MasukSejak Kamakarna meninggalkan Aula Hutama, perasaan Cakrasurya tidak karuan. Maka dari itu, setelah urusannya dengan Bahuwirya selesai, ia bergegas menuju Paviliun Melati.
“Silakan tunggu di sini. Yang Mulia sedang bersiap.” Narti menunjuk tempat duduk yang sudah disiapkan, lengkap dengan kinang yang tersaji di atas meja.
Dayang itu undur diri dari hadapan sang Senapati. Dia masuk ke area ruang tidur Ndari untuk menemui Kamakarna.
“Hamba sudah menjamu Rad
Sejak Damarteja diangkat menjadi Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa, Damarteja menempatkan mata-mata di seluruh Ibu Kota. Awalnya ia menggunakan mereka hanya untuk mencari tahu bagaimana situasi teraktual.Kini sikapnya sudah berubah. Damarteja menggunakan mata-mata yang ia tanam untuk memenangkan rencana besar yang sedang ia jalankan. Revolusi.“Paduka, Senapati Cakrasurya sedang membersihkan gudang,” ujar Endra.“Beliau memindahkan semua kunyit yang diborong Putri Mahkota ke pedagang pasar,” sambungnya.“Bagaimana dengan Putra Mahkota?” tanya sang Pangeran Adipati.“Beliau seharian ini tidak keluar dari Paviliun Melati,” ucap si ajudan.Berdasarkan informasi yang Damarteja terima selama ini, Kamakarna tidak pernah menghabiskan waktu secara pribadi dengan Ndari. Meski mereka adalah pasangan suami istri sah, Kamakarna secara terang-terang menunjukkan ketidaksukaan pada istrinya.
Sejak Kamakarna meninggalkan Aula Hutama, perasaan Cakrasurya tidak karuan. Maka dari itu, setelah urusannya dengan Bahuwirya selesai, ia bergegas menuju Paviliun Melati.“Silakan tunggu di sini. Yang Mulia sedang bersiap.” Narti menunjuk tempat duduk yang sudah disiapkan, lengkap dengan kinang yang tersaji di atas meja.Dayang itu undur diri dari hadapan sang Senapati. Dia masuk ke area ruang tidur Ndari untuk menemui Kamakarna.“Hamba sudah menjamu Raden Senapati sesuai arahan Anda,” ujar Narti.Kamakarna mengangguk, mengartikan bahwa ia menerima laporan dayang itu. Kini gilirannya tampil di hadapan ayah mertua.“Bantu Putri Mahkota merapikan diri. Setelah itu bawa dia ke menemui ayahnya,” perintah sang Putra Mahkota sebelum pergi ke ruang tamu.“Baik, Yang Mulia.” Narti diam di tempat seperti hendak menyampaikan sesuatu namun tak berani.“Katakan saja,” ucap Kamakarna.
Tindakan Kamakarna membuat perasaan Ndari bergetar. Ia tergerak untuk melepaskan keraguan di hatinya.“Yang Mulia ... bagaimana mungkin saya tidak percaya pada suami sendiri?” Ndari menarik cunduk yang menempel erat di leher Kamakarna.“Bukankah Yang Mulia yang mengatakan bahwa suami istri berbagi suka dan duka ... tidak meninggalkan satu sama lain?” Ndari memeluk Kamakarna.“Lalu kenapa Anda menyuruh saya untuk ....” Air mata wanita itu jatuh membasahi pundak Kamakarna.Eratnya pelukan Putri Mahkota membuat lelaki tersebut menyunggingkan senyuman. Langkah kedua sukses besar.Ndari telah jatuh ke dalam genggaman. Kamakarna tak sabar untuk menjalankan misi selanjutnya.“Putri Mahkota benar-benar percaya padaku?” Kamakarna melingkar lengan ke pinggang Ndari, tidak membiarkan wanita tersebut lepas dari tangan.“Tentu saja.” Ndari mencium pipi sang suami, lalu menyembunyikan waja
