LOGINMangkubumi membungkuk dalam-dalam, raut wajahnya dipenuhi rasa hormat yang baru. Doktrin kuno yang membelenggu pikirannya berpuluh-puluh tahun seolah runtuh seketika oleh ketegasan pria yang berdiri di hadapannya. “Hamba mengerti, Tuan Jaka,” ucap Mangkubumi mantap, suaranya kini bergetar penuh tekad. “Hamba akan segera mengumpulkan sisa pengawal istana yang setia dan warga lembah yang bersedia mengangkat senjata demi kebenaran!” Mangkubumi bersama Beno segera bergerak cepat. Terompet tanduk gaib ditiup rendah, menggema di sepanjang selasar tebing Lembah Naga. Dalam hitungan menit, puluhan prajurit pelarian dan warga lembah yang bersembunyi mulai merapat. Jumlah mereka memang tak sebanyak ribuan prajurit Garok dan pasukan pembelot, namun pendar keemasan tiga pusaka di tubuh Jaka—serta bayangan raksasa Suki yang berdiri di belakang mereka—membakar kembali kobaran semangat yang sempat padam. Isara memandangi wajah Jaka dari samping dengan tatapan penuh keharuan. Rasa hangat yang berd
Semua mata seketika tertuju pada Jaka. Atmosfer di selasar tebing yang semula diliputi kebingungan kini berubah menjadi tegang dan penuh kepastian. Di bawah naungan bayang-bayang Suki yang berdiri mengintimidasi, Jaka melangkah satu garis di depan Isara, memposisikan dirinya sebagai garda terdepan sang Ratu. Jaka menatap Saka, Mangkubumi, lalu beralih pada Isara yang berdiri anggun di sampingnya. Pendar keemasan dari tiga pusaka di tubuhnya berdenyut halus, memancarkan wibawa kepemimpinan yang tak terbantahkan. “Kita tidak akan membuang waktu,” ujar Jaka dengan suara dalam yang mantap. “Patih pengkhianat itu pasti merasa berada di atas angin sekarang. Dia mengira Isara sudah hancur dan rombongan kita kocar-kacir di pedalaman. Kita manfaatkan kesombongan mereka.” Mangkubumi melangkah maju, membetulkan letak selendangnya seraya bertanya, “Tuan Jaka, pasukan pengawal istana yang membelot jumlahnya ratusan, belum lagi prajurit Garok yang jumlahnya juga ratusan, bahkan hampir ribuan. Ba
Di bawah sana, suasana Lembah Naga mendadak mencekam saat tanah yang mereka pijak bergetar hebat. Dinding tebing retak, dan kabut tebal di puncak gunung mendadak terbelah oleh pusaran angin raksasa. “Kanjeng Ratu! Gempa!” pekik Beno panik seraya mencabut pedangnya, bersiap membentengi Isara bersama Mangkubumi. Rina dan Rini yang ketakutan refleks berlindung di belakang Arum. Namun, Arum justru menatap ke atas langit dengan senyum tipis yang penuh keyakinan. GROOOAARRRRRR! Raungan dahsyat yang menggelegar memecah angkasa membuat mereka semua mendongak dengan mata membelalak. “I-itu…” Tiara mendongak, menatap tidak percaya ke arah langit pagi itu. Dari balik lautan kabut, sesosok makhluk raksasa bersisik hitam sekeras baja menembus awan. Dua kepala raksasanya memancarkan aura membara, dan kepakan sayap lebarnya menciptakan gelombang angin kencang yang menyapu area selasar tebing. “N-Naga itu… Monster puncak kawah turun!” jerit Mangkubumi dengan wajah pucat pasi. Namun, sebelum
Mata bocah keriting itu membelalak lebar, mengikis habis kesan kekanak-kanakan yang semula terpancar dari wajahnya. Mulutnya sedikit terbuka, sementara Suki—naga berkepala dua di belakangnya—mendadak mendesis halus, lalu menundukkan kedua kepala raksasanya sejajar dengan tanah.“Kau… Pewaris Tiga Pusaka?” bisik anak itu, suaranya yang cempreng kini bergetar hebat.Ia melangkah perlahan mendekati Jaka, matanya tak bergeming dari tiga garis melingkar di leher, pergelangan tangan, dan jari manis Jaka yang kini mendadak berpendar samar.Anak itu menengadahkan kepala, menatap wajah Jaka dengan sorot mata yang dipenuhi keterkejutan luar biasa. Jemari kecilnya yang gemetar terangkat, hendak menyentuh leher Jaka. Namun karena tinggi mereka yang berbeda membuat anak itu kesusahan. Jaka akhirnya menunduk, membiarkan anak itu menyentuh lembut pendar garis melingkar di lehernya.Srekkk!Seketika, gelombang energi hangat meledak pelan dari titik sentuhan itu, menciptakan riak cahaya yang menyapu s
