Share

Bab 2

Author: Niana
Sesampainya di kamar, aku diam-diam mulai membereskan barang-barang.

Saat membuka lemari, aku melihat mantel kasmir, gaun tidur sutra, tas edisi terbatas ….

Dulu ketika hidupku masih serba kekurangan, aku jelas tidak tega membeli barang-barang itu. Namun, Hans selalu melengkapinya satu per satu.

Aromaterapi di atas meja diracik sendiri olehnya. Tirai pun diganti kembali dengan warna hijau tua yang kusukai ….

Selama dua tahun aku kembali ke Keluarga Slemiz, dia seolah-olah telah kembali menjadi pemuda yang seluruh hatinya hanya berisi aku.

Namun, aku yang sekarang tak akan lagi luluh hanya karena beberapa kata-kata manis.

Aku hanya mengambil beberapa potong pakaian yang kukenakan saat dulu dipaksa kembali ke rumah ini.

Baru saja kumasukkan ke dalam koper, Hans masuk.

Dia menarik pergelangan tanganku, memasangkan kembali gelang ke tanganku, lalu memerintah dengan nada tak terbantahkan, “Simpan baik-baik! Jangan pernah memberikannya kepada orang lain lagi!”

Aku mengangkat kepala dengan kaget, tak menyangka dia akan meminta kembali gelang ini dari Sully.

Tatapan Hans menyapu koperku, lalu alisnya seketika berkerut.

“Kamu cuma bawa ini saja?”

Aku menjawab dengan tenang, “Barang yang bukan milikku nggak perlu dibawa.”

Amarah kembali bergejolak di mata Hans. Lagi-lagi aku berhasil membuatnya murka.

“Kalau kamu memang nggak mau, barang-barang ini pun nggak ada gunanya disimpan.”

“Pelayan. Keluarkan semua barang yang kubelikan untuk Nyonya Slemiz dan bakar semuanya.”

“Mulai sekarang, setiap kali dia mau menggunakan barang apa pun, dia harus meminta izin kepada Sully.”

Ekspresiku tidak berubah. Aku menarik koper dan berbalik meninggalkan kamar.

Baru saja sampai di tikungan tangga, seseorang tiba-tiba mendorongku dengan kuat.

Tubuhku terguling menuruni tangga.

Lututku tergores hingga terasa perih membakar.

Jordan berdiri di atas tangga, menatapku dari atas dengan penuh kebencian.

“Kamu sama sekali nggak berubah menjadi lebih baik! Semua ini cuma pura-pura! Kamu sengaja mengadu domba ayah dan tante!”

“Aku peringatkan, kalau kamu berani menyakiti tante lagi, aku nggak akan pernah mengakui kamu sebagai ibuku!”

Usai mengatakan itu, matanya melihat jimat keselamatan yang menyembul dari saku bajuku. Dia langsung merampasnya.

“Kembalikan!”

Aku memaksakan tubuhku untuk bangkit dan merebutnya.

Itu adalah jimat yang kudapatkan setelah berlutut selama tiga hari tiga malam demi memohon keselamatan untuk ibuku.

Jordan menggoyang-goyangkan jimat itu dengan ekspresi penuh kemenangan.

“Kalau kamu menyakiti tante sekali, aku akan menghancurkan satu barang milikmu. Biar kamu nggak berani menyakiti tante lagi!”

Dia merobek jimat itu hingga hancur berkeping-keping.

Potongan-potongan kertas jimat berwarna kuning terang berjatuhan di atas tubuhku. Kesabaran terakhir yang selama ini kutahan akhirnya benar-benar runtuh.

Aku menampar wajahnya dengan keras, lalu berkata dengan suara dingin, “Hal yang paling kusesali dalam hidup ini adalah memberikan jantungku sendiri kepadamu.”

“Kalau kamu begitu menyukai Sully, anggap saja dia sebagai ibumu. Itu akan lebih baik.”

Jordan menutupi pipinya. Matanya dipenuhi keterkejutan.

Aku tidak lagi memedulikannya. Sambil menahan rasa sakit, aku berjalan terpincang-pincang menuju kamar pembantu yang sempit dan sederhana.

Saat sedang membersihkan lukaku sendiri, pintu kamar tiba-tiba ditendang hingga terbuka.

Hans menerobos masuk dengan penuh amarah.

“Cindy, teganya kamu sampai harus memukuli anak ….”

Begitu melihat luka-luka di sekujur tubuhku, suaranya mendadak terhenti.

“Kenapa kamu bisa terluka separah ini?”

Dia menggendongku ke tempat tidur, lalu membalut luka-lukaku dengan lembut.

Pada momen itu, aku seolah-olah melihat dirinya kembali seperti dulu.

Mataku seketika terasa panas.

“Cin.”

Tatapan Hans berubah. Dia membungkuk dan hendak menciumku.

Aku refleks memalingkan wajah untuk menghindari sentuhannya.

Hans tertegun.

Dia mencengkeram daguku dengan kuat, lalu menciumku dengan brutal.

Rasa amis darah perlahan memenuhi bibirku. Aku membiarkannya melakukan semua itu dengan tubuh kaku, sementara berbagai potongan kenangan berkelebat di benakku.

