Home / Romansa / Jangan Dikeluarin Dulu, Dok! / 271. Pesan Misterius dari Siapa?

Share

271. Pesan Misterius dari Siapa?

Author: Mas Author
last update publish date: 2026-07-23 21:24:00
"Nayla Sayang?"

Suara Naufal membuat seluruh perhatian di lorong rumah sakit beralih ke arah wanita yang berdiri sambil membawa kotak bekal makan siang.

Nayla segera memaksakan senyum kecil meski hatinya masih sedikit terusik oleh pemandangan beberapa saat lalu.

"Hay, Na. Aku cuma mau nganter makan siang kok."

Wajah Naufal langsung berubah hangat. Ia menghampiri istrinya tanpa ragu, lalu menerima kotak bekal itu dari tangan Nayla.

"Harusnya kamu bilang dulu dong, Sayang. Aku bisa turu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   323. Ah, Aku Pengen, Sayang! (21+)

    Nayla menatap suaminya dengan mata membulat. Wajahnya mulai memerah karena bisikan Naufal yang begitu dekat di telinganya.“Jangan macam-macam, Na,” ulangnya, tetapi suaranya tidak lagi terdengar setegas sebelumnya. Justru kedua pipi wanita itu terlihat memerah.Naufal tersenyum kecil. Ia perlahan melonggarkan pelukannya, kemudian menatap wajah istrinya sambil memegang pipi wanita itu.“Lihat, wajah kamu merah," godanya.“Ihh, apaan sih?" Nayla memalingkan wajah, tetapi kembali ditatap oleh sang suami.“Aku tau kalau kamu pasti malu-malu. Sekarang katakan, kenapa tadi kamu mengurung aku di dalam kamar?”“Masih nanya itu lagi. Jelas-jelas karena aku kesel sama kamu,” sungut Nayla, ia melipat kedua tangan di dada.“Sekarang masih kesel?”Nayla terdiam dengan wajah cemberutnya. Tetapi ia menggeleng pelan.“Sudah nggak kok.”“Serius?”“Iya, serius.” Nayla mengangguk.“Oke." Naufal mengusap pipi sang istri. “Berarti aku sudah dimaafkan?" “Iya, sudah.”“Kalau begitu, aku pengen menikmati h

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   322. Aku yang Menentukan Durasinya

    “Hah, kenapa ini?”Naufal kaget karena tiba-tiba pintu tertutup dari luar. Ia terkejut dan spontan menoleh ke belakang.Ia segera mencoba membuka gagang pintu. Tidak bisa. Naufal mengernyit, lalu menariknya sekali lagi dengan sedikit tenaga.“Lho, kok gak bisa?”Pintu itu tetap tidak bergerak. Ia mencoba memutar gagang pintu beberapa kali, tetapi hasilnya sama saja. Pintu itu benar-benar terkunci dari luar. Naufal mulai curiga, apalagi sejak tadi ia tidak melihat Nayla di rumah.“Nayla?” panggilnya.“Jangan panggil aku!”Benar saja. Dari luar terdengar suara perempuan.Naufal langsung membelalak. Ia mengenali suara itu.“Sayang, kamu di luar?”“Iya! Aku di sini. Memangnya kenapa?”“Tapi kenapa pintunya dikunci?”“Biar kamu nggak ke mana-mana!” jawab Nayla dari luar kamar.Naufal terdiam. Ia menatap pintu dengan wajah tidak percaya. Beberapa detik kemudian, barulah ia memahami bahwa istrinya benar-benar sengaja mengurungnya.“Nayla, buka pintunya.”“Nggak mau!”“Kenapa?”“Biar kamu ngg

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   321. Kemana Nayla?

    Setelah sampai di depan ruangannya, Naufal membuka pintu. Sinta yang sejak tadi berjalan di belakangnya ikut berhenti di depan pintu.“Kamu bisa istirahat sekarang, Sin," cegah Naufal dengan halus.“Tapi, Dok. Aku mau memastikan laporan operasi yang tadi sudah …." “Nggak usah, Sin.” Naufal langsung menggeleng. “Kamu bisa langsung pulang saja. Aku mau istirahat sebentar.”Sinta mengerutkan kening. “Tapi aku bisa bantu merapikan laporan.”“Nanti saja. Lagian ada istriku di sini. Aku mau quality time sama istriku.”Kalimat terakhir itu membuat Sinta terdiam. Wajahnya langsung berubah cemberut.“Oh.”“Besok kita lanjut lagi. Kamu juga sudah capek.” Naufal tersenyum tipis.“Iya, Dok.”Sinta akhirnya berbalik dan pergi dengan langkah berat. Sesekali ia menoleh ke belakang, berharap Naufal berubah pikiran. Namun pria itu sudah masuk ke dalam ruangan.Sebenarnya Naufal memang sengaja mengusir Sinta secara halus agar tak ikut masuk ke ruangannya. Setelah operasi panjang, ia ingin beristirahat

