Share

Bab 3

Author: Itsmoore
last update Last Updated: 2026-01-14 11:39:57

Pak Argan membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Jangan bikin saya kecewa lagi. Saya paling benci sama orang yang kerjanya setengah-setengah. Kalau mau main-main sama saya, jangan setengah-setangah. Paham?"

Ah, kenapa, sih, kalimat Pak Argan ambigu banget!

Otak polosku langsung menerjemahkannya ke mana-mana. Apa maksudnya main? Main skripsi? Atau main yang lain?

"P-paham, Pak, malam ini saya siapkan kerangkanya," jawabku panik sambil berdiri tegak, hampir saja menabrak dagunya saking dekatnya posisi kami.

Begitu sampai di lorong yang sepi, aku bersandar di dinding sambil memegangi dadaku yang bergemuruh hebat. Bukan cuma karena dia galak dan sadis soal nilai, tapi karena aura dominannya yang terlalu kuat. Tadi, saat dia berbisik di dekat telingaku, bukannya takut, ada bagian kecil dari diriku yang… justru sedikit basah?

Bayangan bibir Pak Argan saat berbisik tadi, sorot matanya, kemejanya yang ketat sehingga otot bisepnya terlihat menonjol. Aduh, kenapa malah piktor gini? Aku tuh harus manfaatin pikiran kotorku ini untuk jadi uang.

Aku buru-buru pulang karena aku punya inspirasi baru untuk bab kedua dari novelku ini.

Hanya butuh waktu 50 menit aku menggunakan Pak Argan sebagai inspirasi utamaku dalam menulis bab dua. Dia begitu tampan dan perkasa untuk dijadikan inspirasi, tapi sayang sih, di kampus dia galak banget!

Ahh, andai dia spek kayak di AU gitu, aku udah klepek-klepek sama dia paling.

Aku pun menekan tombol kirim, lalu pergi mandi dan membeli nasi bungkus di kantin Bu Ijah. Tapi saat kembali, aku benar-benar terkejut, ternyata ponselku jatuh dari atas meja.

Drrt!

Drrt!

Drrt!

Baru saja aku mengunggah bab dua setengah jam sebelumnya, kolom komentar notifikasi ponselku sudah jebol lagi malam ini.

Bukannya kasih napas buat penulisnya makan nasi ayam sambal kecap dulu, mereka malah meneror minta bab tiga secepatnya dengan alasan tanggung.

Bahkan, ada satu komenan yang membuatku geleng-geleng kepala. [Thor, belum keluar ini, masih di ujung. Sayang banget bab dua udah selesai aja.]

Lalu, aku coba melihat komentar lain. ["Kak, buruan lanjut dong! Ini si Dosen dingin mau ngapain lagi habis ganti posisi kayak gitu?"]

Terakhir, ada satu komentar yang membuatku sibuin menghela nafas. ["Ini malam Jumat kan? Buatin 5 bab dong, biar aku ada tutorial cara main berbagai posisi tu kayak gimana. Itung-itung ibadah loh, buat pengantin baru gaspol di malam pertama."]

Aku mendengus kesal sambil membaca komentar-komentar itu di layar laptop. Tapi, pas melihat grafik pendapatan yang melonjak drastis kayak punya Pak Argan yang aku deskripsikan di novel, kantuk dan capek itu mendadak hilang tak berbekas.

Awalnya kecil kayak jempolan bayi, tapi tiba-tiba kayak mau copot gitu saking tingginya pas nanjak.

"Ma-maaf, Pak Argan, saya terpaksa ngelakuin ini buat bayar UKT sama biaya kos. Ahh, nanti aja minta maaf langsungnya, sekalian pas selesai sidang skripsi aja. Lagian, dosa dia ke aku lebih banyak, apalagi suruh ganti judul."

Aku melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, seperti kemarin.

Dan benar saja, saat aku menyipitkan mata di lubang, tebakanku seratus persen akurat.

