Share

163. Menemukan Bukti

Penulis: Mas Author
last update Tanggal publikasi: 2026-06-11 22:01:25
“Dimas?” Rianti masih berdiri di dekat pintu. Jantungnya belum juga tenang sejak melihat Dimas muncul di hadapannya.

"Kamu belum jawab pertanyaan Mama. Kenapa datang ke sini?" tanya Rianti dengan nada suara yang mulai meninggi.

Dimas tersenyum tipis. Ia melangkah mendekat, dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku celananya. Setiap langkah kaki yang mendekat, maka Rianti selangkah mundur ke belakang.

"Aku cuma ingin ketemu Mama. Apa aku salah?" tanya Dimas, dengan senyum miring di waja
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   300. Oh Tidak, Naufal!

    Brak!Pistol terjatuh dari tangan seorang wanita yang berdiri beberapa meter dari Naufal. Napasnya terengah-engah, sementara kedua matanya telah dipenuhi air mata."Naufal!"Wanita itu langsung berlari menghampiri pria yang baru saja ditembak."Nayla?"Naufal tercengang melihat istrinya berlari ke arahnya. Ia bahkan hampir tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.Nayla langsung memeluk tubuhnya dengan erat."Ya Tuhan... kamu nggak apa-apa?" Tangannya gemetar ketika memeriksa tubuh sang suami."Aku nggak apa-apa, Sayang."Naufal meringis sambil memegangi lengan kirinya. Peluru Dimas hanya menyerempet bagian lengannya karena Naufal sempat bergerak ketika Nayla menembak lebih dulu. Darah mulai membasahi kain bajunya.Nayla semakin panik."Lengan kamu berdarah!""Cuma luka tembak ringan.""Cuma?" Nayla menatapnya dengan air mata yang terus mengalir. "Kamu hampir ditembak tepat di depan mataku!"Naufal segera memegang kedua bahu istrinya."Bagaimana kamu bisa ada di sini?"Nayla terdiam.

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   299. Selamat Tinggal, Adikku

    Brak!Pintu gudang tiba-tiba didobrak hingga terbuka lebar. Beberapa pria langsung menerobos masuk. Mereka membawa pistol dan menyebar ke berbagai sisi gudang, membuat Reza, Aldo, Bara, dan Kevin spontan mencari perlindungan."Jangan keluar!" seru Naufal.Dor!Satu suara tembakan kembali dilepaskan ke arah atas pintu. Suaranya menggema keras di dalam gudang. Serpihan kecil dari bagian pintu berjatuhan ke lantai.Semua orang sontak menunduk mendengar itu."Apa-apaan ini?" Aldo berbisik panik.Dengan cepat, Reza menariknya menjauh dari pintu.“Jangan bergerak dulu!” sergahnya.Naufal mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya menyapu orang-orang yang baru saja masuk. Tidak ada yang terluka. Mereka hanya sengaja menembakkan pistol untuk menakut-nakuti.Kemudian dari tengah kerumunan itu, muncul seorang pria. Langkahnya terlihat santai. Kedua tangannya berkacak pinggang dengan senyum penuh kemenangan di wajahnya.Naufal langsung membeku. Matanya membelalak begitu melihat sosok itu."Dimas?"

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   298. Tamu Tak Diundang

    Naufal masih duduk di sisi tempat tidur dengan ponsel menempel di telinganya. Wajahnya semakin tegang mendengar penjelasan Reza dari seberang telepon."Reza, bagaimana Revan bisa kabur?" Suaranya bergetar.Nayla yang sejak tadi memperhatikan suaminya pun sontak ikut merasa cemas. Suara Reza di seberang telfon juga terdengar berat."Beberapa jam lalu aku bersama Aldo, Bara, dan Kevin membawa Revan ke markas tersembunyi sesuai perintahmu. Tapi di tengah perjalanan, salah satu ban mobil kami bocor. Awalnya kami pikir cuma masalah biasa, tapi ternyata itu jebakan. Begitu kami berhenti, beberapa orang tiba-tiba menyerang. Mereka sudah menunggu kami."“Apa?" Mata Naufal membeliak. "Lalu bagaimana kondisi kalian sekarang?""Kami semua baik-baik saja. Tapi mereka membawa Revan."Rahang Naufal mengeras. "Kau yakin mereka orang-orangnya?""Aku yakin mereka bagian dari kelompok Revan dan Dimas. Cara mereka menyerang terlalu terorganisir. Mereka jelas sudah tahu ke mana kami akan membawa Revan."

