เข้าสู่ระบบ
Suara decit sepatu basket yang bergesekan dengan lantai kayu lapangan indoor SMA Cakrawala biasanya menjadi musik latar paling favorit bagi penghuni sekolah. Tapi bagi Jihan Selaras, suara itu setara dengan bunyi kuku yang menggaruk papan tulis.
Berisik. Dan sangat... Jagad Rayyan. Jihan melirik jam tangannya, lalu kembali menatap papan mading di depan lobi. Kerumunan siswa baru saja bubar, menyisakan dirinya yang berdiri kaku menatap selembar kertas hasil Ujian Tengah Semester (UTS) Fisika yang baru saja ditempel. 1. Jagad Rayyan – 98,2 2. Jihan Selaras – 98,0 "Nol koma dua." Jihan mendesis. Jari-jarinya yang ramping—yang biasanya menari lincah di atas tuts piano—kini mengepal kuat di samping rok abu-abunya. Cuma gara-gara dia melewatkan satu satuan di jawaban nomor terakhir, cowok tukang pamer itu kembali bertengger di atas namanya. "Nggak usah diliatin terus. Kertasnya nggak bakal berubah jadi seratus kalau cuma lo pelototin, Han." Suara bariton yang berat dan sedikit napas yang terengah-engah itu muncul dari belakang telinganya. Jihan tidak perlu menoleh untuk tahu siapa pemiliknya. Aroma keringat bercampur parfum citrus mahal itu sudah jadi polusi udara langganan bagi indra penciumannya. Jagad Rayyan berdiri di sana. Masih memakai jersey basket yang basah kuyup, memegang bola di pinggang kirinya, sementara tangan kanannya sibuk menyeka keringat di dahi dengan ban lengan bertuliskan 'Ketua OSIS'. "Dua poin, Gad. Cuma dua poin," ucap Jihan tanpa menoleh, suaranya sedingin es. Jagad terkekeh, tipe kekehan sombong yang selalu sukses memancing emosi Jihan. "Dalam basket, dua poin itu penentu kemenangan di detik terakhir. Dan dalam hidup, dua poin itu pembeda antara yang nomor satu sama yang... ya, lo tahu sendiri, peringkat dua." Jihan akhirnya berbalik, menatap mata tajam Jagad yang selalu kelihatan tenang sekaligus menyebalkan. "Jangan senang dulu. Semester depan gue pastiin lo yang harus dongak buat liat nama gue di puncak." Jagad maju satu langkah, membuat Jihan refleks mundur hingga punggungnya menempel di mading. Jagad menunduk sedikit, menyamakan tingginya dengan Jihan. "Gue nggak pernah liat ke bawah, Jihan Selaras," bisik Jagad pelan, senyum miringnya muncul. "Tapi kalau lo capek jadi nomor dua terus, ruang OSIS selalu terbuka kalau lo butuh tutor. Gratis, khusus buat rival abadi gue." "Najis," semprot Jihan, mendorong bahu Jagad dengan kasar untuk memberi jalan. "Eh, satu lagi!" seru Jagad saat Jihan mulai melangkah pergi. "Anak-anak musik jangan latihan lewat jam lima sore. Gue butuh ketenangan buat rapat OSIS di ruang sebelah. Suara gitar lo... terlalu berisik." Jihan berhenti, menoleh sedikit dengan tatapan membunuh. "Dan gue butuh lo berhenti dribble bola saat gue lagi main piano. Suara bola lo itu nggak punya ritme. Berantakan." Jagad hanya mengangkat bahu sambil melempar bolanya ke udara dan menangkapnya lagi dengan satu tangan. Ia memperhatikan punggung Jihan yang menjauh menuju ruang musik. Senyum miringnya perlahan luntur, berganti dengan tatapan yang sulit diartikan. Di saku celana basketnya, ponsel Jagad bergetar. Sebuah pesan singkat masuk dari Ayahnya: “Papa lihat nilai Fisika kamu cuma 98,2. Kenapa