Di seberang sana, di kamar mewah itu, Pak Argan sedang berolahraga lagi dengan pacarnya yang cantik itu.

Tapi malam ini ada yang beda.

Kalau kemarin-kemarin aku melihat gairah yang meledak-ledak dari dosen pembimbingku itu, kini sepertinya Pak Argan tidak menikmatinya sama sekali.

Pak Argan bergerak dengan tempo yang sangat cepat, kasar, dan seolah-olah dia sedang dikejar setan. Wajahnya datar, kaku, dan tidak ada ekspresi kenikmatan sama sekali di sana. Tatapan matanya kosong, menatap lurus ke depan seakan wanita di bawahnya itu cuma benda mati yang tidak punya perasaan.

Wanita di bawahnya, yang belakangan aku tahu namanya Felicia dari gosip anak-anak kampus, terlihat mulai tidak nyaman.

Awalnya dia mendesah menikmati, tapi lama-kelamaan desahannya berubah jadi amarah ketika tangannya mencengkeram bahu Pak Argan, mencoba menahan gerakan pria itu yang makin brutal dan tidak pakai perasaan.

"Argan... stop, ini udah sakit banget!" Teriakan Felicia terdengar cukup jelas menembus dinding.

Tapi Pak Argan sepertinya tuli atau memang sengaja tidak peduli. Dia malah mempercepat temponya, membuat ranjang besar itu berderit nyaring.

"Argan, aku bilang berhenti! Kamu denger nggak sih?!"

PLAK!

Aku terlonjak kaget saat melihat Felicia menampar pipi Pak Argan dengan keras.

Felicia mendorong tubuh Pak Argan agar menjauh darinya. Wanita itu bangun, menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, lalu menatap Pak Argan dengan mata berkaca-kaca yang penuh amarah.

"Kamu itu sebenernya anggep aku apa sih, Gan? Aku ini pacarmu apa pelampiasan nafsu kamu doang, sih? Kamu kasar banget hari ini, nggak kayak biasanya! Aku ini manusia, aku juga butuh perasaan pas main ini. Kamu kira enak apa, main cuma nafsu aja, ga pakai perasaan?"

Pak Argan tidak menjawab. Dia hanya duduk di tepi ranjang, memunggungi wanitanya sambil mengusap wajahnya kasar.

"Jawab dong! Jangan diem aja kayak patung! Kamu tuh makin lama makin aneh, tau nggak? Awal-awal emang enak banget, punyamu yang gede, terus kamu tahan lama. Tapi makin lama, sama kamu tuh rasanya hampa! Kamu nggak pernah puas, kan? Mau seberapa sering pun kita ngelakuinnya, kamu kayak ga punya gairah sama sekali ke aku!"

"Udahlah, Fel, aku juga pusing sama kondisiku ini," jawab Pak Argan, dia menyandar ke tembok, lalu menghela nafas berat.

"Pusing? Cuma itu alesan kamu? Oke, oke, kalau kamu emang nggak bisa ngehargain aku sebagai pacar kamu, mending kita udahan aja malem ini!"

Felicia bangkit dari kasur, memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dengan kasar, lalu bergegas ke kamar mandi. Tak lama kemudian, dia keluar sudah berpakaian lengkap, menyambar tasnya, dan membanting pintu kamar sekuat tenaga saat keluar.

BLAM!

Suara pintu dibanting itu bikin aku ikut kaget di tempat persembunyianku.

"Woaahhh, dramanya gila! Aktingnya udah ngalah-ngalahin artis gede, eh tapi ini ga akting sih. Keren, sumpah keren, ini bisa jadi ending yang bagus!"

Tapi… bentar.

Felicia tadi bilang kalau Pak Argan ga pernah puas walau bermain beberapa kali.

Deg!

Aku sadar akan sesuatu.

Be-be-be-berarti…

Berarti…

Pak Argan menderita kelainan hiperseksualitas dan itu alasan kenapa dia mau meneliti penyakit itu?

Aku cepat-cepat mengusir lamunanku, lalu melihat Pak Argan yang masih duduk di tepi ranjang.

