Share

Bab 3

Author: Anggun_sari
last update Last Updated: 2025-11-26 16:02:05

“Astaga, kamu semakin ganteng aja.” Arsi–mama Nara memuji ketampanan Giorgio ketika pria itu baru datang bersama Lita–mama Giorgio.

Nara berlagak seperti orang ingin muntah saat ibunya memujui ketampanan Giorgio. Dari segimanapun pria itu sama sekali tidak tampan, yang ada dia muak jika melihat pria playboy seperti Giorgio.

“Mari masuk Jeng,” kata Arsi mempersilahkan Giorgio dan mamanya masuk.

Nara yang memasang wajah datar saat menyambut kedatangan Giorgio dan Lita, dicubit pinggangnya oleh Arsi. Mata wanita berusia lima puluh tahunan itu melotot menatap putrinya.

“Senyum, senyum!” ucap Arsi tanpa suara.

Nara hanya memutar bola matanya. Tangannya mengusap pinggangnya yang terasa berdenyut nyeri.

“Dia itu calon suamimu, bukan musuhmu. Jadi sambut dengan senyuman,” omel Arsi, suaranya berbisik karena Giorgio dan mamanya berjalan di depannya.

“Masih calon, Ma, belum pasti,” sahut Nara seolah tak takut dengan tatapan tajam yang diberikan mamanya tadi.

“Kamu!” Arsi sudah mengangkat tangannya bersiap untuk memukul putrinya, tapi dengan cepat Nara menghindar. Wanita itu langsung menggandeng tangan Lita. Kepalanya menoleh ke belakang, menatap mamanya dengan senyuman lebarnya.

“Ayo duduk Tante,” kata Nara dengan wajah sumringah.

Lita tersenyum ia duduk di tempat yang sudah disiapkan oleh Nara, bersama dengan mamanya. Sementara dia duduk di sisi Giorgio.

“Ya ampun Jeng, aku senang sekali kita akan segera menjadi besan,” kata Lita sesaat setelah mereka duduk.

“Sama, Jeng. Saya juga begitu. Saya aja udah ngga sabar nunggu hari pernikahan mereka,” sahut Arsi.

Giorgio dan Nara hanya saling memandang. Keduanya tersenyum kaku mendengar percakapan dua orang tua di depannya ini.

“Kira-kira nanti kita enaknya pakai adat apa ya untuk pernikahan mereka?” tanya Lita pada Arsi.

Arsi memegang pipinya. “Aduh…adat apa yang Jeng, saya juga bingung,” balasnya. “Ini sungguh mendebarkan,” imbuh Arsi.

“Bagaimana kalau kita pakai kebaya aja. Adat jawa, pasti menarik?” usul Lita.

“Adat jawa? Tapi kita tidak ada yang berasal dari jawa kan,” balas Arsi menimpali.

Lita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Betul juga ya. Kalau begitu bagaimana kalau kita pakai gaun princes. Itu loh yang model sekarang, jadi gaun pengantinnya seperti princes-princes gitu.”

“Tidak!” sahut Nara tiba-tiba dengan suara lantang.

Arsi dan Lita yang tengah asik membicarakan konsep pernikahan seketika menoleh. Keduanya menatap Nara dengan tatapan penuh kebingungan.

“Ha ha ha…maksudku, aku alergi memakai gaun yang banyak hiasanya,” ucap Nara seolah menjelaskan.

Giorgio yang tahu alasan sebenarnya dibalik ketidak inginan Nara memakai gaun princes, tersenyum tipis. Namun, Nara langsung menatapnya dengan tatapan mendelik kesal.

“Jangan tersenyum seolah tahu apa yang ada di pikiranku!” ketus Nara.

“Kalau memang aku tahu bagaimana? Bukankah sudah jelas bahwa kamu tidak ingin memakai gaun itu karena tidak ingin sama dengan….”

Nara langsung membungkam mulut Giorgio. Matanya mendelik semakin lebar menatap Giorgio.

“Ya ampun Jeng, lihatlah bukankah mereka romantis sekali,” ujar Lita.

“Benar,” sahut Arsi dengan senyum penuh kebanggaan.

Nara menghela napas jengah. Kepalanya menggeleng mendengar komentar-komentar yang diucapkan oleh Lita Arsi.

Mengabaikan LIta dan Arsi yang kembali asik berbicara, Nara melirik ke arah Giorgio. Kakinya menendang kaki pria itu, mencoba mengalihkan perhatian Giorgio dari ponsel yang ada di tangannya.

“Siapa? Kekasihmu?” tanya Nara malas. Suaranya setengah berbisik agar kedua orang tua mereka tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.