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   297. Berita Mengejutkan

    "Sarah?”Mata Marina membelalak, sebab orang yang saat ini berdiri di hadapannya adalah seorang wanita cantik dengan penampilan elegan. Rambut panjangnya tertata rapi, gaun hitam sederhana membalut tubuhnya dengan anggun, sementara sebuah tas mewah tergantung di lengannya."Maaf, Tante." Wanita itu tersenyum tipis, tetapi matanya seketika berkaca-kaca.Tanpa menunggu lebih lama, Sarah melangkah masuk lalu memeluk Marina erat. Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling berpelukan dalam diam."Maafkan aku, Tante,” bisik Sarah dengan suara bergetar. "Aku baru pulang dari luar negeri. Aku bahkan nggak sempat datang ke pemakaman Arunika."Marina mengusap punggung wanita itu perlahan."Nggak apa-apa, Sayang. Tante tahu kamu pasti punya alasan.""Tapi dia sahabatku, Tante." Sarah melepaskan pelukannya dan mengusap sudut matanya. "Aku seharusnya ada di sini.""Arunika pasti tahu bahwa kamu sangat menyayanginya." Marina tersenyum sedih. Terlihat jelas dari pelupuk matanya yang terus menggenan

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   296. Siapa yang Datang?

    Naufal langsung berjongkok di depan Nayla. Tatapannya berpindah dari wajah istrinya yang pucat ke telapak kaki yang mulai mengeluarkan darah."Jangan bergerak dulu, Sayang.""Aku nggak kok apa-apa, Na. Cuma kena pecahan kaca sedikit.""Sedikit juga tetap harus dibersihkan. Udah, nurut aja sama suami kamu ini."Naufal kemudian mengambil sapu tangan bersih dari saku celananya, lalu menekannya perlahan pada telapak kaki Nayla untuk menghentikan darah.Namun Nayla justru masih memegangi dadanya. Jantungnya berdebar tidak beraturan, sementara perasaan gelisah itu semakin kuat tanpa alasan yang jelas."Naufal," panggilnya dengan suara lirih."Hm?""Kenapa aku merasa seperti akan terjadi sesuatu ya?" tanya Nayla pelan.Naufal menatap istrinya sejenak. Ia tahu beberapa minggu terakhir kondisi emosional Nayla memang belum sepenuhnya stabil. Karena itu, ia berusaha tidak membuatnya semakin cemas."Mungkin kamu cuma kecapekan setelah perjalanan jauh.""Tapi rasanya beda, Na." Nayla menggeleng pe

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   295. Kenapa Perasaanku Tak Enak?

    Wiratmadja masih terpaku menatap lembar terakhir hasil pemeriksaan DNA di tangannya. Jemarinya bergetar hebat hingga kertas itu nyaris terlepas. Dadanya naik turun menahan gejolak yang selama puluhan tahun hanya berani ia simpan dalam doa.Marina yang sejak tadi memperhatikan wajah suaminya mulai panik."Pa, ada apa? Jangan diam saja. Hasilnya gimana?" tanyanya dengan suara bergetar.Perlahan, Wiratmadja mengangkat wajahnya. Kedua matanya telah dipenuhi air mata."Ma," suaranya serak. "Hasilnya ... sembilan puluh sembilan koma sembilan sembilan persen.""Apa?" Marina menatap suaminya tanpa berkedip. "Itu artinya ....""Iya." Wiratmadja mengangguk pelan. Bibirnya bergetar hebat sebelum akhirnya ia tak lagi mampu membendung air mata."Nayla adalah putri kita. Dia memang Naura yang hilang." Kalimat itu seolah menghentikan waktu.Marina menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah begitu saja. Lututnya melemas hingga hampir terjatuh kalau saja Wi

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   6. Kemelut Rumah Tanggaku

    Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   5. Terangsang Sentuhan Panas Dokter

    Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   4. Hamili Menantuku!

    What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   3. Dokter Rekomendasi Ibu Mertua

    Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status