Suara itu berhasil menghentikan Naga berkepala dua itu tepat sebelum lidah api keluar dari mulutnya.“Suki, apa yang kau lakukan?!”Suara cempreng itu terdengar nyaring, membuat Jaka mengernyit dan buru-buru bangkit. Di belakang Naga tersebut, dari balik kabut asap terlihat siluet seseorang.“Si-siapa itu?” batin Jaka penasaran. Sambil memegang dadanya yang terasa nyeri, Jaka sedikit mundur, siap siaga jika sesuatu yang buruk kembali terjadi.Namun… saat siluet itu benar-benar terlihat dengan jelas. Barulah Jaka tercengang bukan main melihat siapa orang yang baru saja berhasil membuat Naga itu berhenti.“Ehhh… kok—”Jaka tercengang sambil menggaruk kepalanya. Bukan panglima, bukan monster, tetapi yang muncul dari balik asap itu adalah anak kecil dengan rambut keriting.“Lah!”Jaka menggeleng-gelengkan kepalanya, mengusap matanya berulang kali, memastikan jika penglihatannya benar-benar nyata. Anak itu benar-benar kecil, dari ukuran tubuhnya, mungkin dia hanya berumur tujuh atau delapa
Di bawah sana, Arum, Rina, Rini, Mangkubumi, dan Beno langsung berdiri sigap begitu melihat Isara muncul. Wajah Rina dan Rini seketika merona merah padam saat menyadari rona segar di wajah Sang Ratu, serta lebam-lebam halus di ceruk lehernya yang menyiratkan penyatuan sakral yang baru saja terjadi. “Kanjeng Ratu!” panggil Mangkubumi seraya membungkuk hormat. Matanya lalu menyapu sekeliling. “Di mana… Tuan Jaka?” Isara menarik napas panjang, mencoba memulihkan martabat dan wibawanya sebagai penguasa. “Jaka sedang menuju ke puncak gunung.” “APA?!” Beno dan Mangkubumi berteriak kaget secara bersamaan. “Ke puncak kawah? Mencari Naga Berkepala Dua itu?!” pekik Beno tak percaya, matanya melotot lebar. “Kanjeng Ratu, itu sama saja menyerahkan nyawa! Patih tua saja lari terbirit-birit melihat siluetnya!” Arum melangkah maju, memegang lembut pundak Isara. Tidak seperti yang lain yang panik, Arum justru tersenyum tipis, menangkap sinyal gaib yang terpancar dari aura tubuh Isara. “Tenan
Kang Dudung tercengang, tentu saja dia tidak percaya begitu saja perkataan Jaka. Walaupun Kang Dudung merasa Jaka bukanlah pelakunya tetapi dia tidak bisa serta merta percaya bahwa Pak Kades pelukannya tanpa adanya bukti.“Ya sudah, begini saja,” kata Kang Dudung akhirnya. Ia ikut duduk bersama Jak
“Di bongkar?!”Betapa terkejutnya Kang Dudung dan Jaka mendengar kabar dari Tarjo dan Narji. Tanpa basa-basi mereka semua langsung berangkat menuju area pemakaman.Sesampainya di sana, Jaka di buat kaget bukan main, jantungnya hampir saja berpindah tempat. Bagaimana tidak, makam Marni sudah terbong
Tanpa membuang waktu, Jaka langsung menindih istrinya tersebut, meremas dua gunung kenyalnya sambil menghisap putingnya bergantian.“Ahh! Sayang… terus!”Sari mulai membuka pahanya saat tangan Jaka menelusup ke sana. Ia menggeliat saat jari-jari Jaka mulai mengusap lembut garis belahan kewanitaanny
Sari mulai menarik tangan Jaka menuju ke ranjang pengantin mereka. Harum wewangian semerbak memenuhi kamar ini, membuat Jaka semakin terbawa suasana.Sari berbaring, menatap Jaka yang masih berdiri membeku di tepi ranjang.“Kenapa sayang? Kita ini suami istri loh,” bisik Sari lagi sambil mengedipka







