Mag-log inTangan Nayla gemetar saat kembali membaca lembaran pemeriksaan yang ditemukan di bawah bantal Naufal. Matanya menyusuri setiap baris tulisan di atas kertas itu, berharap dirinya salah memahami sesuatu. Namun, semakin lama dia membaca, semakin sesak pula dadanya. Air matanya jatuh tanpa disadari. Nayla segera mengusap pipinya, tetapi air mata berikutnya kembali mengalir. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, dia ingin membangunkan Naufal dan meminta penjelasan. Namun, di sisi lain, dia takut mendengar jawaban yang mungkin akan menghancurkan ketenangannya. Selama ini, Naufal selalu berusaha terlihat kuat di hadapannya. Bahkan setelah pingsan di rumah sakit, pria itu masih sempat bercanda dan meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja. Nayla sempat percaya, meskipun jauh di dalam hatinya ada sesuatu yang terasa janggal. Sekarang, keberadaan kertas itu membuatnya semakin yakin bahwa suaminya memang sedang menyembunyikan sesuatu. Tiba-tiba, Naufal menggeliat di atas ran
“Astaga! Naufal!”Nayla langsung berlari menghampiri suaminya begitu melihat jari Naufal berdarah dan pisau tergeletak di lantai. Tanpa berpikir panjang, dia meraih tangan Naufal, lalu mengisap darah yang keluar dari luka di jarinya.“Aduh, Sayang!” Naufal meringis kesakitan. “Pelan-pelan. Itu jariku, bukan permen!”Nayla segera menjauhkan wajahnya, kemudian menatap Naufal dengan mata membulat. “Kamu masih sempat bercanda? Lihat, tangan kamu berdarah begini!”“Cuma kegores sedikit, kok. Nggak perlu panik begitu.”“Sedikit apanya? Darahnya sampai keluar begitu!”Naufal mengangkat tangannya, memperhatikan luka kecil di jari telunjuknya. “Aku baik-baik saja, Sayang. Kamu nggak perlu khawatir.”“Mulai sekarang, kamu nggak boleh masak lagi!”Naufal langsung menoleh. “Lho, kenapa?”“Kenapa? Kamu masih tanya kenapa?” Nayla menunjuk jari suaminya. “Tadi di rumah sakit kamu sampai pingsan, sekarang malah melukai diri sendiri saat memasak. Kalau begini terus, aku bisa gila karena khawatir!”“Ak
Adrian mengatupkan rahang begitu mendapat peringatan dari Naufal. Dia benar-benar ingin menjewer telinga sahabatnya itu, tetapi tentu saja tidak mungkin melakukannya di depan Nayla.Akhirnya, pria itu hanya bisa menarik napas panjang.“Baiklah. Kamu boleh pulang, tetapi dengan beberapa syarat.”Naufal langsung tersenyum puas mendengar itu. “Apa saja syaratnya?”“Kamu harus beristirahat. Jangan bekerja, jangan melakukan aktivitas berat, dan jangan mengabaikan keluhan sekecil apa pun. Kalau kamu merasa pusing, nyeri dada, sesak napas, jantung berdebar tidak biasa, atau merasa akan pingsan lagi, segera cari pertolongan medis. Jangan menunggu sampai keadaanmu memburuk!” tegas Adrian dengan nada sungguh-sungguh.“Siap, Dokter." Naufal mengangguk dengan tertawa kecil.“Dan pemeriksaan lanjutan tetap harus dilakukan. Secepatnya. Aku tidak mau mendengar alasan apa pun darimu.”“Iya, Dokter Adrian yang terhormat.”“Jangan menyindirku!”"Astaga!” Reza menghela napas. “Aku akan memastikan dia t
“Aku mau pulang.”Naufal mengucapkan kalimat itu begitu Adrian selesai memeriksa hasil pemeriksaan awalnya. Dokter spesialis jantung tersebut langsung mengernyit, sementara Reza yang berdiri di dekat ranjang hanya mengembuskan napas panjang.“Pulang ke mana? Kamu masih harus menjalani pemeriksaan lanjutan, Fal,” tegas Adrian.“Aku sudah merasa lebih baik. Kepalaku juga nggak pusing lagi. Jadi, buat apa aku terus berada di rumah sakit?” Naufal angkat bahunya.“Karena kamu tadi pingsan, Naufal!” Adrian menatapnya tajam. “Kamu pikir kejadian seperti itu bisa dianggap sepele hanya karena sekarang kamu merasa baik-baik saja?”Naufal menyandarkan punggungnya ke ranjang. “Aku nggak bilang kejadian tadi sepele. Aku cuma bilang ingin pulang.”“Dan aku bilang kamu belum boleh pulang.”“Adrian.”“Naufal.”Keduanya saling menatap dengan ekspresi tidak mau mengalah. Reza yang menyaksikan perdebatan itu akhirnya mengusap wajahnya sendiri. Dia sudah mengenal Naufal selama bertahun-tahun. Kalau sahab
Nayla masih memeluk Naufal ketika seorang perawat datang menghampiri mereka.“Bu Nayla, Dokter Lusi sudah datang. Beliau bisa memeriksa kandungan Ibu sekarang.”Nayla segera mengangkat kepala. “Benarkah?" Dia sempat melirik Naufal, lalu mengusap pipinya yang masih basah oleh air mata.“Oh, iya. Aku harus periksa kandungan lagi ke dokter Lusi, Na. Tadi kamu keburu pingsan sebelum selesai memeriksaku.”Naufal mengangguk dan tersenyum kecil. “Iya, Sayang. Sana, periksa dulu. Pastikan anak kita baik-baik saja ya." “Kamu sendiri juga harus diperiksa sampai benar-benar sembuh. Jangan malah menyuruh aku terus.” Nayla memasang wajah cemberut.“Iya, Bu Dokter.”“Jangan bercanda terus!” Nayla mencubit pelan lengan suaminya. Naufal tertawa kecil. “Iya, iya. Aku serius, kok.”Nayla kembali tersenyum saat menatap sang suami. Sepertinya masalah kecil mereka beberapa saat lalu, sudah mulai memudar karena kejadian Naufal yang barusan pingsan.Wanita itu beranjak hendak keluar ruangan. Namun sebelu
“Ke ... kenapa harus panggil dokter jantung? Apa yang terjadi sama Naufal?” tanya Nayla cemas. Pikirannya sudah kemana-mana.Dokter yang menangani Naufal belum sempat menjawab ketika dari arah lorong IGD terdengar suara seseorang.“Naufal?”Nayla spontan menoleh. Seorang pria dengan jas dokter berjalan mendekat. Begitu melihat kondisi di dalam ruangan, langkahnya terhenti.“Dokter Reza?” panggil Nayla lirih.Reza langsung mendekati ranjang tempat Naufal berbaring saat ini. Wajahnya berubah serius saat melihat Naufal terbaring tidak sadarkan diri dengan beberapa alat terpasang di tubuhnya.“Apa yang terjadi pada Naufal?” tanyanya, suaranya tegas dan tinggi penuh rasa khawatir.“Dokter Naufal tiba-tiba pingsan saat sedang memeriksa Bu Nayla, Dok,” jawab salah satu perawat.Reza terdiam, lalu segera memeriksa kondisi sahabatnya sebelum dokter spesialis jantung datang ke ruangan.Sebagai dokter spesialis penyakit dalam, dia terbiasa menangani berbagai kondisi akut dan tahu pemeriksaan apa
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny
What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk







