LOGINPak Argan membungkuk sedikit, mendekatkan wajahnya ke telingaku. "Jangan bikin saya kecewa lagi. Saya paling benci sama orang yang kerjanya setengah-setengah. Kalau mau main-main sama saya, jangan setengah-setangah. Paham?"
Ah, kenapa, sih, kalimat Pak Argan ambigu banget!
Otak polosku langsung menerjemahkannya ke mana-mana. Apa maksudnya main? Main skripsi? Atau main yang lain?
"P-paham, Pak, malam ini saya siapkan kerangkanya," jawabku panik sambil berdiri tegak, hampir saja menabrak dagunya saking dekatnya posisi kami.
Begitu sampai di lorong yang sepi, aku bersandar di dinding sambil memegangi dadaku yang bergemuruh hebat. Bukan cuma karena dia galak dan sadis soal nilai, tapi karena aura dominannya yang terlalu kuat. Tadi, saat dia berbisik di dekat telingaku, bukannya takut, ada bagian kecil dari diriku yang… justru sedikit basah?
Bayangan bibir Pak Argan saat berbisik tadi, sorot matanya, kemejanya yang ketat sehingga otot bisepnya terlihat menonjol. Aduh, kenapa malah piktor gini? Aku tuh harus manfaatin pikiran kotorku ini untuk jadi uang.
Aku buru-buru pulang karena aku punya inspirasi baru untuk bab kedua dari novelku ini.
Hanya butuh waktu 50 menit aku menggunakan Pak Argan sebagai inspirasi utamaku dalam menulis bab dua. Dia begitu tampan dan perkasa untuk dijadikan inspirasi, tapi sayang sih, di kampus dia galak banget!
Ahh, andai dia spek kayak di AU gitu, aku udah klepek-klepek sama dia paling.
Aku pun menekan tombol kirim, lalu pergi mandi dan membeli nasi bungkus di kantin Bu Ijah. Tapi saat kembali, aku benar-benar terkejut, ternyata ponselku jatuh dari atas meja.
Drrt!
Drrt!
Drrt!
Baru saja aku mengunggah bab dua setengah jam sebelumnya, kolom komentar notifikasi ponselku sudah jebol lagi malam ini.
Bukannya kasih napas buat penulisnya makan nasi ayam sambal kecap dulu, mereka malah meneror minta bab tiga secepatnya dengan alasan tanggung.
Bahkan, ada satu komenan yang membuatku geleng-geleng kepala. [Thor, belum keluar ini, masih di ujung. Sayang banget bab dua udah selesai aja.]
Lalu, aku coba melihat komentar lain. ["Kak, buruan lanjut dong! Ini si Dosen dingin mau ngapain lagi habis ganti posisi kayak gitu?"]
Terakhir, ada satu komentar yang membuatku sibuin menghela nafas. ["Ini malam Jumat kan? Buatin 5 bab dong, biar aku ada tutorial cara main berbagai posisi tu kayak gimana. Itung-itung ibadah loh, buat pengantin baru gaspol di malam pertama."]
Aku mendengus kesal sambil membaca komentar-komentar itu di layar laptop. Tapi, pas melihat grafik pendapatan yang melonjak drastis kayak punya Pak Argan yang aku deskripsikan di novel, kantuk dan capek itu mendadak hilang tak berbekas.
Awalnya kecil kayak jempolan bayi, tapi tiba-tiba kayak mau copot gitu saking tingginya pas nanjak.
"Ma-maaf, Pak Argan, saya terpaksa ngelakuin ini buat bayar UKT sama biaya kos. Ahh, nanti aja minta maaf langsungnya, sekalian pas selesai sidang skripsi aja. Lagian, dosa dia ke aku lebih banyak, apalagi suruh ganti judul."
Aku melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, seperti kemarin.
Dan benar saja, saat aku menyipitkan mata di lubang, tebakanku seratus persen akurat.
Di seberang sana, di kamar mewah itu, Pak Argan sedang berolahraga lagi dengan pacarnya yang cantik itu.
