LOGINAku membekap mulutku sendiri saking kagetnya saat mengenali wajah pria yang sedang berada di posisi atas itu adalah dosen pembimbingku yang super galak.
Pak Argan yang aku kenal di kampus selalu rapi, dingin, dan menjaga jarak, tapi pria yang aku lihat sekarang sedang bermain dengan kekasihnya.
Aku bisa melihat dengan jelas bagaimana otot-otot punggung Pak Argan menegang saat dia bergerak dengan tempo yang gila, sementara wanita itu terus mendesah dan memanggil namanya tanpa henti.
"Wah, ini beneran? Sumpah, ini jauh lebih panas daripada film biru yang pernah dikirim sama Fika di grup WA sirkel dia!"
Bukannya takut atau merasa bersalah karena sudah mengintip privasi orang lain, otak penulisku justru mendadak bekerja sangat cepat.
Ini adalah referensi nyata yang selama ini aku cari-cari untuk novelku, sebuah adegan live action yang benar-benar natural dan tanpa rekayasa sama sekali!
Dengan tangan gemetar karena campuran rasa gugup dan semangat yang menggebu, aku segera mengambil notebook dan meletakkannya di pangkuan.
Mataku tetap terpaku pada lubang intip itu, merekam setiap detail gerakan, ekspresi, dan suara yang mereka timbulkan, sementara jari-jariku mulai mencatat detail satu per satu.
Foreplay mereka.
Desahan mereka.
Posisi mereka.
Bahkan detil kecil seperti cara Pak Argan memilin milik kekasihnya dengan jempol dan telunjuk, juga aku tulis.
"Oke, Nara, ini satu-satunya jalanmu biar bisa buat novel yang laris lagi. Kamu harus bisa jadiin ini, jadi bab satu paling legendaris yang pernah kamu tulis seumur hidup!"
Awalnya aku cuma ingin mengamati saja, tapi lama-kelamaan, aku merasa sedikit panas. Perlahan, pulpen yang aku pegang jatuh ke lantai, lalu telunjukku bergerak sendiri ke mulut, dan aku menggigitnya.
Aku mulai merasakan geli di sekujur tubuhku, geli-geli yang entah kenapa malah membuatku terus ingin menikmati apa yang aku lihat di lubang ini.
Sumpah demi apa pun, suara Pak Argan yang serak, bossy, dan penuh gairah, membuatku menggeliat, sampai tiba-tiba…
Csss!
Aku merasa bagian bawahku agak lembab dan aneh. Lalu, saat aku coba menyentuhnya, aku sadar akan sesuatu. Ternyata aku sudah lebih dulu basah melihat betapa tampan dan maskulinnya dosenku sendiri.
Argghh, aku kudu cepat-cepat menulisnya, apalagi novel biasanya baru naik kalau umurnya dua minggu.
Jari-jariku langsung menari di atas keyboard laptop dengan kecepatan yang mungkin bisa menyaingi kecepatan cahaya, menyalin setiap detail adegan panas yang baru saja aku saksikan secara live dari balik lubang dinding.
Biasanya, aku butuh waktu berhari-hari untuk menyelesaikan satu bab karena harus memeras otak mencari inspirasi khayalan yang masuk akal.
Tapi kali ini? Oh, sungguh lancar jaya seperti jalan tol di pagi buta.
Tidak perlu mikir, tidak perlu riset di Mbah Gugel dengan kata kunci memalukan, cukup putar ulang ingatan di kepala tentang bagaimana tangan kekar Pak Argan meremas seprai atau bagaimana suara geramannya yang serak-serak basah itu menggema di telingaku.
"Oke, save, edit dikit typo-nya, terus upload! Oaaahh, akhirnya bisa tidur nyenyak.!"
***
Aku terbangun, tepat pukul jam 11 siang.
Aneh aja, ponsel yang biasanya diem aja tanpa ada chat masuk, sekarang terus bergetar. Bahkan sampai aku selesai cuci muka dan sikat gigi, ponselku masih aja goyang di kasur.
Saat kulihat, aku langsung terjengkang.
Trending #1 di Kategori Baru: Romansa Dewasa!
Komentar baru: ["Gila Thor! Ini parah banget sih feel-nya dapet banget!"]
Komentar baru: ["Bab ini beda banget sama sebelumnya, Thor kesambet apaan? Hot banget woy, sumpah semalam aku sampai basah banget, ga bisa tidur, gemeter baca bab kamu ini!"]
"Demi Tuhan? Ini beneran pembacaku langsung meledak?" pekikku saat melihat notifikasi terakhir.
[Notifikasi Saldo: Pembayaran royalti bab premium telah masuk ke rekening Anda.]
Angka yang tertera di sana cukup untuk membuatku sujud syukur di atas lantai kos yang dingin. Nominalnya lumayan besar, cukup untuk melunasi tunggakan UKT semester ini dan sisanya bisa buat makan enak seminggu ke depan.
Dengan semangat 45, aku segera mandi dan bersiap ke kampus.
Hari ini ada mata kuliah Ginekologi lagi yang diajar langsung oleh Pak Argan. Mengingat dia adalah dosen baru yang akan melakukan riset, pihak kampus memberinya kebebasan dalam memilih jam untuk menyampaikan materi tentang riset pribadinya.
Jujur saja, ada perasaan campur aduk antara takut, malu, dan penasaran.
Bagaimana rasanya bertemu orang yang semalam kamu lihat sedang telanjang bulat dan berkeringat, tapi sekarang berdiri tegak dengan kemeja rapi di depan kelas?
Sepanjang jalan aku terus berkeringat dingin, membayangkan betapa perkasanya Pak Argan di ranjang kemarin.
Sebisa mungkin aku menghindari kontak mata dengan Pak Argan, takut kalau saja dia punya indra keenam dan bisa membaca pikiran kotor mahasiswanya.
"Selamat siang. Hari ini kita akan membahas tentang respons fisiologis wanita terhadap rangsangan yang berlebihan dan potensi trauma pada dinding akibat aktivitas ranjang yang kasar," buka Pak Argan dengan nada datar tanpa basa-basi.
Topik macam apa ini? Kenapa harus bahas yang begituan?
Pak Argan menyalakan proyektor, menampilkan diagram anatomi organ wanita. Dia berjalan santai di depan kelas sambil memegang pointer, menjelaskan materi dengan bahasa medis yang cukup rumit.
"Saya pernah menangani kasus di mana seorang pasien wanita datang dengan keluhan pendarahan ringan setelah berhubungan. Ternyata pasangannya memiliki fantasi yang sangat agresif dan tidak terkontrol. Ini menarik, karena secara psikologis, rasa sakit dan nikmat itu tipis bedanya bagi beberapa individu."
Deskripsi kasus yang dia bicarakan itu... kok mirip banget sama adegan di bab satu novelku?
Aku meremas pulpen di tanganku.
Semalam aku menulis adegan di mana tokoh wanitanya mengeluh sakit, tapi terus mibusa cowoknya melanjutkan itu.
Apa jangan-jangan, dia baca novelku?
Ah, mana mungkin dosen kaku kayak dia baca novel stensilan di aplikasi novel daring, paling ini cuma kebetulan saja.
Saat semua mahasiswa mendengar, aku hanya melamun sepanjang mata kuliah. Bahkan, waktu Pak Argan menutup kelasnya, aku tidak sadar teman-temanku sudah pada bubar dari kelas. Sampai ketika…
"Nara Anindya, ke ruangan saya sekarang!"
Kakiku seketika lemas seperti jeli dan akupun hanya mengangguk.
Sepanjang perjalanan, aku terus bergumam pelan. "Mampus aku, pasti ketahuan, nih. Ya Tuhan, lindungi hamba-Mu yang khilaf ini!"
Ruangan Pak Argan masih sama dinginnya seperti kemarin, tapi kali ini rasanya lebih mencekam karena tidak ada mahasiswa lain. Aku duduk di kursi hadapannya dengan ujung pantat saja, siap lari kapan pun diperlukan.
"Maaf, Pak Argan. Ada apa ya Bapak panggil saya? Soal ganti judul skripsi saya kemarin, saya sedang kerjakan kok, Pak. Beneran deh, saya udah cari jurnal tentang hiperseksualitas itu."
Pak Argan akhirnya menatapku, memajukan tubuhnya sedikit, sehingga jarakku dan jaraknya hanya lima centi saja. "Kerangka bab satu dan dua, saya minta besok pagi sudah ada di meja saya, lengkap dengan data kasus hiperseksualitas yang saya minta kemarin. Kamu paham?"
Aku melongo. "Besok pagi, Pak? Tapi kan ini udah sore..."
"Kamu keberatan?" potongnya cepat.
"Saya lihat kamu punya banyak energi. Mata kamu bengkak, pasti begadang kan? Kalau kamu bisa begadang buat hal yang nggak berguna, harusnya kamu bisa begadang buat skripsi kamu!"
"S-saya... iya, Pak. Saya begadang ngerjain tugas lain kok."
"Bagus. Kalau begitu buktikan besok. Satu lagi, Nara..." Dia berdiri dari kursinya, berjalan memutari meja dan berhenti tepat di samping kursiku.
Tanpa menunggu jawaban dariku lagi, Argan langsung menarik tuas pembuka pintu pengemudi. Pria tinggi berotot itu keluar dari dalam mobil dan berdiri tegak di jalanan. Dia langsung menutup pintu logam mobilnya dengan bantingan dorongan yang sangat keras.Aku melihat pria tampan itu berdiri gagah menghadapi dua orang berbadan besar. Argan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut pada otot wajahnya siang ini. Padahal, dua pria di depannya sedang memegang erat tongkat kayu pemukul kasti."Kamu sangat berani, melawan kami berdua, tanpa menggunakan senjata." Preman berjaket hitam itu tersenyum mengejek lurus ke arah wajah Argan."Aku hanya butuh kedua tanganku, untuk menghancurkan susunan tulang rahang kalian." Argan membalas ejekan lisan pria itu dengan nada suara sangat merendahkan.Sebab amarahnya terpancing ejekan, preman itu langsung mengayunkan tongkat kayunya tinggi-tinggi. Pria berbadan besar tersebut memukul lurus ke arah kepala dosen pembimbingku. Nam
Argan langsung menginjak pedal rem dengan sangat kuat dan juga mendadak. Ban mobil kami bergesekan keras dengan permukaan aspal jalanan pada siang hari ini. Suara decitan ban terdengar sangat nyaring memekakkan telingaku sesaat sebelum mobil ini berhenti."Sialan, mereka sudah merencanakan pencegatan ini, dengan sangat matang." Argan memukul setir kemudi menggunakan kedua telapak tangannya secara bersamaan.Jarak antara bagian depan mobil kami dan mobil van itu sangatlah dekat. Kami benar-benar terjebak karena jalanan ini cukup sempit untuk memutar balik badan mobil. Aku menoleh ke arah belakang untuk mencari celah jalan keluar dari sana."Mobil suruhan Felicia yang lain, juga sudah menutup jalan, dari arah belakang." Aku melaporkan kondisi jalan di belakang kami dengan suara yang bergetar hebat."Mereka sengaja menjebak kita berdua, tepat di tengah jalan sempit ini, Nara."Kondisi kami berdua saat ini benar-benar terkepung dari arah depan maupun b
