Share

Bab 2

Penulis: Soda
Selama seminggu berikutnya, aku memperlakukan Daniel dengan dingin.

Dia mengira aku hanya marah atas tindakan-tindakannya di masa lalu dan akan segera melupakannya dalam beberapa hari.

Namun, ketika aku membuang hadiah-hadiah darinya untuk ketujuh kalinya, dia kehilangan kesabaran dan menatapku dengan dingin.

"Cukup, Emira! Kesabaranku ada batasnya."

Aku tak punya tenaga untuk berdebat dengannya. Surat pemberitahuan audit mendadak dari badan intelijen tiba dan kelihatannya aku akan sangat sibuk mulai sekarang.

Lalu, saat makan malam, Daniel mendorong sebuah tas Bermès yang masih baru ke arahku.

"Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang!"

Saat itu aku tersadar bahwa hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami.

Melihat tas yang indah itu, hatiku sedikit melunak.

Aku ingat ketika Daniel dan aku pertama kali bersama, aku pernah bilang padanya bahwa koleksi Bermès warna putih adalah favoritku.

Aku tak menyangka dia akan mengingatnya.

Namun, begitu aku membuka tas itu, aku menemukan lipstik yang sudah setengah terpakai di dalamnya.

Jelas sekali itu sengaja diletakkan di sana.

"Ini sudah terbuka. Kenapa beri hadiah yang sudah dibuka?" tanyaku acuh tak acuh.

Seketika sekilas wajah Daniel terlihat malu. "Safea cuma ingin lihat karena penasaran …."

"Cukup." Aku memotongnya. "Kamu pergi saja. Aku ada urusan yang lebih penting."

Aku tak punya waktu untuk permainan-permainannya.

Aku harus menyelesaikan semua pembukuan dalam waktu tujuh puluh dua jam.

Ini adalah waktu krusial bagi keluarga.

"Emira, bisa berhenti bersikap dingin begitu?" Daniel mengerutkan kening. "Aku benar-benar ingin menebus kesalahanku .…"

"Tinggal jauhi aku saja."

Aku pun berdiri dan meninggalkannya sendirian di ruang makan yang kosong.

...

Tiga hari kemudian, setelah aku menyelesaikan tanggapan awal untuk badan intelijen, asistennya, Martin, berlari masuk ke kantorku.

"Nyonya! Terjadi sesuatu!"

Wajahnya pucat pasi.

"Katakan," ujarku.

"Ketiga jalur penyelundupan Karitia kita telah terbongkar." Suara Martin bergetar. "Polisi tahu setiap titik penyerahan. Seluruh koordinat cadangan kita nggak ada yang terlewat."

Jari-jari tanganku menegang. "Gimana bisa? Koordinat itu terenkripsi. Hanya aku yang punya akses."

"Dan .…" Martin menelan ludah. "Ketua Daniel mengakses akun terenkripsimu bulan lalu dan memberikan kata sandinya pada Safea. Dia bilang dia ingin Safea memulai bisnis sendiri."

Saat itu, aku hampir tak percaya dengan apa yang kudengar.

"Katakan lagi?"

"Ketua bilang Safea ingin belajar tentang bisnis keluarga, jadi dia memberinya akses ke setengah akun luar negeri milikmu." Martin menunduk. "Kami mencoba menghentikannya, tapi perintah Ketua .…"

Aku menutup mata dan menarik napas dalam-dalam.

Tiga bulan persiapan, lebih dari selusin mitra, juga investasi miliaran.

Semuanya hilang.

Dihancurkan oleh adik angkatnya yang katanya "ingin belajar tentang bisnis keluarga."

"Siapkan mobil." Aku berkata sambil berdiri. "Ke rumah utama."

Ruang konferensi dipenuhi anggota keluarga inti.

Daniel duduk di ujung meja. Saat dia melihatku masuk, wajahnya terlihat panik.

"Emira, aku baru mau meneleponmu .…"

"Diam."

Suaraku sedingin es.

"Tiga jalur, tujuh belas lokasi, empat puluh tiga orang kita ditangkap." Aku berkata sambil melangkah perlahan menuju ujung meja. "Kerugian diperkirakan lebih dari empat triliun."

"Apa kamu tahu apa artinya ini, Daniel?"

Dia berdiri, mencoba menjelaskan, "Itu kecelakaan. Safea nggak sengaja .…"

"Nggak sengaja?" Aku mencibir. " Kamu memberikan kata sandi akun yang telah kuenkripsi selama tiga tahun kepada seseorang yang nggak punya pengalaman. Masih bilang nggak sengaja?"

"Emira!" Suara Daniel berubah dingin. "Safea adalah anggota keluarga. Dia ingin belajar .…"

"Keluarga?" Aku memotongnya. "Lalu aku apa?"

Ruang konferensi hening.

Semua menatap kami, tak ada yang berani bicara.

