เข้าสู่ระบบ“Mereka pasti sedang menjadi cacing kepanasan sekarang.” Damarteja tersenyum menyeringai setelah membaca laporan dari mata-mata yang ia tanam di Ibu Kota.“Apa yang tertulis di sana sampai bisa membuat gigi Paduka kering?” ledek Muniratri yang hari itu sedang berkunjung ke Balai Adipati.Damarteja refleks menutup mulut dan membasahi gigi serinya menggunakan lidah. Ia rela menjadi badut komedi istrinya, hanya demi mendapatkan senyuman wanita itu.“Putri baca saja sendiri.” Damarteja memberikan gulungan kertas kecil kepada Muniratri.Wanita itu memeriksa surat tersebut kata per kata. Di sana disebutkan bahwa Prabu Bahuwirya menyetujui pemeriksaan menyeluruh terhadap kejahatan Raden Tumenggung Yajnayodha.Setiap orang yang terlibat kejahatan dengannya akan dijatuhi hukuman yang berat. Sang Prabu bahkan tak segan-segan akan menyita harta mereka serta menghukum keluarga terdakwa.“Apa informasi ini bisa dipercaya?” Muniratri menatap Damarteja seraya mengangkat kertas kecil di tangannya.“T
“Begitulah yang terjadi, Ibu Suri.”Raden Apta, keponakan Ibu Suri Tarisujana melaporkan apa yang terjadi di Aula Hutama segera setelah dirinya selesai menghadiri rapat pagi.Wanita itu tak langsung memberikan reaksi apa pun. Ia termenung untuk waktu yang tak sebentar, membuat Raden Apta bosan menunggu tanggapan sang Ibu Suri.“Ini pasti perbuatan Pangeran Hadiwangsa. Dia ingin mengguncang kedudukan kakak sepupu,” terka lelaki itu.Wajah Ibu Suri yang tadinya datar jadi memerah. Air mukanya mengeras. Meski begitu ia tak buru-buru mengutuk aksi Damarteja.Sikap gegabah dalam berbicara hanya akan membawanya pada situasi yang buruk. Terutama jika perkiraannya tak sesuai dengan yang terjadi di lapangan.‘Dari depan, dia terlihat seperti sedang membela diri atas kekalahannya enam belas tahun yang lalu,’ ucap Ibu Suri dalam hati.‘Tapi jika tujuannya hanya itu, dia tidak perlu sampai ....” Ibu
“Aku penasaran bagaimana ekspresi Ibu Suri ketika tahu bahwa anak bungsunya sudah meninggal. Dan yang membunuhnya adalah kandungnya sendiri.” Damarteja mengasah pedang di hadapan Tumenggung Yajnayodha.Lelaki yang kini berstatus sebagai tahanan militer tersebut menarik rantai yang membelenggunya. Ia meronta sekuat tenaga namun yang dihasilkan hanyalah kesia-siaan.Badannya tetap terikat oleh rantai yang besar dan kuat. Jangankan lepas dari ikatannya, bahkan menggerakkannya saja tak bisa. Benda itu terlalu berat, bahkan hanya untuk bergetar.“Hm! Hm! Hm!”“Kamu bilang apa, Raden?” Damarteja melengkungkan telapak tangan di samping daun telinga.“Hm! Hm!”Tumenggung Yajnayodha sudah berusaha sekuat tenaga untuk berbicara. Namun usahanya gagal.Sejak Begawan Prayono memutuskan bahwa Mustika meninggal karena dibunuh oleh Yajnayodha, lelaki itu disiksa sepanjang waktu. Ia hanya bisa beristirah
“YANG MULIA!”Ibu Suri Tarisujana jatuh setelah mendengarkan berita yang dikirim oleh Begawan Prayono.Sejak lelaki itu sampai di Ibu Kota, tempat pertama yang ia tuju adalah kediaman Ibu Suri. Ia bahkan tak menunggu hari berikutnya untuk menyampaikan kabar tersebut.“Bagaimana keadaan anak itu sekarang?” tanya sang Ibu Suri.Wanita itu berpegangan kepada dayangnya agar tetap tegar. Napasnya berat, namun ia berusaha menarik dan mengembuskannya secara teratur.“Dia sudah dikremasi di Agratampa.” Begawan Prayono menyeka wajahnya tak sedikit pun basah karena air mata.Belum juga tenang setelah mendapatkan kabar tentang Mustika, kini wanita itu harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya tak bisa berjumpa dengan putrinya lagi. Hatinya makin hancur.“Kalau begitu, kamu pasti membawa abunya, kan?” Ibu Suri tersenyum getir.Walaupun sudah tak mungkin melihat wajah sang putri, setidaknya dia
