LOGINBegitu pintu ruang perawatan tertutup rapat, Nayla hanya mampu mematung di balik kaca. Tangis Marina memenuhi lorong rumah sakit, sementara Wiratmadja memeluk istrinya yang nyaris kehilangan kekuatan untuk berdiri. Dari balik pintu terdengar suara Naufal yang lantang memberi instruksi."Mulai CPR!""Siapkan defibrillator!""Cas tiga ratus joule!"Alarm monitor berbunyi semakin nyaring.Biiip... Biiip... Biiip...Nayla menutup mulut dengan kedua tangannya. Tubuhnya bergetar hebat. Air mata terus mengalir saat mengingat senyum Arunika beberapa menit lalu."Kak Arunika..." isaknya lirih.Entah mengapa, dadanya mendadak terasa sesak. Rasa nyeri yang tadi hanya berdenyut di kepalanya kini menjalar hingga ke dada, seolah ada tangan tak terlihat yang sedang meremas jantungnya."Akh..." Nayla meringis sambil memegangi dadanya.Di dalam ruang perawatan, Naufal masih sempat melirik ke arah istrinya melalui kaca. Tatapannya dipenuhi kekhawatiran, tetapi sebagai dokter ia tak memiliki pilihan sel
Air mata masih membasahi pipi Marina. Tangannya yang gemetar perlahan terulur ke arah Nayla, seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia bergerak terlalu cepat."Nayla," suaranya bergetar lirih, dipenuhi harapan yang selama puluhan tahun terkubur. "Boleh ... boleh Mama memelukmu?"Di sampingnya, Wiratmadja ikut melangkah mendekat. Mata pria paruh baya itu memerah, tetapi tatapannya tak pernah lepas dari wajah Nayla."Nak," gumamnya serak seraya memandang lekat pada Nayla. "Kalau semua ini benar, kalau kamu memang adalah Naura, maka kembalilah pada papa dan mama. Selama ini papa memang belum yakin kalau Naura sudah meninggal. Karena itu selama bertahun-tahun, papa terus saja mencari kamu," lanjut pria paruh baya itu.Ia memohon di hadapan Nayla kini, seolah sudah tak peduli dengan nama besarnya yang selama ini sangat disegani oleh banyak tokoh penting.Namun melihat itu, Nayla justru mundur selangkah. Kepalanya terus menggeleng, sementara air mata mengalir tanpa henti."Tidak, jang
Ruangan perawatan mendadak sunyi.Semua orang mengikuti arah tatapan nenek renta yang berdiri di samping Wiratmadja. Tubuhnya memang sudah membungkuk dimakan usia, tetapi sorot matanya masih tajam ketika memandang Nayla tanpa berkedip. Bibirnya bergetar pelan, seolah tidak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya."Ya Tuhan ... itu anaknya Ina dan Raharja."Ucapan itu membuat seluruh isi ruangan terdiam.Nayla yang masih memegangi pelipisnya perlahan mengangkat wajah. Rasa nyeri di kepalanya memang belum hilang, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar."Mbah ... Mbah kenal saya?" tanyanya lirih, dengan raut wajah yang kebingungan.Mbah Sati mengangguk. Dengan langkah perlahan, ia menghampiri Nayla lalu mengusap pipinya penuh kasih."Tentu saja kenal. Aku sering menggendongmu waktu kamu masih kecil. Mana mungkin aku lupa."Wiratmadja yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka langsung maju beberapa langkah. Napasnya memburu, sementara kedua matanya terus menatap wajah wanita tua i
Dimas masih berdiri di balik jeruji besi dengan rahang mengeras. Tatapannya kosong mengarah ke lorong penjara, tetapi pikirannya bekerja jauh lebih cepat daripada siapa pun yang berada di sana.Tak lama kemudian, langkah kaki kembali terdengar.Seorang sipir menghampiri selnya sambil melirik ke kanan dan kiri memastikan tak ada petugas lain yang memperhatikan."Sudah kubilang, Dokter Naufal mulai mencium jejakmu," gumam sipir itu pelan.Dimas menyunggingkan senyum tipis."Biar saja."Sipir membuka pintu sel tanpa banyak bicara. Ia mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya lalu menyerahkannya."Lima menit."Dimas menerimanya tanpa ragu."Kamu tenang saja. Uangnya sudah masuk ke rekening istrimu pagi tadi."Sipir itu tersenyum puas."Kerja sama kita memang selalu menguntungkan."Dimas langsung membuka aplikasi pesan. Beberapa notifikasi bermunculan dari orang-orang yang selama ini menjadi mata dan telinganya di luar penjara.Bukan hanya Revan. Tapi masih ada beberapa orang lain.Sa
Marina semakin gelisah. Sejak tadi jemarinya tak berhenti menekan tombol panggil pada layar ponsel, berharap suara suaminya segera terdengar dari seberang. Namun setiap kali panggilan tersambung, yang muncul hanya suara operator yang sama."Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi."Wanita itu menurunkan ponselnya dengan tangan gemetar. Dadanya terasa semakin sesak."Kenapa, Pa? Kamu ke mana sih?" bisiknya lirih.Nayla yang berdiri di sampingnya berusaha menenangkan meski hatinya sendiri mulai dipenuhi kecemasan."Mungkin sinyalnya jelek, Bu. Atau HP Pak Wiratmadja kehabisan baterai.""Tapi dia nggak pernah begini, Nay." Marina menggeleng pelan. Air matanya kembali jatuh. "Kalau ada apa-apa sama Arunika, dia pasti orang pertama yang datang."Ucapan itu justru membuat Nayla ikut terdiam. Entah mengapa, firasat buruk perlahan merayapi hatinya.Di saat yang sama, di balik pintu ruang resusitasi, suasana jauh lebih mencekam."Tekanan darah turun lagi, Dok!" seru seorang perawat.
Suara tangis Marina masih terdengar jelas dari balik sambungan telepon. Isaknya pecah berkali-kali hingga Nayla harus berkali-kali memanggil namanya agar wanita itu sedikit lebih tenang."Bu Marina, tenang dulu. Katakan dengan tenang, ada apa sebenarnya?" tanya Nayla dengan suara bergetar.Marina berusaha mengatur napasnya, tetapi kepanikan membuat suaranya nyaris tak terdengar."Arunika …," isaknya lirih. "Penyakit Arunika kambuh lagi. Dia tiba-tiba kesakitan, terus pingsan. Sekarang dia sudah dibawa ke Rumah Sakit Mahendra Medika. Tolong ... tolong ajak Dokter Naufal ke sini, Nayla.""Apa?" bisik Nayla pelan. Wajahnya semakin pucat, dan bibirnya bergetar.Naufal yang sedang menyetir pun langsung menoleh cepat."Kenapa, Sayang?"Nayla menutup mikrofon ponselnya dengan telapak tangan."Sayang, Arunika … masuk rumah sakit."Naufal sontak menginjak rem sesaat sebelum kembali menginjak pedal gas lebih dalam. Raut wajahnya berubah tegang."Dia kenapa?""Penyakit kanker ovarium nya kambuh
Usai mengatakan itu, Agung pergi masuk kamar begitu saja. Ia membanting pintu hingga suara kerasnya membuat Nayla terlonjak.“Huft! Harus dengan cara apalagi aku bisa meluluhkan hati kamu, Mas?" lirihnya, suaranya bergetar.Nayla pun masuk ke kamar dan segera mandi. Setelah selesai mandi, ia membuk
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b
What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter







