LOGIN**
Fandi sudah selesai memakaikan sarung tinju pada Kelvin. Menyusul kemudian aku yang juga selesai dengan sarung tinjuku.
“Allright, guys..,” ujar Fandi setengah berteriak, sembari berjalan menuju ke tengah.
“Kelvin dan Mojo, mari sini, mendekat ke sini.” Panggilnya pada kami berdua. Kedua tangannya juga melambai berbarengan, memanggil kanan dan kiri.
Kelvin berjalan mantap menuju sisi Fandi. Aku yang gugup pun berjalan mendekat pula dengan langkah yang enggan.
Lalu Ibu Widya.., itu, dia di situ, duduk bersilang kaki sambil bersedekap di atas sebuah pipa besar.
Setelah aku dan Kelvin berhadapan, Fandi melanjutkan dengan sebuah briefing kecil.
Jujur kuakui di sini, dia memang pantas menjadi seorang wasit. Dia pasti tahu banyak hal tentang pertandingan beladiri.
“Sesuai permintaan Ibu Widya, kalian akan bertanding di bawah pengaturan dan pengawasan saya.” Kata Fandi, seraya menatap wajahku dan
**“Kalian bertiga, bekerja untuk siapa?”Pak Charles tersenyum sebentar. Senyum yang begitu kentara untuk menyembunyikan kegugupannya.Ujarnya kemudian, “Bagaimana kalau pertanyaan itu nanti saja saya jawabnya.”“Saya mau jawaban sekarang. Kalian bekerja untuk siapa?” Ulang Gending bertanya, dengan nada yang dalam tapi mengancam.“Begini, Gending..,” Belum selesai Pak Charles berbicara langsung dipotong oleh Gending.“Pertanyaan terakhir, dan kalau setelah ini aku tidak mendapat jawaban maka leher kamu akan langsung aku patahkan. Kalian bekerja untuk siapa?”Pak Charles menelan ludah kecut. Akhirnya, ia menjawab.“Un.., untuk Mr. Robert.”“Mr. Robert. Siapa itu?”“Kamu mau bertemu dengan dia?” Balas Pak Charles dengan pertanyaan pula.“Kenapa tidak? Kapan? Di mana? Tapi jawab dulu, siapa itu Mr. Robert?&rd
**Akhirnya, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba. Pukul sembilan pagi, Pak Charles menelepon Gending ketika ia baru saja menerima satu bundel dokumen dari Pak Bisma.“Halo, Gending?”“Ya, halo.”Gending berjalan pelan-pelan di lorong kantor, menuju ke lift.“Dokumen dari Pak Bisma sudah kamu terima?”“Sudah.”“Buang saja dokumen itu. Toh tidak berguna juga.”Nah! Benar dugaan Gending kemarin. Dokumen, bandara Sukarno Hatta, dan semua yang terkait dengan ini adalah akal-akalan Pak Charles.Sejak beberapa hari yang lalu dia pasti tetap berada di Jakarta ini, dan tidak sedang di luar kota atau luar negeri.“Oke,” sahut Gending berusaha tenang.“Sekarang, saya mesti ke mana? Ke suatu hotel di dekat bandara Sukarno Hatta? Atau..,”“Oh, tidak, tidak. Sekarang, emm.., kamu disuruh bawa mobil sendiri, bersama dengan Pak
**“Lalu yang kedua, saya sedang gugup.”“Gugup? Gugup kenapa?” Tanya Miss Widya penasaran.Gending tak segera menjawab. Jujur, perintah Miss Widya tadi untuk mengantarkan sebuah dokumen kepada Pak Charles membuat ia tiba-tiba merasa gelisah, dan ya, gugup.Ia sadar bahwa pertemuannya dengan Pak Charles nanti akan mengandung suatu bahaya. Menunggu sampai besok, menunggu sampai nanti bertemu dengan Pak Charles itu tak pelak membuat ia tidak tenang.Ini mirip dengan perumpamaannya seperti seseorang yang akan menghadapi hukuman. Semakin diulur maka semakin membuat deg-degan.Jika ia boleh memilih, ingin sekali ia menghadapi apa pun bahaya itu sekarang juga. Tidak harus menunggu sampai besok.Anehnya di sini, inisiatif yang muncul pada diri Gending adalah, bahwa satu porsi es krim bisa meredakan kegugupannya, seperti kebiasaan Misss Widya selama ini.Is it work—manjur? Entahlah, Gending belum merasa. A
**Miss Widya memanggil. Ada apakah?Ternyata tidak ada apa-apa. Ia hanya meminta untuk diantar pulang. Masih pukul lima kurang, tapi sang CEO muda itu ingin pulang cepat. Gending langsung tanggap. Ia memberesi ruangan kantor Miss Widya seperti biasa. Sembari melakukan itu ia juga menghubungi Pak Murad untuk menyiapkan mobil di lobi bawah.“Mari, Miss.” Ujar sang ajudan, membimbing dan mengawal bossnnya ini turun ke lantai dasar. Ia juga membawakan tas kerja Miss Widya yang berisi laptop dan beberapa dokumen.Sewaktu di dalam lift, Miss Widya berinisiatif membuka percakapan.“Besok, saya tidak ada agenda apa-apa kan?”“Tidak ada, Miss.”“Oke, besok saya minta tolong. Kamu pergi ke Sutta. Kamu antarkan satu dokumen yang sudah disiapkan oleh Pak Bisma.”“Sutta yang Miss maksud ini, apakah bandara Sukarno Hatta?”&l
**“Tidak usah, biar Ibu sendiri saja.”“Tapi, Bu..,”“Sudah, Gending, tidak apa-apa kok. Kamu istirahatlah.”Beberapa saat kemudian Gending masih termangu, menatap arah kepergian Ibu Suri yang kembali ke rumah besar dengan kursi rodanya.Ia kemudian menunduk, berjalan membawa ponselnya sembari menatap sekali lagi jumlah nominal yang masuk ke rekeningnya. Sampai di teras ia kembali menempati kursinya yang tadi.Guk..!Venus menyalak lembut meminta perhatian darinya.“Apa?” Tanya Gending seakan mau berbicara pada Venus.Guk..!“Kamu minta jatah? Minta bagian?”Gukk..!“Ogah!”Gukk..!“Tidak mau, uang ini untuk aku.”Guk, gukk..!“Oke, oke. Besok kamu aku belikan roti lapis isi daging tuna. Tapi, dengan satu syarat, kamu harus bisa merespon suara suitanku dulu.”Gukk.
**“Gending Atma Jaya..,”Mendengar nama lengkap itu tiba-tiba Ibu Suri terkejut. Telinganya menegang dan matanya terpaku pada sebuah nama yang secara otomatis kemudian tertampil di layar tabletnya.“Gending..,” Ibu Suri menggumam pelan-pelan.“Atma..,”“Jaya..,”“Iya, Bu.” Sahut Gending kikuk.“Ini.., ini nama kamu? Nama lengkap?”“Betul, Bu.”“Tapi, Widya bilang, nama kamu Gending saja. Hanya satu kata, Gending.”Nah, di sinilah muncul sebuah dilema bagi Gending. Selama ini ia memang tidak pernah bermaksud menyembunyikan jati diri yang sebenarnya kepada keluarga Wibisono.Miss Widya saja yang selalu menutupi hal itu, dan ia melakukan itu karena alasan yang sentimentil terkait dengan surat Abah Anom perihal perjodohan dengan Mojo alias Gending.Gending pun teringat di hari pertama ia datang ke rumah Acrop







