Share

Melepas Rindu

Author: Dark_Pen
last update publish date: 2026-06-19 21:45:17

Jaka menarik napas dalam-dalam, dia lega karena Arum sudah di konfirmasi aman oleh Sigrid, namun kini yang jadi masalahnya, bagaimana Jaka menjelaskan ini semua kepada Sari.

Kamar itu tertutup rapat, Jaka mendekat, ragu, sekaligus rindu akan istri dan calon anaknya yang sudah lama tidak bersua.

Tok Tok!

Dengan tangan sedikit gemetar, Jaka memberanikan diri untuk mengetuk. Tidak ada jawaban dari dalam.

Tok Tok!

“Sari!” panggil Jaka akhirnya. Dan perlahan derap langkah di dalam mulai terdengar, m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Eka Nuranila
bagus bngt
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Bentrokan Pertama

    Tawa Sagara Wisesa menggelegar membelah alun-alun, beradu dengan teriakan kepanikan ratusan warga yang berlarian kencang menyelamatkan diri. Dalam sekejap, area luas di tengah kota itu bersih dari kerumunan, meninggalkan barisan Prajurit Karang Hitam yang langsung memagari panggung eksekusi dengan tombak teracung."Tangkap Kandita hidup-hidup!" teriak Bima memberi komando seraya melompat turun dari atas panggung eksekusi.Wush! Wush!Puluhan prajurit Karang Hitam bergerak mengepung dalam formasi mematikan. Jalur pelarian di belakang Jaka dan rombongannya mendadak ditutup oleh belasan penjaga berzirah tebal.Dua prajurit mendekat sambil mengacungkan tombak, bersiap untuk menangkap sang putri yang menjadi buronan selama ini.Kandita menelan ludah. Walau prajurit yang maju hanya dua orang, namun yang mengepung mereka sangatlah banyak.“Ba-bagaimana ini?” gumamnya panik. Dia sadar, melawan puluhan prajurit terlatih istana hanya berempat adalah misi bunuh diri.Namun tidak bagi Jaka. Walau

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Kekacauan Dimulai

    Arya Wisesa berdiri terikat di atas panggung kayu raksasa yang didirikan tepat di tengah alun-alun kota. Tubuhnya dipenuhi luka lebam dan bekas tebasan, wajahnya pucat pasi, namun kepalanya tetap tertunduk kaku menahan derita. Di atas kepalanya, sebuah jerat tali tambang tebal berwarna hitam sudah menggantung condong, siap merenggut nyawanya dalam hitungan menit.Di sekeliling panggung, ratusan warga Tirtawana berkumpul dalam hening yang mencekam. Tak ada satupun yang berani bersuara. Belasan Prajurit Karang Hitam bersenjata tombak bercabang tiga berdiri rapat memagari panggung, sementara Bima berdiri tegap di barisan terdepan panggung dengan pedang terhunus di tangan kanan."Wahai rakyat Tirtawana!" suara Bima membahana, menggelegar membelah alun-alun. "Hari ini, Arya Wisesa dihukum mati atas tuduhan pengkhianatan tingkat tinggi terhadap Penguasa Laut Barat, Sagara Wisesa! Siapa pun yang berani mencoba melindunginya, akan menerima nasib yang sama!"Semua orang terdiam bisu, jangankan

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Menyusup Ke Pusat Kota

    Wira Perkasa menggeleng kuat-kuat, raut wajahnya diliputi kekhawatiran yang teramat sangat. "Tuan Jaka, tidak! Menyelundup ke jantung kota sendirian tanpa pasukan pendukung saat seluruh mata prajurit istana siaga adalah tindakan bunuh diri! Bima dan ribuan pasukan Karang Hitam pasti sudah mengepung alun-alun!"Jaka menatap Wira dengan sorot mata yang menyala tajam. "Aku tidak punya pilihan, Wira. Nyawa paman Arya dipertaruhkan detik ini juga. Setiap detik yang kita buang berarti satu langkah lebih dekat paman Arya pada tiang gantung."Arum, yang berdiri tepat di samping Jaka, melangkah maju tanpa ragu. Jemari tangannya meremas erat lengan suaminya, menyalurkan dukungan mutlak tanpa sepatah kata protes pun. Ia tahu risiko yang harus mereka hadapi, namun Arum tidak akan pernah membiarkan Jaka berjalan sendirian.Beno yang melihat Arum maju pun menghela napas pasrah sambil menyeringai tipis, lalu menepuk hulu badik di pinggangnya.Kandita menatap Jaka dengan mata berkaca-kaca penuh rasa

