ログインPagi itu hujan turun deras, membasahi bumi yang sudah lama menanti air. Tiba-tiba terdengar ketukan pelan di pintu depan. Saat aku membukanya, berdiri seorang lelaki asing berpakaian basah kuyup, rambutnya meneteskan air hujan, wajahnya tampak lelah dan malu-malu.“Maaf mengganggu di pagi hari yang hujan ini,” ucapnya dengan suara rendah. “Saya tersesat dan kebetulan lewat di sini. Bolehkah saya berteduh sebentar sampai hujan reda? Saya tidak butuh apa-apa, hanya tempat berlindung sebentar saja.”Sebelum aku menjawab, Bima yang kebetulan ada di dekatku segera menyambutnya dengan senyum hangat. “Silakan masuk Bapak! Jangan berdiri di pintu, nanti kehujanan. Silakan duduk di sini, dekat api unggun kecil supaya hangat badan Bapak.”Ia segera mengambil handuk bersih, menyodorkannya dengan kedua tangan. Lalu ia menyajikan segelas air hangat dan sepiring pisang rebus yang baru saja matang. Tidak ada pertanyaan mencurigakan, tidak ada ragu di wajahnya, tidak ada penilaian dari penampilan tam
Senja itu berwarna jingga keemasan, langit bersih tanpa awan, angin berhembus lembut menyentuh kulit. Aku dan Rara duduk di kursi rotan tua di teras, menikmati ketenangan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Arka dan Bima pulang dari ladang dengan langkah ringan, wajah mereka berseri namun terlihat lelah. Mereka duduk di hadapan kami sambil menghela napas panjang.“Kakek, Nenek,” ucap Bima pelan, “kami sudah memiliki rumah yang layak, makanan yang cukup, keluarga yang sehat, dan rezeki yang selalu tercukupi. Namun entah mengapa, kadang hati kami masih merasa gelisah. Pikirannya sering berpacu: besok bagaimana? Bagaimana kalau panen gagal? Bagaimana kalau sakit datang? Rasanya damai itu selalu terasa jauh, seakan tak pernah bisa digenggam.”Aku tersenyum lembut, lalu menunjuk ke arah sebuah mangkuk kaca bening yang berisi air keruh dan berdebu di atas meja. “Lihatlah air ini Nak. Saat dikocok, ia keruh dan tak bisa memantulkan bayangan apa pun. Tapi kalau kau diamkan sebentar, de
Sore itu matahari mulai condong ke barat, menyisakan cahaya kemerahan yang perlahan meredup. Cahayanya seakan berpacu dengan waktu, menghilang sedikit demi sedikit tanpa bisa ditahan sedikit pun. Aku duduk di kursi teras yang sudah lama menjadi tempatku berpikir, menatap bayanganku yang makin memanjang dan perlahan tertutup kegelapan. Arka dan Bima berdiri di sampingku, ikut menatap matahari yang akhirnya sepenuhnya tenggelam di balik perbukitan.“Lihatlah matahari itu Nak,” ucapku pelan sambil menunjuk ke arah ufuk barat yang kini mulai kelabu. “Matahari sudah pergi untuk hari ini. Dan percayalah… ia tidak akan pernah kembali lagi ke hari yang sama, ke jam yang sama, ke menit yang sama persis seperti tadi. Yang akan datang esok hanyalah matahari yang baru, tapi waktu yang berlalu tadi telah hilang lenyap selamanya, tak bisa ditebus, tak bisa diputar ulang, tak bisa dibeli dengan harta seberapa pun melimpahnya.”Aku mengambil sebilah pisau belati yang terbuat dari baja terbaik, lalu m
Waktu bagai sungai yang terus mengalir tanpa pernah kembali. Tubuhku dan Rara kini sudah mulai menunduk dimakan usia. Langkah kami perlahan menjadi pelan, pendengaran kami mulai berkurang tajam, dan rambut kepala serta janggut kami sudah seputih kapas tertiup angin. Meski demikian, hati kami merasa damai dan penuh syukur, karena melihat Arka dan Bima tumbuh menjadi anak-anak yang berbakti dan penuh kasih sayang kepada kami.Suatu sore yang hangat dan cerah, aku duduk di kursi goyang kayu di teras, ditemani Rara di sampingku. Arka pulang dari ladang membawa hasil panen yang melimpah, wajahnya tampak cerah berseri-seri. Di belakangnya Bima berjalan memegang sebungkus obat-obatan dan makanan kesukaan kami, langkahnya ringan dan penuh hormat. Mereka berdua mendekat perlahan, lalu duduk di lantai rendah tepat di hadapan kami, tak pernah sekalipun berani duduk lebih tinggi dari kami.“Bagaimana hasil panen hari ini Nak?” tanyaku pelan dengan suara yang sudah sedikit bergetar.Arka tersenyum
