เข้าสู่ระบบMusim kemarau kali itu terasa lebih panjang dan menyengat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tanah di sekeliling desa tampak retak-retak dalam, sungai yang dulunya mengalir jernih kini tinggal hamparan batu kering, dan udara panas terasa membakar kulit siapa saja yang melintas di luar rumah.Pagi itu Bima berjalan menyusuri pinggir hutan kecil di belakang desa yang dulu rimbun dan teduh. Namun kini pemandangan itu telah berubah menyedihkan: banyak pohon besar yang telah ditebang habis, ranting-ranting kering berserakan di mana-mana, dan tanah gundul terbakar panas matahari tanpa perlindungan daun sedikit pun. Ia berdiri terpaku menatap kehampaan itu, dadanya terasa sesak melihat bekas-bekas penebangan liar yang meninggalkan luka menganga di wajah bumi.Ia pulang dengan langkah berat, lalu duduk di sampingku di teras dengan wajah penuh kegelisahan. “Kakek… hutan di belakang desa sudah gundul. Pohon-pohon besar yang dulu meneduhkan jalan kita semuanya sudah hilang. Air sungai pun tak lag
Malam itu langit pekat tanpa remang bulan, angin bertiup kencang membawa awan hitam tebal. Di dalam rumah, kami berkumpul melingkar di dekat lampu minyak yang apinya bergoyang-goyang diterpa angin yang menyelinap masuk dari celah jendela. Cahayanya lemah dan remang-remang, namun cukup untuk menampakkan wajah kami yang saling berpandangan penuh kehangatan.Aku menunjuk pelan nyala api kecil itu di atas sumbu lampu. “Lihatlah nyala api ini baik-baik ya Nak-nak semua. Api ini menyala memberi cahaya kepada siapa saja yang berada di dekatnya. Ia tak pernah bertanya: apakah orang itu kaya atau miskin? Apakah ia baik atau jahat? Apakah ia terang benderang atau gelap gulita? Ia tak pernah menetapkan syarat apa pun sebelum memberikan cahayanya. Ia hanya menyala, terus menyala, dan terus memberi tanpa pernah berhitung balasan apa pun. Begitulah rupa kasih sayang yang sejati: kasih sayang yang tak bersyarat.”Rara menarik napas pelan, matanya menatap lembut ke arah Bima yang kini telah tumbuh me
Waktu berlalu begitu cepat, bagai air mengalir tak terasa usainya. Bima kini tumbuh menjadi pemuda yang cerdas dan penuh semangat. Namun seiring bertambahnya usia, sifatnya yang berapi-api mulai tampak menyulut kemarahan sesekali. Ia ingin segala sesuatu berjalan cepat sesuai keinginannya, dan bila ada hal yang menghambat atau tak berjalan sesuai rencananya, wajahnya akan segera berubah merah padam, suaranya meninggi, dan langkah kakinya menjadi kasar tak sabaran.Suatu sore ia pulang dengan langkah gontai penuh kekesalan. Raut wajahnya tak bersahabat, tangannya mengepal erat. Ternyata hasil ujian yang ia perjuangkan mati-matian nilainya belum memuaskan, tertinggal jauh dari harapannya. Ia membanting tasnya ke kursi dengan kasar, napasnya terengah-engah menahan amarah.“Sia-sia saja semua lelahku!” serunya lantang penuh kekesalan. “Belajar dari pagi sampai malam, mengorbankan waktu bermain, tapi hasilnya tetap begitu! Tidak adil sekali! Mengapa orang lain bisa dengan mudah mendapat ni
Musim kemarau tahun itu terasa lebih panjang dan panas dari biasanya. Tanah di kebun mulai retak-retak, sungai kecil di ujung desa menyusut dangkal, dan sumur-sumur warga mulai berkurang airnya. Setiap tetes air menjadi sangat berharga, setiap ikan pangan harus dihemat sebaik-baiknya.Suatu sore yang berdebu dan panas, kami sedang membersihkan halaman rumah. Dari kejauhan terlihat seorang lelaki asing berpakaian lusuh, wajahnya penuh debu, berjalan tertatih-tatih menuju rumah kami. Ia tampak sangat kelelahan, bibirnya pecah-pecah karena haus, dan matanya sayu menahan lapar. Saat sampai di depan pintu, ia berdiri ragu-ragu, menunduk dalam dengan suara lirih.“Mohon maaf mengganggu… bolehkah saya meminta segelas air minum? Saya sudah berjalan jauh dari kota ke desa, dan belum makan sejak pagi tadi. Saya tidak membawa uang sama sekali. Nanti kalau sudah sampai dan mendapat pekerjaan, saya pasti akan kembali dan membayarnya dua kali lipat.”Arka yang mendengar itu diam sejenak, lalu menat
