Compartir

Bab 2

Autor: Itsmoore
last update Última actualización: 2026-01-14 11:39:43

Aku membekap mulutku sendiri saking kagetnya saat mengenali wajah pria yang sedang berada di posisi atas itu adalah dosen pembimbingku yang super galak.

Pak Argan yang aku kenal di kampus selalu rapi, dingin, dan menjaga jarak, tapi pria yang aku lihat sekarang sedang bermain dengan kekasihnya.

Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana otot-otot punggung Pak Argan menegang saat dia bergerak dengan tempo yang gila, sementara wanita itu terus mendesah dan memanggil namanya tanpa henti.

"Wah, ini beneran? Sumpah, ini jauh lebih panas daripada film biru yang pernah dikirim sama Fika di grup WA sirkel dia!"

Bukannya takut atau merasa bersalah karena sudah mengintip privasi orang lain, otak penulisku justru mendadak bekerja sangat cepat.

Ini adalah referensi nyata yang selama ini aku cari-cari untuk novelku, sebuah adegan live action yang benar-benar natural dan tanpa rekayasa sama sekali!

Dengan tangan gemetar karena campuran rasa gugup dan semangat yang menggebu, aku segera mengambil notebook dan meletakkannya di pangkuan.

Mataku tetap terpaku pada lubang intip itu, merekam setiap detail gerakan, ekspresi, dan suara yang mereka timbulkan, sementara jari-jariku mulai mencatat detail satu per satu.

Foreplay mereka.

Desahan mereka.

Posisi mereka.

Bahkan detil kecil seperti cara Pak Argan memilin milik kekasihnya dengan jempol dan telunjuk, juga aku tulis.

"Oke, Nara, ini satu-satunya jalanmu biar bisa buat novel yang laris lagi. Kamu harus bisa jadiin ini, jadi bab satu paling legendaris yang pernah kamu tulis seumur hidup!"

Awalnya aku cuma ingin mengamati saja, tapi lama-kelamaan, aku merasa sedikit panas. Perlahan, pulpen yang aku pegang jatuh ke lantai, lalu telunjukku bergerak sendiri ke mulut, dan aku menggigitnya.

Aku mulai merasakan geli di sekujur tubuhku, geli-geli yang entah kenapa malah membuatku terus ingin menikmati apa yang aku lihat di lubang ini.

Sumpah demi apa pun, suara Pak Argan yang serak, bossy, dan penuh gairah, membuatku menggeliat, sampai tiba-tiba…

Csss!

Aku merasa bagian bawahku agak lembab dan aneh. Lalu, saat aku coba menyentuhnya, aku sadar akan sesuatu. Ternyata aku sudah lebih dulu basah melihat betapa tampan dan maskulinnya dosenku sendiri.

Argghh, aku kudu cepat-cepat menulisnya, apalagi novel biasanya baru naik kalau umurnya dua minggu.

Jari-jariku langsung menari di atas keyboard laptop dengan kecepatan yang mungkin bisa menyaingi kecepatan cahaya, menyalin setiap detail adegan panas yang baru saja aku saksikan secara live dari balik lubang dinding.

Biasanya, aku butuh waktu berhari-hari untuk menyelesaikan satu bab karena harus memeras otak mencari inspirasi khayalan yang masuk akal.

Tapi kali ini? Oh, sungguh lancar jaya seperti jalan tol di pagi buta.

Tidak perlu mikir, tidak perlu riset di Mbah Gugel dengan kata kunci memalukan, cukup putar ulang ingatan di kepala tentang bagaimana tangan kekar Pak Argan meremas seprai atau bagaimana suara geramannya yang serak-serak basah itu menggema di telingaku.

"Oke, save, edit dikit typo-nya, terus upload! Oaaahh, akhirnya bisa tidur nyenyak.!"

***

Aku terbangun, tepat pukul jam 11 siang.

Aneh aja, ponsel yang biasanya diem aja tanpa ada chat masuk, sekarang terus bergetar. Bahkan sampai aku selesai cuci muka dan sikat gigi, ponselku masih aja goyang di kasur.

Saat kulihat, aku langsung terjengkang.