Saat telapak tangannya yang hangat menyusup ke kerah bajuku, perutku seketika terasa bergolak.

Aku langsung mendorongnya menjauh, membungkuk di sisi tempat tidur, lalu muntah-muntah.

“Cindy!” Ekspresi Hans berubah sangat jelek.

“Sebegitu jijiknya kamu kepadaku?”

Aku mengusap sudut bibirku sambil menundukkan mata dengan acuh tak acuh.

“Maaf, tubuhku sedang nggak sehat. Kalau kamu butuh, sebaiknya cari Sully saja.”

Tatapan Hans dipenuhi rasa sakit. Suaranya bergetar. “Kamu mau mengusirku?”

“Cindy, sudah tak terhitung berapa kali kukatakan. Setelah kamu pergi, aku nggak pernah menyentuh wanita lain. Aku menjaga Lyly hanya karena itu adalah pesan terakhir ayahmu sebelum meninggal.”

Aku menatapnya dengan tenang.

“Aku percaya padamu. Kalian nggak berbuat aneh-aneh.”

Urat di pelipis Hans semakin menonjol. Dia menendang tempat sampah hingga terjungkal, lalu membanting pintu dan pergi.

Tak lama kemudian, permintaan panggilan video dari Hans tiba-tiba muncul di ponselku.

Aku ragu sejenak sebelum menerimanya.

Suara desahan Sully yang lembut dan menggoda langsung menggema di dalam kamar.

Di layar, Hans mencengkeram pinggang Sully dan menahannya di depan foto pernikahan kami.

Tangan Sully menekan wajahku yang terpampang di foto, meninggalkan bekas telapak tangan yang basah.

Dia menatapku melalui layar. Sudut bibirnya terangkat penuh kemenangan.

“Hans, pelan. Kakak sedang melihat kita.”

Hans sengaja mengarahkan kamera ke ranjang. Suaranya dipenuhi nada dingin seolah ingin membalas dendam.

“Kalau kamu nggak percaya, biar kubuktikan semua prasangkamu!”

“Lihat bagaimana aku dan Lily saling bermesraan.”

“Sebelum kami berhenti, kamu nggak boleh menutup telepon!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Bertemu Lagi untuk Selamanya!   Bab 9

    Hans masih belum mau berhenti.Seperti orang gila, dia terus menyelidiki siapa yang dulu membantuku memalsukan kematian. Seolah-olah begitu dia menemukan orang itu, waktu bisa diputar kembali dan aku bisa hidup lagi.Pada akhirnya, usahanya membuahkan hasil.Dengan mengikuti sedikit demi sedikit petunjuk yang tersisa, dia akhirnya sampai ke perbatasan barat daya.Dia terbang ke sana semalaman.Namun, apa yang ditemuinya bukanlah seorang dukun atau ahli ilmu gaib, melainkan seorang lelaki tua yang mengenakan seragam militer.Hans langsung berlutut.“Mohon beri tahu saya, di mana dia?”Pria tua itu menggeleng pelan. Nadanya tenang, tetapi tidak memberi ruang untuk dibantah.“Dulu aku membantunya karena berhutang nyawa kepada ibunya. Karena itu, aku memalsukan surat kematiannya dan membantunya melarikan diri.”Mata Hans langsung berbinar. “Kalau begitu, kali ini ….”“Nggak bisa.”Pria tua itu memotong ucapannya dengan nada datar.“Dulu dia masih hidup, jadi aku bisa membantunya bersembuny

  • Jangan Bertemu Lagi untuk Selamanya!   Bab 8

    Hans tidak percaya bahwa aku sudah mati.Meskipun para tenaga medis sudah berkali-kali mengonfirmasi kematianku, meskipun tubuhku telah lama kehilangan suhu dan menjadi kaku, dia tetap mengangkat tubuhku dengan hati-hati dan mata memerah, lalu menaruhku ke dalam ruang pendingin yang diperintahkannya untuk dibuat dalam waktu satu malam.Hans mulai gila-gilaan mencari bukti.Dia memeriksa seluruh rekaman CCTV di rumah dan menelusuri semua catatan rumah sakit.Dia bersikeras percaya bahwa aku belum mati.“Tiga tahun lalu dia bisa memalsukan kematiannya sekali, artinya dia juga bisa melakukannya untuk kedua kalinya.”Pada hari ketiga, dia mengemudikan mobil sendiri menuju rumah perawatan.Dia ingin membawa ibuku pulang ke Keluarga Slemiz.Namun, ketika pintu kamar dibuka, tempat tidur di dalamnya sudah kosong.Hans tertegun.“Di mana orangnya?”Kepala perawat menundukkan kepala.“Nyonya Yenny … sudah meninggal tiga hari yang lalu.”“Nggak mungkin!”“Aku memberinya fasilitas medis terbaik!

