Share

Bab 4

Author: Itsmoore
last update publish date: 2026-01-14 11:40:10

PRAANG!

Di seberang sana, Pak Argan yang tadinya sedang menunduk kesakitan, tiba-tiba langsung menegakkan kepalanya setelah mendengar bunyi di ujung kamarnya. Dia menoleh pelan, sangat pelan, ke arah dinding pembatas, tepat ke arah di mana aku sedang mengintip.

Jantungku rasanya berhenti berdetak.

"Jangan lihat ke sini, jangan, kumohon jangan lihat ke sini... "

Tapi doa orang maksiat sepertinya memang susah dikabulkan.

Pak Argan bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mendekati dinding itu. Matanya yang tajam menyipit, mencari sumber suara yang tadi mengganggu pendengarannya.

Aku ingin lari, ingin menarik kepalaku menjauh, tapi tubuhku kaku seolah dipaku di tempat karena rasa takut membuatku lumpuh total.

Pak Argan berhenti tepat di depan lubang kecil itu. Jarak kami sekarang mungkin hanya terpisah beberapa sentimeter dinding beton. Dia mendekatkan wajahnya, meneliti permukaan dinding kamarnya yang tertutup dipenuhi foto, sampai akhirnya matanya menangkap sebuah titik kecil yang tidak wajar.

Lalu, hal yang paling mengerikan dalam hidupku terjadi. Dia mendekatkan satu matanya ke lubang itu. Dan saat itu juga, mata kami bertemu.

Bola mata cokelat gelap milik Pak Argan menatap lurus ke dalam bola mataku.

Aku tersentak mundur, jatuh terduduk di lantai dengan napas memburu. "Dia lihat aku. Sumpah nggak bohong, dia beneran lihat aku!"

Aku merangkak mundur menjauhi dinding itu seolah-olah tembok itu bisa mibuan hidup-hidup. Tapi aku tahu, ini sudah terlambat!

"Buka! Saya tahu kamu di dalam!" Suara baritone yang berat dan penuh emosi itu menembus pintu kayu lapuk kamarku, membuatku yang masih melamun ini terbangun seketika.

Dengan tangan gemetar hebat dan lutut yang rasanya seperti jeli, aku mibusakan diri turun dari kasur, melangkah gontai menuju pintu sambil merapikan daster batik lusuh yang kupakai tidur.

Dalam hati, aku sudah menyusun seribu satu alasan, mulai dari pura-pura tuli, pura-pura mati, sampai pura-pura gila, tapi rasanya tidak ada satu pun skenario itu yang bakal mempan menghadapi Pak Argan.

Cklek.

Baru saja kunci pintu kuputar setengah, pintu itu sudah didorong paksa dari luar dengan kasar. Tubuhku sampai terhuyung mundur, hampir saja terjengkang menabrak tumpukan kardus mi instan di sudut ruangan.

Pak Argan berdiri di sana mengenakan kaos polo hitam yang mencetak jelas otot-otot dadanya, rambutnya sedikit berantakan dan matanya merah menyala menatapku tajam.

"Na-Nara, ternyata kamu yang selama ini…" Pak Argan sepertinya terkejut, tapi aku cepat-cepat mengalihkan isu, meski aku sadar usahaku sia-sia.

"P-Pak Argan, Bapak ngapain malam-malam ke sini? I-ini kan kos putri, Pak. Kalau ibu kos lihat, nanti saya bisa diusir…"

"Hah, diusir? Hey, Bu Inem yang jaga kos, itu karyawanku. Asal kamu tahu, kos ini atas nama saya, Argan Dirgantara!"

Tanpa permisi, dia melangkah masuk ke dalam kamar sempitku yang berantakan, lalu membanting pintu di belakangnya dan memutar kuncinya.

Klik!

Kini hanya tinggal kami berdua di kamar kosku yang sempit ini.

Pak Argan menunjukkan sifat aslinya dan membuatku berdiri dengan kaki gemetar. Di-di-dia benar-benar marah padaku. Bahkan denganku yang hanya gadis mungil nan ramping dan rambut kuncir kuda, dia tetap memperlakukanku layaknya tersangka.

Matanya menyapu seluruh isi kamarku dengan tatapan jijik bercampur marah. Dia memindai satu per satu. Mulai dari kasur lantai yang sprei-nya sudah kusut, tumpukan baju kotor di kursi, sampai akhirnya pandangannya berhenti tepat di satu titik.

Poster boyband Korea yang sobek setengah di dinding.

Dia berjalan mendekat ke sana, mengulurkan tangannya, dan merobek sisa poster itu sekali tarik sampai terlepas sepenuhnya dari dinding.

Lubang kecil seukuran paku payung itu kini terpampang nyata, menjadi saksi bisu kejahatan voyeurisme yang sudah kulakukan berhari-hari.

"Jadi ini kerjaan kamu selama ini?" Dia berhenti sejenak, menoleh padaku, menunjuk lubang itu dengan dagunya. "Kamu pikir saya ini apa, Nara?"

Aku mundur selangkah demi selangkah sampai punggungku menabrak lemari plastik. Keringat dingin mengucur deras di pelipis.

