LOGINPRAANG!
Di seberang sana, Pak Argan yang tadinya sedang menunduk kesakitan, tiba-tiba langsung menegakkan kepalanya setelah mendengar bunyi di ujung kamarnya. Dia menoleh pelan, sangat pelan, ke arah dinding pembatas, tepat ke arah di mana aku sedang mengintip.
Jantungku rasanya berhenti berdetak.
"Jangan lihat ke sini, jangan, kumohon jangan lihat ke sini... "
Tapi doa orang maksiat sepertinya memang susah dikabulkan.
Pak Argan bangkit dari duduknya, berjalan perlahan mendekati dinding itu. Matanya yang tajam menyipit, mencari sumber suara yang tadi mengganggu pendengarannya.
Aku ingin lari, ingin menarik kepalaku menjauh, tapi tubuhku kaku seolah dipaku di tempat karena rasa takut membuatku lumpuh total.
Pak Argan berhenti tepat di depan lubang kecil itu. Jarak kami sekarang mungkin hanya terpisah beberapa sentimeter dinding beton. Dia mendekatkan wajahnya, meneliti permukaan dinding kamarnya yang tertutup dipenuhi foto, sampai akhirnya matanya menangkap sebuah titik kecil yang tidak wajar.
Lalu, hal yang paling mengerikan dalam hidupku terjadi. Dia mendekatkan satu matanya ke lubang itu. Dan saat itu juga, mata kami bertemu.
Bola mata cokelat gelap milik Pak Argan menatap lurus ke dalam bola mataku.
Aku tersentak mundur, jatuh terduduk di lantai dengan napas memburu. "Dia lihat aku. Sumpah nggak bohong, dia beneran lihat aku!"
Aku merangkak mundur menjauhi dinding itu seolah-olah tembok itu bisa mibuan hidup-hidup. Tapi aku tahu, ini sudah terlambat!
"Buka! Saya tahu kamu di dalam!" Suara baritone yang berat dan penuh emosi itu menembus pintu kayu lapuk kamarku, membuatku yang masih melamun ini terbangun seketika.
Dengan tangan gemetar hebat dan lutut yang rasanya seperti jeli, aku mibusakan diri turun dari kasur, melangkah gontai menuju pintu sambil merapikan daster batik lusuh yang kupakai tidur.
Dalam hati, aku sudah menyusun seribu satu alasan, mulai dari pura-pura tuli, pura-pura mati, sampai pura-pura gila, tapi rasanya tidak ada satu pun skenario itu yang bakal mempan menghadapi Pak Argan.
Cklek.
Baru saja kunci pintu kuputar setengah, pintu itu sudah didorong paksa dari luar dengan kasar. Tubuhku sampai terhuyung mundur, hampir saja terjengkang menabrak tumpukan kardus mi instan di sudut ruangan.
Pak Argan berdiri di sana mengenakan kaos polo hitam yang mencetak jelas otot-otot dadanya, rambutnya sedikit berantakan dan matanya merah menyala menatapku tajam.
"Na-Nara, ternyata kamu yang selama ini…" Pak Argan sepertinya terkejut, tapi aku cepat-cepat mengalihkan isu, meski aku sadar usahaku sia-sia.
"P-Pak Argan, Bapak ngapain malam-malam ke sini? I-ini kan kos putri, Pak. Kalau ibu kos lihat, nanti saya bisa diusir…"
"Hah, diusir? Hey, Bu Inem yang jaga kos, itu karyawanku. Asal kamu tahu, kos ini atas nama saya, Argan Dirgantara!"
Tanpa permisi, dia melangkah masuk ke dalam kamar sempitku yang berantakan, lalu membanting pintu di belakangnya dan memutar kuncinya.
Klik!
Kini hanya tinggal kami berdua di kamar kosku yang sempit ini.
Pak Argan menunjukkan sifat aslinya dan membuatku berdiri dengan kaki gemetar. Di-di-dia benar-benar marah padaku. Bahkan denganku yang hanya gadis mungil nan ramping dan rambut kuncir kuda, dia tetap memperlakukanku layaknya tersangka.
Matanya menyapu seluruh isi kamarku dengan tatapan jijik bercampur marah. Dia memindai satu per satu. Mulai dari kasur lantai yang sprei-nya sudah kusut, tumpukan baju kotor di kursi, sampai akhirnya pandangannya berhenti tepat di satu titik.
Poster boyband Korea yang sobek setengah di dinding.
Dia berjalan mendekat ke sana, mengulurkan tangannya, dan merobek sisa poster itu sekali tarik sampai terlepas sepenuhnya dari dinding.
Lubang kecil seukuran paku payung itu kini terpampang nyata, menjadi saksi bisu kejahatan voyeurisme yang sudah kulakukan berhari-hari.
"Jadi ini kerjaan kamu selama ini?" Dia berhenti sejenak, menoleh padaku, menunjuk lubang itu dengan dagunya. "Kamu pikir saya ini apa, Nara?"
Aku mundur selangkah demi selangkah sampai punggungku menabrak lemari plastik. Keringat dingin mengucur deras di pelipis.
