Share

Bab 100 - Makan Malam

Author: Frands
last update publish date: 2026-08-08 12:07:50

"Ini... ini bukan mimpi..." bisik Roni, tidak percaya dengan apa yang ia lihat.

Ia melihat sekeliling dengan waspada, memastikan tidak ada yang mengawasinya.

Dengan gerakan cepat, ia mengambil bongkahan emas itu, merasakan beratnya di tangannya. Cincin di jarinya berdenyut hangat, dan liontin di lehernya ikut berkilau terang, seolah merespon penemuan ini.

Roni tersenyum lebar, kegirangan memenuhi seluruh tubuhnya. Setelah semua kekacauan, setelah semua penderitaan, akhirnya ia menemukan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 172 - Aku Akan Kembali Padamu

    Roni menunduk, menyambar bibir wanita itu dengan liar—lebih liar dari sebelumnya. Tangannya bekerja cepat, membuka kaos ketat yang dikenakan wanita itu, lalu melemparkannya ke sudut bilik. Wanita itu mengerang pelan, tangannya meraih punggung Roni, mencengkeram kemeja pria itu dengan kuat. "Kamu... benar-benar tidak sabar," desahnya di sela ciuman. Roni terus bergerak, mencium lehernya, dadanya, turun ke perutnya. Wanita itu menggeliat, tubuhnya merespon setiap sentuhan. Tapi ia tidak mau hanya menerima. Dengan gerakan cepat, ia membalikkan tubuh Roni, kini ia berada di atas, menatap pria muda itu dengan mata berbinar. "Sekarang giliranku," katanya, suaranya serak. Ia menunduk, mencium Roni dengan lebih liar—menggigit bibirnya, menjilat lehernya, turun ke dadanya. Tangannya bekerja cepat, membuka sabuk Roni, lalu melepas celananya. Ia tersenyum puas melihat apa yang ada di bawah sana. "Pantas saja kamu percaya diri," bisiknya. Mereka berguling di kasur tipis itu, saling

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 171 - Jangan Mengecewakanku

    Roni menatap wanita itu sejenak, merasakan ketegangan yang menggantung di udara. Tanpa berpikir panjang, tangannya bergerak perlahan, meraih paha wanita itu yang masih terbuka di sampingnya. Kulitnya hangat, dan Roni merasakan sedikit getaran saat jari-jarinya menyentuh. "Kamu selalu begini ke pelangganmu?" tanya Roni, suaranya rendah, setengah menggoda. Wanita itu tidak terkejut. Malah, ia tersenyum lebar, memperlihatkan giginya yang putih. Tangannya yang bebas bergerak cepat, membalas mengelus area pangkal paha Roni dengan gerakan yang terampil dan berani. "Aku memang memberi pelayanan spesial," bisiknya, suaranya serak dan penuh arti. "Untuk pelanggan yang mau membayar lebih." Roni merasakan tubuhnya menegang. Ia menelan ludah, mencoba tetap tenang meskipun jantungnya berdegup kencang. "Berapa yang harus aku bayar untuk pelayanan ekstra?" Wanita itu menatapnya dalam-dalam, senyumnya masih terukir. "Tiga ratus ribu," jawabnya tanpa ragu. "Untuk kamu, aku kasih harga khusus."

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 170 - Kopi Spesial

    Pukul sembilan malam, Roni mengendarai motor menyusuri jalanan yang mulai sepi menuju warung sate Pak Anwar. Ketika tiba, dia melihat lampu-lampu warung mulai diredupkan, dan beberapa kursi sudah ditumpuk. Pak Anwar terlihat sedang menutup dagangannya—membersihkan panggangan, merapikan sisa-sisa sate, dan menghitung uang di kotak kecil. "Pak Anwar," sapa Roni pelan. Pak Anwar menoleh, tersenyum. "Ron! Duduk dulu. Aku tinggal beres-beres sebentar." Roni duduk di bangku yang masih tersedia. Ia mengamati Pak Anwar yang bekerja dengan cekatan. Setelah selesai menutup warung, Pak Anwar menuangkan dua gelas teh hangat dari termos yang masih tersisa. Ia duduk di hadapan Roni, menatap pria muda itu dengan tatapan serius. "Ron, aku ingin kamu tahu sesuatu," kata Pak Anwar pelan. "Jakarta ini keras. Banyak orang datang ke sini dengan harapan besar, tapi akhirnya hancur karena tidak tahu aturannya." Roni mengangguk, "Aku pikir juga begitu, Pak." Pak Anwar berdiri, meraih jaket l