Pak Argan malah mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Dia menjambak rambutnya sendiri, lalu beranjak bangun dengan langkah sempoyongan menuju nakas di samping tempat tidur. Tangannya yang gemetar meraih sebuah botol obat kecil, menuangkan isinya—sekitar tiga atau empat butir pil—ke telapak tangan, lalu menelannya sekaligus tanpa air minum.

Ada beberapa pertanyaan yang tiba-tiba terngiang di kepalaku.

Obat apa itu?

Kenapa dia minum sebanyak itu?

Dan kenapa ekspresinya masih terlihat menderita padahal dia baru saja selesai berhubungan intim?

Rasa ingin tahuku makin menjadi-jadi hingga aku memajukan wajahku lebih dekat lagi ke lubang. Saking fokusnya mengintip, aku tidak sadar kalau tanganku menyenggol botol minum stainless steel yang aku taruh di lantai di samping kakiku.

PRAAANG!

Aku membeku seketika. Dan mataku melotot menatap tumbler yang sekarang menggelinding pelan di lantai ubin kosku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 143

    Tanpa menunggu jawaban dariku lagi, Argan langsung menarik tuas pembuka pintu pengemudi. Pria tinggi berotot itu keluar dari dalam mobil dan berdiri tegak di jalanan. Dia langsung menutup pintu logam mobilnya dengan bantingan dorongan yang sangat keras.Aku melihat pria tampan itu berdiri gagah menghadapi dua orang berbadan besar. Argan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut pada otot wajahnya siang ini. Padahal, dua pria di depannya sedang memegang erat tongkat kayu pemukul kasti."Kamu sangat berani, melawan kami berdua, tanpa menggunakan senjata." Preman berjaket hitam itu tersenyum mengejek lurus ke arah wajah Argan."Aku hanya butuh kedua tanganku, untuk menghancurkan susunan tulang rahang kalian." Argan membalas ejekan lisan pria itu dengan nada suara sangat merendahkan.Sebab amarahnya terpancing ejekan, preman itu langsung mengayunkan tongkat kayunya tinggi-tinggi. Pria berbadan besar tersebut memukul lurus ke arah kepala dosen pembimbingku. Nam

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 142

    Argan langsung menginjak pedal rem dengan sangat kuat dan juga mendadak. Ban mobil kami bergesekan keras dengan permukaan aspal jalanan pada siang hari ini. Suara decitan ban terdengar sangat nyaring memekakkan telingaku sesaat sebelum mobil ini berhenti."Sialan, mereka sudah merencanakan pencegatan ini, dengan sangat matang." Argan memukul setir kemudi menggunakan kedua telapak tangannya secara bersamaan.Jarak antara bagian depan mobil kami dan mobil van itu sangatlah dekat. Kami benar-benar terjebak karena jalanan ini cukup sempit untuk memutar balik badan mobil. Aku menoleh ke arah belakang untuk mencari celah jalan keluar dari sana."Mobil suruhan Felicia yang lain, juga sudah menutup jalan, dari arah belakang." Aku melaporkan kondisi jalan di belakang kami dengan suara yang bergetar hebat."Mereka sengaja menjebak kita berdua, tepat di tengah jalan sempit ini, Nara."Kondisi kami berdua saat ini benar-benar terkepung dari arah depan maupun b

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 141

    Argan membuka selot pintu besi itu menggunakan gerakan tangan yang cekatan. Pintu tersebut langsung terbuka dan menampilkan susunan anak tangga berkarat di luarnya. Udara panas siang hari kembali menyentuh kulit wajahku seketika.Tiba-tiba, dobrakan sangat keras menghancurkan pintu kayu kamarku sepenuhnya. Daun pintu itu jatuh menabrak lantai keramik dengan suara yang sangat bising. Aku menoleh sedikit dan melihat beberapa pria berbadan besar masuk ke kamarku."Itu mereka berdua, sedang mencoba kabur, lewat pintu belakang!" teriak Dokter Hadi sambil menunjuk lurus ke arah kami berdua."Tangkap mahasiswi miskin itu, dan seret dia, ke hadapanku sekarang!"Felicia memberikan perintah langsung dari arah lorong luar kamar kosku. Mendengar teriakan wanita itu, rasa takutku kembali membesar memenuhi dadaku. Argan langsung mendorong punggungku keluar menuju tangga besi dengan cepat."Turun lewat tangga ini, dan jangan melihat ke belakang lagi, Nara." Pria

