LOGINNayla masih berdiri di depan ruang tindakan dengan wajah pucat. Tangannya terus meremas ujung bajunya sendiri, sementara pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk."Kenapa lama sekali sih?" gumamnya dengan cemas.Setiap kali pintu ruang tindakan bergerak, Nayla langsung menoleh. Namun tidak ada Reza maupun dokter lain yang keluar.Ia mulai berjalan mondar-mandir di depan ruangan. "Naufal pasti baik-baik saja. Tadi pelurunya cuma menyerempet sedikit kan?"Namun bayangan ketika Dimas mengarahkan pistol kepada suaminya terus terputar di kepalanya. Suara letusan itu masih terngiang jelas di telinganya.Dor!Suara itu terus terngiang-ngiang. Nayla spontan menutup telinganya."Jangan," bisiknya dengan napas memburu.Ia memejamkan mata, tetapi justru melihat tubuh Naufal terjatuh di hadapannya. Meskipun akhirnya ia berhasil menembak Dimas."Tidak. Naufal nggak boleh kenapa-kenapa." Air matanya kembali mengalir.Nayla sudah diliputi perasaan cemas dan panik. Ia sama sekali tak bisa tena
Brak!Pistol terjatuh dari tangan seorang wanita yang berdiri beberapa meter dari Naufal. Napasnya terengah-engah, sementara kedua matanya telah dipenuhi air mata."Naufal!"Wanita itu langsung berlari menghampiri pria yang baru saja ditembak."Nayla?"Naufal tercengang melihat istrinya berlari ke arahnya. Ia bahkan hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.Nayla langsung memeluk tubuhnya dengan erat."Ya Tuhan... kamu nggak apa-apa?" Tangannya gemetar ketika memeriksa tubuh sang suami."Aku nggak apa-apa, Sayang."Naufal meringis sambil memegangi lengan kirinya. Peluru Dimas hanya menyerempet bagian lengannya karena Naufal sempat bergerak ketika Nayla menembak lebih dulu. Darah mulai membasahi kain bajunya.Nayla semakin panik."Lengan kamu berdarah!""Cuma luka tembak ringan.""Cuma?" Nayla menatapnya dengan air mata yang terus mengalir. "Kamu hampir ditembak tepat di depan mataku!"Naufal segera memegang kedua bahu istrinya."Bagaimana kamu bisa ada di sini?"Nayla terdiam.
Brak!Pintu gudang tiba-tiba didobrak hingga terbuka lebar. Beberapa pria langsung menerobos masuk. Mereka membawa pistol dan menyebar ke berbagai sisi gudang, membuat Reza, Aldo, Bara, dan Kevin spontan mencari perlindungan."Jangan keluar!" seru Naufal.Dor!Satu suara tembakan kembali dilepaskan ke arah atas pintu. Suaranya menggema keras di dalam gudang. Serpihan kecil dari bagian pintu berjatuhan ke lantai.Semua orang sontak menunduk mendengar itu."Apa-apaan ini?" Aldo berbisik panik.Dengan cepat, Reza menariknya menjauh dari pintu.“Jangan bergerak dulu!” sergahnya.Naufal mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya menyapu orang-orang yang baru saja masuk. Tidak ada yang terluka. Mereka hanya sengaja menembakkan pistol untuk menakut-nakuti.Kemudian dari tengah kerumunan itu, muncul seorang pria. Langkahnya terlihat santai. Kedua tangannya berkacak pinggang dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya.Naufal langsung membeku. Matanya membelalak begitu melihat sosok itu."Dimas?"
Naufal masih duduk di sisi tempat tidur dengan ponsel menempel di telinganya. Wajahnya semakin tegang mendengar penjelasan Reza dari seberang telepon."Reza, bagaimana Revan bisa kabur?" Suaranya bergetar.Nayla yang sejak tadi memperhatikan suaminya pun sontak ikut merasa cemas. Suara Reza di seberang telfon juga terdengar berat."Beberapa jam lalu aku bersama Aldo, Bara, dan Kevin membawa Revan ke markas tersembunyi sesuai perintahmu. Tapi di tengah perjalanan, salah satu ban mobil kami bocor. Awalnya kami pikir cuma masalah biasa, tapi ternyata itu jebakan. Begitu kami berhenti, beberapa orang tiba-tiba menyerang. Mereka sudah menunggu kami."“Apa?" Mata Naufal membeliak. "Lalu bagaimana kondisi kalian sekarang?""Kami semua baik-baik saja. Tapi mereka membawa Revan."Rahang Naufal mengeras. "Kau yakin mereka orang-orangnya?""Aku yakin mereka bagian dari kelompok Revan dan Dimas. Cara mereka menyerang terlalu terorganisir. Mereka jelas sudah tahu ke mana kami akan membawa Revan."
"Sarah?”Mata Marina membelalak, sebab orang yang saat ini berdiri di hadapannya adalah seorang wanita cantik dengan penampilan elegan. Rambut panjangnya tertata rapi, gaun hitam sederhana membalut tubuhnya dengan anggun, sementara sebuah tas mewah tergantung di lengannya."Maaf, Tante." Wanita itu tersenyum tipis, tetapi matanya seketika berkaca-kaca.Tanpa menunggu lebih lama, Sarah melangkah masuk lalu memeluk Marina erat. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling berpelukan dalam diam."Maafkan aku, Tante,” bisik Sarah dengan suara bergetar. "Aku baru pulang dari luar negeri. Aku bahkan nggak sempat datang ke pemakaman Arunika."Marina mengusap punggung wanita itu perlahan."Nggak apa-apa, Sayang. Tante tahu kamu pasti punya alasan.""Tapi dia sahabatku, Tante." Sarah melepaskan pelukannya dan mengusap sudut matanya. "Aku seharusnya ada di sini.""Arunika pasti tahu bahwa kamu sangat menyayanginya." Marina tersenyum sedih. Terlihat jelas dari pelupuk matanya yang terus menggenan
Naufal langsung berjongkok di depan Nayla. Tatapannya berpindah dari wajah istrinya yang pucat ke telapak kaki yang mulai mengeluarkan darah."Jangan bergerak dulu, Sayang.""Aku nggak kok apa-apa, Na. Cuma kena pecahan kaca sedikit.""Sedikit juga tetap harus dibersihkan. Udah, nurut aja sama suami kamu ini."Naufal kemudian mengambil sapu tangan bersih dari saku celananya, lalu menekannya perlahan pada telapak kaki Nayla untuk menghentikan darah.Namun Nayla justru masih memegangi dadanya. Jantungnya berdebar tidak beraturan, sementara perasaan gelisah itu semakin kuat tanpa alasan yang jelas."Naufal," panggilnya dengan suara lirih."Hm?""Kenapa aku merasa seperti akan terjadi sesuatu ya?" tanya Nayla pelan.Naufal menatap istrinya sejenak. Ia tahu beberapa minggu terakhir kondisi emosional Nayla memang belum sepenuhnya stabil. Karena itu, ia berusaha tidak membuatnya semakin cemas."Mungkin kamu cuma kecapekan setelah perjalanan jauh.""Tapi rasanya beda, Na." Nayla menggeleng pe
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny







