Share

125|

Penulis: Shanum Belle
last update Tanggal publikasi: 2026-02-28 19:00:34

Sebelum sang ayah tersandung kasus korupsi, Muniratri sudah biasa berkunjung ke Keraton Badra. Ia ke sana tak hanya untuk menghadiri acara-acara besar, tetapi juga sekadar untuk memenuhi undangan para anggota keraton.

“Tempat ini tidak berubah, tapi entah kenapa suasananya berbeda,” batin Muniratri.

Wanita itu melangkah ke dalam Kompleks Keputren. Ingatan masa lalu melambai-lambaikan tangannya. Kenangan-kenangan itu memaksa Muniratri bercengkerama dengan nostalgia ya

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   214|

    “Paduka memanggil saya?”Muniratri memasuki ruang pribadi Damarteja yang terletak di Paviliun Wetan Puri Kacayagra. Ningsih yang mengikutinya di belakang berhenti di pintu masuk. Ia menutup pintu tersebut dan menunggu di luar.“Iya. Kemarilah.” Damarteja melambaikan tangan kepada Muniratri.Wanita itu duduk berhadapan dengan Damarteja di depan meja kerja sang Pangeran. Ia setia menunggu Damarteja menyelesaikan aktivitasnya tanpa memberi desakan.“Terima ini.” Damarteja memberikan sebuah buku dan kunci.“Terima kasih, Paduka. Tapi ini untuk apa?” tanya Muniratri.Wanita itu membuka buku di hadapannya. Di sana tertera pemasukan daerah yang bersumber dari pajak para pejabat yang tersandung kasus korupsi.“Sudah waktunya Putri menggerakkan pasukan elite yang selama ini kamu manfaatkan untuk mengembangkan bisnis.” Damarteja menatap mata istrinya.Wanita itu menundukkan pand

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   213|

    “Kenapa jadi begini?”“CK! Sial sekali.”Para pejabat meninggalkan lokasi perjamuan dengan mulut menggerutu. Wajah mereka ditekuk seperti tisu bekas. Tak ada enaknya untuk dilihat.Ningsih yang baru saja kembali ke Puri Kacayagra setelah menjalan misi terheran-heran dengan tingkah orang-orang itu. Dia terus melihat ke arah mereka hingga hampir menabrak tiang.“Egh!”Untung saja Endra memegangi lengan Ningsih. Jika tidak, Senapati Gupati yang selalu disegani oleh satuan elite pasukan Wirajati tersebut akan kehilangan muka karena insiden kecil.“Terima kasih, Mas Endra.” Ningsih mengangguk kepada ajudan sang Pangeran Adipati.Lelaki itu mengangguk sekali, lalu melepaskan pegangan tangannya dari tangan Ningsih. Membiarkan dayang itu berlalu ke arah Damarteja.“Paduka, ada yang ingin hamba sampaikan.” Ningsih mengambil posisi berlutut, namun berhasil dihalangi oleh sang Pa

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   212|

    “Masalah ini sangat serius. Kalian sudah memastikannya?” Damarteja menutup laporan yang baru saja dia baca.Ningsih yang berdiri di hadapan Pangeran Adipati Agung mengangguk sekali. Menegaskan bahwa laporan yang ia tulis sudah diverifikasi dan terbukti kebenarannya.“Bagaimana menurutmu?” Damarteja memberikan laporan yang baru selesai ia baca kepada Muniratri.Lelaki itu setia menunggu sampai istrinya membaca laporan tersebut dan memberi tanggapan. Ia sama sekali tak mendesaknya untuk berbicara.“Saat Nyai Sujan memegang perutku, memang aroma tubuhnya sangat familier. Kalau dipikir-pikir memang mirip seperti miliki Ibu Suri.” Muniratri meletakkan laporan di atas meja.“Jika memang benar beliau adalah Nyai Sujan yang ada di rumah Griya Panita, lantas Nyai Sujan yang asli ada di mana?” Muniratri menatap mata sang Pangeran.Mereka berdua berpandangan cukup lama. Membuat Ningsih yang masih berada d