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 140

    "Iya, wanita itu datang, dan memberikan ancaman langsung."Aku menjawab pertanyaannya sambil berjalan pelan mendekati letak kasur."Bagaimana Bapak bisa tahu, kejadian di dalam perpustakaan itu?" tanyaku meminta penjelasan darinya."Aku menyuruh penjaga perpustakaan, untuk terus memantau pergerakanmu," jelas Argan sambil berdiri dari atas kursi kayunya.Argan melangkah mendekati posisiku berdiri di tengah ruangan sempit ini. Pria itu menatap wajahku dengan tatapan mata yang sangat serius. Rahang bawahnya kembali mengeras untuk menahan emosi yang sangat besar."Felicia sudah bertindak terlalu jauh, dari batas kesabaranku." Argan mengepalkan kedua telapak tangannya dengan sangat kuat."Wanita itu menunjukkan foto kita, saat berada di lorong kampus." Aku melaporkan bukti yang Felicia bawa kepadanya siang ini."Foto gelang perak itu, bisa menjadi masalah besar, bagi kita berdua.""Aku sudah melihat, rekaman kamera keamanan, tentang

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 139

    Fika berjalan pergi meninggalkanku sendirian di depan ruang kelas. Aku langsung melangkah menuju gedung perpustakaan pusat yang ada di sebelah fakultas. Suasana perpustakaan selalu sepi sehingga sangat cocok untuk berkonsentrasi menulis.Aku masuk ke perpustakaan dan mencari tempat duduk kosong di sudut ruangan. Setelah menemukan meja yang pas, aku segera mengeluarkan laptopku. Tanganku menekan tombol daya untuk menyalakan perangkat elektronik tersebut.Layar laptopku menyala dan menampilkan dokumen skripsi yang belum selesai. Aku mulai mengetik lanjutan bab dua yang sempat tertunda tadi malam. Jari-jariku bergerak menekan tombol papan ketik dengan ritme yang stabil."Aku harus menyelesaikan, lima halaman skripsi ini, siang ini juga." Aku memberikan target kerja pada diriku sendiri.Sekitar satu jam berlalu, aku berhasil mengetik tiga halaman penuh berisi teori. Penjelasan Argan tentang kondisi medisnya sangat membantuku menyusun analisis ini. Aku bisa me

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 138

    Saat terbangun, tanganku langsung meraba bagian samping bantal tidur. Aku mencari keberadaan ponsel pintar milikku di atas kasur tipis ini. Jari-jariku berhasil menyentuh benda elektronik tersebut dengan cepat.Aku menghidupkan layar ponsel untuk melihat penunjuk waktu. Angka di layar menunjukkan pukul tujuh pagi lewat tiga puluh menit. Lalu, mataku melihat sebuah pemberitahuan dari aplikasi bank di layar utama."Uang royaltiku sudah masuk, ke dalam rekening bank, pagi ini." Aku berbicara sendiri sambil tersenyum sangat lebar."Jumlah uang ini sangat cukup, untuk melunasi biaya kuliahku, semester ini."Perasaan lega langsung memenuhi seluruh bagian dadaku seketika. Ancaman putus kuliah akhirnya benar-benar hilang dari hidupku. Aku segera beranjak bangun dari atas kasur untuk bersiap pergi ke kampus.Kemudian, aku mandi dan memakai pakaian rapi untuk pergi kuliah. Kemeja putih dan celana kain hitam menjadi pilihanku pagi ini. Aku juga memasukkan lap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status