"Kamu istriku," kata Daniel, nada suaranya tanpa kehangatan. "Tapi Safea penyelamatku. Aku bersumpah akan menjaganya seumur hidup."

"Jadi kamu pakai sumber daya keluarga untuk dia berlatih?"

"Itu hanya kesalahan kecil!" Suara Daniel meninggi. "Kenapa kamu nggak bisa lebih pengertian? Safea baru dua puluh dua tahun!"

Plak!

Suara tamparan keras bergema di ruang konferensi.

Daniel memegang wajahnya, dia menatapku dengan tak percaya.

"Kamu menamparku?"

"Aku bisa melakukan lebih dari sekadar menamparmu," kataku sambil menatap semua anggota keluarga yang hadir. Suaraku jelas dan tegas. "Mulai hari ini, Keluarga Miller secara resmi mengambil alih semua industri yang dikelola Keluarga Ryan. Aliansi dibubarkan."

Keributan pecah di ruang konferensi.

"Emira, kamu gila?" Daniel meraih lenganku. "Apa kamu tahu apa artinya membubarkan aliansi ini?"

Aku menepis tangannya. "Artinya aku nggak perlu menontonmu pakai sumber daya keluargaku untuk menyenangkan wanita lain."

"Artinya aku nggak perlu bersihkan kekacauan seorang pria yang memperlakukan bisnis keluarga seperti permainan."

"Artinya …." Aku menatap matanya, setiap kata yang kuucapkan adalah sengaja. "Aku tak perlu lagi menanggung penghinaanmu."

Wajah Daniel memucat. "Kamu akan menyesal."

"Satu-satunya yang kusesali adalah menikah denganmu."

Aku pun berbalik dan meninggalkan ruang konferensi, langkahku tegas dan mantap.

Di belakangku, terdengar suara Daniel menghancurkan barang-barang disertai bisikan anggota keluarga.

Angin malam menyentuh wajahku dengan sejuk begitu keluar dari ruangan.

Aku pun mengeluarkan ponsel dan menelpon sebuah nomor.

"Aku, Emira Miller."

Aku lalu menatap cahaya di rumah besar yang jauh di sana, tempat yang pernah menjadi rumahku.

"Tolong siapkan surat cerai untukku."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 9

    Tiga bulan kemudian."Semua berdiri!"Suara hakim memecah keheningan di pengadilan federal.Aku duduk di barisan depan galeri, menatap dua terdakwa yang digiring masuk ke ruang sidang.Daniel mengenakan baju oranye, borgol berkilau di bawah cahaya yang menyilaukan. Rambutnya berantakan, matanya kosong. Dia tampak seperti hantu dari Ketua yang dulu.Essobar telah mematahkan salah satu lengannya hari itu. Untuk menyelamatkan nyawanya, Daniel akhirnya menyerahkan sedikit aset rahasia yang tersisa.Dengan apa yang dibayarkan Keluarga Ryan, itu cukup untuk melunasi utang.Dia pun berhasil menyelamatkan dirinya.Sementara Safea ….Roda besi kursi rodanya mengeluarkan suara nyaring yang menusuk telinga.Kakinya dibalut perban tebal, wajahnya pucat pasi.Anak buah Essobar mengampuni nyawanya, tapi harganya dibayar dengan kakinya."Terdakwa Daniel Ryan." Ketua hakim mengetuk palu. "Anda dituduh melakukan pencucian uang, pemindahan aset ilegal, penggelapan .…"Daftar dakwaan itu memakan waktu li

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 8

    Mata Daniel berwarna merah.Dia tertawa, suaranya kasar dan getir. "Emira, kamu puas sekarang? Kamu menang. Kali ini.""Benarkah?" Aku sedikit memiringkan kepalaku. "Rasanya ini baru permulaan."Begitu aku bicara, dia melompat maju. "Tolong, selamatkan aku."Aku mengangkat alis. "Apa maksudmu?""Orang-orang Essobar masih memburuku." Daniel mengerutkan bibirnya rapat-rapat. "Aset Keluarga Ryan sudah disita, tapi utang empat triliun itu masih menghantuiku. Saat melarikan diri, aku harus sembunyi dari badan intelijen dan dari mereka. Emira, aku rasanya hampir gila.""Kita pernah menikah. Kamu nggak bisa membiarkanku mati begitu saja!"Aku menatap tenang pria yang dulunya begitu berkuasa. Ini pertama kalinya aku melihatnya begitu hancur.Melihatku yang masih diam, dia berkata dengan matanya yang masih memerah, "Apa kamu masih ingat saat kita pertama kali bertemu? Kamu mengenakan gaun putih dan terlihat seperti malaikat.""Saat itu aku berpikir bahwa aku harus menikahi wanita ini.""Emira,