bisa salah satu nomor? Jangan sampai peringkat kamu turun. Papa nggak mau dengar alasan.” Jagad mengembuskan napas panjang, meremas ponselnya kuat-kuat. Ia menoleh kembali ke mading, ke arah nama Jihan Selaras yang berada tepat di bawah namanya. "Lo beruntung, Han," gumamnya lirih. "Lo nomor dua karena kesalahan teknis. Gue nomor satu karena... gue nggak punya pilihan untuk jadi yang kedua."Ruang rapat utama SMA Cakrawala pagi itu terasa lebih sempit dari biasanya. Padahal, ruangan itu adalah yang paling megah di sekolah, dengan meja kayu jati panjang yang permukaannya mengilat seperti cermin. Tapi bagi Jihan, oksigen di sana seolah tersedot habis oleh kehadiran satu orang yang duduk di ujung meja.Namanya Ibu Martha. Dia adalah ibu Clarissa, sekaligus kritikus musik klasik yang reputasinya bisa bikin seorang pianis profesional mendadak lupa nada sebelum naik panggung. Wanita itu duduk tegak, mengenakan blazer hitam tanpa cela, dengan kacamata bingkai tipis yang bertengger di hidungnya yang mancung. Di sampingnya, Clarissa duduk dengan senyum tipis yang tampak sangat... tenang."Jadi," Ibu Martha memecah keheningan, suaranya dingin dan jernih. "Ini yang kalian sebut sebagai 'inovasi'?"Ia meletakkan draf aransemen buatan Jihan ke atas meja dengan bunyi plak yang bikin Jihan berjengit."Benar, Bu," Jagad menjawab. Suaranya terdengar stabil, meskipun Jihan bisa melihat rah
Malam itu, perpustakaan kota terasa seperti sebuah dunia yang berbeda. Di luar, Jakarta sedang tidak bersahabat; suara klakson yang bersahutan di tengah kemacetan tertutup oleh deru hujan yang mulai menghantam kaca jendela besar di lantai dua. Di dalam, hanya ada suara dengung pelan dari pendingin ruangan dan gesekan kertas yang sesekali memecah keheningan.Jihan Selaras masih berkutat dengan soal termodinamika di depannya. Rambutnya yang biasanya rapi kini sedikit berantakan, beberapa helai jatuh menutupi keningnya yang berkerut. Di hadapannya, Jagad Rayyan duduk dengan posisi yang jauh lebih santai—satu tangannya menopang dagu, sementara tangan lainnya memainkan pulpen dengan lincah."Tanda minusnya, Han. Lo ketinggalan satu baris," ucap Jagad pelan. Suaranya yang rendah terdengar sangat jelas di telinga Jihan karena suasana yang sepi.Jihan mendesah frustrasi. Ia mengucek matanya sejenak sebelum menatap kembali coretannya. "Di mana sih? Perasaan udah gue masukin semua."Jagad sedik
Pagi itu, udara di lorong kelas dua belas terasa lebih berat dari biasanya. Bau pembersih lantai yang tajam bercampur dengan aroma kopi instan dari botol-botol minuman yang dibawa siswa. Bagi sebagian orang, ujian Fisika susulan hari ini hanyalah formalitas untuk memperbaiki nilai rapor yang hancur. Tapi bagi Jihan Selaras, ini adalah laga penentuan.Jihan duduk sendirian di bangku taman yang letaknya persis di depan laboratorium. Jemarinya sibuk membolak-balik halaman buku catatan yang penuh dengan coretan rumus termodinamika. Di kepalanya, angka-angka itu menari-nari, tapi entah kenapa, sesekali bayangan wajah Jagad saat di panggung kemarin ikut menyelinap."Formula efisiensi itu nggak bakal masuk ke otak kalau lo bacanya sambil nahan napas gitu, Han."Jihan nggak perlu menoleh untuk tahu siapa yang baru saja datang. Suara berat yang sedikit serak itu sudah terlalu sering mampir di pendengarannya akhir-akhir ini. Jagad Rayyan berdiri di sana, menyandarkan punggungnya di tiang lampu
