MasukNayla terus melaju menyusuri jalanan malam dengan perasaan yang semakin tidak karuan. Beberapa kali ia mengusap air mata yang menghalangi pandangan, tetapi tangannya kembali menggenggam setang motor dengan erat. Pikirannya hanya tertuju kepada satu orang.Naufal.Biasanya pria itu selalu memberi kabar. Sesibuk apa pun pekerjaannya, Naufal tidak pernah membuatnya menunggu sampai selarut ini tanpa penjelasan. Apalagi ponselnya sekarang tidak aktif. Hal itu membuat berbagai kemungkinan buruk bermunculan di kepala Nayla.“Jangan sampai terjadi apa-apa sama kamu…”Setelah menempuh perjalanan cukup jauh, akhirnya Nayla tiba di RS Medika Mahendra. Ia segera memarkirkan motornya dan berlari masuk ke dalam lobi. Napasnya sedikit terengah ketika menghampiri salah seorang staf yang masih berjaga.“Permisi, Dokter Naufal masih di rumah sakit?”Staf itu tampak berpikir sebentar, kemudian menggeleng.“Dokter Naufal? Sepertinya sudah pulang, Bu. Dari tadi.”Nayla langsung terdiam.“Sudah pulang?”“I
“Reza, kau … apa kau benar-benar jatuh cinta pada istri sahabatmu sendiri? Dan … apa yang aku dengar tadi? Kau dan Nayla akan dijodohkan saat kalian masih kecil?”Pikiran-pikiran itu berkecamuk di kepala Naufal.Pria itu masih terdiam di area parkiran rumah sakit. Tatapannya kosong mengarah ke jalan yang baru saja dilewati oleh mobil Sarah. Rasanya ia masih sulit menerima untuk kenyataan bahwa sahabatnya ternyata menyimpan perasaan kepada Nayla.Selama ini Naufal tidak pernah mencurigai apa pun. Reza selalu bersikap seperti sahabat biasa. Bahkan setiap kali Naufal bersama dengan Nayla, Reza tidak pernah sekalipun mencoba mengganggu rumah tangga mereka. Ia tetap menjaga jarak dan tidak pernah terang-terangan menunjukkan perasaannya.Namun justru itulah yang membuat Naufal semakin bingung. Perasaan itu ternyata muncul setelah Reza mengenal Nayla lebih dekat.“Kenapa kau harus menyukai istriku, Za? Kenapa?” gumam Naufal pelan. Entah, tapi rasanya ada bagian dari hatinya yang hancur saat
Setelah Sinta diusir, kini Reza masih berdiri di dalam ruangan Naufal bersama Nayla dan sahabatnya itu. Setelah suasana yang sebelumnya tegang mulai mereda, Reza perlahan mengeluarkan ponselnya dari saku jas. Ia membuka sebuah aplikasi perjalanan, kemudian menunjukkan layar ponselnya kepada Naufal.“Ada sesuatu yang harus aku bicarakan, Fal," ujarnya, membuat Naufal menoleh cepat pada sahabatnya itu.“Ada apa, Za?" “Ya. Jadi sku sebenarnya datang ke sini bukan cuma karena masalah Sinta,” ujar Reza.Naufal mengerutkan kening. “Maksudmu?”Reza memutar layar ponselnya agar lebih mudah dilihat. Di sana terlihat sebuah tiket penerbangan internasional dengan tujuan Paris, Prancis.“Aku sudah memutuskan untuk menerima tawaran di Perancis. Aku memutuskan resign dari RS Medika Mahendra. Dan aku akan berangkat besok.”Nayla yang berdiri tidak jauh dari Naufal langsung menatap layar tersebut. Ia teringat kejadian malam sebelumnya ketika Reza memberikan tiket yang sama kepadanya."Ya ampun!” Nau
Nayla masih berdiri di samping Naufal. Tangannya perlahan terlepas dari genggaman sang suami ketika pandangannya kembali tertuju kepada Sinta. Ia benar-benar tidak menyangka bahwa wanita yang selama ini bekerja bersama Naufal ternyata menyimpan perasaan sebesar itu hingga berani melakukan sesuatu yang bisa menghancurkan rumah tangga orang lain.“Sinta…” suara Nayla terdengar lirih. “Kenapa kamu melakukan semua ini?”Sinta menundukkan kepala. Air matanya mulai jatuh membasahi pipi.“Aku minta maaf, Bu Nayla.”Nayla terdiam.“Aku benar-benar minta maaf. Aku tahu aku salah. Aku tahu seharusnya aku nggak melakukan ini.” Sinta terisak. “Tapi aku sudah terlalu lama menyukai Naufal. Aku pikir kalau aku bisa membuat kalian berpisah, mungkin aku punya kesempatan.”Nayla mengepalkan tangannya. Dadanya terasa sesak mendengar pengakuan itu.“Jadi kamu memang sengaja ingin menghancurkan rumah tanggaku?”Sinta tidak menjawab. Ia hanya menangis sambil menundukkan wajah.“Jawab aku, Sinta!”“Iya…” Si