Musim kemarau kali itu terasa lebih panjang dan menyengat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tanah di sekeliling desa tampak retak-retak dalam, sungai yang dulunya mengalir jernih kini tinggal hamparan batu kering, dan udara panas terasa membakar kulit siapa saja yang melintas di luar rumah.Pagi itu Bima berjalan menyusuri pinggir hutan kecil di belakang desa yang dulu rimbun dan teduh. Namun kini pemandangan itu telah berubah menyedihkan: banyak pohon besar yang telah ditebang habis, ranting-ranting kering berserakan di mana-mana, dan tanah gundul terbakar panas matahari tanpa perlindungan daun sedikit pun. Ia berdiri terpaku menatap kehampaan itu, dadanya terasa sesak melihat bekas-bekas penebangan liar yang meninggalkan luka menganga di wajah bumi.Ia pulang dengan langkah berat, lalu duduk di sampingku di teras dengan wajah penuh kegelisahan. “Kakek… hutan di belakang desa sudah gundul. Pohon-pohon besar yang dulu meneduhkan jalan kita semuanya sudah hilang. Air sungai pun tak lag
Malam itu langit pekat tanpa remang bulan, angin bertiup kencang membawa awan hitam tebal. Di dalam rumah, kami berkumpul melingkar di dekat lampu minyak yang apinya bergoyang-goyang diterpa angin yang menyelinap masuk dari celah jendela. Cahayanya lemah dan remang-remang, namun cukup untuk menampakkan wajah kami yang saling berpandangan penuh kehangatan.Aku menunjuk pelan nyala api kecil itu di atas sumbu lampu. “Lihatlah nyala api ini baik-baik ya Nak-nak semua. Api ini menyala memberi cahaya kepada siapa saja yang berada di dekatnya. Ia tak pernah bertanya: apakah orang itu kaya atau miskin? Apakah ia baik atau jahat? Apakah ia terang benderang atau gelap gulita? Ia tak pernah menetapkan syarat apa pun sebelum memberikan cahayanya. Ia hanya menyala, terus menyala, dan terus memberi tanpa pernah berhitung balasan apa pun. Begitulah rupa kasih sayang yang sejati: kasih sayang yang tak bersyarat.”Rara menarik napas pelan, matanya menatap lembut ke arah Bima yang kini telah tumbuh me
Siang itu matahari bersinar sangat terik, membakar aspal dan membuat udara di luar terasa panas menyengat. Namun, rasa panas itu tak sebanding dengan suhu dan ketegangan yang ada di dalam kamar Rara. Pintu sudah dikunci ganda, gorden ditutup rapat, dan rumah kos benar-benar sepi karena semua penghun
Keesokan paginya, matahari bersinar cerah menyelinap masuk lewat celah gorden kamar Rara. Aku terbangun karena merasakan ada gerakan halus di sampingku. Membuka mata perlahan, hal pertama yang kulihat adalah wajah cantik Rara yang sedang menatapku lekat-lekat dengan senyum paling manis dan menggemas
Malam mulai merambat pelan, menggantikan cahaya matahari dengan gelapnya langit malam. Aku baru saja selesai mandi dan hendak beristirahat, ketika suara ketukan halus terdengar di pintu kamarku. Tok... tok... tok... "Mas Bimo... Mas Bimo tidur belum?" Suara itu. Suara yang sejak sore tak pernah l
Suasana sore itu terasa sangat pengap. Matahari masih saja bersinar terik meski sudah mulai condong ke barat, membuat keringat terus menetes dari pelipis hingga membasahi punggungku. Aku baru saja melangkah masuk ke halaman kos-kosan tempatku tinggal, membawa rasa lelah yang menumpuk seharian penuh