Tapi malam ini ada yang beda.
Kalau kemarin-kemarin aku melihat gairah yang meledak-ledak dari dosen pembimbingku itu, kini sepertinya Pak Argan tidak menikmatinya sama sekali.
Pak Argan bergerak dengan tempo yang sangat cepat, kasar, dan seolah-olah dia sedang dikejar setan. Wajahnya datar, kaku, dan tidak ada ekspresi kenikmatan sama sekali di sana. Tatapan matanya kosong, menatap lurus ke depan seakan wanita di bawahnya itu cuma benda mati yang tidak punya perasaan.
Wanita di bawahnya, yang belakangan aku tahu namanya Felicia dari gosip anak-anak kampus, terlihat mulai tidak nyaman.
Awalnya dia mendesah menikmati, tapi lama-kelamaan desahannya berubah jadi amarah ketika tangannya mencengkeram bahu Pak Argan, mencoba menahan gerakan pria itu yang makin brutal dan tidak pakai perasaan.
"Argan... stop, ini udah sakit banget!" Teriakan Felicia terdengar cukup jelas menembus dinding.
Tapi Pak Argan sepertinya tuli atau memang sengaja tidak peduli. Dia malah mempercepat temponya, membuat ranjang besar itu berderit nyaring.
"Argan, aku bilang berhenti! Kamu denger nggak sih?!"
PLAK!
Aku terlonjak kaget saat melihat Felicia menampar pipi Pak Argan dengan keras.
Felicia mendorong tubuh Pak Argan agar menjauh darinya. Wanita itu bangun, menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, lalu menatap Pak Argan dengan mata berkaca-kaca yang penuh amarah.
"Kamu itu sebenernya anggep aku apa sih, Gan? Aku ini pacarmu apa pelampiasan nafsu kamu doang, sih? Kamu kasar banget hari ini, nggak kayak biasanya! Aku ini manusia, aku juga butuh perasaan pas main ini. Kamu kira enak apa, main cuma nafsu aja, ga pakai perasaan?"
Pak Argan tidak menjawab. Dia hanya duduk di tepi ranjang, memunggungi wanitanya sambil mengusap wajahnya kasar.
"Jawab dong! Jangan diem aja kayak patung! Kamu tuh makin lama makin aneh, tau nggak? Awal-awal emang enak banget, punyamu yang gede, terus kamu tahan lama. Tapi makin lama, sama kamu tuh rasanya hampa! Kamu nggak pernah puas, kan? Mau seberapa sering pun kita ngelakuinnya, kamu kayak ga punya gairah sama sekali ke aku!"
"Udahlah, Fel, aku juga pusing sama kondisiku ini," jawab Pak Argan, dia menyandar ke tembok, lalu menghela nafas berat.
"Pusing? Cuma itu alesan kamu? Oke, oke, kalau kamu emang nggak bisa ngehargain aku sebagai pacar kamu, mending kita udahan aja malem ini!"
Felicia bangkit dari kasur, memungut pakaiannya yang berserakan di lantai dengan kasar, lalu bergegas ke kamar mandi. Tak lama kemudian, dia keluar sudah berpakaian lengkap, menyambar tasnya, dan membanting pintu kamar sekuat tenaga saat keluar.
BLAM!
Suara pintu dibanting itu bikin aku ikut kaget di tempat persembunyianku.
"Woaahhh, dramanya gila! Aktingnya udah ngalah-ngalahin artis gede, eh tapi ini ga akting sih. Keren, sumpah keren, ini bisa jadi ending yang bagus!"
Tapi… bentar.
Felicia tadi bilang kalau Pak Argan ga pernah puas walau bermain beberapa kali.
Deg!
Aku sadar akan sesuatu.
Be-be-be-berarti…
Berarti…
Pak Argan menderita kelainan hiperseksualitas dan itu alasan kenapa dia mau meneliti penyakit itu?