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Perubahan Rencana

    Sementara di area hutan kelam, Jaka masih ambruk dalam pelukan Kandita setelah akhirnya dia menyemburkan benih hangatnya ke dalam rahim gadis itu. Mereka berdua masih terengah, bahkan sempat terlelap beberapa saat akibat kelelahan. Hingga akhirnya Jaka kaget saat mendengar Kandita berteriak tiba-tiba.“PAMAN!!! PAMAN ARYA!!”Deg!Jaka membelalak, matanya seketika terbuka karena kaget. Ia langsung menoleh ke arah Kandita yang masih berbaring di sebelahnya.“Kandita… kamu kenapa?”Blak!Kandita membuka mata, napasnya tiba-tiba memburu. Ia bahkan langsung bangkit duduk.“Ada apa Kandita?” tanya Jaka lagi sambil memegang bahu mulus gadis itu.Kandita menoleh, menatap Jaka dengan sorot mata dipenuhi kegelisahan. “Aku… a-aku…”Jaka ikut gelisah melihat wajah gadis itu yang tampak pucat.“Apa Kandita? Ada apa?”“Aku… aku mimpi Ibunda, Jaka. Dia bilang… paman Arya dalam bahaya.”Glek!Jaka menelan ludah. “A-apa? Paman Arya dalam bahaya?”Kandita mengangguk pelan. Ia langsung meraih tangan Jak

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Hukum Gantung

    Sementara di sisi lain. Pagi buta itu tampak Arya Wisesa sudah berada di istana, dia tampak berdiri di depan Sagara Wisesa yang sedang duduk di singgasana.“Arya… kenapa kau babak belur begitu?” kata Sagara sedikit mencibir melihat luka memar di wajah Arya, adiknya sendiri.Arya Wisesa mengepalkan tangan. Dia tidak menjawab sepatah katapun.“Ayah!”Di sisinya, Bima langsung membungkuk. “Aku dan pasukan terpaksa memaksa Paman Arya tadi. Untung saja kami bisa menahan diri dan tidak membunuhnya.”Arya tersenyum getir, menatap sinis ke arah keponakannya sendiri. Dia menggeleng pelan, tidak menyangka sang keponakan bahkan berkata demikian—tidak menghargainya sama sekali.“Haha!” Sagara Wisesa tertawa pelan, lalu dia mengibaskan tangan, memberi kode untuk Bima segera keluar.“Baik, Ayah!”Bima membungkuk, dia dan beberapa prajurit langsung keluar dari aula istana meninggalkan Sagara Wisesa dan Arya di sana hanya berdua.Begitu pintu perunggu aula istana tertutup rapat meninggalkan gema bera

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   "Jaka... Lebih Dalam!"

    Jaka mendongak, memejamkan matanya, merasakan hisapan Kandita di bawah sana begitu nikmat.“Ahh, terus Kandita… ini enak banget!” desah Jaka parah sambil meremas lembut rambut gadis itu.Kandita yang sudah dikuasai gairah, tidak peduli lagi, rasa malunya menguap habis, hanya menyisakan keinginan yang menuntut lebih.Walau sedikit kaku, namun mulut Kandita berusaha penuh memanjakan batang besar yang membuat rongga mulutnya sesak tersebut. Salivanya menetes saat ia mulai memaju-mundurkan mulutnya, menghisap batang berurat tebal tersebut.“Ahh!” Jaka kembali mendongak, ia menekan kepala Kandita lebih ke dalam hingga batang besar miliknya mentok menyentuh tenggorokan gadis itu.“Akhh… uhuukk!”Kandita menarik diri. Napasnya tersengal, ia terbatuk-batuk saat batang besar itu menyumbat mulutnya sejenak tadi.“Ahhh, Jaka…” rengeknya sambil menepuk paha pria itu. “Pelan-pelan…”Jaka berlutut di hadapan Kandita, mengikis jarak yang tersisa di antara tubuh mereka yang kini terbebas dari sehelai

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Benda Karet Bu Lilis

    Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan.

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Desahan di Dalam Gudang

    “Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.” Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut d

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Gairah Terpendam

    Jaka tercengang, ia benar-benar tidak menyangka Bu Lilis akan memberi tawaran seperti ini. Jaka terpaku, matanya terhenti pada belahan kembar wanita itu yang mengintip di balik daster kerah rendah yang ia pakai. “Anu, Bu… saya…” Jaka benar-benar gugup. Tawaran seperti ini tentu saja sangat menggi

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Hasrat Bu Lilis

    Setibanya di rumah, Jaka langsung membuka amplop pemberian Bu Susi sambil mengatur posisi kejantanannya yang masih mengeras. “Hah?” Jaka terkejut, ternyata isi amplop itu lumayan banyak. “Satu, dua, tiga, empat…” Jaka terbelalak. “Lima ratus ribu?” Jaka menggeleng, ia benar-benar tidak menyangka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status