LOGINSementara itu, di tempat lain, Renata masih belum bisa melupakan kejadian di rumah sakit. Sejak wanita itu memanggil namanya, pikirannya terus dipenuhi pertanyaan.“Siapa sebenarnya wanita itu? Bagaimana dia bisa tahu namaku? Dan kenapa setiap kali melihat wajahnya, aku justru merasa seperti pernah mengenalnya?”Semua pertanyaan itu berkecamuk di dalam pikirannya. Renata masih duduk di tepi tempat tidur sambil melamun. Ia kembali teringat pada tatapan wanita itu ketika melihat Renata.Ada sesuatu yang berbeda dari tatapannya. Renata sudah mencoba meyakinkan dirinya bahwa mungkin wanita itu hanya salah mengenali orang. Namun, perasaan aneh yang muncul setiap kali mengingat wajah wanita tersebut membuatnya semakin penasaran.“Aku harus mencari tau yang sebenarnya," gumamnya penuh tekad.Dengan cepat, Renata meraih ponselnya dan akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Aldo. Sebab di saat sekarang, hanya Aldo yang tau tentang kegelisahannya.Tak berapa lama kemudian, akhirnya panggilan
Nayla akhirnya keluar dari kamar Dimas setelah memastikan pria itu sudah cukup tenang. Begitu pintu tertutup, ia melihat Rianti dan Naufal masih menunggunya di lorong. Keduanya terlihat lebih lega daripada sebelumnya.“Nayla,” panggil Rianti pelan.“Mama.” Nayla menoleh dan tersenyum kecil.Rianti pun segera menghampirinya dan menggenggam kedua tangan Nayla sangat erat .“Nayla, terima kasih banyak, Sayang. Mama benar-benar nggak tahu harus bagaimana menghadapi Dimas kalau nggak ada kamu.”Nayla tersenyum. Ia balas menggenggam tangan mama mertuanya.“Nggak perlu berterima kasih seperti itu, Ma. Aku cuma membantu sebisaku.”Naufal ikut mendekat, kemudian merangkul bahu sang istri.“Aku juga mau berterima kasih sama kamu, Sayang. Tadi aku dengar dari luar. Kamu berhasil membuat Dimas mau makan.”“Aku cuma membujuk dia sedikit.” Nayla tersenyum dengan pipi yang tampak memerah. “Sedikit?” Naufal tertawa kecil. “Dimas biasanya bahkan nggak mau mendengarkan siapa pun.”Rianti mengusap leng
Nayla sontak menoleh ke arah pintu. Ia kaget mendengar suara tersebut.“Dokter Dimas?”Tapi tidak ada jawaban.Nayla sempat ragu. Ia masih mengingat jelas bagaimana Dimas mengusirnya beberapa saat lalu. Namun suara benda pecah tadi membuatnya khawatir. Ia akhirnya membuka pintu sedikit.“Dokter Dimas?” panggilnya sekali lagi.“Pergi!” Suara Dimas terdengar keras dari dalam kamar.Namun, Nayla tidak langsung pergi. Pandangannya tertuju pada Dimas yang berada di samping tempat tidur. Sebuah gelas sudah pecah di lantai. Kursi roda pria itu sedikit bergeser, sedangkan tubuhnya terlihat miring seolah baru saja kehilangan keseimbangan.“Dokter, kamu kenapa? Apa yang terjadi?” tanya Nayla panik.“Aku bilang keluar!”Dimas berusaha meraih sesuatu di atas meja, tetapi tangannya tidak sampai. Ia kembali mencoba menggerakkan kursi rodanya, namun salah satu rodanya justru tersangkut di sisi karpet.Nayla segera masuk.“Jangan bergerak dulu. Pecahannya ada di lantai!” sergahnya.“Aku bisa sendiri!
Naufal yang sejak tadi memperhatikan kertas di tangan Dimas akhirnya kehilangan kesabaran. Ia melangkah maju dan merebut surat tersebut sebelum kakaknya kembali meremasnya.“Berikan padaku!" “Fal!” Dimas membentak.Naufal tidak menjawab. Matanya segera membaca isi surat itu dengan teliti. Semakin jauh ia membaca, semakin berubah ekspresinya.Nayla berdiri di sampingnya. “Apa isinya?”Naufal terdiam beberapa saat.“Ini surat penerimaan kerja?”Dimas merebut kembali tatapannya kepada Naufal.“Itu bukan sekadar tawaran kerja.”Naufal membaca bagian berikutnya. Surat tersebut berasal dari sebuah rumah sakit di Amerika Serikat. Beberapa bulan sebelumnya, Dimas memang pernah mengikuti proses seleksi untuk bekerja sekaligus menjalani program praktik lanjutan di sana. Ia bahkan sudah mendapatkan kepastian bahwa dirinya diterima.Namun, yang membuat Naufal semakin terdiam adalah tanggal keberangkatannya.“Minggu ini?”“Ya. Aku seharusnya berangkat dalam beberapa hari,” sambar Dimas cepat.“Na
“Kamu … bagaimana kamu tahu namaku?”Renata masih menatap wanita itu dengan mata melebar. Pertanyaan tersebut keluar begitu saja dari bibirnya. Ia benar-benar tidak mengerti bagaimana seseorang yang baru pertama kali dilihatnya bisa mengetahui namanya.Nayla yang berdiri di ambang pintu juga tercengang. Ia bahkan sampai melangkah mendekat.“Iya, bagaimana dia bisa tahu nama kamu, Re?” tanyanya.Wanita itu tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada Renata. Air mata kembali mengalir dari sudut matanya, membasahi pipi yang masih menyisakan bekas luka.Renata semakin bingung.“Bu?” panggilnya pelan. “Anda dengar saya?”Bibir wanita itu bergerak sedikit. Seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada suara yang keluar. Ia mencoba sekali lagi.“Re .…”Hanya satu suku kata yang terdengar sangat lirih sebelum suaranya kembali menghilang.Renata mendekat. “Ibu mau bilang sesuatu?”Wanita itu tampak berusaha mengangkat tangannya, tetapi tenaganya tidak cukup. Jemarinya hanya bergerak sedikit
Renata masih berdiri terpaku di ambang pintu. Tatapannya tidak lepas dari wajah wanita yang terbaring di atas ranjang. Selama beberapa hari terakhir, ia hanya membayangkan sosok seperti apa yang berada di balik perban tersebut. Namun, ia sama sekali tidak menyangka bahwa wanita itu ternyata merupakan seorang perempuan paruh baya.Usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan Rianti ataupun Marina. Beberapa tanda usia terlihat dari wajahnya, meskipun luka dan lebam masih menghiasi sebagian kulitnya. “Ya ampun! Ternyata dia seorang ibu-ibu,” gumam Renata.Nayla dan Naufal yang berada di dekat ranjang segera menghampirinya. Nayla ikut kembali menatap wajah wanita itu, membuat dadanya terasa semakin sesak. Sejak perbannya dibuka tadi, Nayla dan Naufal pun kaget. Mereka tak menyangka jika wanita itu adalah seorang wanita paruh baya, karena awalnya mereka pikir wanita itu masih seusia mereka.Selama ini ia memang tahu bahwa wanita yang ditabraknya mengalami luka serius. Namun melihat wajahny
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny
“A … apa? Buka kaki?” tanya Nayla dengan suara bergetar. "Kalau kamu nggak bersedia, aku juga nggak akan maksa. Toh yang butuh kesembuhan ini bukan aku.” Dokter Naufal berbalik badan dan hendak pergi ke tempat duduknya, padahal dia menyimpan seringai kecil yang menunjukkan bahwa sang dokter juga
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b