Pagi itu suasana rumah terasa riang. Kami baru saja membeli meja makan kayu jati yang baru, permukaannya halus mengkilap, warnanya cokelat tua yang indah dan kokoh sekali. Bima sangat menyukainya, ia berjanji akan menjaganya agar tetap bersih dan utuh.Namun kejadian tak terduga terjadi saat siang hari. Saat sedang bermain bola karet di ruang tengah bersama teman-temannya, Bima terlalu bersemangat menendang bola itu. Bola melesat ke arah meja baru itu, dan terdengar bunyi krek yang nyaring. Tepi meja yang baru saja kami kagumi itu kini tergores dalam dan pecah sedikit di sudut depannya.Teman-temannya terdiam kaget, lalu satu per satu pamit pulang. Bima berdiri terpaku menatap goresan itu, jantungnya berdegup kencang ketakutan. Ia tahu betapa kami semua menantikan meja itu. Rasa takut dimarahi menguasai hatinya. Dengan tangan gemetar, ia mengambil tisu basah dan mencoba menyembunyikan goresan itu dengan menggeser vas bunga besar tepat di atasnya, lalu duduk diam di kursi jauh dari mej
Pagi itu udara segar, Bima berjalan riang menuju sekolah bersama teman-temannya. Di sepanjang jalan, mereka berpapasan dengan seorang lelaki tua berpakaian lusuh dan kotor, rambutnya kusut masai, wajahnya penuh kerutan dalam, sedang berjalan tertatih-tatih sambil memikul karung berisi barang rongsokan. Bau tidak sedap tercium samar-samar saat ia lewat.“Fuih… kotor sekali orang itu!” ucap salah satu temannya sambil menutup hidung dan melangkah menjauh. “Pasti orang malas dan tidak berguna, makanya hidupnya begitu!”Bima tanpa sadar ikut mengangguk setuju, lalu menambahkan pelan: “Iya ya… bajunya sobek-sobek, kotor sekali. Sepertinya orang yang tidak punya pekerjaan dan tidak rajin.”Mereka semua tertawa kecil lalu berjalan lebih cepat meninggalkan lelaki tua itu di belakang, seolah menjauhi sesuatu yang kotor dan menjijikkan. Bima sempat menoleh sekilas, melihat lelaki itu menunduk dalam, matanya tampak sedih namun tetap berjalan pelan memikul beban berat di pundaknya.Siang itu Bima
Siang itu matahari bersinar sangat terik, membakar aspal dan membuat udara di luar terasa panas menyengat. Namun, rasa panas itu tak sebanding dengan suhu dan ketegangan yang ada di dalam kamar Rara. Pintu sudah dikunci ganda, gorden ditutup rapat, dan rumah kos benar-benar sepi karena semua penghun
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyelinap masuk lewat celah gorden kamar Rara. Aku terbangun karena merasakan ada gerakan halus di sampingku. Membuka mata perlahan, hal pertama yang kulihat adalah wajah cantik Rara yang sedang menatapku lekat-lekat dengan senyum paling manis dan menggemas
Malam mulai merambat pelan, menggantikan cahaya matahari dengan gelapnya langit malam. Aku baru saja selesai mandi dan hendak beristirahat, ketika suara ketukan halus terdengar di pintu kamarku. Tok... tok... tok... "Mas Bimo... Mas Bimo tidur belum?" Suara itu. Suara yang sejak sore tak pernah l
Suasana sore itu terasa sangat pengap. Matahari masih saja bersinar terik meski sudah mulai condong ke barat, membuat keringat terus menetes dari pelipis hingga membasahi punggungku. Aku baru saja melangkah masuk ke halaman kos-kosan tempatku tinggal, membawa rasa lelah yang menumpuk seharian penuh