Trending #1 di Kategori Baru: Romansa Dewasa!

Komentar baru: ["Gila Thor! Ini parah banget sih feel-nya dapet banget!"]

Komentar baru: ["Bab ini beda banget sama sebelumnya, Thor kesambet apaan? Hot banget woy, sumpah semalam aku sampai basah banget, ga bisa tidur, gemeter baca bab kamu ini!"]

"Demi Tuhan? Ini beneran pembacaku langsung meledak?" pekikku saat melihat notifikasi terakhir.

[Notifikasi Saldo: Pembayaran royalti bab premium telah masuk ke rekening Anda.]

Angka yang tertera di sana cukup untuk membuatku sujud syukur di atas lantai kos yang dingin. Nominalnya lumayan besar, cukup untuk melunasi tunggakan UKT semester ini dan sisanya bisa buat makan enak seminggu ke depan.

Dengan semangat 45, aku segera mandi dan bersiap ke kampus.

Hari ini ada mata kuliah Ginekologi lagi yang diajar langsung oleh Pak Argan. Mengingat dia adalah dosen baru yang akan melakukan riset, pihak kampus memberinya kebebasan dalam memilih jam untuk menyampaikan materi tentang riset pribadinya.

Jujur saja, ada perasaan campur aduk antara takut, malu, dan penasaran.

Bagaimana rasanya bertemu orang yang semalam kamu lihat sedang telanjang bulat dan berkeringat, tapi sekarang berdiri tegak dengan kemeja rapi di depan kelas?

Sepanjang jalan aku terus berkeringat dingin, membayangkan betapa perkasanya Pak Argan di ranjang kemarin.

Sebisa mungkin aku menghindari kontak mata dengan Pak Argan, takut kalau saja dia punya indra keenam dan bisa membaca pikiran kotor mahasiswanya.

"Selamat siang. Hari ini kita akan membahas tentang respons fisiologis wanita terhadap rangsangan yang berlebihan dan potensi trauma pada dinding akibat aktivitas ranjang yang kasar," buka Pak Argan dengan nada datar tanpa basa-basi.

Topik macam apa ini? Kenapa harus bahas yang begituan?

Pak Argan menyalakan proyektor, menampilkan diagram anatomi organ wanita. Dia berjalan santai di depan kelas sambil memegang pointer, menjelaskan materi dengan bahasa medis yang cukup rumit.

"Saya pernah menangani kasus di mana seorang pasien wanita datang dengan keluhan pendarahan ringan setelah berhubungan. Ternyata pasangannya memiliki fantasi yang sangat agresif dan tidak terkontrol. Ini menarik, karena secara psikologis, rasa sakit dan nikmat itu tipis bedanya bagi beberapa individu."

Deskripsi kasus yang dia bicarakan itu... kok mirip banget sama adegan di bab satu novelku?

Aku meremas pulpen di tanganku.

Semalam aku menulis adegan di mana tokoh wanitanya mengeluh sakit, tapi terus mibusa cowoknya melanjutkan itu.

Apa jangan-jangan, dia baca novelku?

Ah, mana mungkin dosen kaku kayak dia baca novel stensilan di aplikasi novel daring, paling ini cuma kebetulan saja.

Saat semua mahasiswa mendengar, aku hanya melamun sepanjang mata kuliah. Bahkan, waktu Pak Argan menutup kelasnya, aku tidak sadar teman-temanku sudah pada bubar dari kelas. Sampai ketika…

"Nara Anindya, ke ruangan saya sekarang!"

Kakiku seketika lemas seperti jeli dan akupun hanya mengangguk.

Sepanjang perjalanan, aku terus bergumam pelan. "Mampus aku, pasti ketahuan, nih. Ya Tuhan, lindungi hamba-Mu yang khilaf ini!"

Ruangan Pak Argan masih sama dinginnya seperti kemarin, tapi kali ini rasanya lebih mencekam karena tidak ada mahasiswa lain. Aku duduk di kursi hadapannya dengan ujung pantat saja, siap lari kapan pun diperlukan.