Aku cepat-cepat mengusir lamunanku, lalu melihat Pak Argan yang masih duduk di tepi ranjang.
Pak Argan malah mengerang kesakitan sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangan. Dia menjambak rambutnya sendiri, lalu beranjak bangun dengan langkah sempoyongan menuju nakas di samping tempat tidur. Tangannya yang gemetar meraih sebuah botol obat kecil, menuangkan isinya—sekitar tiga atau empat butir pil—ke telapak tangan, lalu menelannya sekaligus tanpa air minum.
Ada beberapa pertanyaan yang tiba-tiba terngiang di kepalaku.
Obat apa itu?
Kenapa dia minum sebanyak itu?
Dan kenapa ekspresinya masih terlihat menderita padahal dia baru saja selesai berhubungan intim?
Rasa ingin tahuku makin menjadi-jadi hingga aku memajukan wajahku lebih dekat lagi ke lubang. Saking fokusnya mengintip, aku tidak sadar kalau tanganku menyenggol botol minum stainless steel yang aku taruh di lantai di samping kakiku.
PRAAANG!
Aku membeku seketika. Dan mataku melotot menatap tumbler yang sekarang menggelinding pelan di lantai ubin kosku.
Tiba-tiba, tayangan berita di layar televisi itu terpotong oleh sebuah spanduk berita kilat. Pembawa acara wanita di studio berita muncul dengan raut wajah yang sangat serius."Pemirsa, baru saja beredar kabar mengejutkan terkait ayah dari mahasiswi NA yang sedang viral hari ini. Beredar bukti mutasi rekening yang menunjukkan beliau menggelapkan uang donasi pengobatan istrinya untuk bermain judi daring."Pembawa acara itu membacakan narasi berita yang bersumber dari fitnah akun palsu buatan Argan.Layar televisi langsung menampilkan tangkapan layar akun Twitter yang menyebarkan bukti mutasi palsu tersebut. Ribuan komentar netizen terlihat membanjiri unggahan itu dengan hujatan kasar."Bapak lihat sendiri kan? Stasiun televisi nasional aja langsung kemakan sama berita hoaks buatan anak buah Bapak."Aku menggelengkan kepala melihat betapa rusaknya sistem verifikasi media massa di negara kita ini."Publik sekarang bakal nuduh bapakmu cuma cari
"Kita harus keluar dari rumah sakit ini sekarang juga lewat pintu darurat belakang. Aku nggak mau wajahku masuk kamera wartawan murahan di lobi bawah sana."Argan langsung menarik pergelangan tanganku dengan cengkeraman jari yang sangat kuat. Pria ini menarik tubuhku menjauhi ranjang medis tempat ibuku sedang tertidur pulas."Aku mau di sini aja nemenin ibuku, Pak! Tolong jangan seret aku pergi lagi hari ini!"Aku mencoba melepaskan tanganku sambil menahan langkah kakiku di atas lantai keramik."Ibumu udah aman dijagain sama perawat rumah sakit ini. Kamu harus ikut aku balik ke Jakarta sekarang juga."Argan sama sekali tidak peduli dengan penolakanku siang ini. Dia menyeret tubuhku keluar dari kamar VIP dan menyusuri lorong rumah sakit.Kami masuk ke dalam lift khusus karyawan medis di bagian belakang gedung tinggi ini. Pintu lift terbuka di area parkir bawah tanah yang sangat sepi dan juga lumayan gelap.Sopir pribadi Argan sudah men