  • Jangan Bertemu Lagi untuk Selamanya!   Bab 7

    Sirene ambulans semakin menjauh, sementara jejak darah di taman bermain segera dibersihkan.Sully menepuk-nepuk rok yang dikenakannya, lalu berbalik menuju tempat parkir.Jordan masih berdiri di tempat, menatap kosong permukaan tanah yang baru saja disiram hingga bersih.“Tante … kita nggak ikut pergi ke rumah sakit?”Sully bahkan tidak menoleh.“Di rumah sakit penuh virus, sementara aku sedang hamil. Kalau aku pergi ke tempat seperti itu, bagaimana kalau sampai memengaruhi bayiku?”Jordan menatap perutnya, lalu mengangguk seolah mengerti.Tante tidak pergi ke rumah sakit karena takut melukai adik.Ibu pernah bilang bahwa bayi itu sangat rapuh.“Kalau begitu … kita tunggu ayah pulang dulu, baru nanti kita pergi melihat ibu?”Sully tidak menjawab. Dia sudah membuka pintu mobil dan langsung duduk di kursi penumpang depan.Jordan membuka pintu belakang. Saat melihat kursi kosong di sana, dia merasa sedikit takut.Dia pun berkata dengan suara pelan, “Tante, bisakah Tante menemaniku duduk d

  • Jangan Bertemu Lagi untuk Selamanya!   Bab 6

    Saat mata pisau menembus dadaku, darah langsung menyembur deras.Jantung buatan sepenuhnya berhenti berdetak.Tubuhku tiba-tiba kehilangan berat dan perlahan melayang ke atas.Dalam pandanganku yang kabur, wajah Hans tampak terdistorsi. Dia berteriak sekuat tenaga, “Cindy!”Jiwaku terasa semakin ringan. Kemudian, aku melihat diriku yang lain terkulai lemas dalam pelukan Hans. Darah terus mengalir deras dari luka di dadaku.Hans menekan lukaku kuat-kuat dengan kedua tangannya, berusaha menghentikan aliran darah.Namun, semakin kuat dia menekan, semakin deras pula darahku mengalir, sampai merembes melalui sela-sela jarinya dan tak kunjung berhenti.“Cindy! Cindy!”Dia memanggil namaku berkali-kali dengan suara bergetar.“Lihat aku! Jangan tidur! Kamu nggak boleh tidur!”Jordan terpaku di tempat. Mulutnya terbuka, tetapi tidak mampu mengeluarkan suara sedikit pun.Dengan mata memerah, Hans berteriak histeris ke orang-orang di sekitarnya, “Dokter! Panggil ambulans! Cepat!”Kerumunan langsu

  • Jangan Bertemu Lagi untuk Selamanya!   Bab 5

    “Lyly! Lyly!”Teriakan Hans menarik kembali kesadaranku yang mulai buyar.Dia membantuku bangkit, lalu memasukkan obat darurat ke dalam mulutku dengan tangan gemetar. Efek obat perlahan mulai bekerja. Rasa nyeri yang mencengkeram jantungku pun sedikit mereda.Begitu menoleh, aku melihat Jordan berdiri dengan leher tertegak. Wajahnya penuh ketidakpuasan.Hans menamparnya dengan keras.“Berengsek! Siapa yang menyuruhmu membuang obat ibumu?”Jordan langsung menangis terisak-isak.Sully segera menariknya ke dalam pelukan dan menenangkannya.“Kak Hans, jangan terlalu keras pada anak. Dia masih kecil, nggak mengerti hal-hal seperti ini.”Sambil berkata begitu, dia mengeluarkan sebuah rekam medis operasi yang telah dipalsukan.“Aku sebenarnya nggak mau mengatakannya, tetapi kakak sudah keterlaluan.”“Dia sudah lama menjalani transplantasi jantung. Kondisi tubuhnya sebenarnya nggak selemah itu.”Hans membaca rekam medis itu dengan cepat. Tatapannya seketika berubah dingin.“Kamu sudah lama se

  • Jangan Bertemu Lagi untuk Selamanya!   Bab 4

    “Jangan!” Hans memelukku erat. Nadanya seketika melunak.“Maaf. Tadi aku bicara tanpa berpikir panjang.”“Cin, aku hanya menganggap Sully sebagai adik. Dia terlalu sensitif. Dia takut setelah ayah meninggal, kita akan mengusirnya. Karena itu, dia memberiku obat.”“Aku bersumpah, itu hanya terjadi sekali. Ke depannya nggak akan pernah terjadi lagi.”“Pikirkan Jordan. Dia baru saja mendapatkan jantung yang sehat. Kamu tega membuatnya kehilangan keluarga?”Pada saat itu, hatiku goyah.Seberapa pun marahnya aku, Jordan tetaplah anak yang kukandung selama sepuluh bulan.“Aku bisa memberimu satu kesempatan lagi. Tapi, kamu harus mengusir Sully, menggugurkan anak di dalam kandungannya, dan memutuskan hubungan dengannya untuk selamanya.”Hans terdiam sejenak. Pada akhirnya, dia mengertakkan gigi dan mengangguk.“Baik, aku berjanji.”Dia menghapus semua kontak Sully di hadapanku.Setiap hari dia pulang tepat waktu dan bersikap lembut serta penuh pengertian kepadaku.Bahkan Jordan pun menahan em

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status