"Maaf, Pak Argan. Ada apa ya Bapak panggil saya? Soal ganti judul skripsi saya kemarin, saya sedang kerjakan kok, Pak. Beneran deh, saya udah cari jurnal tentang hiperseksualitas itu."

Pak Argan akhirnya menatapku, memajukan tubuhnya sedikit, sehingga jarakku dan jaraknya hanya lima centi saja. "Kerangka bab satu dan dua, saya minta besok pagi sudah ada di meja saya, lengkap dengan data kasus hiperseksualitas yang saya minta kemarin. Kamu paham?"

Aku melongo. "Besok pagi, Pak? Tapi kan ini udah sore..."

"Kamu keberatan?" potongnya cepat.

"Saya lihat kamu punya banyak energi. Mata kamu bengkak, pasti begadang kan? Kalau kamu bisa begadang buat hal yang nggak berguna, harusnya kamu bisa begadang buat skripsi kamu!"

"S-saya... iya, Pak. Saya begadang ngerjain tugas lain kok."

"Bagus. Kalau begitu buktikan besok. Satu lagi, Nara..." Dia berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja dan berhenti tepat di samping kursiku.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 6

    "Ma-maksud Bapak, seputar masalah kelainan itu, Bapak minta saya buat... buat..."Lidahku kelu setengah mati untuk menyelesaikan kalimat itu karena otakku sudah terlanjur membayangkan adegan liar yang biasa aku tulis di novel."Ma-maksud Bapak... bantuan seperti apa? Bapak jangan aneh-aneh ya, atau saya teriak nih kalau Bapak mau macem-macem sama saya!""Jangan berpikir terlalu jauh dulu, Nara." Argan menyilangkan kakinya dengan santai, seolah dia sedang berada di ruang kerjanya yang mewah, bukan di kamar kos sempit yang bau obat nyamuk bakar ini."Dengar baik-baik penawaran saya karena saya tidak suka mengulang kalimat yang sama dua kali. Saya membutuhkan seseorang untuk membantu meredakan gejala fisik yang timbul akibat kondisi hiperseksualitas saya. Seperti yang kamu tulis di analisis sok tahu kamu itu, obat medis tidak mempan, dan pelampiasan dengan wanita sembarangan justru membuat saya semakin kosong."Aku memberanikan diri untuk duduk bersila di atas kasur sambil memeluk bantal

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 5

    Pak Argan kembali meliihat bagian yang mendeskripsikan rasa sakit di kepala, tertulis juga kekosongan yang tidak bisa diisi meski sudah berhubungan badan berkali-kali, lalu ada selipan kata hiperseksualitas yang membuatnya melepas cengkeraman di leherku."Kamu nggak tahu apa yang ada di pikiranku, Nara, tapi jujur, saya ini heran. Kamu hanya melihat saya berhubungan badan, tapi kenapa tulisan kamu ini, dari bab 1 sampai bab 2, lalu di kerangka kamu, kamu bisa menggambarkan dengan tepat apa yang saya rasakan semalam?"Aku menelan ludah susah payah. Insting penulisku memang kadang suka kelewat tajam kalau soal mendramatisir keadaan, tapi aku tidak menyangka kalau tebakanku soal perasaan Pak Argan ternyata akurat seratus persen."S-saya... saya cuma menebak, da-dari muka Bapak yang... yang kayak orang kesakitan, bukan kayak orang yang lagi keenakan."Jawaban polosku itu membuat pertahanan diri Pak Argan seolah runtuh sedetik. Bahunya turun sedikit, dia menghela napas panjang dan kasar, l