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   320. Buaya Betina Beraksi

    Suasana rumah sakit yang semula tenang mendadak berubah ketika suara langkah kaki berlarian terdengar dari ujung koridor.“Dokter! Ada pasien masuk!” Seorang perawat berlari menghampiri Naufal sambil membawa berkas.“Ada apa?” Naufal langsung menoleh.“Pasien perempuan, hamil sekitar tiga puluh enam minggu. Korban mengalami kecelakaan lalu lintas. Dia mengalami perdarahan dari jalan lahir dan nyeri perut hebat. Denyut jantung janinnya juga mulai tidak stabil.”“Astaga!" Ekspresi Naufal seketika berubah serius. Ia segera mengambil jas dokternya.“Siapkan ruang operasi. Hubungi dokter anestesi dan tim obstetri. Kita kemungkinan harus melakukan operasi sesar darurat.”“Baik, Dok!”Naufal kemudian menoleh kepada Nayla yang masih berdiri di sampingnya.“Sayang, aku harus menangani pasien. Kamu nggak apa-apa kan kalau aku tinggal dulu?” ia memegang kedua bahu sang istri.“Pergilah, Sayang. Selamatkan nyawa pasienmu. Aku akan tunggu di ruangan kamu.” Nayla mengangguk.“Terima kasih. Jangan k

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   319. Mereka Baikan Lagi?

    Naufal terdiam sesaat. Ia sama sekali tidak menyangka Nayla akan menangis seperti itu. Tangannya segera terulur, mengusap rambut dan punggung istrinya dengan lembut.“Kenapa kamu tiba-tiba bilang begitu?” tanyanya cemas. “Ada apa, Sayang? Kenapa kamu tiba-tiba nangis?”Tangis Nayla berhenti sejenak. Ia terdiam, tak mungkin jika menceritakan tentang hal yang sebenarnya kepada Naufal.“Nggak ada apa-apa kok, Sayang. Aku cuma takut kehilangan kamu.” Nayla menggeleng dalam pelukan suaminya itu.Naufal sedikit menjauh, lalu menatap wajah istrinya yang masih basah oleh air mata. Ia menghapus air mata itu dengan ibu jarinya.“Kamu nggak akan kehilangan aku kok, Sayang. Sampai kapan pun, aku bakalan tetep ada di samping kamu,” ujar pria itu sungguh-sungguh.“Janji?” Nayla menatapnya dengan mata berkaca-kaca.“Aku janji.” Naufal tersenyum lembut. “Apa pun yang terjadi, aku nggak akan ninggalin kamu. Kita sudah melewati terlalu banyak hal untuk menyerah sekarang.”Nayla kembali memeluknya erat

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   318. Hanya Ingin Bersama Naufal

    “Apa?” Nayla dan Reza saling pandang, tetapi dengan cepat keduanya segera membuang muka. Terlihat jelas bahwa mereka sama-sama canggung dan tak nyaman.“Ma, jangan bercanda soal itu,” kata Reza akhirnya. Nada suaranya terdengar lebih serius dari sebelumnya. “Nayla sudah menikah.”Yuli masih tersenyum, seolah tidak melihat perubahan ekspresi putranya. “Mama tahu. Mama cuma teringat masa lalu aja kok.”Nayla sendiri masih terdiam. Ia tidak menyangka percakapan santai tentang Arunika tiba-tiba berubah menjadi pembicaraan tentang dirinya dan Reza. Apalagi setelah mengetahui bahwa dulu kedua ibu mereka pernah bercanda untuk menjodohkan mereka.“Jadi ....” Reza mengusap tengkuknya dengan canggung. “Aku sama Nayla dulu pernah mau dijodohkan ya?”“Iya,” jawab Yuli santai.“Aku benar-benar nggak tahu.” Reza tertawa hambar.Nayla menatapnya sekilas. “Aku juga nggak tahu.”Ada keheningan singkat di antara mereka. Tatapan Reza dan Nayla sempat bertemu, tetapi keduanya sama-sama segera mengalihka

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   6. Kemelut Rumah Tanggaku

    Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   5. Terangsang Sentuhan Panas Dokter

    Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   2. Menggodamu Malam Ini

    “A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga

  • Jangan Dikeluarin Dulu, Dok!   1. Ah, Sakit, Dok!

    "Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status