Senin pagi di SMA Cakrawala tidak pernah terasa sama lagi bagi Jagad dan Jihan. Jika biasanya koridor sekolah hanya dipenuhi oleh aroma pembersih lantai dan obrolan malas tentang tugas matematika, hari ini atmosfernya terasa bergetar. Sejak kaki Jihan menginjak gerbang, ia bisa merasakan pasang mata yang mengikutinya. Bukan lagi tatapan remeh pada "si peringkat dua yang ambisius", melainkan tatapan kekaguman yang bercampur dengan rasa penasaran yang haus akan gosip.Di mading utama, tempat yang biasanya menjadi medan perang bagi Jagad dan Jihan, kini tertempel sebuah poster besar hasil cetakan panitia yayasan. Foto Jagad yang sedang melakukan dunk dan Jihan yang menekan tuts piano dengan ekspresi intens menjadi latar belakang pengumuman ucapan terima kasih atas kesuksesan Founders Day."Han, liat deh. Kita beneran jadi ikon sekolah," Manda menyenggol bahu Jihan sambil terkekeh. Manda tampak lebih bersemangat pagi ini, rambutnya dikuncir kuda tinggi dan ia membawa kotak biola dengan ba
Sore itu, langit Jakarta seakan ikut menahan napas. Warna jingga yang biasanya hangat kini tampak seperti kobaran api yang memudar di ufuk barat. Jagad berdiri di depan pintu gerbang rumahnya yang menjulang tinggi. Perasaan yang membuncah di sekolah tadi—kemenangan, adrenalin, dan sorak-sorai—kini menguap, digantikan oleh kecemasan yang dingin dan tajam.Di sampingnya, Jihan tetap berdiri. Gadis itu menolak untuk pulang duluan setelah Galang mengantar mereka ke depan kompleks. Jihan masih mengenakan jaket denimnya yang sedikit berdebu, tangannya menggenggam tali tas pianonya dengan kuat."Lo yakin mau ikut masuk?" Jagad menoleh, menatap Jihan dengan sorot mata yang sulit diartikan. "Bokap gue bukan tipe orang yang bakal menyapa tamu dengan ramah setelah dipermalukan di depan umum."Jihan menarik napas dalam-dalam, merasakan aroma aspal basah di sekitarnya. "Gue yang narik lo ke panggung itu, Gad. Gue nggak bakal biarin lo ngadepin 'hukuman' sendirian. Anggap aja ini bagian dari tanggu
Sabtu pagi, pukul 05.30 WIB. Langit Jakarta masih berwarna kelabu keunguan, menyisakan hawa dingin yang lembap pasca hujan rintik semalam. Di sebuah gang sempit tepat di belakang tembok tinggi kediaman keluarga Rayyan, Galang sedang berjongkok sambil sesekali melirik jam tangan digitalnya yang berkedip. Napasnya terlihat menguap tipis di udara dingin. Di sampingnya, Bagas dan dua orang anggota tim basket lainnya, Rio dan Danu, sedang menutupi sebuah tangga lipat aluminium dengan beberapa karung goni bekas agar terlihat seperti tumpukan sampah taman."Lo yakin ini bakal berhasil, Lang?" bisik Bagas, suaranya sedikit gemetar karena adrenalin. "Kalau kita ketahuan, bukan cuma Jagad yang pindah sekolah. Kita semua bisa kena skorsing permanen karena ngerusak properti orang.""Diem, Gas. Fokus ke sinyal," jawab Galang tegas, meski ia sendiri merasakan jantungnya berdegup sekeras drum perkusi. "Jagad bakal kasih sinyal lewat lampu senter kecil dari jendela kamarnya tepat jam enam. Begitu lam