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   211

    “Nyai Sujan ini hebat sekali ya. Tiap main selalu kalah tapi hartanya tak habis-habis.”“Iya kok bisa ya dia begitu? Padahal gaji demang kan enggak seberapa tapi kalau main taruhannya selalu banyak.”“Apa jangan-jangan dia jadi simpanan tuan tanah?”“Halah! Siapa yang mau sih sama wanita tua begitu?”Muniratri dan Damarteja terus-menerus menempel kepada orang-orang yang sedang bergosip tentang Nyai Sujan. Keduanya tak mau jauh-jauh dari para penjudi itu, hingga mereka ketahuan?“Kalian siapa? Kenapa menguping pembicaraan kami?” Salah seorang penjudi mengacungkan belati.Damarteja segera pasang badan saat istrinya diintimidasi oleh mereka. Orang-orang itu beraninya dengan perempuan yang terlihat lemah.“Maaf Kisanak, istriku sedang hamil. Tolong jangan menakut-nakutinya.” Damarteja merentangkan kedua tangan.Orang-orang yang sedang berkerumun itu tertawa ter

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   210|

    “Datanya cocok semua!” Muniratri menutup buku besar milik Raden Yajnayodha.“Benarkah?”Damarteja memeriksa daftar pejabat Agratampa yang melakukan korupsi. Ia membandingkan laporan tersebut dengan buku besar yang diberikan oleh Raden Yajnayodha sebelum serah terima tahanan dengan Raden Apta.“Baguslah. Dengan ini, kita bisa menangkap mereka dan mengambil kembali uang rakyat yang dicuri.” Damarteja menatap lurus ke depan. Ia mengepalkan tangan.Setahun lebih, Pangeran Adipati Agung mencari bukti kejahatan mereka namun tak pernah menemui titik temu. Kini dia bisa menjaring mereka dalam satu waktu.“Putri, kamu sudah bekerja keras. Padahal ini bukan tugasmu.” Damarteja membelai wajah Muniratri yang lelah.“Tidak masalah, Paduka. Saya senang bisa membantu.” Muniratri memejamkan mata, menikmati belaian suaminya.Kasus korupsi pejabat Agratampa telah mengakar hingga ke sendi

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   209|

    “Kenapa Wakil Perdana Menteri hanya membawa ini? Di mana tahanannya?” Prabu Bahuwirya mengangkat salah satu alisnya.Lelaki itu melipat tangan di dada saat berdiri di depan sepuluh peti kayu yang dibawa Raden Apta dari Agratampa. Lima peti berisi emas sedangkan sisanya perak.“Hamba pantas mati, Baginda!” Raden Apta berlutut di hadapan sang Prabu.Prabu Bahuwirya balik badan menuju kursinya. Ia tak ingin menyaksikan dari dekat penyesalan formalitas yang dilakukan oleh Raden Apta.“Jelaskan apa yang terjadi!” seru Bahuwirya.“Saat kamu kembali ke Ibu Kota, kami bertemu dengan sekelompok harimau di tengah hutan. Mereka sangat ganas, Baginda,” ucap Raden Apta.Prabu Bahuwirya mengetuk-ngetuk meja menggunakan laporan yang dibungkus dengan kulit kayu tebal. Cukup kuat untuk menjaga supaya kertas yang terbuat dari daun lontar tetap rapi.‘Kenapa Baginda tidak mengucapkan sepatah kata pun

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   6| Wanita Hadiah

    Bahuwirya memijat dahinya karena ia merasa frustrasi. ‘Bisa-bisanya mereka memberikan wanita sebagai hadiah. Padahal, Pangeran Hadiwangsa masih tergolong sebagai pengantin baru,’ batinnya.Jika sang Raja saja sampai sakit kepala, apalagi para pejabat yang ada di sana. Kendati demikian, mereka tak be

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   5| Cunduk Wijaya Kusuma

    Sentuhan tangan Muniratri membuat Damarteja meledak. Sedikit lagi, pertahanan sang Pangeran Adipati tumbang.Lelaki tersebut mengunci pinggang Muniratri dengan tangan kirinya, lalu mengangkat tubuh wanita tersebut hingga membuat kedua kakinya bertumpu pada kaki Damarteja.Tak lama kemudian, dia meng

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   4| Permainan Dimulai

    Damarteja membangun tembok tinggi tak kasat mata di antara dia dan Muniratri. Ia yakin seratus satu persen, wanita itu tidak akan mampu menghancurkannya.“Paduka!” seru Muniratri, kali ini wanita tersebut menggunakan gaya ala gadis manja. Suaranya bahkan dibuat sedikit mendesah.Tanpa aba-aba, Munir

  • Jadilah Pedangku, Sayang!   3| Perangkap Muniratri

    “Wulan, bagaimana menurutmu?” tanya Widuri.Dayang tersebut berlutut di samping Muniratri. “Yang di katakan oleh Kanjeng Putri memang benar, Yang Mulia.”Bibir Muniratri tersungging. “Tentu wanita itu tidak menyangkal omonganku. Makanan yang aku berikan padanya semalam, sudah kuberi obat tidur dosis

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status