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 7

    "Kami yang seharusnya berterima kasih padamu." Suara di ujung telepon terdengar terhibur. "Bukti pencucian uang terhadap Keluarga Ryan sudah kuat.""Aku butuh tiga tahun untuk berurusan dengan sampah-sampah itu." Aku menghela napas. "Apa itu sepadan?""Akan ada hadiah lain untukmu, Nona Emira." Agen itu berhenti sejenak. "Sebagai gantinya, badan intelijen akan menghentikan penyelidikan terhadap asetmu di Sixili.""Terima kasih."Aku menutup telepon.Pikiranku kembali beberapa hari lalu.Pria yang memberiku kartu panggilan itu kini menjadi penyidik kriminal di badan intelijen.Jika ayahku tidak menyelamatkan nyawanya saat dia masih agen junior, semua ini tidak akan semudah ini.Setelah mendengar kesulitanku, dia hanya butuh setengah hari untuk menyelesaikan kontrak.Angin dingin menerpa wajahku. Aku baru menyadari kalau secara tak sadar aku membuka jendela mobil.Dulu, Safea tidak suka bau rokok, jadi aku selalu membuka jendela agar udara masuk. Tapi tidak lagi.Martin menatapku lewat k

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 6

    Aku tersenyum dan mengulurkan tangan pada Martin yang berada di sisiku.Dia mengerti dan mengeluarkan sebuah dokumen dari tas file, menyerahkannya padaku."Surat cerai. Diajukan dua minggu lalu dan disetujui kemarin."Aku membalik ke halaman terakhir. "Lihat? Tanda tanganmu ada di sini."Daniel merampas dokumen itu.Itu tanda tangannya dengan goresan ragu-ragu yang sama."Ini nggak mungkin! Aku nggak pernah menandatangani …." Lalu dia ingat. "Kamu memalsukan tanda tanganku?!""Memalsukan?" Aku tertawa. "Daniel, berapa banyak dokumen yang kamu tandatangani setiap hari? Lima puluh? Seratus?""Apa kamu yakin sudah melihat isi masing-masing dengan teliti?"Wajahnya pucat.Wajah Safea menunjukkan kilatan kegembiraan, tapi dia berteriak padaku, "Emira! Kamu kejam! Kamu sengaja mencampur dokumen cerai dengan dokumen lain untuk menipu dia agar mau tanda tangan!""Menipu?" Aku menatapnya. "Aku hanya melakukan apa yang kalian lakukan. Stempelku, bukankah itu juga ‘secara tidak sengaja’ diambil d

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 5

    "Ini nggak mungkin!"Daniel merampas kontrak dari tangan Casper.Di situ tercetak jelas lambang Keluarga Ryan yang berupa duri hitam."Nggak mungkin!" Dia mengerutkan dahi. "Kontrak ini telah dimanipulasi .…Emira! Ini ulahmu, 'kan?"Mendengar itu, Safea menatapku dengan mata berlinang."Emira, aku nggak tahu gimana kamu bisa melakukan ini, kubilang bayar saja. Kamu nggak akan bisa bayangkan apa yang terjadi jika Essobar mengetahuinya."Aku menatap mereka dengan polos."Daniel, bukannya kamu bilang meminjam uang atas nama keluarga? Kenapa sekarang kaget?"Begitu aku selesai bicara, jam menunjukkan tengah malam.Dengan anggukan dari Casper, para pria di belakangnya menyebar, mulai mengambil apa pun yang terlihat.Wajah Daniel murka melihat itu."Ada apa ini?"Casper hanya tersenyum."Kalau kamu nggak bisa membayarnya, kami akan mencarinya sendiri.""Aku baru saja memperingatkanmu. Kalau nggak bisa bayar utang, jangan salahkan kami kalau keadaannya jadi tak terkendali."Daniel seolah meny

  • Jalan Tanpa Kembali   Bab 4

    Aku tidak melihat Daniel lagi setelah hari itu.Aku menelponnya untuk memberinya peringatan."Proyek itu ilegal. Bersiaplah kalau uangnya hilang."Dia hanya mengabaikannya."Gimana mungkin? Safea lulusan keuangan terbaik. Gimana mungkin dia bisa rugi?"Tapi lima hari kemudian, proyek kripto itu runtuh.Nilai pasarnya merosot tajam. Empat triliun aset lenyap, hanya tersisa empat ratus delapan puluh miliar.Daniel menelpon hanya saat terdesak."Apa kamu sudah punya uangnya?""Rekening keluarga hanya ada satu triliun sekian. Dari mana aku dapat uangnya?"Aku pun membuka laporan terbaru yang Martin berikan padaku."Sudah kubilang proyek itu bermasalah." Suaraku tenang. "Martin mengirim tiga laporan risiko dan kamu abaikan semuanya.""Sekarang sudah hancur, itu urusanmu." Aku pun menutup telepon.Tiga detik kemudian, dia menelpon lagi."Kamu harus siapkan uangnya. Stempelmu ada di situ!"Aku cuma bilang "oh" dan menutup telepon.Lalu dia menelpon tujuh belas kali lagi.Aku mematikan ponselk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status