Share

Musuh Sebenarnya

Author: Dark_Pen
last update publish date: 2026-06-07 18:58:17

Jaka mengangguk pelan, ia segera menggandeng tangan Arum, gadis sebatang kara yang kini resmi menjadi istrinya. Namun, masalahnya kini, Jaka bingung di mana pakaiannya.

“Rum, baju aku di mana?” tanya Jaka bingung.

“Eh, baju kamu?” Arum tampak bingung, ia buru-buru menarik Jaka ke rumahnya.

Arum langsung mengambil kain kecil, penutup selangkangan seperti yang dipakai oleh pria-pria di suku mereka.

“Ehh… ini?” tanya Jaka membelalak hebat.

“Iya, ini pakaian laki-laki, dan ini pakaian aku,” katanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Ki Jagad

    Malam harinya, Jaka duduk makan malam bersama Arum di ruang tamu. Makanan yang di beli Jaka lebih dari cukup untuk mereka berdua. Arum dengan manisnya sesekali menyuapi nasi ke dalam mulut suaminya itu. Untuk sejenak, keresahan Jaka mereda dengan segala kehangatan tulus yang di berikan istrinya. Jika bukan karena Jaka merasa Bu Lilis dalam bahaya, maka dia tidak akan pernah mau ikut campur dalam masalah Pak Herman. Bagi Jaka, ia sudah menemukan kedamaian hidupnya. Namun, mengingat tangis Bu Lilis siang tadi, Jaka benar-benar tidak bisa menutup mata. “Kamu mau pergi sendiri nanti ke rumah Bu Lilis?” tanya Arum di sela-sela ia menyuapi Jaka. Jaka mengangguk pelan sembari melirik jam dinding tua di ruang tamu kontrakannya. “Iya, Rum. Nanti tengah malam aku ke sana. Lagian aku bukan mau bertamu, aku mau menyelinap.” Arum menarik napas dalam-dalam, dia sebenarnya ingin ikut namun mendengar keputusan Jaka yang sudah bulat, akhirnya dia hanya diam sambil mengangguk pelan. “Ya udah, seka

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Kepekaan Jaka

    Selepas Pak Herman dan Bu Lilis pergi, suasana kontrakan kembali hening, menyisakan Jaka yang terdiam bingung mencerna semua ini. Sementara Beno di sisinya masih menggerutu sesekali karena kesal. “Sialan itu Pak Herman, datang-datang maen minta tolong! Di kira dia siapa?!” Beno menoleh, menatap Jaka yang tampak bingung memikirkan kejadian itu. “Udah, Ka. Enggak usah di pikirin,” ujarnya sambil menepuk bahu Jaka pelan. “Biarin aja Pak Herman ngurus sendiri masalahnya.” Jaka tidak merespon, yang dia pikirkan bukan Pak Herman, melainkan Bu Lilis yang menurutnya menunjukkan gelagat yang cukup aneh, di tambah bekas memar di lengannya. “Oi Ka!” sapa Beno lagi. “Apaan sih lo? Malah bengong! Udah enggak usah di pikirin!” Beno menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan pelan menuju pintu depan. “Ya udah, gue balik dulu. Emak gue khawatir pasti ini gue enggak pulang semingguan enggak ada kabar. Kalau ada apa-apa nanti, telpon gua aja.” Jaka mengangguk pelan, melihat Beno yang perlahan menja

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   "Ada Apa Ini Sebenarnya?"

    Dada Beno naik turun menahan amarah yang membakar. Sebagai sahabat yang tahu persis seluruh latar belakang kelam dan penderitaan Jaka di masa lalu, tentu saja ia tidak terima jika Pak Herman—dalang di balik kekacauan itu—datang hanya untuk mengucapkan kata maaf dengan begitu mudahnya. Arum yang tidak tahu-menahu tentang akar masalah masa lalu itu mengernyit heran. Namun, ia memilih untuk tetap diam dan tidak menyela perkataan siapa pun. Melihat respons Beno yang sedemikian emosional, Arum langsung menangkap bahwa pasti ada dendam dan luka besar yang pernah terjadi di antara Jaka dan pria paruh baya bernama Pak Herman itu. “Dengar dulu, Beno…” ujar Bu Lilis berusaha menenangkan, suaranya memohon. “Saya tau—” Beno yang masih membara hendak menyela kembali perkataan Bu Lilis, namun sebelum kalimatnya terucap, Jaka dengan sigap menepuk dan memegang bahu Beno. Jaka memberikan isyarat mata yang tenang namun tajam, meminta agar Beno menahan diri dan tidak terbawa emosi. Melihat isyarat d

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Kedatangan Bu Lilis dan Pak Herman