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 4

    PRAANG!Di seberang sana, Pak Argan yang tadinya sedang menunduk kesakitan, tiba-tiba langsung menegakkan kepalanya setelah mendengar bunyi di ujung kamarnya. Dia menoleh pelan, sangat pelan, ke arah dinding pembatas, tepat ke arah di mana aku sedang mengintip.Jantungku rasanya berhenti berdetak."Jangan lihat ke sini, jangan, kumohon jangan lihat ke sini... "Tapi doa orang maksiat sepertinya memang susah dikabulkan.Pak Argan bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mendekati dinding itu. Matanya yang tajam menyipit, mencari sumber suara yang tadi mengganggu pendengarannya.Aku ingin lari, ingin menarik kepalaku menjauh, tapi tubuhku kaku seolah dipaku di tempat karena rasa takut membuatku lumpuh total.Pak Argan berhenti tepat di depan lubang kecil itu. Jarak kami sekarang mungkin hanya terpisah beberapa sentimeter dinding beton. Dia mendekatkan wajahnya, meneliti permukaan dinding kamarnya yang tertutup dipenuhi foto, sampai akhirnya matanya menangkap sebuah titik kecil yang tida

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 3

    Pak Argan membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Jangan bikin saya kecewa lagi. Saya paling benci sama orang yang kerjanya setengah-setengah. Kalau mau main-main sama saya, jangan setengah-setangah. Paham?"Ah, kenapa, sih, kalimat Pak Argan ambigu banget!Otak polosku langsung menerjemahkannya ke mana-mana. Apa maksudnya main? Main skripsi? Atau main yang lain?"P-paham, Pak, malam ini saya siapkan kerangkanya," jawabku panik sambil berdiri tegak, hampir saja menabrak dagunya saking dekatnya posisi kami.Begitu sampai di lorong yang sepi, aku bersandar di dinding sambil memegangi dadaku yang bergemuruh hebat. Bukan cuma karena dia galak dan sadis soal nilai, tapi karena aura dominannya yang terlalu kuat. Tadi, saat dia berbisik di dekat telingaku, bukannya takut, ada bagian kecil dari diriku yang… justru sedikit basah?Bayangan bibir Pak Argan saat berbisik tadi, sorot matanya, kemejanya yang ketat sehingga otot bisepnya terlihat menonjol. Aduh, kenapa malah piktor g

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 2

    Aku membekap mulutku sendiri saking kagetnya saat mengenali wajah pria yang sedang berada di posisi atas itu adalah dosen pembimbingku yang super galak.Pak Argan yang aku kenal di kampus selalu rapi, dingin, dan menjaga jarak, tapi pria yang aku lihat sekarang sedang bermain dengan kekasihnya.Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana otot-otot punggung Pak Argan menegang saat dia bergerak dengan tempo yang gila, sementara wanita itu terus mendesah dan memanggil namanya tanpa henti."Wah, ini beneran? Sumpah, ini jauh lebih panas daripada film biru yang pernah dikirim sama Fika di grup WA sirkel dia!"Bukannya takut atau merasa bersalah karena sudah mengintip privasi orang lain, otak penulisku justru mendadak bekerja sangat cepat.Ini adalah referensi nyata yang selama ini aku cari-cari untuk novelku, sebuah adegan live action yang benar-benar natural dan tanpa rekayasa sama sekali!Dengan tangan gemetar karena campuran rasa gugup dan semangat yang menggebu, aku segera mengambil notebo

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 1

    "Aduh!"Baru saja aku melangkah terburu-buru di lobi fakultas sambil memeluk erat tumpukan draf skripsi, tubuhku tiba-tiba terdorong mundur dengan keras sehingga draft skripsi yang aku bawa jatuh di lantai.Rasanya ingin sekali aku marah-marah. Maksudku, siapa sih orang yang jalan di tempat umum tapi matanya terpaku ke layar ponsel? Apa dia pikir lobi kampus ini milik nenek moyangnya?"Kalau jalan tolong lihat depan dong, jangan..."Protesku terhenti saat aku melihat sosok yang tinggi, tegap, dan wajahnya... astaga, tampan sekali!Rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan tatapan matanya tajam di balik kacamata berbingkai tipis itu. Dia mengenakan kemeja biru navy yang digulung sampai siku, terlihat rapi dan berkelas, sangat kontras dengan penampilanku yang kucel karena kurang tidur.Pria itu tiba-tiba berjongkok dan memunguti kertas-kertasku yang berserakan. Dia berdiri, menyodorkan tumpukan kertas itu ke tanganku dengan wajah datar."Siapa namamu?""Na-Nara, Pak, Nara Anindya.""Oke,

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status