Mag-log inMuniratri tak habis pikir dengan ucapan Kasmirah. Ia yakin benar bahwa yang dikatakan oleh perempuan tersebut tidak benar karena dirinya melihat sendiri sang Pangeran kembali ke Paviliun Wetan sekitar pukul delapan malam.
Meski demikian, dari cara Kasmirah membagikan pengalamannya, tak terlihat adanya kebohongan. Muniratri pun melempar tubuh ke kursi, lalu memejamkan mata.
“Apa yang terjadi sebenarnya?” Muniratri mengetuk-ngetuk jemarinya ke lengan kursi.
&ldq
Putra Mahkota Kamakarna duduk bersimpuh di penjara bawah tanah yang gelap. Di hadapannya hanya ada bubur tawar dan segelas air bratawali dingin. Sajian yang tak menggugah selera sama sekali.Baru sehari menginap di penjara, lelaki itu sudah merindukan kediamannya yang nyaman. Matahari bersinar terang dan makanan lezat tersedia sepanjang waktu.“Kenapa tidak makan, Yang Mulia?” Pangeran Atmajaya tersenyum mengejek di hadapan sang Putra Mahkota.Sepanjang usianya, ia selalu memberi hormat tiap kali bertemu dengan Kamakarna. Baru kali ini dia bisa berdiri tegap tanpa menundukkan kepala kepada lelaki itu.“Apa Makanannya tidak sesuai dengan selera Anda?” Pangeran Atmajaya menendang mangkuk berisi bubur. Makanan tawar itu pun tumpah ke tanah.“Apa yang kalian tunggu?!” Pangeran itu bersuara lantang kepada dua orang prajurit yang datang bersamanya.“Cepat bantu Yang Mulia menikmati sarapannya!” perin
“Putra Mahkota adalah cucuku, begitu pun dengan pangeran yang lahir dari selir.” Sorot mata Ibu Suri tertuju pada Prameswari Widuri.“Menurut Prameswari, kenapa aku harus berpihak pada putramu saja? Bukankah itu tidak adil bagi cucuku yang lain? Mereka juga punya kesempatan untuk menjadi Putra Mahkota, bukan?” Ibu Suri merentangkan kedua tangan.Jawaban Ibu Suri yang membuat Prameswari Widuri menarik diri ke belakang. Tangannya gemetar, tak menyangka bahwa wanita itu akan bersikap dingin padanya.Wanita itu berpaling ke arah lain. Ia menatap ke awang-awang sambil merenungi bagaimana nasib putranya nanti. Dan satu ide pun terlintas.“Ibu Suri, Baginda Prabu memang memiliki banyak pangeran yang bisa dijadikan Putra Mahkota. Namun di antara mereka, hanya putraku yang berasal dari klan yang sama dengan Anda,” ucap sang Prameswari.Ia menatap Ibu Suri dengan sorot mata yang tegang. Kakinya gemetar, khawatir jika perka
Prameswari Widuri menaiki tandu menuju Kompleks Mandira. Sepanjang perjalanan, ia melakukan japa dengan aksamala.“Lindungi putraku, ya Tuhan. Lindungi Putra Mahkota.” Wanita yang sedang melakukan japa memetik biji genitri satu per satu.Emosi yang tidak stabil membuat Widuri tak bisa mengatur kekuatan gerakannya. Aksamala yang ia petik pun putus. Seratus delapan biji rudraksha berhamburan hingga ke tanah.“Yang Mulia! Anda baik-baik saja?” seru Gendhis.Dayang itu ingin menanyakan apa yang terjadi, namun atas nama kesopanan ia tak berani melakukannya. Terlebih lagi suasana hati sang majikan sedang mendung, jika dayang itu salah mengucap kata, maka taruhannya adalah nyawa.Alih-alih memberi konfirmasi tentang keadaannya, Prameswari Widuri malah menyuruh mereka untuk bergerak lebih cepat. Ia tak ingin langkahnya didahului oleh orang lain.Perjalanan dari Kompleks Kusumaswari menuju Kompleks Mandira memerlukan waktu set