Nayla berdiri terpaku di ambang pintu. Pemandangan di dalam ruangan membuat wajahnya seketika pucat. Sinta duduk di sebuah kursi dengan kedua tangannya terikat. Kemeja yang dikenakannya terlihat berantakan, beberapa kancing bagian atas bahkan sudah terbuka. Rambutnya juga tidak serapi biasanya.“Sinta!” teriak Nayla histeris. “Apa yang terjadi?”Sinta langsung mengangkat wajah. Matanya terlihat panik ketika melihat Nayla.“Bu Nayla, tunggu! Ini bukan seperti yang kamu pikirkan!”Nayla tidak sempat berpikir panjang. Ia segera meletakkan wadah makanan yang dibawanya di atas meja, kemudian bergegas menghampiri Sinta.“Kamu kenapa sampai diikat seperti ini?”“Aku…”Sinta belum sempat menjawab ketika terdengar suara langkah kaki dari luar.Pintu ruangan tiba-tiba terbuka.Naufal masuk bersama Reza dan beberapa staf rumah sakit. Beberapa dari mereka bahkan terlihat memegang ponsel dan merekam keadaan di dalam ruangan.Nayla langsung menoleh.“Naufal?”Naufal berhenti di ambang pintu. Tatapa
Pagi itu, suasana RS Medika Mahendra masih ramai oleh pembicaraan tentang unggahan Wiratmadja. Kabar bahwa Nayla adalah putri kandung seorang konglomerat membuat banyak orang terkejut. Beberapa staf bahkan masih membicarakannya sambil sesekali membuka kembali foto keluarga Wiratmadja di ponsel mereka.“Gila, aku benar-benar nggak menyangka Bu Nayla ternyata putrinya Pak Wiratmadja.”“Iya. Selama ini kita kira dia cuma ibu rumah tangga biasa.”“Padahal lihat sekarang. Keluarganya ternyata luar biasa.”“Pantas Dokter Naufal sayang banget sama istrinya.”“Bukan cuma sayang. Berarti Dokter Naufal juga dapat keluarga besar yang luar biasa.”Beberapa orang tertawa kecil. Namun tidak semua orang merasa senang mendengar pembicaraan itu.Sinta berdiri tidak jauh dari mereka dengan wajah yang semakin masam. Tangannya terlipat di depan dada, sementara telinganya terus menangkap setiap perkataan yang membuat hatinya panas.Putri konglomerat?Ia kembali teringat wajah Nayla dalam foto tersebut.Wa
"Ba-basah, ahhh! Dokter ke mana sih ini, aku udah becek banget!" Nayla merintih kesakitan sambil sesekali memegangi area pangkal pahanya yang perih dan nyeri. Gadis 25 tahun itu sesekali menatap ke arah pintu, dan sangat berharap supaya seseorang masuk ke dalam sana. “Kemana Dokter Lusi? Kenapa b
Setelah pamit dari ruangan dokter tampan itu, Nayla melangkah keluar dengan tergesa-gesa dan berjalan cepat menyusuri lorong klinik. Napasnya tidak teratur. Setiap langkah terasa berat oleh kesadaran baru yang mengganggu pikirannya.Namun, seketika langkah kakinya terhenti di ruang tunggu.“Loh, bu
Tubuh Nayla terasa ringan, seperti melayang di antara sadar dan tidak.“Nayla, tenang. Kamu pingsan sebentar tadi,” suara Dokter Naufal terdengar sangat dekat.Kelopak mata Nayla terbuka perlahan. Matanya sedikit menyipit, karena cahaya lampu ruang periksa itu sangat menyilaukan.Ia menatap tubuhny
What?Nama itu sontak membuat Nayla terdiam. Tubuhnya mendadak tegang dan terasa panas dingin.Dokter Naufal Mahendra?Dokter judes yang bahkan tak punya senyum di wajahnya itu?Bagaimana mungkin dia bisa direkomendasikan oleh ibu mertuanya?Tiba-tiba bayangan wajah tampan Dokter Naufal kembali ter