Giorgio menyimpan ponselnya. Sudut bibirnya tertarik ke atas. “Kenapa? Apa kamu sangat peduli?” jawab Giorgio.

“Cih…peduli? Jangan bermimpi!” sahut Nara menunjukkan wajah jengahnya.

“Jadi kamu belum memberitahu kekasihmu itu kalau kamu akan menikah denganku?” tanya Nara.

“Itu urusanku,” jawab Giorgio yang sukses memancing emosi Nara.

Nara menganga, tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Giorgio. Dia memang tidak menyukai Giorgio, tapi setelah menikah jika Giorgio masih berhubungan dengan kekasihnya bukankah dia sendiri yang akan kesal dan dibuat pusing.

“Ah…bisa buatkan aku kopi? Aku lelah karena harus lembur tadi,” pinta Giorgio pada Nara.

Nara mengangguk. Ia segera bangun dari duduknya lalu menuju ke dapur. Tangannya bergerak lincah, memasak air dan meracik kopi untuk Giorgio. Namun, saat tangannya hendak mengambil gula, tiba-tiba saja tangannya berbelok mengambil garam. Dimasukkannya beberapa sendok garam ke dalam cangkir kopi lalu mengaduknya.

Dengan wajah tanpa bersalah, Nora memberikan kopi itu kepada Giorgio.

Hanya dengan satu tegukan, Giorgio langsung menyemburkan kopi buatan Nara. matanya menatap kesal pada Nara, namun tidak dengan Arsi dan Lita. kedua orang tua itu bingung dengan apa yang terjadi pada Giorgio.

“Nara maheswara!” sungut Giorgio.

Nara melemparkan senyum dua jarinya sambil membentuk jarinya dengan huruf V ke arah Giorgio.

“Awas kamu Nara, kamu akan merasakan balasanku. Akan kubuat kamu benar-benar menyesali perbuatanmu!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 41

    "Ka–kamu…kenapa kamu ada disini?”Nara terlihat cukup terkejut saat melihat Revan duduk di samping Daniel. Sungguh dunia ini serasa begitu sempit. Akhirnya setelah hidup hampir dua puluh sembilan tahun, dia benar-benar mempercayai istilah dunia tak selebar daun kelor. Revan tersenyum tulus. “Aku mengantarkan temanku. Dia tidak berani pergi sendirian. Katanya dia takut jika nanti suasana menjadi kikuk, oleh karena itu aku dijadikannya tumbal untuk menyegarkan suasana.”Nara tersenyum tipis. Ia segera duduk di depan Revan, sementara Moana duduk di depan Daniel. “Jadi kamu ingin mencari jodoh sekalian,” goda Nara.Moana tersenyum dan hal itu tak luput dari pandangan Daniel. Bagi Daniel, Moana terlihat begitu cantik dan mempesona. Rasanya ia sudah terperangkap pada pesona teman datingnya itu.“Revan mah ngga usah cari teman dating Ra. hatinya mah cuman buat satu orang. Iya kan Van,” celetuk Moana turut berkomentar.“Lalu kamu?” tanya Daniel. Ia mencoba masuk ke dalam percakapan Moana, Re

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 40

    Kaki Nara terus bergerak gelisah. Kata-kata yang diucapkan oleh Giorgio terus berputar seperti kaset kusut di otaknya. Pria itu ingin menuntut haknya sebagai seorang suami.“Dor…! Ngelamun apa sih, Neng?” tanya Moana.Nara menatap tampian Moana, sahabatnya itu terlihat lebih cantik. “Kamu berdandan?” tanya Nara.Moana tersenyum manis. Ia menggigit jarinya seperti anak kecil. “Aku ada kencan buta hari ini jadi aku sedikit berdandan. Apa aku terlihat berbeda?” Nara menganggukkan kepalanya. Dia memberikan jempol untuk penampilan Moana hari ini.“Nanti ikut aku kencan buta ya?” Ajak Moana sambil memasang wajah memelas.Nara menghela napas panjang. Matanya melirik tumpukan dokumen yang harus dikerjakannya. Dokumen-dokumen itu seperti tidak ada hentinya menumpuk di atas mejanya.Bibir Moana mencebik. Ia kembali memasang wajah sendunya agar Nara mau pergi dengannya.“Aku mohon ikutlah. Dia juga membawa temannya, jadi nanti kamu bisa mengobrol dengan temannya,” pinta Moana.Nara berpikir sej