    Jaka sontak terdiam, dia tahu itu suara siapa. Begitu pula dengan Beno. “Ka, i-itu… suara Bu Lilis, bukan?” tanya Beno berbisik, seakan ingin memastikan bahwa pendengarannya tidak sedang memainkan trik di tengah siang yang terik ini. Jaka mengangguk pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari daun pintu. Ia bangkit dari posisinya, melangkah mantap lalu perlahan memutar gagang pintu tersebut. Klek! Begitu pintu kayu itu terbuka lebar, kening Jaka seketika mengernyit dalam. Bukan hanya sosok Bu Lilis yang berdiri di balik ambang pintu, melainkan ada Pak Herman—suaminya yang merupakan mantan Kepala Desa Gunung Jati—juga berdiri mendampinginya di sana. “Siang Jaka…” Wanita matang itu tersenyum ramah, mencoba mengikis ketegangan yang merayap di udara. “Iya, siang, Bu,” balas Jaka dengan nada sopan namun dingin. Matanya melirik tajam, menghunjam lurus ke arah Pak Herman yang berdiri agak menyamping di belakang Bu Lilis. Mendapat tatapan intimidatif dari Jaka yang kini diselimuti wibawa

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Rencana Jaka

    Paginya, setelah di jamu sarapan mewah oleh Pak Reno di museum, Jaka, Arum dan Beno akhirnya pamit pulang. Mereka di antar oleh anak buah Pak Reno sampai ke tujuan untuk memastikan mereka semua aman. Bagi Pak Reno, Jaka bukan sekedar rekan kerja, namun sudah menjadi aset yang begitu berharga. Apalagi setelah Tiara menceritakan semuanya, jika Jaka ada kunci mereka bisa berhasil dalam ekspedisi yang mereka jalankan kali ini. Di dalam sedan mewah itu, Jaka duduk di belakang bersama Arum, dan Beno di depan bersama pengawal Pak Reno yang bertindak sebagai sopir. Jaka hanya tersenyum tipis sambil merangkul Arum dalam dekapannya. Rekeningnya bengkak dengan nominal uang yang fantastis, semua wanita bertekuk lutut dan menginginkan dirinya. Di titik ini, Jaka benar-benar merasa dia sudah berada di titik paling sempurna dalam hidupnya. Dengan uang sebanyak ini, dia bisa membeli rumah yang lebih layak, membeli kendaraan, bahkan bisa membuka usaha untuk hasil jangka panjang. Sementara di sisinya

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Tumpah di Mulut

    "OHHH! JAKAAA! INI JAUH LEBIH DALAM!" jerit Tiara melengking tinggi. Tangannya mencengkeram erat bantal dan seprai di bawahnya sewaktu rasa padat dan dalam kembali menguasai seluruh rongga panggulnya. Dalam posisi menungging, masuknya keperkasaan Jaka terasa berlipat ganda lebih padat dan penuh. Jaka mencengkeram pinggul molek Tiara dengan kedua tangan kekarnya, memacu hentakan pinggulnya bak pasak bumi yang menghujam tanpa henti. Setiap sentakan keras Jaka membuat tubuh mulus Tiara terdorong maju-mundur, berguncang hebat dalam siksaan kenikmatan yang tiada tara. "Kamu suka posisi ini, Tiara?" bisik Jaka dengan suara berat tepat di samping telinga sang gadis. Bersamaan dengan itu, jemarinya menjangkau ke bawah, merayap di antara celah pahanya untuk memilin dan mengusik titik peka di bagian depan kewanitaannya yang terbuka lebar. "Suka... ahhh! Aku suka banget, Jaka! Kocok terus... lebih cepat sayang…!" erang Tiara melantur liar. Rasa malu yang biasanya ia miliki sebagai wanita te

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Benda Karet Bu Lilis

    Jaka termenung setelah membaca surat tersebut, matanya berkaca-kaca. Ia mengambil gelang peninggalan ayahnya, membersihkannya dengan telaten hingga kusamnya sedikit menghilang, namun karat masih terlihat di beberapa sisi. Sambil menghela napas pendek, Jaka memakainya. Ternyata cukup pas di tangan.

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Desahan di Dalam Gudang

    “Ahh! Shh! Pelan-pelan, Pak.” Desahan itu terdengar samar, nyaris tertelan sunyi sore, namun cukup jelas untuk membuat langkah Jaka terhenti. Ia yang tengah mengais barang-barang bekas di gudang plastik terbengkalai di sudut desa mendadak membeku. Jantungnya berdegup lebih cepat, antara terkejut d

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Malam Penuh Nikmat

    Tanpa membuang waktu, Jaka langsung menindih istrinya tersebut, meremas dua gunung kenyalnya sambil menghisap putingnya bergantian.“Ahh! Sayang… terus!”Sari mulai membuka pahanya saat tangan Jaka menelusup ke sana. Ia menggeliat saat jari-jari Jaka mulai mengusap lembut garis belahan kewanitaanny

  • Jaka, Gantian Dong! Aku Udah Nggak Tahan!   Mimpi Aneh

    Bles!“Ahh!” Rara memekik, ia mencengkeram leher Jaka dengan kuat.Jaka juga melenguh hebat, miliknya di bawah sana seperti merobek sesuatu.“Ahh… Mas Jaka, sakit…” pekik gadis itu sambil tetap memeluk leher Jaka dengan erat.Rara merasakan benda tumpul itu masuk ke dalam dirinya begitu dalam. Jaka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status