Habis sudah.

Aku pasti bakal dilaporkan ke polisi, dipenjara.

Aku juga bakal di-DO dari kampus.

Paling parah, namaku bakal masuk berita kriminal di koran lampu merah dengan judul: Mahasiswi Mesum Terciduk Mengintip Dosen Ganteng.

Ahh, judul itu terlalu bagus buat Pak Argan, bisa ganti ga, sih?

Bentar, aku ini tersangka, kenapa aku harus memikirkan judul headline berita.

Alah, kenapa sih sama otakku ini, cepat mikir lahh, gimana solusinya? Gimana biar kamu ga dipenjara atau di-DO gara-gara perkara ini?

"Ma-maaf, Pak! Sumpah saya nggak bermaksud jahat! I-i-itu lubangnya udah ada dari sananya, Pak! Saya cuma iseng, be-be-beneran!"

"Iseng?" Pak Argan mendengus kasar, lalu berjalan mendekati meja kecil di mana laptopku masih terbuka menyala.

Sial beribu sial.

Laptopku menampilkan naskah novel yang semalam lupa kututup karena aku terlalu panik bertatap mata dengan Pak Argan tadi.

"Iseng sampai kamu jadikan tontonan itu sebagai ladang uang, begitu?"

Tangan besarnya membalik laptopku, membaca deretan kalimat di layar yang menampilkan Bab 2, bab di mana aku mendeskripsikan adegan panas ketika Felicia terus mendesah tapi Pak Argan seperti tidak menikmati.

Aku ingin lari merebut laptop itu, tapi tatapan Pak Argan membuat kakiku terpaku di lantai. Dia membaca paragraf demi paragraf dalam diam. Ekspresi wajahnya yang semula penuh amarah perlahan berubah.

Aku hanya bisa duduk, mengamati matanya yang memahami kalimatku satu per satu.

Semua rentetan kejadian yang aku lihat  kemaren, semua sudah dia baca, tapi begitu dia melihat notesku, di situ tertulis jelas seputar kerangka bab 3 novelku.

Pak Argan menatapku sejenak, lalu memintaku duduk tepat di sebelahnya. Lengan kiri gagahnya merangkul leherku, seolah bersiap mematahkan leherku jika aku menulis sesuatu yang tidak-tidak tentangnya. Namun, yang aku pikirkan malah tidak terjadi sama sekali.

Pria itu menyipit saat membaca bagian kerangka tentang perasaan hampa yang dirasakan tokoh prianya.

Aku menunggu dia meledak marah, menampar meja, atau membanting laptopku, tapi reaksi yang dia berikan justru di luar dugaan.

"Dari mana kamu tahu?" tanyanya pelan.

"Tahu, tahu, tahu apa, Pak?"

"Perasaan ini." Jari telunjuknya mengetuk kertas di notesku, tepat di bagian yang aku beri pembatas seperti awan untuk menandai kalau itu bagian penting.

"Pak, sa-sa-saya hanya menerka-nerka dari ucapan pacar Bapak saja. Sumpah, saya tidak ada niatan menjelek-jelekkan nama Bapak, atau bahkan menuduh Bapak menderita penyakit itu. Sumpah demi apapun, Pak, saya tidak ada niatan buruk ke Bapak."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 210

    Tiba-tiba, tayangan berita di layar televisi itu terpotong oleh sebuah spanduk berita kilat. Pembawa acara wanita di studio berita muncul dengan raut wajah yang sangat serius."Pemirsa, baru saja beredar kabar mengejutkan terkait ayah dari mahasiswi NA yang sedang viral hari ini. Beredar bukti mutasi rekening yang menunjukkan beliau menggelapkan uang donasi pengobatan istrinya untuk bermain judi daring."Pembawa acara itu membacakan narasi berita yang bersumber dari fitnah akun palsu buatan Argan.Layar televisi langsung menampilkan tangkapan layar akun Twitter yang menyebarkan bukti mutasi palsu tersebut. Ribuan komentar netizen terlihat membanjiri unggahan itu dengan hujatan kasar."Bapak lihat sendiri kan? Stasiun televisi nasional aja langsung kemakan sama berita hoaks buatan anak buah Bapak."Aku menggelengkan kepala melihat betapa rusaknya sistem verifikasi media massa di negara kita ini."Publik sekarang bakal nuduh bapakmu cuma cari

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 209

    "Kita harus keluar dari rumah sakit ini sekarang juga lewat pintu darurat belakang. Aku nggak mau wajahku masuk kamera wartawan murahan di lobi bawah sana."Argan langsung menarik pergelangan tanganku dengan cengkeraman jari yang sangat kuat. Pria ini menarik tubuhku menjauhi ranjang medis tempat ibuku sedang tertidur pulas."Aku mau di sini aja nemenin ibuku, Pak! Tolong jangan seret aku pergi lagi hari ini!"Aku mencoba melepaskan tanganku sambil menahan langkah kakiku di atas lantai keramik."Ibumu udah aman dijagain sama perawat rumah sakit ini. Kamu harus ikut aku balik ke Jakarta sekarang juga."Argan sama sekali tidak peduli dengan penolakanku siang ini. Dia menyeret tubuhku keluar dari kamar VIP dan menyusuri lorong rumah sakit.Kami masuk ke dalam lift khusus karyawan medis di bagian belakang gedung tinggi ini. Pintu lift terbuka di area parkir bawah tanah yang sangat sepi dan juga lumayan gelap.Sopir pribadi Argan sudah men