Selama Ndari menjadi istri Kamakarna, lelaki tersebut sangat jarang mengunjungi Paviliun Melati. Padahal jarak tempat tinggal keduanya tidak terlalu jauh, hanya sekitar tiga ratus meter.Karena pengabaian Kamakarna, status Ndari sebagai Putri Mahkota Badra hanya sebatas gelar. Para bawahan tidak sepenuhnya memandang Ndari sebagai majikan mereka. Bahkan Dayang senior seperti Gendhis pun berani meremehkannya.Meski dipandang sebelah mata oleh orang-orang, Ndari tidak menunjukkan kelemahannya. Alih-alih menghukum mereka yang kurang ajar terhadapnya, Ndari justru diam saja dan menganggap masalah itu sebagai angin lalu.Namun semua berbeda sejak Prameswari Widuri memberikan tanggung jawab mengatur Kompleks Keputren. Perempuan itu mulai menunjukkan cakar yang selama ini dia sembunyikan.Awalnya, Kamakarna tak peduli apa pun tentang Ndari. Namun sejak perempuan itu berani menyerang Muniratri secara terang-terangan, lelaki tersebut tak bisa menutup mata begitu saja.Terlebih lagi sekarang, Nda
Menerobos Aula Hutama merupakan kejahatan besar. Raden Cakrasurya tak bisa mengelak dari hukuman, apalagi ia melakukannya saat rapat pagi sedang dilaksanakan. Hukuman yang ia terima tak main-main.“Tangani dia.” Prabu Bahuwirya memberi instruksi kepada Kasim Swari untuk membawa Raden Cakrasurya keluar dari Aula Hutama.“Baik, Baginda.” Kasim tersebut mengangguk.Swari membawa dua prajurit untuk mengeluarkan sang Senapati dari ruang rapat. Kasim itu menahan Cakrasurya di serambi. Ia tak boleh keluar dari sana tanpa perintah dari Bahuwirya.“Kita lanjutkan rapatnya,” titah sang Ratu Badra“Pembahasan terakhir sampai di mana?” tanyanya kepada para peserta rapat.Pengusiran Raden Cakrasurya dari Aula Hutama menjadi bahan cemoohan orang-orang. Atas instruksi Bahuwriya, para pejabat itu pun melanjutkan agenda yang sempat tertunda.“Baginda, masih tentang kunyit. Berdasarkan penuturan para pedagang, Yang Mulia Putri Mahkota memborong kunyit di setiap tempat yang dikunjungi oleh Kanjeng Putri
Politik tidak mengenal kawan maupun keluarga. Ia hanya mengenal satu kata, kepentingan. Raden Cakrasurya paham betul akan hal itu.Berdasarkan penyelidikan kebakaran pabrik tekstil, lelaki itu menyadari bahwa api yang berkobar pada malam itu adalah bentuk nyata perang politik. Jika tidak bertindak hati-hati, Cakrasurya khawatir ia dan keluarga akan terseret ke dalam masalah.“Ayah!” Ndari yang sedang menikmati jamu kunyit asam langsung bangkit saat ayahnya datang berkunjung ke Paviliun Melati.Perempuan itu menghamburkan diri ke sisi sang ayah. Dia menarik lelaki itu agar segera duduk.“Kebetulan sekali ayah datang. Aku baru saja dapat sirih dan kinang yang bagus.” Ndari meletakkan piti berisi kedua barang tersebut di hadapan Cakrasurya.“Yang Mulia, saya ke sini bukan untuk ....” ucapan Raden Cakrasurya menggantung di udara.Belum sempat merampungkan kalimatnya, lelaki itu sudah mendapat sambutan dingin d
Penyelidikan kebakaran pabrik tekstil Karaton Badra ditangani oleh Pasukan Pengamanan Ibu Kota yang dipimpin langsung oleh Raden Cakrasurya, ayah Ndari.Lelaki tersebut memerintahkan anak buahnya untuk melakukan penyelidikan mendalam dan menyeluruh untuk mengetahui penyebab kebakaran. Semua petunju
Karaton Badra mengandalkan dua hal untuk menopang kas keuangan. Upeti dan monopoli bisnis.Ratu Badra penguasa tertinggi yang mengatur sektor pangan, sandang, serta bumi dan mineral. Untuk mendukung kekuasaannya, ia memiliki aset vital seperti pabrik kain, Badan Pangan, tambang mineral dan
Damarteja mendapat laporan dari Kesatria Wayangan mengenai kondisi terkini sang istri. Darahnya mendidih seketika.“Kenapa kamu tidak menghentikannya?” Pangeran Adipati menekan leher prajurit di hadapannya.“Ya-yang menganiaya Kanjeng Putri adalah Putri Mahkota. Ji
Cahaya di wajah Ndari mendadak padam saat ia seseorang mendobrak pintu Paviliun Kantil. Dia adalah Kamakarna.“Yang Mulia!” Mata Ndari membulat.“PUTRI MAHKOTA!! APA YANG KAMU LAKUKAN?!” Kamakarna membanting pintu, menciptakan dentuman keras.Semua yan







