katakan yang jelas!” perintahnya dengan suara lantang.Gendhis meremas tangannya. Kepalanya menunduk, sedang menyiapkan diri untuk kemungkinan terburuk karena
Muniratri mengunjungi ruang kerja Pangeran Adipati Agung. Di sana, lelaki itu sedang mengadakan pertemuan rahasia dengan para menteri.“Kanjeng Putri, mohon maaf. Anda tidak boleh masuk.” Endra yang berjaga di depan pintu merentangkan tangan.“Kalau begitu, tolong serahkan ini kepada Paduka.” Muniratri menggunakan gerakan kepala sebagai kode agar Ningsih memberikan buku yang ditulis oleh ibu Ayunda.Endra menerima buku itu. Ia membukanya, memastikan tidak ada barang berbahaya yang terselip di salah satu halaman.Ketika Endra membaca isi buku itu, matanya membelalak. Ia pun segera menutupnya.“Kanjeng Putri, mohon silakan duduk dahulu. Saya akan memberikannya kepada Paduka Pangeran.” Damarteja menunjuk kursi kayu jati yang ada terletak di samping pintu masuk.Muniratri mengulum sebentar bibirnya saat melihat ke arah kursi. Tubuhnya masih sakit karena cambukkan Ndari tempo hari.“Kanjeng P
Setiap Ningsih keluar keraton, Muniratri selalu menunggunya pulang di kursi panjang yang tersedia di halaman Paviliun Kantil. Ia ingin mendengar cerita di luar sana melalui mulut dayang tersebut.“NINGSIH!” Muniratri melambaikan tangan agar si dayang mudah menemukannya.
Ningsih bolak-balik di depan Paviliun Kantil selama tiga jam. Dia menunggu kepulangan Muniratri dari Kompleks Kusumaswari.Firasat buruk terus menyelimuti pikirannya. Seberapa keras ia mencoba menenangkan diri, tak pernah berhasil.“Kenapa kamu bertingkah tidak jelas seperti i
Gendhis membuka pintu yang terbuat dari kayu jati tua berkualitas tinggi. Pintu itu diukir dengan apik dan pada beberapa bagian dilapisi dengan emas.“Silakan masuk, Kanjeng Putri.” Gendhis menunjuk ke dalam ruangan menggunakan ibu jari.Muniratri melangkah ke depan. Pan
Berkat bantuan Putra Mahkota, Muniratri dapat berdiam diri di Gedhong Prabayekti dengan tenang. Ia tak perlu membuang waktu dan tenaga untuk menghadapi para pejabat yang perutnya busung.Hanya dalam seminggu, perempuan yang ayahnya meninggal secara tidak terhormat itu berhasil mengumpulkan