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 208

    Argan menepis tanganku dan memberikan ancaman kekerasan fisik secara terang-terangan kepadaku. Pria ini benar-benar menghalalkan segala cara untuk membungkam saksi kunci kejahatan masa lalunya.Kami berdua menunggu laporan hasil pengejaran dari anak buah Argan di dalam kamar rawat inap ibuku. Aku duduk lemas di atas sofa sudut ruangan sambil terus berdoa untuk keselamatan bapakku di jalan raya.Argan berdiri mondar-mandir di depan jendela kaca ruangan dengan raut wajah yang sangat tegang dan kaku. Waktu berjalan terasa sangat lambat dan menyiksa seluruh sisa kewarasanku pada siang hari ini. Suara detak jarum jam dinding di kamar VIP ini terdengar sangat nyaring memecah keheningan medis.Ponsel Argan tiba-tiba berdering memunculkan panggilan masuk dari sebuah nomor telepon seluler asing. Pria itu langsung menekan tombol terima panggilan dan mengaktifkan mode pengeras suara ponselnya."Halo, ini siapa? Anak buahku udah berhasil nangkap bapak mertuaku di jal

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 207

    Aku langsung berlari mendahului Argan menuju arah lift penumpang di ujung lorong bangunan ini.Aku sangat khawatir dengan kondisi ibuku yang ditinggal sendirian di dalam kamar perawatan intensif. Pintu lift terbuka dan aku langsung masuk disusul oleh Argan dari arah belakang punggungku.Aku menekan tombol lantai tiga dan langsung berlari menyusuri lorong kamar rawat inap VIP. Tanganku mendorong pintu kamar nomor tiga belas dengan pergerakan dorongan yang lumayan kasar.Ibuku terlihat sedang tertidur pulas di atas ranjang medis dengan alat bantu pernapasan menempel di hidung. Kondisi fisiknya terlihat sangat stabil tanpa ada tanda-tanda gangguan pernapasan yang berbahaya siang ini."Syukurlah ibu baik-baik aja di ruangan ini sendirian."Aku bergumam pelan sambil berjalan mendekati letak pinggiran ranjang besi tersebut. Aku mengusap punggung tangan ibuku yang terpasang jarum infus dengan sangat lembut.Argan menyusul masuk ke dalam kamar rawat

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 206

    "Siapa orang yang berani ngambil tas kerja berisi dokumen asli itu dari dalam loker stasiun?!" Argan menuntut jawaban pasti sambil memajukan badannya sedikit ke arah depan."Orang yang ngambil tas kerja itu adalah pria paruh baya yang pakai kemeja usang, Bos. Wajahnya sangat persis sama wajah mertua Bos yang lagi nungguin istrinya di rumah sakit Puncak.""Bapakku yang ngambil tas kerja itu dari dalam loker stasiun sentral?"Aku bertanya dengan suara yang sangat pelan dan juga bergetar. Dadaku terasa sangat sesak mendengar nama ayah kandungku disebut dalam laporan pengawal itu."Kamu pura-pura kaget sekarang di depanku, Nara?! Kamu pasti udah sekongkol sama pria tua itu buat ngambil dokumen aslinya!"Argan membentak keras sambil menatap lurus ke arah kedua bola mataku pagi ini."Aku sama sekali nggak pegang hape dari semalam, Pak Argan! Gimana caranya aku ngasih tahu kode loker itu ke bapakku di Puncak sana?!"Aku membela diri dengan n

  • Jangan Baca Novel Ini!   Bab 205

    Argan memberikan instruksi kepada salah satu pengawalnya yang berdiri di dekat pintu. Pengawal berbaju hitam itu langsung merampas ponsel pintar dari dalam tas milik Felicia.Dia mengarahkan lensa kamera lurus ke arah wajah wanita modis yang sedang hancur tersebut. Felicia terpaksa mengucapkan semua kalimat kebohongan itu dengan suara yang bergetar hebat.Wanita ini mengakui semua perbuatan kotor yang sebenarnya murni dilakukan oleh Argan sendiri. Aku menatap proses perekaman video itu dengan perasaan mual yang sangat luar biasa besar.Kekuasaan uang benar-benar bisa mengubah pelaku kejahatan utama menjadi korban yang tak bersalah. Semua orang di ruangan ini hanya bisa diam menonton sandiwara kotor buatan suamiku."Udah selesai, Bos. Videonya udah saya unggah ke semua akun media sosial resmi milik Nyonya Felicia."Pengawal itu menekan tombol kirim dan melaporkan hasil kerjanya kepada Argan. Dia mengembalikan ponsel mahal itu ke atas permukaan meja

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status