Api berkobar hebat membakar mayat Mustika dan juga Ratnawangi. Kremasi keduanya dilakukan di hari dan lokasi yang sama, di bawah pohon cantigi. Pohon yang dipercaya mampu menenangkan roh.Prosesi tersebut dilakukan secara terbatas. Hanya keluarga Pangeran Adipati Agung, dan Begawan Prayono yang boleh menghadirinya. Orang luar yang diizinkan berada di lokasi hanyalah para ajudan dan dayang pribadi.“Kanjeng Pangeran.” Begawan Prayono memberikan hormat kepada Damarteja.“Terima kasih sudah memberikan upacara yang layak untuk putri kami.” Begawan tersebut menundukkan badan.Sang Pangeran Adipati Agung mengangguk sebagai tanda bahwa ia telah menerima penghormatan sang Begawan. Ia mengizinkan lelaki itu untuk bangkit.“Tidak perlu berterima kasih. Ini memang sudah menjadi kewajibanku mengantarkan kepergian putri kalian untuk terakhir kali.” Damarteja menepuk pundak Begawan Prayono sekali.“Semoga dia bisa
“Bukankah itu guru Putra Mahkota dan juga istrinya?” Kasmirah menepuk pundak pelayan pribadinya ketika melihat Begawan Prayono keluar dari kamar Mustika.Pelayan itu menyipitkan mata agar pandangannya lebih fokus. “Benar, Raden Ayu. Itu memang mereka.”Kasmirah menyunggingkan senyuman. Sebuah ide terlintas di kepalanya. Ia ingin memanggil Begawan Prayono untuk bertukar informasi demi keuntungannya.Namun belum sempat rencana itu terlaksana, Endra sudah lebih dahulu mendapatkan waktu sang Begawan.“Kanjeng Pangeran menyuruh saya untuk mengantarkan Anda ke suatu tempat,” ujarnya.“Baiklah.” Lelaki yang statusnya sebagai guru Putra Mahkota itu mengangguk.Endra membawa Begawan Prayono dan juga istrinya ke barak militer. Di sana dia diarahkan menuju penjara militer yang dijaga secara ketat.“Silakan masuk. Raden. Paduka ada di dalam.” Endra membuka pintu ruang interogasi ya
Endra meletakkan kepalanya sejajar dengan tanah. “Mohon Kanjeng Putri berkenan melakukan penyatuan dengan Paduka.”Sejak hari pertama menjadi istri Damarteja, Endra menaruh benci yang tak bertepi pada Muniratri. Alasannya tak perlu dipertanyakan lagi, karena Raden Lawana, ayah Muniratri merupakan te
“Ah ... ah ... Paduka AH!” desah Mustika sambil menarik-narik ujung tenda, supaya menimbulkan efek getaran. Semua itu dilakukannya sambil menopang dagu.“Itu tendanya Paduka Pangeran, kan? Beliau sedang bersama siapa ya?” bisik salah seorang prajurit yang sedang melakukan patroli malam.“Ya ampun, s
Ucapan Kamakarna kemungkinan besar tidak akan sampai ke telinga sang Raja, karena mereka yang berada di sekitar sang Putra Mahkota adalah orangnya sendiri.Kendati demikian, pembicaraan antara Muniratri dan Kamakarna sudah pasti diketahui oleh Damarteja, melalui Ningsih.Wanita itu tengah duduk di
Walaupun secara senioritas Damarteja lebih tua daripada Kamakarna, namun dalam hierarki kekuasaan, putra mahkota menempati kedudukan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pangeran adipati.Berdasarkan fakta tersebut, semua orang selain Raja Badra, Prameswari Badra, dan Ibu Suri wajib membe