Habis sudah.
Aku pasti bakal dilaporkan ke polisi, dipenjara.
Aku juga bakal di-DO dari kampus.
Paling parah, namaku bakal masuk berita kriminal di koran lampu merah dengan judul: Mahasiswi Mesum Terciduk Mengintip Dosen Ganteng.
Ahh, judul itu terlalu bagus buat Pak Argan, bisa ganti ga, sih?
Bentar, aku ini tersangka, kenapa aku harus memikirkan judul headline berita.
Alah, kenapa sih sama otakku ini, cepat mikir lahh, gimana solusinya? Gimana biar kamu ga dipenjara atau di-DO gara-gara perkara ini?
"Ma-maaf, Pak! Sumpah saya nggak bermaksud jahat! I-i-itu lubangnya udah ada dari sananya, Pak! Saya cuma iseng, be-be-beneran!"
"Iseng?" Pak Argan mendengus kasar, lalu berjalan mendekati meja kecil di mana laptopku masih terbuka menyala.
Sial beribu sial.
Laptopku menampilkan naskah novel yang semalam lupa kututup karena aku terlalu panik bertatap mata dengan Pak Argan tadi.
"Iseng sampai kamu jadikan tontonan itu sebagai ladang uang, begitu?"
Tangan besarnya membalik laptopku, membaca deretan kalimat di layar yang menampilkan Bab 2, bab di mana aku mendeskripsikan adegan panas ketika Felicia terus mendesah tapi Pak Argan seperti tidak menikmati.
Aku ingin lari merebut laptop itu, tapi tatapan Pak Argan membuat kakiku terpaku di lantai. Dia membaca paragraf demi paragraf dalam diam. Ekspresi wajahnya yang semula penuh amarah perlahan berubah.
Aku hanya bisa duduk, mengamati matanya yang memahami kalimatku satu per satu.
Semua rentetan kejadian yang aku lihat kemaren, semua sudah dia baca, tapi begitu dia melihat notesku, di situ tertulis jelas seputar kerangka bab 3 novelku.
Pak Argan menatapku sejenak, lalu memintaku duduk tepat di sebelahnya. Lengan kiri gagahnya merangkul leherku, seolah bersiap mematahkan leherku jika aku menulis sesuatu yang tidak-tidak tentangnya. Namun, yang aku pikirkan malah tidak terjadi sama sekali.
Pria itu menyipit saat membaca bagian kerangka tentang perasaan hampa yang dirasakan tokoh prianya.
Aku menunggu dia meledak marah, menampar meja, atau membanting laptopku, tapi reaksi yang dia berikan justru di luar dugaan.
"Dari mana kamu tahu?" tanyanya pelan.
"Tahu, tahu, tahu apa, Pak?"
"Perasaan ini." Jari telunjuknya mengetuk kertas di notesku, tepat di bagian yang aku beri pembatas seperti awan untuk menandai kalau itu bagian penting.
"Pak, sa-sa-saya hanya menerka-nerka dari ucapan pacar Bapak saja. Sumpah, saya tidak ada niatan menjelek-jelekkan nama Bapak, atau bahkan menuduh Bapak menderita penyakit itu. Sumpah demi apapun, Pak, saya tidak ada niatan buruk ke Bapak."
Tanpa menunggu jawaban dariku lagi, Argan langsung menarik tuas pembuka pintu pengemudi. Pria tinggi berotot itu keluar dari dalam mobil dan berdiri tegak di jalanan. Dia langsung menutup pintu logam mobilnya dengan bantingan dorongan yang sangat keras.Aku melihat pria tampan itu berdiri gagah menghadapi dua orang berbadan besar. Argan sama sekali tidak menunjukkan rasa takut pada otot wajahnya siang ini. Padahal, dua pria di depannya sedang memegang erat tongkat kayu pemukul kasti."Kamu sangat berani, melawan kami berdua, tanpa menggunakan senjata." Preman berjaket hitam itu tersenyum mengejek lurus ke arah wajah Argan."Aku hanya butuh kedua tanganku, untuk menghancurkan susunan tulang rahang kalian." Argan membalas ejekan lisan pria itu dengan nada suara sangat merendahkan.Sebab amarahnya terpancing ejekan, preman itu langsung mengayunkan tongkat kayunya tinggi-tinggi. Pria berbadan besar tersebut memukul lurus ke arah kepala dosen pembimbingku. Nam
Argan langsung menginjak pedal rem dengan sangat kuat dan juga mendadak. Ban mobil kami bergesekan keras dengan permukaan aspal jalanan pada siang hari ini. Suara decitan ban terdengar sangat nyaring memekakkan telingaku sesaat sebelum mobil ini berhenti."Sialan, mereka sudah merencanakan pencegatan ini, dengan sangat matang." Argan memukul setir kemudi menggunakan kedua telapak tangannya secara bersamaan.Jarak antara bagian depan mobil kami dan mobil van itu sangatlah dekat. Kami benar-benar terjebak karena jalanan ini cukup sempit untuk memutar balik badan mobil. Aku menoleh ke arah belakang untuk mencari celah jalan keluar dari sana."Mobil suruhan Felicia yang lain, juga sudah menutup jalan, dari arah belakang." Aku melaporkan kondisi jalan di belakang kami dengan suara yang bergetar hebat."Mereka sengaja menjebak kita berdua, tepat di tengah jalan sempit ini, Nara."Kondisi kami berdua saat ini benar-benar terkepung dari arah depan maupun b