Argan membuka selot pintu besi itu menggunakan gerakan tangan yang cekatan. Pintu tersebut langsung terbuka dan menampilkan susunan anak tangga berkarat di luarnya. Udara panas siang hari kembali menyentuh kulit wajahku seketika.Tiba-tiba, dobrakan sangat keras menghancurkan pintu kayu kamarku sepenuhnya. Daun pintu itu jatuh menabrak lantai keramik dengan suara yang sangat bising. Aku menoleh sedikit dan melihat beberapa pria berbadan besar masuk ke kamarku."Itu mereka berdua, sedang mencoba kabur, lewat pintu belakang!" teriak Dokter Hadi sambil menunjuk lurus ke arah kami berdua."Tangkap mahasiswi miskin itu, dan seret dia, ke hadapanku sekarang!"Felicia memberikan perintah langsung dari arah lorong luar kamar kosku. Mendengar teriakan wanita itu, rasa takutku kembali membesar memenuhi dadaku. Argan langsung mendorong punggungku keluar menuju tangga besi dengan cepat."Turun lewat tangga ini, dan jangan melihat ke belakang lagi, Nara." Pria
"Iya, wanita itu datang, dan memberikan ancaman langsung."Aku menjawab pertanyaannya sambil berjalan pelan mendekati letak kasur."Bagaimana Bapak bisa tahu, kejadian di dalam perpustakaan itu?" tanyaku meminta penjelasan darinya."Aku menyuruh penjaga perpustakaan, untuk terus memantau pergerakanmu," jelas Argan sambil berdiri dari atas kursi kayunya.Argan melangkah mendekati posisiku berdiri di tengah ruangan sempit ini. Pria itu menatap wajahku dengan tatapan mata yang sangat serius. Rahang bawahnya kembali mengeras untuk menahan emosi yang sangat besar."Felicia sudah bertindak terlalu jauh, dari batas kesabaranku." Argan mengepalkan kedua telapak tangannya dengan sangat kuat."Wanita itu menunjukkan foto kita, saat berada di lorong kampus." Aku melaporkan bukti yang Felicia bawa kepadanya siang ini."Foto gelang perak itu, bisa menjadi masalah besar, bagi kita berdua.""Aku sudah melihat, rekaman kamera keamanan, tentang
Fika berjalan pergi meninggalkanku sendirian di depan ruang kelas. Aku langsung melangkah menuju gedung perpustakaan pusat yang ada di sebelah fakultas. Suasana perpustakaan selalu sepi sehingga sangat cocok untuk berkonsentrasi menulis.Aku masuk ke perpustakaan dan mencari tempat duduk kosong di sudut ruangan. Setelah menemukan meja yang pas, aku segera mengeluarkan laptopku. Tanganku menekan tombol daya untuk menyalakan perangkat elektronik tersebut.Layar laptopku menyala dan menampilkan dokumen skripsi yang belum selesai. Aku mulai mengetik lanjutan bab dua yang sempat tertunda tadi malam. Jari-jariku bergerak menekan tombol papan ketik dengan ritme yang stabil."Aku harus menyelesaikan, lima halaman skripsi ini, siang ini juga." Aku memberikan target kerja pada diriku sendiri.Sekitar satu jam berlalu, aku berhasil mengetik tiga halaman penuh berisi teori. Penjelasan Argan tentang kondisi medisnya sangat membantuku menyusun analisis ini. Aku bisa me
Saat terbangun, tanganku langsung meraba bagian samping bantal tidur. Aku mencari keberadaan ponsel pintar milikku di atas kasur tipis ini. Jari-jariku berhasil menyentuh benda elektronik tersebut dengan cepat.Aku menghidupkan layar ponsel untuk melihat penunjuk waktu. Angka di layar menunjukkan pukul tujuh pagi lewat tiga puluh menit. Lalu, mataku melihat sebuah pemberitahuan dari aplikasi bank di layar utama."Uang royaltiku sudah masuk, ke dalam rekening bank, pagi ini." Aku berbicara sendiri sambil tersenyum sangat lebar."Jumlah uang ini sangat cukup, untuk melunasi biaya kuliahku, semester ini."Perasaan lega langsung memenuhi seluruh bagian dadaku seketika. Ancaman putus kuliah akhirnya benar-benar hilang dari hidupku. Aku segera beranjak bangun dari atas kasur untuk bersiap pergi ke kampus.Kemudian, aku mandi dan memakai pakaian rapi untuk pergi kuliah. Kemeja putih dan celana kain hitam menjadi pilihanku pagi ini. Aku juga memasukkan lap