Serangan Putri Hadiwangsa terhadap Putri Mahkota Badra di Balai Purwa membuat Muniratri mengarungi dua pulau dalam sekali dayung. Ia berhasil menggoyahkan kekuatan sang Putra Mahkota dan juga meninggalkan keraton.Wanita itu kembali ke kediaman Pangeran Agung Hadiwangsa di Ibu Kota. Di sana, Ayunda dan Astuti menyambutnya dengan suka cita.“Selamat datang Kanjeng Putri.” Semua orang di kediaman Pangeran Hadiwangsa menyambut kedatangan Muniratri.Wanita yang pipinya masih memar itu mengangguk. “Silakan berdiri.”Sudah lama Muniratri tak mengunjungi kediaman sang Pangeran. Wanita itu pun mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk bernostalgia dengan masa lalu.Momen yang paling Muniratri suka saat di kediaman adalah ketika angin bertiup dari selatan. Ia membawa semilir yang menyejukkan dan juga wangi bunga.Muniratri merentangkan tangan seraya memejamkan mata. “Akhirnya aku bebas juga dari paviliun yang menyesak
Seorang pelayan diam-diam mengunjungi Gedhong Wari yang merupakan kediaman Selir Mulia Sri—ibu kandung Pangeran Atmajaya.“Yang Mulia, Putra Mahkota dan Putri Mahkota dimasukkan ke penjara bawah tanah dan Kanjeng Pangeran Atmajaya diberi wewenang langsung oleh Baginda untuk menyelidiki kasus yang melibatkan mereka,” tutur pelayan itu.Selir Mulia Sri senang bukan main saat mendengar berita tersebut. Ia langsung memberikan imbalan yang besar kepada pelayan itu sebagai bentuk penghargaan.“Putraku pasti akan sibuk. Cepat, suruh dapur keraton untuk menyiapkan makan siang untuk Pangeran Atmajaya! Aku akan mengantarnya secara langsung,” perintah Selir Mulia Sri kepada dayangnya.“Ibunda tidak perlu melakukan itu!” seru Pangeran Atmajaya.Selesai rapat di Balai Purwa, lelaki tersebut langsung bertandang ke kediaman ibunya. Ia tak sabar ingin berbagi cerita dengan wanita tersebut.“Hm!” Selir Mulia Sri mengibaskan tangan, menyuruh semua orang—kecuali Atmajaya untuk meninggalkan ruangan.Wanit
Bahuwirya pikir, dengan mengembalikan wewenang Badan Pangan kepada Damarteja maka ia sudah membeli harga diri sang Pangeran. Orang-orang akan menganggapnya sebagai lelaki murah karena ia mendapat jabatan dengan mengorbankan istrinya sendiri.‘Kehormatan keluarga keraton tercoreng dan aku harus mengorbankan Putra Mahkota untuk membayarnya. Sekarang kamu mendapatkan kedudukan, namun harus mengorbankan kehormatanmu. Ini baru impas,’ batin sang Prabu.“Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa, mengapa Anda tidak mengucapkan terima kasih kepada Baginda?” seru Kasim Swari.“Pangeran Adipati Agung Hadiwangsa diam saja, apa kamu masih memiliki keluhan?” Prabu Bahuwirya tersenyum ramah.Sang Prabu menarik napas santai, menikmati wangi bunga kenanga di atas meja. Baginya, masalah telah berlalu, dan ia bisa bernapas lega.Suara dengungan para pejabat di bawah sana menambah rasa percaya diri Bahuwirya. Ia meyakini bah
Ketika seorang penguasa berbicara, kata-katanya sering kali menjadi kenyataan, meskipun yang diucapkan hanya sekadar gurauan.Pasalnya, apa pun yang terucap dari mulut penguasa, kerap dianggap sebagai perintah mutlak yang harus dijalankan oleh bawahannya.“Apa Paduka yakin dengan keputusan Anda?” ta
Saat menikmati makan malam, Kamakarna mengemukakan rencananya untuk kembali ke ibu kota, karena perayaan ulang tahun Prameswari Widuri akan segera digelar.“Raden Ayu, bagaimana jika kita berangkat bersama?” tanya Kamakarna pada Muniratri.Lelaki itu punya nyali yang besar mengajak
Muniratri percaya, ucapannya akan mencabik perasaan Bratawati dan memadamkan niat gadis itu. Sayangnya, alih-alih menyerah, tekad Bratawati justru makin berkobar.“Hamba memang tidak pantas,” ucap Bratawati.Tak ada kesedihan di mata perempuan yang sedang berlutut itu. Ia justru ter
“Bagaimana keadaan gadis itu?” tanya Muniratri pada Ningsih, yang mengacu pada perempuan yang ia selamatkan tempo hari.Ningsih memiringkan kepalanya beberapa derajat. “Maksud Kanjeng Putri ... Bratawati?”“Jadi namanya Bratawati, ya?” Muniratri berdecih. “Padahal dia memiliki nama yang sangat bagus