Argan membuka selot pintu besi itu menggunakan gerakan tangan yang cekatan. Pintu tersebut langsung terbuka dan menampilkan susunan anak tangga berkarat di luarnya. Udara panas siang hari kembali menyentuh kulit wajahku seketika.Tiba-tiba, dobrakan sangat keras menghancurkan pintu kayu kamarku sepenuhnya. Daun pintu itu jatuh menabrak lantai keramik dengan suara yang sangat bising. Aku menoleh sedikit dan melihat beberapa pria berbadan besar masuk ke kamarku."Itu mereka berdua, sedang mencoba kabur, lewat pintu belakang!" teriak Dokter Hadi sambil menunjuk lurus ke arah kami berdua."Tangkap mahasiswi miskin itu, dan seret dia, ke hadapanku sekarang!"Felicia memberikan perintah langsung dari arah lorong luar kamar kosku. Mendengar teriakan wanita itu, rasa takutku kembali membesar memenuhi dadaku. Argan langsung mendorong punggungku keluar menuju tangga besi dengan cepat."Turun lewat tangga ini, dan jangan melihat ke belakang lagi, Nara." Pria
"Iya, wanita itu datang, dan memberikan ancaman langsung."Aku menjawab pertanyaannya sambil berjalan pelan mendekati letak kasur."Bagaimana Bapak bisa tahu, kejadian di dalam perpustakaan itu?" tanyaku meminta penjelasan darinya."Aku menyuruh penjaga perpustakaan, untuk terus memantau pergerakanmu," jelas Argan sambil berdiri dari atas kursi kayunya.Argan melangkah mendekati posisiku berdiri di tengah ruangan sempit ini. Pria itu menatap wajahku dengan tatapan mata yang sangat serius. Rahang bawahnya kembali mengeras untuk menahan emosi yang sangat besar."Felicia sudah bertindak terlalu jauh, dari batas kesabaranku." Argan mengepalkan kedua telapak tangannya dengan sangat kuat."Wanita itu menunjukkan foto kita, saat berada di lorong kampus." Aku melaporkan bukti yang Felicia bawa kepadanya siang ini."Foto gelang perak itu, bisa menjadi masalah besar, bagi kita berdua.""Aku sudah melihat, rekaman kamera keamanan, tentang
Fika berjalan pergi meninggalkanku sendirian di depan ruang kelas. Aku langsung melangkah menuju gedung perpustakaan pusat yang ada di sebelah fakultas. Suasana perpustakaan selalu sepi sehingga sangat cocok untuk berkonsentrasi menulis.Aku masuk ke perpustakaan dan mencari tempat duduk kosong di sudut ruangan. Setelah menemukan meja yang pas, aku segera mengeluarkan laptopku. Tanganku menekan tombol daya untuk menyalakan perangkat elektronik tersebut.Layar laptopku menyala dan menampilkan dokumen skripsi yang belum selesai. Aku mulai mengetik lanjutan bab dua yang sempat tertunda tadi malam. Jari-jariku bergerak menekan tombol papan ketik dengan ritme yang stabil."Aku harus menyelesaikan, lima halaman skripsi ini, siang ini juga." Aku memberikan target kerja pada diriku sendiri.Sekitar satu jam berlalu, aku berhasil mengetik tiga halaman penuh berisi teori. Penjelasan Argan tentang kondisi medisnya sangat membantuku menyusun analisis ini. Aku bisa me
Saat terbangun, tanganku langsung meraba bagian samping bantal tidur. Aku mencari keberadaan ponsel pintar milikku di atas kasur tipis ini. Jari-jariku berhasil menyentuh benda elektronik tersebut dengan cepat.Aku menghidupkan layar ponsel untuk melihat penunjuk waktu. Angka di layar menunjukkan pukul tujuh pagi lewat tiga puluh menit. Lalu, mataku melihat sebuah pemberitahuan dari aplikasi bank di layar utama."Uang royaltiku sudah masuk, ke dalam rekening bank, pagi ini." Aku berbicara sendiri sambil tersenyum sangat lebar."Jumlah uang ini sangat cukup, untuk melunasi biaya kuliahku, semester ini."Perasaan lega langsung memenuhi seluruh bagian dadaku seketika. Ancaman putus kuliah akhirnya benar-benar hilang dari hidupku. Aku segera beranjak bangun dari atas kasur untuk bersiap pergi ke kampus.Kemudian, aku mandi dan memakai pakaian rapi untuk pergi kuliah. Kemeja putih dan celana kain hitam menjadi pilihanku pagi ini. Aku juga memasukkan lap