Argan menepis tanganku dan memberikan ancaman kekerasan fisik secara terang-terangan kepadaku. Pria ini benar-benar menghalalkan segala cara untuk membungkam saksi kunci kejahatan masa lalunya.Kami berdua menunggu laporan hasil pengejaran dari anak buah Argan di dalam kamar rawat inap ibuku. Aku duduk lemas di atas sofa sudut ruangan sambil terus berdoa untuk keselamatan bapakku di jalan raya.Argan berdiri mondar-mandir di depan jendela kaca ruangan dengan raut wajah yang sangat tegang dan kaku. Waktu berjalan terasa sangat lambat dan menyiksa seluruh sisa kewarasanku pada siang hari ini. Suara detak jarum jam dinding di kamar VIP ini terdengar sangat nyaring memecah keheningan medis.Ponsel Argan tiba-tiba berdering memunculkan panggilan masuk dari sebuah nomor telepon seluler asing. Pria itu langsung menekan tombol terima panggilan dan mengaktifkan mode pengeras suara ponselnya."Halo, ini siapa? Anak buahku udah berhasil nangkap bapak mertuaku di jal
Aku langsung berlari mendahului Argan menuju arah lift penumpang di ujung lorong bangunan ini.Aku sangat khawatir dengan kondisi ibuku yang ditinggal sendirian di dalam kamar perawatan intensif. Pintu lift terbuka dan aku langsung masuk disusul oleh Argan dari arah belakang punggungku.Aku menekan tombol lantai tiga dan langsung berlari menyusuri lorong kamar rawat inap VIP. Tanganku mendorong pintu kamar nomor tiga belas dengan pergerakan dorongan yang lumayan kasar.Ibuku terlihat sedang tertidur pulas di atas ranjang medis dengan alat bantu pernapasan menempel di hidung. Kondisi fisiknya terlihat sangat stabil tanpa ada tanda-tanda gangguan pernapasan yang berbahaya siang ini."Syukurlah ibu baik-baik aja di ruangan ini sendirian."Aku bergumam pelan sambil berjalan mendekati letak pinggiran ranjang besi tersebut. Aku mengusap punggung tangan ibuku yang terpasang jarum infus dengan sangat lembut.Argan menyusul masuk ke dalam kamar rawat
"Siapa orang yang berani ngambil tas kerja berisi dokumen asli itu dari dalam loker stasiun?!" Argan menuntut jawaban pasti sambil memajukan badannya sedikit ke arah depan."Orang yang ngambil tas kerja itu adalah pria paruh baya yang pakai kemeja usang, Bos. Wajahnya sangat persis sama wajah mertua Bos yang lagi nungguin istrinya di rumah sakit Puncak.""Bapakku yang ngambil tas kerja itu dari dalam loker stasiun sentral?"Aku bertanya dengan suara yang sangat pelan dan juga bergetar. Dadaku terasa sangat sesak mendengar nama ayah kandungku disebut dalam laporan pengawal itu."Kamu pura-pura kaget sekarang di depanku, Nara?! Kamu pasti udah sekongkol sama pria tua itu buat ngambil dokumen aslinya!"Argan membentak keras sambil menatap lurus ke arah kedua bola mataku pagi ini."Aku sama sekali nggak pegang hape dari semalam, Pak Argan! Gimana caranya aku ngasih tahu kode loker itu ke bapakku di Puncak sana?!"Aku membela diri dengan n
Argan memberikan instruksi kepada salah satu pengawalnya yang berdiri di dekat pintu. Pengawal berbaju hitam itu langsung merampas ponsel pintar dari dalam tas milik Felicia.Dia mengarahkan lensa kamera lurus ke arah wajah wanita modis yang sedang hancur tersebut. Felicia terpaksa mengucapkan semua kalimat kebohongan itu dengan suara yang bergetar hebat.Wanita ini mengakui semua perbuatan kotor yang sebenarnya murni dilakukan oleh Argan sendiri. Aku menatap proses perekaman video itu dengan perasaan mual yang sangat luar biasa besar.Kekuasaan uang benar-benar bisa mengubah pelaku kejahatan utama menjadi korban yang tak bersalah. Semua orang di ruangan ini hanya bisa diam menonton sandiwara kotor buatan suamiku."Udah selesai, Bos. Videonya udah saya unggah ke semua akun media sosial resmi milik Nyonya Felicia."Pengawal itu menekan tombol kirim dan melaporkan hasil kerjanya kepada Argan. Dia mengembalikan ponsel mahal itu ke atas permukaan meja