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 39

    Giorgio mengetuk pintu kamar Nara. Sejak pertengkaran kecil mereka tadi Nara mengunci dirinya di dalam kamar. Wanita itu juga tidak makan apapun sejak pagi. Menu makanan yang disiapkan oleh Bi Asih tak tersentuh sedikit pun. Tak lagi tahan dengan apa yang dilakukan oleh Nara, Giorgio mendatangi kamar Nara. Ia mengetuk pintu itu terus menerus, membuat si empunya kamar mendengus kesal.Nara yang tadinya tidak ingin membuka pintu, terpaksa membukanya. Ia turun dari atas ranjang dengan wajah masam.“Kenapa? Aku ingin istirahat jadi jangan diganggu!” ucap Nara saat melihat Giorgio berdiri di depan pintu kamarnya.Tanpa menjawab pertanyaan Nara, Giorgio langsung masuk begitu saja ke dalam kamar Nara. Ia merebahkan tubuhnya diatas ranjang Nara seperti tadi malam.“Keluar!” usir Nara tanpa basa-basi. Ia masih berdiri di depan pintu.Seperti menulikan telinganya, Giorgio justru menutup matanya. Melihat hal itu, Nara langsung menghampiri Giorgio. Tangannya hampir menyentuh baju Giorgio, namun

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 38

    “Bangun Gio, pindah ke kamar mu sana!” Nara terus menggoyang-goyangkan tubuh Giorgio, bukan bangun pria itu justru tersenyum lebar dan meletakkan kepalanya di paha Nara.“Kamu tahu, kamu sangat lucu kalau marah-marah seperti ini Nara,” gumam Giorgio.Nara mengehela napas panjang. Otaknya sedang berpikir bagaimana cara mengembalikan Giorgio ke kamarnya. Di rumah ini hanya ada dia dan Giorgio. Namun, saat tengah berpikir, tangan Giorgio menarik tengkuk Nara hingga membuat mereka tak berjarak.Jantung Nara berdebar. Nara bahkan bisa merasakan hembusan serta bau alkohol Giorgio. Dorongan tangan Giorgio semakin kuat, bibir keduanya menempel untuk beberapa menit sebelum Giorgio melumatnya dengan rakus. Nara yang memang tak pandai berciuman, merasa kewalahan meladeni cumbuan Giorgio. Tidak hanya itu, tangannya terasa berkeringat, sementara jantungnya berdebar kencang. Ini adalah ciuman terlama yang perna

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 37

    “Siapa yang belum datang?” Giorgio menatap satu persatu tim pemasaran. Matanya terlihat begitu dingin dan tajam. Tidak ada senyum di wajahnya. Moana yang sudah ada di ruang rapat, hanya bisa diam. Sungguh sikap Giorgio terlihat berbeda jika ada di luar kantor. Di luar kantor, Giorgio terlihat lebih hangat dan perhatian.“Apa kalian tidak punya mulut?! Kenapa kalian sepakat untuk diam, huh?!” sentak Giorgio. Suasana hatinya sedang buruk saat ini.“Bukankah sebelumnya saya sudah mengatakan bahwa kita akan ada rapat setelah jam istirahat selesai!” Giorgio meradang. Sudah hampir lima belas menit mereka menunggu kedatangan Nara, namun wanita itu sama sekali tidak menunjukkan batang hidungnya.“Apa kalian tidak bisa menahan leader kalian untuk tidak pergi saat jam rapat!” sungut Giorgio suaranya semakin tinggi. Urat-urat di sekitar wajahnya terlihat menonjol karena kesal.Giorgio mendengus kesal. Ia memi

  • Jangan Goda Aku, Pak Manager!    Bab 36

    “Nara…? Kalian….”Mata Nara membulat lebar. Ia dengan cepat mendorong tubuh Giorgio hingga pemuda itu menjauh darinya.Senyum kaku ia lemparkan pada Moana yang ada di depan lift. Sahabatnya itu tampak terkejut dengan apa yang dilihatnya tadi.“Tidak masuk?” tanya Nara.Moana bengun dari rasa keterkejutannya. Ia segera masuk ke dalam lift. Ekor matanya sempat melirik Giorgio yang berdiri di belakang mereka.“Apa kalian pacaran?” tanya Moana berbisik.Nara menggelengkan kepalanya. “Mataku kemasukan sesuatu dan Pak Gio berusaha menolongku,” jawab Nara. Ia juga ikut berbisik seperti Moana.Rasa curiga dan penasaran memenuhi relung hati Moana, meski Nara sudah menjelaskan apa yang terjadi. Kemarin Nara mengatakan bahwa Giorgio adalah sepupunya. Namun, kejadian yang baru ia lihat, membuatnya berpikir bahwa mereka bukanlah saudara.“Kenapa diam saja. Biasanya kamu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status