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 169 - Memuji atau Waspada

    Roni terdiam, merasakan beban di dadanya. "Jadi... Bu Sri mengusir Bapak?" Pak Anwar mengangguk, "Setelah kamu tidur dengan Sri waktu itu, Dia mulai terbuka mengenai hasratnya. Akhirnya, dia meminta cerai dan menyuruhku pergi dari rumah. Lalu aku pindah ke Jakarta, mencoba memulai hidup baru meski hanya berjualan sate ini." Ia menunjuk ke arah warungnya. Ajeng yang mendengarkan, meraih tangan Roni dengan lembut. Roni menatap Pak Anwar, merasakan campuran antara rasa bersalah dan simpati. "Pak, aku benar-benar minta maaf." Pak Anwar tersenyum, kali ini lebih tulus. "Kamu tidak perlu minta maaf, Ron. Kamu hanya menjadi bagian dari masalah yang sudah ada sejak lama. Dan mungkin... kamu juga yang jadi jalan keluar." Ia berdiri, "Sekarang, makanlah satenya. Ini sate terbaik di Jakarta." Roni dan Ajeng makan sate dengan perasaan yang campur aduk. Di satu sisi, mereka menikmati makanan yang lezat. Di sisi lain, pertemuan dengan Pak Anwar membuka luka lama yang belum sepenuhnya sembuh

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 168 - Orang dari Kampung Halaman

    Wanita itu... wajahnya hampir mirip dengan seseorang yang Roni kenal. Hanya saja, hidungnya sedikit lebih mancung, bibirnya lebih tipis, dan rambutnya lebih pendek—sebahu, dengan gaya bob yang rapi. Tapi matanya, bentuk wajahnya, senyumnya... semuanya mengingatkan Roni pada wanita yang pernah ia tiduri di desa. Ajeng yang sedang menata barang ruang tengah menatap Roni yang membeku di ambang pintu. "Ron? Kenapa?" Roni tidak menjawab. Matanya masih tertuju pada wanita itu, yang sekarang sedang mengunci pintu kontrakannya, bersiap pergi bekerja. Wanita itu menyadari ada yang memperhatikannya, lalu menoleh dan tersenyum sopan. "Selamat sore," sapanya ramah. "Kalian penghuni baru, ya? Aku Desi." Roni tersentak dari lamunannya, "Eh, iya. Aku Roni. Ini istriku, Ajeng." Ajeng yang baru saja keluar ikut dudu di samping Roni sambil tersenyum, "Halo, Mbak Desi." Desi mengangguk, "Selamat datang di sini. Mungkin lain kali kita bisa ngobrol-ngobrol" Wanita itu melirik jam tang

  • Jangan Egois! Roni Milik Kita Semua!   Bab 167 - Wanita yang Mirip

    Roni terbangun lebih dulu, merasakan kehangatan tubuh Ajeng yang masih terlelap di pelukannya. Wajah gadis itu tenang, dengan senyum tipis yang menyungging di bibirnya. Roni tersenyum, mengusap rambut Ajeng pelan, lalu bangkit dengan hati-hati agar tidak membangunkan istrinya. Ia berjalan ke kamar mandi kecil, mencuci muka dengan air dingin, lalu keluar ke ruang tamu. Kontrakan itu masih sangat sederhana—hanya ada tikar di ruang tamu, spring bed di kamar, dan dapur kosong tanpa peralatan. Roni menghela napas, merasakan tekad yang baru. Hari ini, mereka akan mulai membangun kehidupan baru mereka. Tak lama kemudian, Ajeng bangun dan bergabung dengan Roni di ruang tamu. Rambutnya masih acak-acakan, matanya masih setengah tertutup, tapi senyumnya lebar. "Pagi, Roni." Roni tersenyum, "Pagi, Ajeng. Apa tidurmu nyenyak?" Ajeng mengangguk, "Sangat nyenyak. Kasurnya empuk." Ia duduk di samping Roni, menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. "Hari ini kita mau ke mana?" Roni mengelua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status